Penjurian Film Panjang dan Ihwal Perkara Dokumenter Indonesia

SONY DSC

Pada Senin (7/12), penjurian kategori dokumenter panjang FFD ’14 telah usai dilakukan. Dari sebelas nominasi film panjang yang masuk, diperoleh tiga film yang telah dinyatakan lolos ke tahap final. Tiga film yang dinilai dalam sesi penjurian hari pertama dalam keseluruhan rangkaian acara FFD ini adalah: Tanah Mama (Mama’s Soil), Lelang Harga Sang Pemangsa (The Auctions of Predators), dan Harimau Minahasa (Tiger of Minahasa).

Penjurian dilakukan di dalam ruangan tertutup di area kompleks Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul oleh tiga orang juri kompeten yang namanya sudah tidak asing lagi di dalam dunia per-film-an. Adalah Debra Zimmerman (Direktur Eksekutif Women Make Movies), J.B Kristianto (Dewan Juri FFI), dan Ronny Agustinus (Pemred Marjin Kiri & Juri ARKIPEL). Proses penjurian berlangsung selama kurang lebih 3 jam, mulai dari pukul 10.00-13.00. Selepas screening tiga film finalis dengan rata-rata durasi 56 menit ini, prosedur yang berlangsung selama penjurian lalu ditutup dengan diskusi yang mendatangkan sebuah dialektika baru. Masing-masing juri dalam hasil diskusinyamenyatakan pelbagai pendapat dengan inti problem yang sama, bahwa conseptual-thinking dokumenter Indonesia masih lemah.

Masih ada kelemahan yang sangat mendasar di dokumenter Indonesia, antara lain kemampuan jurnalistik, tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan efektif dan menarik. Ya permasalahan dasar kita itu, bagaimana menyusun narasi, meskipun beberapa ada yang bagus bahkan bagus sekali,” tungkas Ronny Agustinus selaku juri.

Menjawab problem ini, dua tahun berturut-turut juri ARKIPEL (Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014 & 2015) ini berpendapat bahwa penyusunan narasi merupakan permasalahan paling dasar dalam dokumenter Indonesia, ”Pada dasarnya documentary itu kerja jurnalistik, ada 5W dan 1H, ada subject-meter-nya, ada latar belakang, dan ada pesan apa yang mau disampaikan. Itu basic sekali, awalnya dari menulis lalu dieksekusi ke visual, meskipun secara tulisan dan visual beda, tapibasic nya kan sama. Ya itu permasalahan mendasar kita.

Perihal pagelaran Festival Film Dokumenter yang sudah diadakan secara rutin sejak 2002, pria yang juga menjawat sebagai pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri ini memberikan pendapat pribadinya secara lansgung. “Saya kira FFD adalah kebanggan sendiri, tertua yang memulai dan terus konsisten itu bukan prestasi yang bisa diremehkan. Jalan aja terus, dan jika ada yang harus ditingkatkan saya kira masterclass-nya ya, saya kira itu adalah cara yang baik untuk menyebarkan edukasi soal dokumenter, belajar dari yang terbaik.

[Dwiki Aprinaldi]

Recent Posts
risus. dapibus diam luctus nunc Phasellus ut eleifend risus in ante.