Menilik Praktik Kerja-Kerja Rentan Saat Ini

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Untuk mendiskusikan kembali film-film yang telah diputar secara lebih komprehensif, Festival Film Dokumenter 2018 menggelar sebuah diskusi bertajuk: Pasukan Anti Prei: Menilik Praktik Kerja-Kerja Rentan Saat Ini. Diskusi ini diadakan pada Selasa, 11 Desember 2018 di auditorium IFI – LIP Yogyakarta pukul 19.00 WIB. Dengan narasumber Hizkia Yosias Polimpung, peneliti dan penulis yang aktif menjadi pembicara mengenai dinamika-dinamika pekerja dan dipandu oleh programmer “Perspektif” Irfan.R Darajat.

Sesuai dengan tema yang diangkat oleh program “Perspektif” tahun ini –yaitu Hak Untuk Malas–diksusi ini bertujuan untuk mengajak penonton mempertanyakan kembali hakikat kerja. Selama ini pekerja-pekerja rentan lekat dengan dengan wacana “produktif”, yang tanpa sadar semakin melanggengkan praktik-praktik eksploitatif terhadap pekerja itu sendiri.

Hak untuk malas menurut Yosi –sapaan akrab Hizkia Yosias Polimpung bukan berarti para pekerja yang menolak untuk bekerja ini lantas bermalas-malasan. Hakikat kerja di dalam kapitalisme adalah waktu dimana kita mengerahkan seluruh posisibilities untuk kepentingan kapitalisme. Sementara itu, hak untuk malas sejatinya adalah melakukan pe-kerja-an yang sebisa mungkin tidak dicaplok oleh kapitalisme. Ada banyak hal yang dilakukan pekerja diwaktu “malas”. Mereka membentuk serikat kerja dan lain sebagainya, ujar Yosi.

Dalam diskusi ini, Yosi juga menjelaskan penelitiannya tentang “Rantai Nilai Kerja”, yaitu bagaimana penciptaan nilai di dalam sektor-sektor lapangan kerja yang berjejaring satu sama lain. Menurut penemuan Yosi, kecenderungan yang sering muncul adalah aspek-aspek pra-produksi yang jarang sekali terlihat. Selain itu, fungsi kapitalisme selalu mencari cara agar selalu memiliki stok pekerja.

Para pemilik lapangan kerja selalu mencari para (calon) pekerja yang siap pakai, tanpa mau tahu tentang bagaimana anda melewati serangkaian proses agar akhirnya anda bisa menjadi orang-orang yang siap untuk bekerja,lanjut Yosi.

Di akhir diskusi, Yosi menggarisbawahi pentingnya untuk memulai kerja secara kolektif, dibandingkan kerja secara individual. Bekerja secara kolektif memungkinkan keterbukaan dalam dunia kerja. Dengan begitu, diharapkan hal-hal yang selama ini tidak banyak diketahui dapat muncul ke permukaan dan menjadi beban pikir bersama.

Close Menu