The End Of Special Time We Were Allowed: Cerita Kematian Seorang Rekan

review

Film asal Jepang ini bercerita tentang hari-hari terakhir seorang musisi bernama Sota Masuda. Dengan bakat yang ia miliki, ia mampu membuat terobosan besar ketika ia memenangkan kontes musik pada usia 17 tahun. Ia menunjukkan bahwa mencari nafkah melalui musik merpuakan passionnya. Namun, mimpi-mimpi yang mulai terwujud buyar begitu saja ketika ia memutuskan untuk pindah ke universitas. Sesudah pindah ke Tokyo, Masuda bertemu dengan kenyataan pahit dan mulai mengandalkan obat untuk menumpulkan rasa sakit. Setelah mengalami overdosis, baru ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Ketika kembali di lingkungan lamanya, Masuda bertemu dengan teman-teman dan kembali membentuk group musik. Berbeda dengan Masuda yang selalu ingin profesional, teman-temannys hanya ingin bermusik untuk sekedar menjadi hobi dan kesenangan sesaat saja. Sikap ini perlahan-lahan menciptakan kesenjangan antara mereka sampai hubungan pertemanan tersebut runtuh. Masuda kemudian menghubungi teman band lamanya dan mereka mulai tampil bersama lagi, namun jumlah penonton tidak pernah lebih besar dari apa yang diharapkan oleh Masuda.

Masuda memiliki sebuah lokasi favorit; sebuah sungai tempat ia mengagumi keindahan matahari saat terbenam. Di sungai favoritnya itulah, Masuda memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia meninggalkan catatan dan rekaman yang ditujukan untuk Shingo Ota, sang sutradara film. Melalui The End Of Special Time We Were Allowed, Shingo Ota mengumpulkan tahun-tahun terakhir kehidupan Masuda dan membayangkan apa yang dinantikan Masuda setelah kematian.

Film The End Of Special Time We Were Allowed melompat di atas rintangan yang memisahkan film dokumenter dan fiksi. Film ini juga mampu memadukan unsur-unsur imajinasi dengan perjalanan ingatan dari kehidupan yang berakhir penghancuran diri. Nanda Dhaida, salah satu penonton, mengungkapkan komentarnya terkait film ini melalui wawancara singkat. “Saya tidak bisa untuk tidak mengkaitkan film ini dengan dengan persoalan yang sering saya hadapi. Sebagai mahasiswa Sastra, pernyataan soal masa depan, pekerjaan, dan definisi hidup mapan sudah semacam realita sehari-hari,” ungkap Nanda. Lebih lanjut, Nanda mengungkapkan bahwa yang membedakan realita sehari-hari yang dialaminya dengan realita pada film itu mungkin adalah tingkat tekanannya. Jepang yang merupakan negara maju menuntut kualitas SDM yang lebih tinggi dari pada Indonesia sehingga daya saing di sana juga tinggi. “Film itu tidak memaparkan jawaban untuk permasalahnnya seperti pemaparan sutradaranya dalam diskusi, ia justru mengajak untuk mencari solusinya bersama. Jadi lebih paham situasi yang terjadi di luar dan bisa membandingkan dengan yang terjadi di sini untuk kembali berpikir soal banyak hal,” imbuhnya.

[Dwi Utami]

Recent Posts
diam odio Curabitur pulvinar in mi,