Mengenal Seluk Beluk Film Programming

SHARE

Festival Film Dokumenter (FFD) 2018 turut menggelar diskusi bertajuk ”Programming on Table: Siasat Program dan Penonton” pada Jumat (7/12) pukul 14.45 WIB di Ampthitheatre Taman Budaya Yogyakarta. Salah satu rangkaian dari program Doc-Talk ini dipandu oleh Aditya R. Pratama (FFD), diskusi ini menghadirkan Chris Fujiwara (Programmer dan Kritikus Film), Fan Wu (Programmer Taiwan International Documentary Film Festival), dan Alexander Matius (Programmer Kinosaurus) sebagai pembicara.

Lewat ketiganya, diskusi ditujukan untuk mengenal lebih jauh kerja-kerja film programming, satu pekerjaan yang hingga saat ini masih menjadi sesuatu yang asing bagi sebagian besar publik. Padahal kehadiran film programmer tidak kalah penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem perfilman yang sehat.

Chris Fujiwara, yang telah puluhan tahun bekerja sebagai film programmer¸dari Jeonju International Film Festival, Mar del Plata Film Festival, hingga Edinburg International Film Festival menganggap kehadiran programmer film itu penting. Peran tersebut bertanggungjawab untuk menjaga keberlangsungan ekosistem film dengan menjalankan fungsinya untuk membangun relasi yang bermakna antara festival film dan penonton. “Tentu bukan dengan pertimbangan untuk menyenangkan salah satunya, karena jika seperti itu, maka tinggal kita putar saja film-film Hollywood,” ujar pria yang juga mengajar film aesthetics dan film history di Tokyo University, Yale University dan Rhode Island School of Design ini.

Peran film programmer turut dianggap penting karena film memiliki fungsi sosial, yakni pengalaman komunal lewat pemutaran di satu ruang dan waktu yang sama. Untuk itu, menurut Chris, seorang film programmer perlu memiliki kedalaman yang cukup, tidak hanya soal film, karena film programming sering kali bukan soal selera personal sang film programmer. Ia juga harus memiliki pemahaman mengenai konteks sejarah, konteks lokalitas penonton, hingga pemahaman akan kondisi geopolitik kontemporer. Dengan begitu, penonton dapat datang sebagai individu yang ingin mengapresiasi semua kerja-kerja yang terlibat di dalam ekosistem film itu sendiri.

Di sisi lain, kepercayaan tersebut bukan berarti hanya berlaku satu arah, dari penonton yang memercayai film programmer. Tapi juga sebaliknya, kepercayaan dari film programmer terhadap penonton, hal ini menjadi salah satu poin yang disampaikan Fan Wu, setidaknya hal ini yang ia percayai dan lakukan di Taiwan International Documentary Film Festival (TIDFF). Sebagai sebuah ruang, festival film tidak hanya menyajikan film-film baru, dengan gagasan yang baru, namun juga cara-cara baru untuk menonton film. Seorang film programmer harus percaya bahwa penonton dapat menerima segala jenis film. Sebagai contoh, Fan Wu mengibaratkan lewat film Evolution of a Filipino Family (2004) milik Lav Diaz berdurasi 640 menit, yang sempat diputar di TIDFF 2018 Mei lalu.

Pentingnya pemahaman akan sejarah, dinamika sosial-politik di suatu tempat dan waktu bagi seorang film programmer juga menjadi satu hal yang diamini Fan Wu. Dalam program “Taiwan Spectrum|Imagining the Avant-garde: Film Experiments of the 1960s” TIDFF 2018 Mei lalu misal, pemahaman ini menjadi penting. Juga pasang-surut hubungan Taiwan dan Hong Kong dengan pemerintah Cina misal, yang coba dihadirkan kembali lewat program “(Not) Just a Historical Document: Hong Kong-Taiwan Video Art 1980-1990s”. Film programmer di sini memiliki tugas untuk menghubungkan penonton dengan masa lalu mereka sebagai sebuah bangsa, dengan segala konteks politik yang hadir dalam film-filmnya, untuk menghadirkan pemahaman baru yang tidak absen dari segala masa lalunya sendiri.

Sementara itu, kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa di Indonesia, film programmer sebagai sebuah profesi belum bisa dijadikan mata pencaharian. “Saya percaya bahwa film programmer di Indonesia, memiliki setidaknya dua pekerjaan. Sebagai film programmer, dan satu pekerjaan lagi yang belum tentu berkaitan dengan perfilman. Saya rasa dalam konteks Indonesia, kita masih memiliki tantangan itu, “ ujar Alexander Matius, yang beberapa tahun belakangan bekerja sebagai programmer di Kinosaurus, sebuah microcinema di Kemang, Jakarta.

Close Menu