“Human, Frame by Frame”, Program FFD 2018 tentang HAM

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Hak Asasi Manusia (HAM) senantiasa diperjuangkan melalui berbagai cara. Perjuangan tersebut juga diterapkan oleh Festival Film Dokumeter (FFD) 2018 dengan menghadirkan program “Human, Frame by Frame”. Program ini secara khusus menampilkan sembilan film dari enam negara (Indonesia, Malaysia, Perancis, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat) yang mengangkat isu spesifik terkait kemanusiaan. Program “Human, Frame By Frame” akan diputar di Amphitheatre dan Societet Militair TBY selama FFD 2018 berlangsung, yaitu tanggal 5-12 Desember 2018.

Program “Human, Frame by Frame” ini terdiri dari tiga bingkai yang berbeda sesuai bahasan yang diangkat. Dalam bingkai pertama, narasi yang diangkat adalah problematika yang dialami para pengungsi. Keduanya film, The Shebabs of Yermauk (2015) dan 19 Days (2016), mencoba melihat gejolak konflik sosial-politik di berbagai belahan dunia, lewat orang-orang yang terusir dari rumahnya.

Bingkai kedua menghadirkan film-film yang membahas peristiwa-peristiwa sejarah besar di Indonesia lewat cerita-cerita personal. Kisah Hersri Setiawan, sastrawan dan penulis buku Memoar Pulau Buru, diangkat dalam film Angin Pantai Sanleko (2018). Dalam perjalanannya mengunjungi kembali Pulau Buru, ia harus menghadapi kenyataan bukti-bukti sejarah atas apa yang ia alami di sana semacam sengaja dihilangkan. Cerita Hersri harus mengalir tanpa peninggalan sejarah sebagai bukti.

Film lainnya adalah Rising from Silence (2016), yang merekam kisah kelompok ibu-ibu lansia yang tetap berusaha untuk merawat ingatan-ingatan pahit lewat aktivitas paduan suara. Proses di balik pembuatan album kompilasi Prison Songs: Nyanyian yan Dibungkam, sebagai usaha mengarsipkan sejarah melalui dialog dengan pencipta atau orang-orang yang terlibat dalam tembang-tembang dari penjara Pekambingan-Denpasar diangkat dalam film Sekeping Kenangan (2018). Dan, Nyanyian Akar Rumput (2018), film yang merekam keseharian musisi Fajar Merah yang kehilangan ayahnya, Wiji Thukul.

Sedang pada bingkai ketiga, setiap film menghadirkan hubungan antara manusia dengan tanah kelahiran. Dalam Absent Without Leave (2016), sosok yang dekat sekaligus jauh hadir sebagai titik awal pencarian sang pembuat film atas hal-hal yang lampau dan tersembunyi. Di Holding Hands with Ilse (2017), pembuat film melacak figur yang dekat dengannya namun hilang ketika alur sejarah mereka bercabang. Goodbye My Love, North Korea (2017), sementara itu, menangkap kisah cinta tak berbalas  terhadap tanah kelahiran.

Lewat film-film yang dipilih, FFD percaya jika dokumenter dan film memiliki peran signifikan dalam menghadirkan semangat dan penyuluhan pada masyarakat terkait perjuangan atas Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagai ruang pemutaran, FFD juga berharap bisa memberikan kesempatan bagi aspirasi-aspirasi yang sulit disuarakan dan jarang didengar sekaligus menghadirkan pesan-pesan reflektif bagi para hadirin yang datang.

Close Menu