Merasakan Pengalaman yang Khas dari Video Art dan Film Dokumenter

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Video art dan film dokumenter bisa dimaknai sebagai seni audiovisual. Bagaimana video art dan film dokumenter mengemas gagasan dengan kekhasannya masing-masing? Apakah perlu membuat batasan-batasan tertentu antara video art dan film dokumenter? Jika film bermuara pada festival film atau bioskop sebagai ruang pertemuannya dengan publik, video art biasanya bermain di arena pameran seni rupa dalam bentuk instalasi.

Hal tersebut kemudian diperbincangkan dalam Program Doctalk Intermedialitas/Alih dan Silang Wahana: Manuver Mata Mekanis, Video Art dan Film Dokumenter di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Festival Film Dokumenter (FFD) 2019, pada Kamis (5/12) di Kedai Kebun Forum. Dimoderatori oleh Hendra Himawan (kurator independen, peneliti, dan penulis seni rupa), diskusi ini menghadirkan Alia Swastika (kurator dan direktur Jogja Biennale) dan Rosalia Namsai Engchuan (filmmaker).

Alia memulai diskusi dengan menayangkan dua video untuk membantu memahami bagaimana seniman visual menggunakan dokumenter sebagai metode. Penggunaan metode dokumenter dalam praktik gambar gerak di Indonesia menurut Alia ada tiga: pendekatan subjektivitas (siapa yang mewakili subjek), performativitas/narasi (diri sebagai subjek), dan realitas (memaparkan realitas sebagaimana adanya tanpa proses editing).

Karena menjadi metode, ada keinginan keluar dari konvensi yang linear tentang realitas dan narasi. “Memang dalam praktiknya kita tidak terlalu berpikir tentang apa itu dokumenter, tapi gagasan untuk merepresentasikan realitas, masih sangat kuat dalam seni visual. Ada banyak citra-citra gambar yang dibuat lebih indah, lebih destruktif, atau terkadang ada distorsi. Tapi semuanya mencoba keluar dari gagasan tentang dokumenter yang itu-itu saja,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan perbedaan video art dan film dokumenter. Dalam video art, ada gagasan yang memberi peluang kepada individu untuk memiliki kontrol penuh atas ruang dan waktu.

Video art yang biasanya disajikan dalam model multichannel—tiga layar atau lebih yang ditampilkan sekaligus—­memberi pilihan kepada individu untuk memilih berapa banyak layar yang ingin disaksikan. Apakah hanya ingin menyaksikan layar kedua yang berada di tengah, memilih satu layar saja, atau mengikuti satu demi satu layar tersebut secara berurutan.

“Saya rasa yang membedakan antara kita menonton video art dengan menonton dokumenter di televisi, Netflix, atau youtube adalah, keinginan yang sangat besar dari seniman visual untuk mengubah bayangan kita tentang cara bercerita dari narasi menjadi imajinasi. Itu mengapa spesifikasi teknis yang sangat detail—misal harus memakai jenis proyektor atau jenis sound system tertentu—menjadi sangat penting, karena pengalaman memasuki ruang itu adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh senimannya. Tidak hanya sekadar duduk menyaksikan gambar bergerak dan mendapatkan cerita. Tetapi penonton diajak untuk menjadi bagian dari penceritaan itu,” tutur Alia. 

Sedangkan kontrol terhadap waktu, individu memiliki kebebasan untuk masuk ke ruang pameran dan menyaksikan video art kapanpun. Gagasan mengenai awal dan akhir dihilangkan. Jika misalnya pameran dibuka dari pukul 10.00-21.00 WIB, individu bisa mengunjungi salah satu ruang pameran jam dua siang, sedangkan ruang pameran yang lain bisa didatangi keesokan hari jam tujuh malam. Individu tidak terikat oleh batasan durasi. Apakah ingin menyaksikan video art dari awal sampai akhir, atau hanya menyaksikan satu menit pertama.

“Kalau kita menonton ke bioskop, kita punya sensasi berada dalam sebuah ruang bersama-sama dengan orang lain, dan dalam periode waktu yang sama. Jika misalnya film dimulai pukul 20.00 WIB, orang-orang biasanya akan masuk pukul 19.55 WIB dan keluar bersama pukul 22.00 WIB. Meskipun saat menonton film di bioskop kita bisa memilih untuk keluar lebih awal, tetapi itu tidak banyak dilakukan, kecuali memang benar-benar mendesak atau kita memang sangat tidak menyukai filmnya,” kata Alia.

Selanjutnya, Rosalia membicarakan proses pembuatan karyanya. Karya berwujud film eksperimental tersebut merangkum perjalanannya sebagai keturunan Jerman-Thailand yang merasa kebingungan dengan identitasnya. Ia mengatakan bahwa film eksperimental tersebut merupakan bentuk yang paling dekat dengan realitas yang ia alami. “Mungkin film ini sedikit abstrak, tidak bisa dipahami, dan tidak nyaman dilihat. Tapi itu memang menunjukkan bagian dari diri saya sendiri yang juga tidak paham dengan hal tersebut,” ujar Rosalia.

Penulis: Nizmi Nasution