Review Film: I Want to Go Home

Wesley Leon Aroozoo | 62 menit | Singapura | 2017 | PG

Melalui pencarian Yasuo Takamatsu akan istrinya yang hilang pada gempa dan tsunami yang melanda pesisir timur jepang 2011 lalu, Wesley Leon Aroozoo di I Want to Go Home (2017) merekam tragedi dan kehilangan yang dialami masyarakat jepang pada kejadian yang menelan lebih dari 15 ribu korban jiwa tersebut. Aroozoo tidak main-main dalam menunjukkan luka yang dirasakan Takamatsu. Membuka film dengan scene monolog pesan Takamatsu pada istrinya yang masih tidak diketahui keberadaannya, rasanya tidak ada scene yang lebih tepat untuk membangun atmosfer kehilangan yang dialami Takamatsu. Atmosfer ini kemudian secara konsisten dibangun selama film berlangsung, melalui pendekatan sinematografis, audio, dan storytelling yang tepat guna.

Terdapat pola yang cukup dapat dibaca dalam aspek storytelling, yakni repetisi Takamatsu menceritakan latar belakang dan bagaimana keadaan tersebut menjadi sebuah sebab yang berakibat pada kondisinya saat ini. Namun repetisi ini terasa begitu halus dan tidak membosankan karena tiap bagian siklus repetisi selalu disajikan dengan detail yang berbeda yang membawa penonton semakin memahami sosok Takamatsu.

Setelah menghantam penonton dengan perasaan kehilangan Takamatsu sebagai hidangan pembuka, Aroozoo kemudian mendalami bagaimana perasaan tersebut tercipta untuk dapat lebih mendalami konflik yang dialami Takamatsu. Dimulai dengan bagaimana Takamatsu sebagai seorang penyelam profesional rutin terjun ke laut tiap minggu untuk mencari istrinya, yang kemudian bertransisi menjadi monolog kisah masa kecil Takamatsu dan layar berisi gambar-gambar bagaimana tragedi gempa dan tsunami tersebut diinterpretasikan oleh anak-anak. Monolog takamatsu pun membawa penonton semakin memahami kehilangan yang ia alami ketika ia mulai bercerita relasinya dengan sang istri. Ia berhasil dalam menghidupkan sosok istrinya sehingga membuat penonton  memahami sebab dibalik apa yang Takamatsu rasakan.

Selesai dengan bagaimana perasaan itu muncul, film ini membawa kita pada upaya-upaya yang dilakukan Takamatsu dalam menghadapi kehilangannya. Pencarian yang menunjukkan betapa kehilangan orang tercinta membawanya pada keputusasaan dan membuat Takamatsu rela melakukan segala sesuatu untuk menjaga apa yang tersisa dari sang istri. Meskipun ia tahu dengan pasti bahwa yang dilakukannya mungkin tidak akan mengobati, dan malah akan menimbulkan luka yang semakin dalam. Takamatsu menolak untuk membiarkan istrinya hilang menjadi ketiadaan dan terus menghidupkannya meskipun hanya dalam ingatan.

Upaya-upaya yang membawa Takamatsu berhadapan dengan pihak-pihak yang mengambil peran sebagai ‘polisi pikiran’ a la Orwell. Pasalnya pencarian yang Takamatsu lakukan, di kemudian hari menyadarkannya bahwa terdapat aspek kelalaian dari beberapa pihak dalam hilangnya sang istri. Takamatsu pun melawan polisi pikiran yang dapat menjelma dalam wujud apa pun, dari media, pemerintah, hingga pengadilan dengan mengatakan bahwa hilangnya sang istri tidak bisa dilepaskan dari sebuah konstelasi kejadian yang tidak bisa diisolasi antara satu dan lainnya. Namun polisi pikiran pun akan selamanya menjadi polisi pikiran, tidak peduli ia sedang menjelma dalam wujud institusi apa. Ia akan selalu mencoba mengambil kebebasan Takamatsu untuk merayakan kesedihan dalam pencariannya. Mengutip Orwell, mereka akan selalu merebut hak untuk mengatakan dua tambah dua sama dengan empat.

Aroozoo pun tidak lupa untuk menyelingi awal hingga akhir film dengan kerusakan fisik akibat tragedi tersebut. Namun ia tidak lain adalah sebuah upaya dari Aroozoo untuk mengatakan bahwa kehilangan yang dirasakan Takamatsu, juga dirasakan oleh semua pihak yang menjadi korban bencana ini dalam spektrum yang berbeda-beda. Tetapi itu semua tidak berarti, karena tidak ada hierarki dalam kesedihan. Sayup-sayup background musik pengiring monolog Takamatsu oleh John Chua yang sarat dengan unsur-unsur instrumental post-rock a la grup musik Jepang, Mono, dan flashback ingatan-ingatan Takamatsu dengan animasi bernuansa kelam dan didesain secara visual agar penonton menitikkan air mata, pun semakin membawa kita pada pilu dan hampanya kehidupan Takamatsu akibat kehilangan orang tercinta.

I Want to Go Home adalah sebuah kisah tentang memiliki dan kehilangan, serta pencarian akan segala sesuatu yang tidak pasti. Ia membuat penonton mengerti betapa berharganya sebuah memori sehingga mampu menggerakkan orang untuk menjaganya tetap hidup meski hanya di dalam kepala, karena bagaimana pun, perjuangan peradaban manusia adalah perjuangan melawan lupa.

Rabu, 13 Desember 2017 | Societet TBY | 13:00

Recent Posts
vel, massa at adipiscing in Nullam dictum leo Phasellus justo dolor.