Focus on South Korea

Kemenangan Bong Joon-ho di Cannes Film Festival membuat sinema Korea Selatan makin semarak dibicarakan di seluruh dunia. Meskipun bagi para penggemar film, sebelum Parasite berjayapun film Korea Selatan telah menawarkan ciri khas baru dalam sinema dunia, semakin sejajar dengan Jepang. Nama-nama seperti Kim Ki-duk, Hong Sang-soo, atau Park Chan-wook tentunya sudah tak asing lagi di telinga pegiat film yang mengikuti sinema Korea Selatan. Dilihat dari segelintir nama-nama tersebut, mengapa karpet merah perfilman Korea Selatan hanya berisikan nama sutradara laki-laki? Dimanakah sutradara perempuannya?

Ekosistem perfilman yang macho dan didominasi laki-laki sesungguhnya tak hanya ada di Korea Selata. Fenomena ini kita temui hampir di seluruh dunia. Mengapa dan bagaimana fenomena ini terbentuk dan mengakar tentu membutuhkan pembahasan yang baru lagi. Program Focus on South Korea: Remapping South Korean Women Directors tak akan membedah ketimpangan sutaradara perempuan dan laki-laki. Dikurasi bersama Shin Eun-shil dari Seoul Independent Documentary Film Festival, tahun ini Festival Film Dokumenter (FFD) menyajikan sebuah program yang memuat karya-karya perempuan sutaradara asal Korea Selatan.
Program ini pertama-tama tentu dirancang untuk memperkaya khasanah perfilman Korea Selatan yang selama ini nama-nama besarnya dikuasai laki-laki. Meskipun demikian, program ini tidak semata-mata hanya ingin menghadap-hadapkan dua gender dan mempertarungkan keduanya. Alih-alih melalui program ini, kami mengajak penonton untuk menyimak karakter-karakter film yang digarap oleh perempuan sutradara Korea Selatan.

East Asia Anti-Japan Armed Front (Kim Mirye, 2019) dan Heart of Snow: afterlife (Kim So-young, 2018) mengajak penonton menyaksikan perselisihan antara Korea Selatan dan Jepang di dua periode yang berbeda. Jika East Asia Anti-Japan Armed Front bertutur dengan rapi dalam rangkaian arsip dan wawancara, Heart of Snow: afterlife menyajikan ceritanya dengan lebih tenang dan puitik.
Beberapa film dalam program ini menunjukkan kecenderungan cerita yang personal, bahkan ketika isu yang diangkat pun cukup universal. beberapa cerita berasal dari lingkungan pribadi pembuat film. The Strangers (Myoung So-Hee, 2018) mengisahkan persoalan identitas dan relasi antara ibu-anak perempuan). perkara identitas inipun tersampaikan dalam film Optigraph (Lee Wonwoo, 2017) dimana pembuat film yang juga subjek film yang lama tinggal di Amerika mencoba menelusuri peristiwa sejarah di kampung halamannya pasca kematian kakeknya. Sementara The Unseen Children (Aori, 2018) memotret diaspora masyarakat Korea Utara melalui pengalaman para remaja yang mencoba kabur dari negara tersebut. Terakhir, Sweet Golden Kiwi (Jeon Kyu-ri, 2018) dengan sederhana dan akrab mengikuti kehidupan perempuan Korea Selatan yang tak merasa negaranya adalah tempat yang tepat untuknya, lalu mencoba peruntungan bekerja di New Zealand dan pelan-pelan mendefinisikan ulang hidupnya, membebaskan diri dari konvensi-konvensi yang berlaku di Korea Selatan. (Ayu Diah Cempak & Shin Eun-shil)*

co-curated with Shin Eun-shil from Seoul Independent Documentary Film Festival (SIDOF)

2019 —
 74 min —
 74 min
 Kim Mirye
Pada 30 Agustus 1974, pengeboman Mitsubishi Heavy Industries dilakukan oleh Front Bersenjata Anti-Jepang dari Asia Timur. Menyusul pengeboman Mitsubishi, serangkaian perusahaan Jepang juga diserang oleh kelompok tersebut. Mereka ditangkap dan…
2018 —
 31 min —
 31 min
 Aori
Eunkyeong kabur dari Korea Utara lewat Laos ketika berumur 13 tahun. Seungjin hampir terkena peluru tembakan di perbatasan Cina saat ia berumur 19 tahun. Seunghee lahir di Cina namun mengikuti…
2018 —
 80 min —
 80 min
 Myoung Sohee
Aku sering kali bermimpi buruk pada musim gugur. Karena sangat ingin menghilangkannya, aku memikirkan rumah dan pergi mengunjungi ibuku, yang tetap bekerja keras seperti biasanya, dan kampung halamanku, Chuncheon, yang…
2018 —
 21 min —
 21 min
 Jeon Kyu-ri
Kisah ini bermula dari kemungkinan bahwa suatu saat aku akan memakan buah kiwi di Seoul yang dikirim bibiku dari Selandia Baru. Aku berniat untuk menumpangtindihkan suara dan buah karya lintas…
2018 —
 17 min —
 17 min
 Kim So-young
Pada April 1920, tentara Jepang membantai orang-orang Korea yang tinggal di Vladivostok. Mereka juga mengeksekusi tokoh-tokoh revolusioner, seperti Kim Afanasi dan Alexandra Petrovna Kim, sebelum terjadinya migrasi paksa pada 1937.…
2017 —
 104 min —
 104 min
 Lee Wonwoo
Setelah pesta ulang tahun kakek Baek-su yang ke-99, aku diminta untuk menulis biografinya. Dua tahun kemudian, ia meninggal dan menyisakan permintaannya sebagai tugas bagiku. Aku menemukan sejarah masa lalu yang…