Review Film: Xinyiwood

Xinyiwood |  Shih-Chieh Lin | 25’ | Taiwan, USA | 2015

Xinyiwood | Shih-Chieh Lin | 25’ | Taiwan, USA | 2015

Xinyiwood merupakan representasi dari puisi seorang penyair Cina, Wang Wei, yang disuguhkan dengan cara dan latar berbeda. Dengan menggunakan latar ruang bioskop kosong yang dulu sempat jaya pada jamannya – yang memutar serangkaian memori yang tercipta didalam puisi tersebut. Cuplikan seorang wanita yang mempersiapkan bioskop untuk siap didatangi oleh khalayak di dalamnya pun turut melengkapi segmen awal.

Film ini cukup abstrak dan bisa dikatakan pantomim, di mana hanya mengandung sedikit narasi dan memiliki alur yang tidak terprediksi. Hal tersebut tergambarkan pada sequence awal di mana terdapat seorang lelaki sepuh sebagai penjaga atau pemilik toko persewaan CD yang sedang larut ke dalam layar kaca, senyum tipis tersirat di wajahnya cukup mencairkan suasana dalam menonton. Ia kemudian sibuk mencari sebuah memori di setiap lembar foto yang ia bawa namun tidak dapat menemukannya. Segmen lainnya, ketika bapak tua tersebut menonton sebuah acara dari CD di dalam tumpukan yang ia bawa, ia lalu menonton sebuah acara yang menjelaskan mengenai bagaimana seorang kaisar China memilih singa sebagai lambang kekuatan sang Raja, dan penjelasan mengenai makna dari patung singa wanita dan patung singa laki-laki.

Syair lain dalam puisi Wang Wei mengisahkan tentang seorang tua yang menghampiri kedai bar bekas miliknya, yang kini telah dimiliki oleh orang lain di Los Angeles Chinatown. Bapak tua, si pemilik bar yang lama, memutar kembali memori masa kejayaan usahanya pada tahun 90-an di mana hampir keseluruhan bar telah berubah menjadi bar-bar Amerika pada umumnya dan tidak lagi kental akan sentuhan ornamen cina. Segmen tersebut disuguhkan dengan dialog singkat antara si pemilik bar lama dengan pemilik bar yang baru, diiringi dengan sentuhan musik bar dan beberapa cuplikan foto keadaan bar tersebut saat ini. Obrolan singkat yang cukup akrab tersebut membawa penonton turut merasakan suasana bar saat itu, dengan detail fasilitas bar yang diungkapkan oleh cuplikan gambar yang disuguhkan dan informasi yang disampaikan oleh pemilik bar yang sekarang kepada pemilik bar yang baru.

Segmen terakhir yang disajikan oleh Shih-Chieh Lin pada film ini menggambarkan sang pemilik bar yang lama lambat laun berjalan menuju suatu arah yang tidak terungkap dan kemudian kembali ke dalam ruang bioskop kosong yang sedang menayangkan hilangnya si pemilik bar yang lama dari pandangan penonton. Dan lalu ditutup dengan segmen yang sama dengan segmen pembuka, keadaan di mana bioskop sedang dalam persiapan dibuka oleh seorang wanita tua.

Xinyiwood bukanlah film dokumenter yang dapat terprediksi alur dan ceritanya. Gambaran dari beberapa segmen proses pemunculan ulang puisi seorang Wang Wei telah mengajak kita untuk larut ke dalam ceritanya tanpa perlu berpikir terlalu jauh akan bagian akhir dari cerita Xinyiwood. [Justicia Handykaputri]

Shih-Chieh Lin | 25’ | Taiwan, USA | 2015

9 Desember 2016 | IFI-LIP Yogyakarta | 16:00 WIB

Recent Posts
efficitur. nunc in quis, sed eget Curabitur eleifend ut dapibus commodo Aenean