Review Film: The Troubled Troubadour

Forest Ian Etsler & Sébastien Simon | 23 menit | Prancis, Korea Selatan, Jepang | 2016 | PG

Tema kematian barangkali terdengar menyeramkan, namun Forest Ian Etsler dan Sebastian Simon di The Troubled Troubadour (2015) menolak melihat kematian sebagai sesuatu yang hanya melibatkan aspek jasmani. Ia menyajikan kematian sebagai suatu konsep yang melibatkan proses berdamai dengan memori masa lalu, sehingga kematian bukanlah suatu horor tetapi lebih sebagai metafor dari akhir panjangnya sebuah proses yang dilalui seorang manusia.

Membuka film dengan adegan betapa senangnya sang protagonis, The Musician, akhirnya bisa kencing di semua samudera di dunia, menunjukkan kepada penonton perjalanan macam apa yang akan ia tempuh di dalam film ini. Perjalanan yang hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang telah selesai dengan hasrat duniawinya. Ditemani gitar kesayangan serta The Boatman yang setia mendayung perahu mereka di atas rel kereta, sesekali bergurau dan memberi nasihat, ia pun berangkat menyusuri pesisir Korea Selatan. Perjalanan mereka kemudian dihadang oleh sekelompok anak kecil yang mengira The Musician adalah The Mountain God, mengharuskannya untuk bertemu dengan The Princess. Singkat cerita, The Princess kemudian menyadari bahwa The Musician bukanlah sosok yang ia tunggu, dan malah membantunya dalam menempuh perjalanan.

Berbekal petuah dari The Princess, The Musician pun berangkat melanjutkan perjalanan. Di mana ia dihadapkan pada perpisahan dengan kawan setianya, The Boatman, dan harus melewati The Great Posessed Tree. Membawanya menghadapi memori-memori yang menghantui selama hidup, memaksanya berdamai dengan itu demi dapat melintas ke seberang terowongan dan menyudahi sebuah proses panjang yang melelahkan namun juga ia nikmati.

Forest dan Simon yang mengeksplorasi khazanah mitologi Korea Selatan untuk membicarakan permasalahan yang lebih relevan dan kontekstual dengan realita masyarakat Korea Selatan saat ini, membuat pembacaan terhadap film ini begitu menarik. Satu adegan di akhir film misal, Forest dan Simon tidak menggambarkan akhir perjalanan The Musician sebagai sesuatu yang hitam-putih. Melalui karakter The Death’s Agent bertuksedo hitam duduk dengan latar belakang perkotaan menunggu The Musician di akhir perjalanannya, ia meninggalkan begitu banyak teks yang sangat terbuka untuk diinterpretasikan oleh tiap individu. Namun dalam adegan ini saja, rasanya akan menarik apabila penonton menggali tokoh The Death’s Agent dengan membaca kembali gagasan filsuf marxis Prancis, Henri Lefebvre.

Dalam bukunya, The Production of Space, Lefebvre melihat kota sebagai sebuah ruang spasial dan sosial adalah arena pertarungan kekuasaan yang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan-kepentingan kapital. Pertarungan ini kemudian mempengaruhi individu di dalamnya hingga level yang paling personal. Karakter The Death’s Agent, terlepas dari realita teks film ini yang begitu multitafsir, dapat dilihat sebagai representasi dari kota dan segala organ di dalamnya yang begitu kapitalistik. Membuatnya tidak menawarkan apa pun selain ‘kematian’. Penggambaran The Death’s Agent di film ini juga tidak bisa dilepaskan dari karakter The Musician sendiri. Melalui proses menghadapi memori-memori yang menghantuinya selama ia berada di The Great Possessed Tree, penggambaran ini terasa begitu relevan dengan trauma yang ia alami. Pasalnya, The Musician terus menerus bergelut dengan bagaimana konstruksi sosial di dalam realita yang ia hidupi menciptakan trauma tersebut. Keadaan inilah yang kemudian membuat kita menyaksikan konsep kematian oleh The Musician dalam wujud The Death’s Agent dan segala atributnya.

Pendekatan teatrikal yang dipilih Forest dan Simon dalam film berdurasi 23 menit ini rasanya memang ditujukan untuk memancing diskusi di antara penonton. Pendekatan ini juga berhasil membangun relasi antara The Musician dan segala detail yang terlibat dalam perjalannya, sehingga semua detail itu tidak serta merta muncul tanpa alasan. Relasi antara The Musician dan sang gitar misal, menjadi begitu emosional ketika kita menyaksikan bahwa sang gitar adalah satu-satunya artefak sisa manisnya memori romantisme masa lalu namun ia juga adalah pengingat akan perihnya relasi The Musician dan sang ayah. Pun dialog antara The Musician dan The Boatman, dengan durasi ‘hanya’ 23 menit, dialog yang terjadi antara keduanya berhasil membangun relasi yang menarik dengan bumbu gestur komedik dan bagaimana keduanya dihadapkan pada fakta bahwa perpisahan adalah sebuah keniscayaan.

Forest dan Simon seolah tidak ingin film ini mengalienasi estetika teks audio-visual yang disajikannya dari manusia dan segala dinamikanya dengan membawanya ke ranah yang relevan dan kontekstual. Melalui teks multitafsir yang diciptakan oleh narasi, akting, dialog, sudut pengambilan gambar, audio hingga detail-detail kecil seperti kostum menjadikannya tidak murni sebagai sebuah bentuk karya seni. Sesuatu yang penting dilakukan sebagai upaya agar seni tidak menjadi mitos yang sakral, sehingga membuka kemungkinan untuk dibaca, menjadikannya tetap hidup dan dekat dengan siapa pun penikmatnya.

Forest Ian Etsler & Sébastien Simon | 23 menit | Prancis, Korea Selatan, Jepang | 2016 | PG
Minggu, 10 Desember 2017 | Auditorium IFI-LIP | 15:00 | Q&A

Recent Posts
leo Donec risus ut at suscipit tempus dolor. risus.