Membaca Subalternitas dalam Film

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pada 12 Desember 2018, Festival Film Dokumenter (FFD) menggelar  diskusi bertajuk Programing on Table: SEA Movie di IFI-LIP Yogyakarta. Agenda ini merupakan seri diskusi “Doc-Talk”, sebuah program yang memfasilitasi diskusi, panel, dan presentasi mengenai pemrograman dalam festival film. Diskusi yang dipimpin Sazkia Noor Anggraini (Direktur Program FFD 2018) ini, menghadirkan Dr. phil. Vissia Ita Yulianto, Antropolog sosial-budaya Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM dan Hardiwan Prayogo, arsiparis Indonesia Visual Art Archive (IVAA).

Sesi ini membicarakan Film dan Potret Subaltern di Indonesia. Terdapat tiga film yang diputar dan dibahas Dahan yang Rapuh, Bunga yang Tumbuh (2018) karya Alessandra Langit; 15,7 KM (2018) karya Rian Apriansyah; dan Kertas Merah (2018) karya Revin Palung. Ketiganya merupakan film-film pilihan dari SEA Movie, sebuah festival yang diprakarsai oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT UGM).

Sebelum membahas lebih jauh mengenai subaltern, Ita (sapaan akrab Dr.phil. Vissia Ita Yulianto) mengawali diskusi kali dengan memperkenalkan perspektif SEA Movie terhadap film. Perayaan yang bertujuan menjadi agen perubahan ini meletakkan film sebagai alat berekspresi, media advokasi, dan media demokratisasi. Ita menegaskan kembali, bahwa peran film membangun fungsinya di masing-masing ruang, akademisi maupu masyarakat luas. “film itu bisa menjadi soft diplomat untuk mengkomunikasikan ide apapun. … film juga bisa menjadi salah satu output dari sebuah riset akademis,” ungkap Ita.

Tahun 2018, menjadi periode pertama FFD bekerja sama dengan SEA Movie. Masih sejalan dengan tema sebelumnya (Bencana Maritim), tahun ini SEA Movie mengangkat persoalan “Bencana dan Teknologi”, yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 hingga 21 Desember 2018.

Tiga film yang diperkenalkan di Doc-Talk, merupakan film submisi SEA Movie tahun ini. Tiga film tersebut dianalisis sedemikian rupa oleh Ita dan Yoga (sapaan akrab Hardiwan Prayogo) . Film pertama berjudul 15,7 KM, dinilai keduanya sebagai potret masyarakat yang tergilas urbanisasi. Kondisi tersebut, dibaca dari transportasi yang  tidak mudah diakses masyarakat tertentu, yang dijukstaposisikan dengan isu pendidikan. Bagi Yoga, judul film ini mengandung narasi sendiiri yang menjadi jalan masuk memahami cerita. Kerta Merah potret perempuan Tiong Hoa yang ditekan budaya patriarki dan segala macam atribut kebudayaan maskulin. Terakhir, Dahan yang Rapuh, Bunga Yang Tumbuh. Dilihat bagaimana subyek dokumenter merupakan masyarakat yang kerap mendapat stigma dan perilaku merugikan.

Pembacaan yang demikian, memang sebenarnya berpeluang memproduksi bias. Di diskusi ini keduanya mengakuinya. Namun mereka juga sepakat bahwa,  hal tersebut adalah ciri dari sebuah film, yakni menampung yang mengandung banyak perspektif untuk dibaca. Pada posisi inilah film menjadi dibicarakan berulang-ulang, hingga akhirnya muncul sebagai agen perubahan emansipatoris. Sama seperti yang Ita bayangkan.

Close Menu