Kompetisi Panjang Indonesia Festival Film Dokumenter (FFD) 2025 menampilkan 4 film yang mewakili berbagai perspektif dalam praktik dokumenter Indonesia kontemporer. Karya-karya terpilih mengeksplorasi memori sejarah, potret diri, refleksi sosio-politik, dan satir, menunjukkan betapa dokumenter lokal telah berkembang baik dalam materi subjek maupun pendekatan formalnya. Setiap judul menawarkan sudut pandang uniknya masing-masing atas realitas saat ini, baik melalui narasi pribadi, trauma kolektif, maupun keengganan menatap diri sendiri melalui layar. Nominasi dalam kategori ini meliputi A DISTORTED INDIVIDUAL. (Adythia Utama, 2025), Bachtiar (Hafiz Rancajale, 2025), Koesroyo: The Last Man Standing (Linda Ochy, 2024), dan Our Rangsot (Dhuha Ramadhani, 2025).

Para juri dalam kategori ini terdiri dari Dave Lumenta, Taichi Ishikawa, dan Nia Dinata. Ketiganya datang dengan latar belakang keahlian yang sama sekali berbeda, tetapi refleksi mereka terhadap keempat film membuahkan hasil yang tak terduga. Dinata berbagi bahwa awalnya ia mengira akan ada perbedaan pendapat, terutama karena ia dan Lumenta kerap memiliki referensi yang serupa, sementara Ishikawa membawa konteks yang sepenuhnya berbeda. Sebaliknya, ia menemukan bahwa ketiga juri mengidentifikasi kesamaan dalam karya-karya tersebut. Bagi Dinata, keselarasan ini merupakan bukti adanya kekhawatiran dan energi yang sama di antara pembuat film dan pekerja film di berbagai wilayah, yang membentuk cara mereka merespons suatu karya.
Lumenta menjelaskan bahwa ia menempatkan diri sebagai penonton awam ketika menonton film untuk pertama kali. Baginya, jika niat film tidak dapat dipahami oleh penonton umum, maka akar masalahnya ada pada karya itu sendiri, bukan pada penonton. Mengadopsi posisi ini membantu juri mengevaluasi film-film yang secara gaya berbeda dengan kembali pada kejelasan niat dan resepsi. Para juri menganggap keragaman dalam daftar film sebagai kekuatan program. Dinata mendeskripsikan perasaan lega ketika melihat 4 film yang sangat berbeda dalam subjek, nada, dan pendekatan.

Para juri memfokuskan keputusan mereka pada pentingnya antihero dalam dokumenter kontemporer. Lumenta mencatat bahwa budaya dokumenter Indonesia sering condong ke arah kepahlawanan dan nuansa yang serius, sementara sentilan dan ketidaknyamanan juga dapat menjadi cara efektif untuk mengangkat isu-isu kritis. Bagi Ishikawa, memilih pemenang dari 4 film yang tidak dapat dibandingkan adalah hal yang sulit karena masing-masing memerlukan standar evaluasi yang berbeda. Proses ini membuatnya lebih sadar akan dilema yang dihadapi juri dan memperluas pandangannya tentang kemampuan dan cara dokumenter berdaya.
Pembicaraan kemudian membahas apakah film pemenang dapat memperluas pemahaman publik tentang dokumenter melampaui ekspektasi konvensional. Dinata menambahkan bahwa FFD, yang memasuki tahun ke-24, memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan keragaman dalam pembuatan film dan membuka ruang untuk subjek dan cara tutur yang berbeda. Ia berargumen bahwa karya pemenang memperjuangkan perbedaan tanpa terjebak dalam narsisme dan menggambarkannya sebagai refleksi segar atas paradoks kontemporer di mana masyarakat memiliki tendensi untuk mengagungkan individu, tetapi kemudian mengkritik individu tersebut atas dasar kepuasan atau preferensi diri sendiri.

Para juri menyimpulkan bahwa meskipun keempat film memerlukan standar evaluasi yang berbeda, karya pemenang menunjukkan kejelasan niat, kekuatan bentuk, dan resonansi dengan momen sosial dan budaya di Indonesia saat ini. Anugerah Film Terbaik Kompetisi Dokumenter Panjang Indonesia diberikan kepada A DISTORTED INDIVIDUAL. (2025), produser dan sutradara Adythia Utama, diproduksi oleh NORTHERN KEMANG PICTURES.
Pernyataan Juri untuk Anugerah Film Terbaik
Di masa ketika kita secara terang-terangan terobsesi menciptakan idola tanpa substansi, penghargaan tanpa merit yang nyata, dan mengidolakan penanda pencapaian serta kesuksesan yang palsu, film ini adalah antitesis dari budaya selebritas. Film ini dengan mudah menggunakan satir untuk mengkritik industri musik secara tajam. Dokumenter personal ini tidak hanya memperlihatkan masyarakat yang terdistorsi, ia adalah bagian darinya. Oleh karena itu, setelah proses deliberasi yang panjang dan menyeluruh, kami memilih A Distorted Individual sebagai Film Terbaik untuk Kompetisi Film Panjang Indonesia.

Festival Film Dokumenter mengucapkan terima kasih kepada semua anggota juri (Dave Lumenta, Taichi Ishikawa, Nia Dinata) dan selektor (Agus Mediarta, Eric Sasono, Lee Yve Vonn) kategori Kompetisi Film Panjang Indonesia. Festival Film Dokumenter diselenggarakan oleh Forum Film Dokumenter, Indonesia. (Vanis, 25/11/2025)



