Seniman Kolaborator

  • Ngono Ya Ngono, Ning Aja Ngono

     

    Gagasan ini tercetus untuk menggambarkan lanskap utopia dan distopia dalam merespons hubungan manusia dengan alam serta peran mitos yang tumpang tindih dengan pandangan modern. Karakter-karakter yang hadir dalam karya ini tidak sekadar untuk menghibur, tetapi sebagai medium penyampai pesan dan nilai yang diwariskan turun-temurun. Mereka merepresentasikan hubungan manusia dengan alam serta sifat baik dan buruk manusia, seperti keberanian, kekuatan, kebijaksanaan, kelicikan, dan keserakahan.

    Ngono Ya Ngono, Ning Aja Ngono (lit. seperti itu tapi janganlah begitu) mengajak kita menengok kembali ke tanah untuk mengingat bahwa di balik setiap janji kemajuan, selalu ada jejak yang tertinggal di tanah. Ia menjadi refleksi tentang bagaimana manusia membangun, merusak, dan mungkin suatu hari, kembali menyatu dengan apa yang dahulu dianggap sekadar latar: bumi itu sendiri.

     

    –Tehato

     

     

  • Sementara Kering Menjelma Ingatan

     

    Salah satu ingatan masa kecil saya yang paling membekas adalah sebuah kalender tahun 1990-an bergambar hamparan bukit hijau dan bendungan di Wonogiri. Di balik citra yang indah itu tersembunyi kisah puluhan desa yang ditenggelamkan dan ribuan orang yang direlokasi demi pembangunan. Kini, di dasar bendungan, makam dan sisa peradaban muncul saat air surut—menjelma monumen sementara yang kelak tenggelam bersama ingatan dan cerita tentangnya.

    Karya ini dialihkembangkan dari instalasi audiovisual Yang Timbul dan Tenggelam serta Ingatan yang Terukir pada Air (2025), terinspirasi dari fenomena dan cerita di sekitar Waduk Gajah Mungkur. Video pendek ini mengangkat perihal mekanisme mengingat yang seringkali bergantung pada jarak, wujud, dan kebendaan—pada sisa, benda, dan jejak yang tampak di permukaan.

    Ritus pasang surut air mengungkap sisa peradaban yang tersembunyi di dasar bendungan, namun juga mengikis dan menenggelamkannya. Ingatan terperangkap dalam kesementaraan: menunggu hilang dalam genangan, atau lenyap bersama rapuhnya wujud material yang menopangnya.

     

    — Arif Furqan

     

     

Seniman

Tehato

Seniman

Tehato adalah seniman dan desainer grafis yang berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Dalam karyanya, ia mengolah kisah rakyat, sejarah, mitos, serta isu sosial, menjadi figur-figur dengan gaya visual dekoratif. Ia pernah mengikuti Residensi Seniman Pasca Terampil (2020) di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK). Hingga kini, Tehato aktif terlibat dalam berbagai pameran, antara lain Ancient Indonesian Military Conquest di Erasmus Huis Jakarta (2019), Excursion di Galeri Nasional (2019), Melipat Senjang di PSBK (2020), dan Timelapse di Museum Benteng Vredeburg (2023).

Arif Furqan

Seniman

Seniman visual yang berdomisili di Yogyakarta, Indonesia. Praktik seni Arif Furqan mengeksplorasi persimpangan kompleks antara memori, sejarah, dan identitas. Melalui berbagai medium; fotografi, praktik arsip dan riset, serta instalasi, karyanya berfokus pada narasi domestik yang intim dan mekanisme rapuh yang digunakan untuk melestarikan dan mentransmisikan memori. Pada 2021, ia menerima penghargaan Prince Claus Seed Award untuk Unhistoried, sebuah proyek seni dan riset yang mengeksplorasi arsip keluarga Indonesia dari era Orde Baru.