Review Film: Tell the Prime Minister

Eiji Oguma | 104 menit | Jepang | 2015 | PG

Melalui karakter-karakter lintas kelas, Eiji Oguma menyajikan sebuah film tentang betapa kompleksnya perjuangan masyarakat Jepang dalam menghadapi ancaman penggunaan nuklir sebagai pembangkit tenaga listrik. Latar belakang Oguma sebagai seorang  profesor manajemen kebijakan di Keio University, Jepang yang telah mempresentasikan paper berjudul Japan’s Nuclear Power and Anti-Nuclear Movement from a Socio-Historical Perspective pada 2012 lalu membuat Tell the Prime Minister (2015) kaya akan perspektif dalam melihat tragedi meledaknya reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima.

Paper yang Oguma presentasikan di Conference on Towards Long-term Sustainability: In Response to the 3/11 Earthquake and the Fukushima Nuclear Disaster, Center for Japanese Studies, University of California Berkeley, tersebut menyoroti munculnya jenis gerakan sosial baru dalam sejarah jepang. Ia pun kemudian menindaklanjuti paper tersebut dengan menyelesaikan sebuah esai berjudul A New Wave Against the Rock: New social movements in Japan since the Fukushima nuclear meltdown yang diterbitkan di The Asia-Pacific Journal pada tahun 2016 guna dijadikan sebagai riset bagi film ini. Akses terhadap figur-figur penting dalam gerakan anti nuklir pasca-Fukushima yang Oguma peroleh dalam proses penyusunan esainya, membuat pemilihan karakter dalam film ini menjadi sesuatu yang vital dalam membawa penonton menyelami panjang dan rumitnya sejarah Jepang dan nuklir.

Naoto Kan, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada saat reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima meledak, menjawab bagaimana Jepang dengan segala sejarah kelamnya terhadap nuklir bisa memiliki lebih dari 50 reaktor nuklir pada tahun 2011. Ia menunjukkan betapa sulitnya bahkan bagi seorang Perdana Menteri yang sudah aktif dalam memperjuangkan gerakan anti nuklir semenjak duduk di bangku perkuliahan untuk mengubah keadaan tersebut. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari konteks kehadiran tenaga nuklir di Jepang yang sejak awal kemunculannya berkaitan sangat erat dengan kepentingan ekonomi dalam dan luar negeri. Hal ini membawa kita pada permasalahan berikutnya melalui karakter seperti Sachiko Kameya, seorang ibu yang tinggal 1.5 kilometer dari reaktor Fukushima.

Kameya menyuguhkan penonton horror dan keputusasaan yang ia alami. Ketakutan yang begitu kompleks karena melipui berbagai aspek, dari kepanikan yang tercipta akibat ledakan reaktor hingga absennya media sebagai sumber informasi sehingga mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ketakutan yang nyata dan tidak memandang perbedaan latar belakang sosial ekonomi politik setiap individu di dalamnya. Ketakutan dan keputusasaan yang menyeret mereka pada satu titik di mana mereka merasa ada sesuatu yang salah, membuat mereka kehilangan kepercayaan terhadap otoritas dan memutuskan harus melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu. Sebuah tindakan yang terlihat kecil namun begitu fundamental dalam munculnya sebuah perlawanan, merebut kendali atas peredaran informasi.

Kami menangkap yang mereka lakukan begitu fundamental karena ia serupa dengan konsep belajar a la Paulo Freire. Sebuah proses belajar yang bukan sekedar baca-tulis melainkan upaya untuk memberikan kesempatan berbicara kepada pihak-pihak yang selama ini tidak memiliki privilise tersebut. Sebagai salah satu negara terdepan dalam ihwal ekonomi dan pembangunan, masyarakat Jepang tidak tumbuh dalam kultur yang menempatkan kebebasan berpendapat sebagai sesuatu yang penting. Hal ini bisa kita lihat dari konflik para korban ketika mereka mencoba menyuarakan pendapat mereka. Mereka tidak dihadapkan dengan halangan berupa kejamnya state-police, tetapi betapa sulitnya hal itu untuk mereka lakukan secara personal karena tindakan tersebut mereka anggap sebagai sesuatu yang tabu. Sebuah stigma yang dilahirkan dari kombinasi preseden buruk terorisme oleh kelompok kiri di Jepang pada dekade 1970-an dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya penonton akan disajikan pemandangan sebuah perlawanan yang begitu jujur karena berawal dari sebuah proses panjang sekelompok individu yang berdamai dengan dirinya sendiri dan mengalahkan ketakutan kolektif. Kita tidak akan dimanjakan dengan adegan sebuah gerakan massa yang digerakkan oleh testosteron dan adrenalin. Lebih dari itu, ia melihat bagaimana meledaknya reaktor pembangkit tenaga nuklir di Fukushima memiliki dampak yang begitu besar di dalam kehidupan setiap individu di dalamnya dan menggerakkan mereka untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan.

Perjuangan masyarakat Jepang melawan penggunaan nuklir adalah sebuah sejarah panjang. Dimulai dari kemunculan kepedulian lingkungan pada dekade 1960-70an, gerakan sosial pasca-Fukushima hanyalah sebuah fragmen sejarah yang mungkin tidak akan pernah selesai melihat betapa mengerikannya sebuah negara yang dijalankan oleh koalisi korporat dan birokrat. Ia barangkali tidak sedramatis kisah revolusi sebuah peradaban di ambang perang sipil atau konflik sosial politik. Namun menyaksikan sekelompok manusia yang memahami betul makna lagu if you tolerate this, your children will be next-nya Manic Street Preachers, sungguh bukan sesuatu untuk dilewatkan.

Eiji Oguma | 104 menit | Jepang | 2015 | PG
Rabu, 13 Desember 2017 | Auditorium IFI-LIP | 15:00 | Q&A

Recent Posts
facilisis suscipit Donec Donec ut lectus Praesent nec risus. ut justo et,