Membaca Realitas, Meruwat Sensitivitas: Catatan Penjurian Kompetisi Pelajar FFD 2025

— Berita, Interview
FFD 2025

Program Kompetisi Pelajar Festival Film Dokumenter (FFD) 2025 menghadirkan enam film terpilih yang menggambarkan keragaman perspektif para pembuat film pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Keenam film tersebut adalah DJUM (Ahmad Brilian Maulana Vitjayanto, 2025), Constructed (Jonathan Gradiyan, 2025), Our Father Hour (Aziz Hammad Kusteja, 2025), Forced to Be Wild (Muhammad Al Hafiz, 2025), When the Blues Goes Marching In (Beny Kristia, 2025), dan Honey & Moon (Navin Dharma, Christopher Erick; 2025). Setelah rapat penjurian, tim komunikasi FFD mewawancarai juri Kompetisi Pelajar, yaitu Anna Har, Risa Permanadeli, dan Taufiqurrahman Kifu.

Salah satu konteks penting dalam program Kompetisi Pelajar FFD tahun ini adalah keputusan kuratorial untuk merentangkan segmen pelajar hingga ke jenjang perguruan tinggi sehingga mahasiswa dapat turut serta dalam kompetisi. Keputusan ini mengandung konsekuensi sekaligus menghasilkan temuan menarik, yakni capaian teknis dan eksplorasi pendekatan yang ternyata tidak terlalu berjarak, antara pelajar dengan mahasiswa. Para juri pun melihat bahwa keragaman tema yang muncul dalam keenam film tersebut lekat dan dekat dengan konteks dinamika sosial di Indonesia. Beberapa film memotret lingkungan terdekatnya, sementara yang lain mencoba menembus pengalaman dan memori kolektif yang lebih luas.

Taufiqurrahman Kifu

Keberagaman geografis dari para pembuat film juga dianggap sebagai penyegar lanskap, menunjukkan bahwa dokumenter pelajar tidak lagi hanya berasal dari pusat-pusat kota produksi tertentu. Namun, meski banyak film berangkat dari isu yang relevan, para juri menemukan satu pola serupa: sebagian besar gagasan yang diangkat belum sepenuhnya diolah menjadi gaya tutur yang kuat. Ide ada, kedekatan dengan subjek terasa, tetapi belum sampai pada kedalaman narasi atau artikulasi sinematik yang matang. Dalam beberapa film, eksplorasi visual mulai terlihat—ada eksperimen dan keberanian untuk bermain dengan bentuk. Eksplorasi tersebut masih mencari tempatnya: apakah ia hanya estetika, ataukah bagian dari struktur gagasan yang dibicarakan?

Dari keenam film yang dipertimbangkan, satu film yang kemudian menonjol adalah karena kedekatan pembuat film dengan konteks yang ia angkat. Film ini dibuat oleh pelajar SMA dan dianggap mampu membaca fenomena yang begitu akrab dalam hidupnya sehingga berhasil menampilkannya dengan lapisan yang kaya, baik secara agensi subjek, struktur sosial, relasi kuasa, maupun politik ruang. Para juri memutuskan untuk meniadakan pemenang dalam kategori ini, tetapi mengalihkannya menjadi anugerah Jury’s Special Mention. Anugerah Jury’s Special Mention Kompetisi Dokumenter Pelajar FFD 2025 diberikan kepada Forced to Be Wild (2025), sutradara Muhammad Al Hafiz.

Risa Permanadeli

Kemudian, muncul harapan untuk para pembuat film muda di Indonesia, “lihai melihat yang tidak terlihat”. Para juri berharap mereka dapat semakin peka terhadap hal-hal yang selama ini luput—isu yang tidak populer, realitas minor, serta pengalaman yang tidak terjangkau oleh institusi besar. Dokumenter dilihat sebagai medium yang jujur, lentur, dan mampu menjadi tangan yang menyentuh realitas apa adanya. Di saat yang sama, para juri juga menilai bahwa semakin banyak anak muda yang mampu membuat film di mana saja, dengan perangkat apa pun. Kini yang menjadi pertanyaan bukan lagi bisakah film ini dibuat, melainkan seberapa dekat pembuatnya dengan apa yang ia ceritakan.

Di penghujung wawancara, para juri sepakat bahwa ruang seperti FFD perlu terus ada; bukan hanya sebagai panggung pemutaran, tetapi juga platform pertumbuhan, percobaan, dan dialektika. Alih-alih fokus pada penentuan pemenang, program Kompetisi adalah tentang membaca arah generasi, khususnya generasi muda, dalam merekam realitas dunia yang mereka hidupi melalui lensa dokumenter. Barangkali, di titik itulah program Kompetisi Pelajar FFD menjadi relevan dan penting; membuka ruang untuk terus mencoba. Ruang di mana film pelajar bukanlah sebuah titik akhir, tetapi awal dari kesadaran baru tentang bagaimana realitas dapat dibicarakan.

Anna Har

Pernyataan Juri untuk Anugerah Jury’s Special Mention
Keenam film yang berkompetisi di program ini menurut kami belum dapat mengolah substansi menjadi bahasa artistik yang sublim. Sehingga, aspek yang tersisa untuk kami diskusikan dan pertimbangkan adalah konteks sosio-politiknya, geografis dan kedalaman pemahaman terhadap hal yang dibicarakan, berupa kompleksitas, serta potensinya untuk dibaca lebih jauh. Untuk penghargaan Film Terbaik, kami, juri kategori Kompetisi Pelajar FFD 2025. Memutuskan belum ada film yang cukup baik untuk dimenangkan. Keputusan ini diambil karena kami khawatir Film Terbaik akan menjadi mode, atau standar tertentu, sedangkan kualitas film-film program kompetisi ini ternyata memang perlu dikritisi.

Kami memohon maaf jika keputusan ini tidak memenuhi ekspektasi publik FFD 2025. Kami berterima kasih karena FFD terus menyediakan ruang untuk film-film bagi pelajar. Ini jauh lebih penting daripada merayakan siapa yang juara. Kami mengakui, sebagai penonton, kami merasa terhibur dengan film-film yang ada di program kompetisi ini. Tetapi, sebagai juri, kami juga harus objektif dan kritis terhadap keputusan kami. Namun, kami memutuskan untuk memberikan penghargaan Jury’s Special Mention kepada salah satu film yang menarik perhatian kami. Film ini, sayangnya, ditutup dengan mubazir karena yang dibicarakan itu sebenarnya sudah hadir melalui konstruksi realitasnya. Secara teknis, seperti film lainnya di program ini, tidak ada hal yang terlalu mengganggu pengalaman menonton. Sedangkan untuk capaian artistik, tidak ada yang sebetulnya bisa dibahas dari film ini. Untungnya film ini cukup berhati-hati dalam keputusan bentuknya sehingga tidak terjebak pada ketidakmampuan dalam mengolah material-material artistik.

Film ini menghadirkan kompleksitas konteks yang berelasi pada negosiasi subjek-subjek terhadap ruang. Dari rumah hingga ke jalan. Meliar di antara arus persoalan sosial-politik masyarakat dan geografisnya. Film ini juga kami anggap sebagai kritik terhadap negara, dari sudut pandang anak muda yang hanya ingin menyalurkan hobinya. Berdasarkan catatan kritis tersebut, juri memutuskan untuk memberikan penghargaan Jury’s Special Mention kepada film Forced to be Wild karya Muhammad Al-Hafiz dari Aceh.

Forced to be Wild (2025)

Festival Film Dokumenter berterima kasih kepada seluruh juri (Anna Har, Taufiqurrahman Kifu, Risa Permanadeli) dan selektor (Gerry Junus, Kurnia Yudha F., Michael A. Chandra) kategori Kompetisi Pelajar. Festival Film Dokumenter dipersembahkan oleh Forum Film Dokumenter, Indonesia. (Hesty N. Tyas, 23/11/2025 [Ed. Vanis])