Catatan Program
Semua akan sepakat bahwa Indonesia negara yang kaya akan hasil bumi, budaya dan ingatan atas sejarah di dalamnya. Sayangnya kekayaan dan hasil bumi yang seharusnya bisa menyejahterakan hajat hidup banyak orang tidak terbagi merata. Melihat distribusi sumber daya yang tidak merata, adalah hal yang biasa bila merujuk ke daerah-daerah pelosok di luar pulau Jawa terutama di wilayah perbatasan. Sedikitnya akses kesehatan, miskinnya ruang pendidikan formal, lemahnya infrastruktur, disertai rendahnya good governance menjadi beberapa sebab.
Survive! Garage dan Forum Film Dokumenter mengajak Anda untuk melihat lebih dekat problematika nyata kehidupan di perbatasan Indonesia dan Malaysia melalui film “Indonesiaku di Tepi Batas” karya Elsa Adelina dan “Cerita Dari Tapal Batas” karya Wisnu Adi. Dua film ini, tak hanya melihat gejolak hidup masyarakat perbatasan karena “minimnya” perhatian dari pemerintah, namun juga bagaimana mereka bersentuhan dan dekat dengan masyarakat, budaya, fasilitas dari negeri seberang, serta bagaimana mereka bertahan dengan nasionalisme yang mereka miliki. Interaksi keseharian diantara dua negeri yang sangat intens memberi peluang bagi warga Indonesia di wilayah perbatasan untuk mencecap perekonomian dan infrastruktur Malaysia yang jauh lebih menjanjikan. Lalu, apa kabar Indonesia?

Liputan Pemutaran
Tak kurang dari 30 orang menyesaki halaman Survive! Garage pada Rabu, 9 Oktober 2013. Penonton didominasi oleh kalangan seniman atau pekerja seni, karena Survive! Garage memang menjadi salah satu ruang temu para pegiat seni di daerah Bugisan Yogyakarta. Dimulai pada pukul 19.00 WIB, film “Indonesiaku di Tepi Batas” karya Elsa Adelina menjadi film pertama yang diputar malam itu. Para penonton menikmati film ini, terlihat dari reaksi yang muncul sepanjang pemutaran. Hal ini diungkapkan oleh Alia Damaihati, pengelola program, yang mengatakan bahwa, “Komentar-komentar kecil yang muncul dari penonton sepanjang film di sini berbeda dengan pemutaran film yang sama di ruang putar yang lain. Ketika di ruang lain dengan background penonton yang berbeda, keseriusan dalam menonton terlihat, di sini justru sebaliknya. Beberapa scene film mengundang respon tawa atau celotehan ringan, yang membuat atmosfer menonton menjadi sangat santai.” Dinamika ini juga berulang di pemutaran film yang kedua, “Cerita dari Tapal Batas” karya Wisnu Adi.
Ketika film selesai, Bayu Widodo, salah satu seniman punggawa Survive! Garage membuka obrolan dengan menceritakan pengalamannya selama hidup 10 hari di pedalaman Kalimantan, tepatnya di DAS Utik, Kalimantan Barat. Cerita Bayu menegaskan kembali apa yang diutarakan di sepanjang dua film tersebut. Bayu juga menceritakan tentang banyaknya produk-produk dari Malaysia yang lebih menjangkau daerah pelosok hingga perbatasan Kalimantan. “Harga bir Malaysia pun lebih murah, cuma sembilan ribu per kaleng!”, selorohnya. Di sisi lain, Fitri DK dari kolektif Taring Padi merespon dua film yang ditayangkan dengan mengungkapkan kekecewaannya. “Lihat film itu (Cerita dari Tapal Batas, ed.) kecewa banget, seharusnya mereka yang tinggal di perbatasan kan mendapatkan lebih. Ibaratnya kalau main sepak bola, justru yang di batas itu yang diperkuat. Menurutku, kenapa itu akhirnya terjadi migrasi besar-besaran bukan karena penduduknya malas, tapi karena kurangnya perhatian dari pemerintah, dan juga tindakan bila menurut film itu .”
Yudha, salah satu penonton menanggapi tentang film karya Elsa Adelina demikian berkata, “Film ini menawarkan intimacy yang lebih terhadap subyek-subyeknya, sehingga informasi yang diutarakan jauh lebih mendalam karena mampu menangkap perspektif si subyek”. Pendapat Yudha ini pun dimaklumi oleh sebagian penonton. Meski ada pula yang membandingkan film pertama dengan film kedua, menilik dari segi dana produksi film itu sendiri, yang terlihat dari gambar-gambar yang disajikan. Diskusi pun mulai berkembang tak hanya ke persoalan yang terpapar dalam kedua film, namun hingga ke persoalan Kalimantan yang lain, seperti konflik agraria, kelapa sawit, hingga tambang.
Pemutaran ini merupakan rangkaian program Let’s Screen Docs! (LSD), sebuah program pemutaran dokumenter yang dikelola oleh Forum Film Dokumenter. Program pemutaran ini bekerja sama dengan lembaga dan komunitas lain untuk memperlebar ruang agar tepat sasaran dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Semua film yang diputar dalam program ini adalah film arsip Forum Film Dokumenter yang telah terkumpul sejak tahun 2002.
Data Teknis Film
Indonesiaku di Tepi Batas | Elsa Adelina | Canopy Indonesia | 2011 | 27 menit
Cerita dari Tapal Batas | Wisnu Ardi | Keana Production | 2011 | 57 menit
