Wawancara Bersama Jason Iskandar, Juri Kompetisi Kategori Pelajar

Jason Iskandar

“Sistem kurasi pelajar tahun ini buat saya menarik banget sih, karena film-film yang dipilih masing-masing punya topik yang berbeda, dan masing-masing punya approach yang berbeda. Jadi ini seru banget!” – Jason Iskandar

Kalimat tersebut diucapkan Jason Iskandar dengan sangat sumringah. Dirinya melihat ada kesegaran di dunia dokumenter dari pembuat film pelajar. Pelajar telah memiliki keberanian untuk mengeksplorasi topik dan pendekatan di luar arus utama.

Pada Festival Film Dokumenter ke-16 ini, Jason didapuk sebagai juri Kompetisi Film Dokumenter Pelajar. Ini kali pertama dirinya menjadi Juri, setelah, pada FFD (2009) film Indonesia Bukan Negara Islam menjadi pemenang di kompetisi ini. Berikut wawancara tim Publisis FFD 2017 kepada Jason Iskandar, mari simak!

Mohon ceritakan kepada kami, awalmula ketertarikan Anda pada film, khususnya dokumenter?  

J: Jadi sebelum membuat film dokumenter, saya memiliki ketertarikan pada desain dan fotografi. Nah, tapi perlahan, saya merasa bahwa desain dan fotografi itu spacenya terlalu sempit untuk menceritakan banyak hal. Nah sampai, saya melihat pengumuman di SMA waktu itu, ada workshop dokumenter yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta dan The Bodyshop. Nah, saya tertarik buat ikut acara tersebut. Karena mungkin film akan jadi lebih lebar space-nya. Tapi awalnya saya tertarik karena workshop film aja. Tapi diworkshop itu saya bertemu dengan banyak orang, mentor-mentor yang menanamkan bahwa tu film (dokumenter) menarik banget. Dan dii workshop itu difasilitasi juga. Nah, selama berproses dalam membuat film dokumenter, saya merasa space itu enak banget buat bercerita. Nah, sejak saat itu saya jadi ketagihan membuat film.

Menurut mas sendiri, bagaimana perkembangan film dokumenter di beberapa tahun terakhir ini, yang khususnya dibuat oleh pelajar?

J: Yang paling saya rasakan, si sebenernya, apalagi setelah menonton film-film karya pelajar ini, di FFD tahun 2017 ini, saya ngeliatnya yang paling kerasa adalah topiknya sangat beragam. Kalo yang saya rasakan waktu saya bikin film saat SMA dulu, film-film pelajar banyak sekali memotret tentang sekolah mereka, kehidupan di sekolah si kebanyakan.  Which is saya juga kayak gitu, memotret teman-teman sendiri. Tentang kehidupan di sekolah-lah.

Cuman setelah melihat karya-karya pelajar tahun ini, saya ngeliat topik-topik yang dibahas tu ternyata udah keluar dari sekolah mereka. Dan membahas topik-topik lain yang ada di luar sekolah mereka. Dan ini penting banget buat perkembagan dokumenter pelajar.

Itu satu, yang kedua, yang saya liat juga adalah style documentary-nya sendiri. Saat saya pertama kali bikin film, refrensi mungkin saat itu masih terbatas sekali ya. Jadi, acuan dokumenter itu ya kaya televisi. Saat itu yang kita tahu tentang dokumenter adalah dokumenter acara-acara tv. Apalagi saat itu metro tv dengan Eagle Awards-nya juga lagi terkenal-terkenalnya.  Jadi semua orang bikin film acuannya ya dari televisi tadi. Cuman kalo liat karya pelajar-karya pelajar ini, keliatan sekali refrensinya sudah jauh di luar televisi. Mereka sudah tau ‘apa itu dokumenter observasi’. Bahkan ada tadi yang treatment pendekatannya udah investigatif. Membahas satu topik lalu mencaritahu pergi kesana kemari.

Ya itu dia si, pertama topik dan cara berceritanya yang sudah sangat beragam. Mungkin ini juga pengaruh dari sistem kurasi FFD tahun ini. Sistem kurasi pelajar tahun ini buat saya menarik banget si, karena film-film yang dipilih masing-masing punya topik yang berbeda, dan masing-masing punya approach yang berbeda. Jadi ini seru banget!

Menurut Anda, kendala apa yang sering ditemui oleh pembuat film dokumenter pelajar?

J: Kendala yang paling utama sebenarnya logika berfikir ya. Karena dokumenter itu, em film apapun si, adalah penerapan cara berfikir kita sebagai pembuatnya. Dan logika berfikir ini musti runtut ya a b c d gitu. Dan sebagai pelajar si sebenernya, pengalaman saya juga seperti itu, yang paling sulit adalah buat merumuskan ‘apa si yang pengen kita ceritain secara runtut dan gimana caranya kita menceritakan itu secara runtut’, dari A B C D. Ya, logikanya akhirnya kita mikirin penonton supaya penonton bisa mencerna itu secara runtut gitu. Nah, itu yang menurut saya paling utama yang dirasakan pembuat film pelajar. Gimana caranya kita breakdown apa yang pengen kita bikin dan gimana caranya menceritakan itu secara runtut.

Kedua, saya rasa si teknis sudah bukan kendala yang, mungkin masi jadi kendala di beberapa kota, di luar jakarta dan beberapa kota lainnya. Tapi, saya si ngeliatnya, terutama setelah nonton ini, mereka sudah bisa menyeimbangkan alat-alat yang mereka pakai, em teknis mereka pakai dengan approach yang mereka gunakan dalam film. Ada beberapa yang teknisnya masih lemah, tapi di beberapa film sudah kelihatan mereka bisa menggunakan teknis dengan baik.

Topik dokumenter apa yang menurut anda menarik diri anda secara personal?

J: Kalo menurut saya, topik bisa banyak hal. Tapi pada intinya, saya suka film yang bercerita tentang human. Jadi apapun yang kita bahas, topik apapun yang kita bahas sebenernya ujung-ujungnya kita akan ngomongin human behavior itu, tentang prilaku manusia. Framingnya mungkin bisa macem macem, settingnya mungkin bisa macem-macem. Terus topiknya pun bisa macem macem, tapi semua ini kan sebenerya yang kita bahas human behavior gitukan, Prilaku manusia. Jadi saya rasa memang itu yang menarik buat di capture oleh film gitu. Bahkan, film tentang nature pun, tentang alam pun, pada akhirnya kita kan membahas soal dirikita sendiri, membahas soal manusia.

Nah, kalo soal topik yang diangkat oleh pelajar-pelajar ini, saya senangnya film-film pelajar ini udah banyak yang keluar dari lingkungan sekolah mereka dan membahas topik-topik lain diluar sekolah. Ini perkembangan yang penting si menurut saya.

Menurut Anda bagaimana perubahan orientas pada pembuat film (dalam hal ini pembuat film pelajar) akibat perhitungan mereka pada modal?  

J: Saya melihatnya si begini, kalo Indonesia, semuanya yang berhubungan dengan film itu ujung-ujungnya siasat. Jadi ujung-ujungnya kita harus berpikir gimana caranya supaya kita bisa berkesinambungan dalam berkarya gitu. Kalo yang saya lakukan dengan teman-teman, saya punya production company namanya studio antelop. Yang saya lakukan adalah, saya mengerjakan kerjaan comercial, iklan segala macam, tapi hasil dari itu saya subsidi untuk karya secara personal gitu. Dan saya dan teman-teman berjanji bahwa, kayak setahun sekali kita harus bikin sesuatu yang beneran dari karya kita sendiri, yang dari pikiran sendiri, dari ide kita sendiri dan memang cerita kita sendiri. Dan itu ujung-ujungnya memang kita harus bersiasat untuk melakukan itu.

Adakah testimoni untuk FFD?

J: Saya pertama kali kenal Festival Film Dokumenter waktu SMA. Saya mendaftarkan film saya kesini dan waktu itu saya inget banget ketika film saya kepilih dalam program kompetisi saya udah seneng banget. Dan beberapa hari kemudian ternyata saya dapet pengumuman bahwa memenangkan penghargaan kategori pelajar, itu jadi moment penting si buat saya. Karena sebagai pelajar gitu, mendapatkan perhargaan seperti ini penting banget buat saya. Saya kuliahpun di Jogja, dan tiap tahun saya dateng di FFD ini dan selalu merasakan kehangatan dari tongkrongan-tongkrongan sekitar venue. Dan film-film yang disajikan terkurasi dengan baik. Dan tahun ini baru sempat main ke FFD lagi. Dan ternyata mennton film karya pelajar ini cukup mengejutkan. Banyak topik menarik dan cara bertutur yang ternyata sangat variatif.

Recent Posts
justo quis velit, risus id, neque. massa efficitur. elementum Donec elit. eleifend