Review Film: Paesaje Para Una Persona

Florencia Levy | 8 menit | Argentina | 2016 | PG

Kalimat tersebut mengantar penonton untuk mulai merasakan konflik-konflik dalam relasi manusia dengan tanah sedari awal film Paesaje Para Una Persona (Florencia Levy, 2016). Dari kondisi mencekam seorang yang menjadi target buruan karena jauh dari tanah kelahirannya, klaim atas udara, hingga keinginan kembali pada tanah kelahiran.

Di sebuah pemukiman sepi, dengan jalan tak teraspal, tiba-tiba terdengar laporan seseorang yang telah berhasil menembak pesawat, yang kemudian disusul dengan laporan evakuasi korban pesawat jatuh, dari wilayah yang tidak dijelaskan. Ketika mata penonton sibuk menerawang tiap sudut pemukiman kota-kota di Rusia, Prancis dan lainnya, ingatannya dibawa pada suasana mencekam, ketika Boeing 777 Malaysia Airlines nomor MH17 yang bertolak dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur (Juli 2014) tertembak. Penggambaran melalui medium audio dan visual tersebut, memberi gambaran bagaimana konflik antara sparatis pro-Rusia dan militer pro-Kiev, menyebabkan seluruh 298 penumpang dan awak MH17 meninggal dunia.

Hubungan tanah dan manusia tidak selalu berada dalam wujud imaji menyenangkan, melainkan juga dalam bingkai perang yang mengetengahkan rasa getir, cemas dan mencekam. Seperti pada peristiwa pertama yang menggunakan suara tembakan sebagai penanda babak. Peristiwa pertama ini, mengajak untuk mengingat dan membayangkan kondisi mencekam pada insiden penembakan pesawat.

Secara tidak sadar, peristiwa pertama ini, mengajak untuk mempertanyakan ulang, kuasa yang dimiliki tanah terhadap udara dan seisinya. Pada kasus yang lain, pertanyaan tersebut berkembang pada kasus tanah yang hadir untuk menguasai imaji manusia hingga menjadi dasar menciptakan hukum.

Tanah dan manusia, memiliki relasi yang membingungkan. Di satu sisi saling mendukung, namun di sisi yang lain saling meniadakan. Paesaje Para Una Persona atau yang dalam bahasa Inggris berjudul Landscape For a Person (Florencia Levy, 2016), menyuguhkan setumpuk romansa antara manusia dan tanah, melalui beragam tuturan dari subyek. Seluruh konflik tidak hanya menggambarkan sesuatu yang dikerjakan manusia terhadap tanah, melainkan juga sebaliknya.

Selama delapan menit, penonton diajak menangkap beragam detail pada medium audio dan visual, yang masing-masing menampilkan peristiwa berbeda, namun saling mengisi. Terkadang audio menjadi penjelas visual, dan terkadang pula visual mendeskripsikan audio. Metode penjajaran ini, digunakan Levy untuk memancing kedekatan penonton dengan film, lewat tafsir-tafsir yang hadir di akal mereka.

Walaupun, tafsir tersebut bersifat subjektif, namun Levy tetap membangun keserempakan berfikir melalui model pendekatan visual bergaya penjelajahan street view ala Google Map. Gaya ini memposisikan penonton untuk seolah-seolah mengamati atau mendengarkan peristiwa sebagai subyek yang superior, atau inferior. Terkadang penonton mengamati obyek-obyek visual dari atas, selevel dengan horison atau bahkan lebih rendah dengan horison.
Pada film ini, elemen visual menjadi bagian yang memiliki peran penting untuk mengambarkan suasana peristiwa yang dituturkan subyek.

Film ini menampakkan kejelian Levy dalam menemukan hal dasar yang membangun relasi antara tanah dan manusia. Levy pun mengetahui, bahwa hubungan keduanya hanya dapat terlihat melalui konflik, baik yang melibatkan diri sendiri maupun pihak lain. Film ini tidak berusaha membangun imaji atau bayangan ideal soal hubungan antara manusia dan tanah. Penolak, kerinduan dan kematian, lainnya menjadi gelaran kisah roman antara tanah dan manusia.

Selasa, 12 Desember 2017 | Societet TBY | 19:00

Recent Posts
ultricies vel, neque. ipsum ut felis consequat. Phasellus porta.