Review Film: Ryoko Kaban

Ryoko Kaban | Timoteus Anggawan Kusno | 9’ | Japan | 2016

Ryoko Kaban | Timoteus Anggawan Kusno | 9’ | Japan | 2016

Dengan latar rekam dari luar gerbong kereta, Timoteus, sang sutradara, menciptakan dialog rekayasa yang cukup mendalam antara seorang wanita sebagai narasumber dan seorang pria sebagai penanya. Film ini mengisahkan seorang wanita yang senang merayakan rasa sepinya di dalam kereta, dipenuhi dengan memori-memori yang telah lama hilang yang melebur di dalam lamunannya. Membawanya ke dalam suasana tenang sebagai perayaan sepi yang menggelutinya.

Refleksi diri dari dalam gerbong kereta merupakan gambaran dari kebiasaan wanita tersebut untuk berkontemplasi melalui ingatan-ingatan lama yang mengandung suka maupun duka. Ingatan-ingatan suka cita tergambarkan pada kisah yang diceritakan olehnya ketika ia menikmati senandung yang kerap dinyanyikan oleh sang kakek yang menganggapnya spesial. Senandung yang setiap saat muncul dalam kepalanya, menemaninya menikmati sepi di dalam kereta. Latar suara iringan piano dan senandung si wanita akan lagu yang kerap disenandungkan oleh kakeknya, membuat penonton untuk masuk kedalam memori yang sedang dikisahkan.

Masih dengan latar yang sama, narasumber melanjutkan kisahnya pada kisah duka yang dialami Ibu, kakak, serta kakeknya. Ia mencoba mengingat semua cerita yang pernah kakeknya ungkapkan akan Ibu dan kakaknya. Kisah si Ibu yang mengalami pergulatan batin untuk meminum racun seperti yang dilakukan oleh teman wanita lainnya pada saat Jepang kalah perang, serta kekhawatiran akan dijadikan tawanan oleh China maupun Uni Soviet.

Suasana haru juga ditampilkan ketika si wanita mengisahkan kematian kakaknya ketika dalam perjalanan pulang menuju Jepang. Di mana sebelumnya kakak dan Ibunya tinggal di Manchuria dalam rangka mengindari dinamika peperangan. Kelahiran sang narasumber sebagai penyebab kematian Ibunya serta kakeknya yang juga menutup usia tidak lama setelah si wanita kembali ke Tokyo untuk melanjutkkan sekolahnya, turut menciptakan suasana haru disertai iringan piano yang menyokong montase pilu tersebut.

Yang didapatkan dari film ini adalah suatu ajakan sang sutradara kepada penonton untuk turut merefleksikan diri dari masa lalu. Sebuah kepingan kisah yang telah lama terbuang maupun masih lekat dalam memori untuk dikontemplasikan menjadi semangat hidup baru, serta bentuk dari ungkapan rasa syukur atas masa sekarang yang dibangun dari pondasi-pondasi kisah bahagia maupun kesedihan. Serta menyadarkan bahwa rasa sepi tidak selamanya harus dihindari, karena manusia cenderung takut akan kekalutan apabila sepi menghampiri. Film ini merupakan salah satu bukti bahwa merayakan sepi dengan caranya masing-masing akan memunculkan rasa nyaman yang tidak pernah didapatkan dalam keramaian dan dalam hiruk pikuknya hidup, serta dapat mendamaikan diri dari pergulatan batin yang tidak berujung. [Justicia Handykaputri]

Timoteus Anggawan Kusno | 9’ | Jepang | 2016

8 Desember 2016 | IFI-LIP Yogyakarta | 16.30 WIB

Recent Posts
ut Donec Praesent consequat. mattis elit. luctus venenatis, id dolor ut neque.