Review Film: The Village’s Bid for UFO

Takuro Kotaka | 25 menit | Jepang | 2017 | PG

Konsepsi atas Post-Truth yang ditawarkan dalam The Village’s Bid for UFO dibuka dengan klaim-klaim kebenaran atas eksistensi UFO (Unindentified Flying Object) di langit Suzu. Sebuah desa kecil dengan keindahan pemandangan alam dan lautan birunya yang tidak lebih hebat dari kabar bahwa di desa ini, hampir semua penduduknya mengaku pernah melihat UFO di langit. Adegan dibuka dengan tiga orang ibu rumah tangga yang masing-masing membawa benda berkaitan dengan UFO, klaim kebenaran semakin disahihkan lewat benda yang diakui benar memiliki relasi dengan objek tidak teridentifikasi ini. Sampai dengan bukti bahwa UFO dan manusia bisa memiliki timbal-balik yang positif lewat aksi positif siswa-siswi SD yang memberi pesan keselamatan berkendara ke atas langit yang ditujukan pada UFO.

Absurd? Tidak juga, Steve Tesich -seorang penulis naskah, dalam esainya di majalah The Nation pada tahun 1992 pernah menulis bahwa “kita, sebagai orang bebas, bebas memutuskan apa yang ingin kita hidupkan di dunia post-truth”. Kesimpulan dan tafsir personal atau kolektif yang sesuai dengan keinginan dan keyakinan masing-masing pun sangat bisa terjadi di era ini, dan Kotaka sang sutradara dari film ini dengan sangat cerdik mampu menyuguhkan contoh klaim kebenaran ini. Melalui serangkaian wawancara, long shot performative art warga lokal, hingga testimoni sangakalan eksistensi UFO dari pihak oposisi yang dikucilkan oleh warga sekitar.

Apa yang mengerikan adalah, jika kita merefleksi diri setelah menonton The Village’s Bid for UFO, aroma narsistik yang terlihat lewat serangkaian klaim warga lokalnya, dalam pandangan Grayling, merupakan tenggelamnya fakta oleh kerasnya suara pengirim pesan. Ketika setiap orang bisa mempublikasikan opininya sendiri dan menonjolkan tafsir pribadinya terhadap opini ketimbang fakta dan menjadikan ini jadi hal yang paling benar, yang terjadi adalah setiap kelompok manusia pun bisa melakukan klaim dan melakukan hal-hal buruk demi menunjukkan bahwa sudut pandangnya lah yang paling benar. Lewat contoh kecil: mengucilkan warga yang menganggap UFO itu tidak ada.

Komodifikasi yang terjadi melalui klaim eksistensi UFO semakin matang lewat pernyataan Nagae, salah seorang narasumber di film ini dari kantor promosi Mega UFO balai kota Suzu. Ia mengaku bahwa jika ritual pemanggilan UFO hingga Mega UFO akan mampu merevitalisasi kehidupan ekonomi dari daerah ini, yang diwujudkan dengan ritual masif pemanggilan Mega UFO di akhir film, oleh warga lokal hingga turis asing.

Takuro Kotaka | 25 menit | Jepang | 2017 | PG
Sabtu, 9 Desember 2017 | Societet TBY | 19.00
Selasa, 12 Desember 2017 | Societet TBY | 19:00 | Q&A

Recent Posts
ut id, dapibus nec tempus Nullam ut commodo vel,