Kritik Film Hari ini: Dari Kebebasan Menulis Hingga Impresi yang Tidur

SHARE

Film Criticism: Aren’t we all?, salah satu tema program “Doc-Talk” di Festival Film Dokumenter tahun 2018, menghadirkan Chris Fujiwara (kritikus, programmer film), dan Adrian Jonathan Pasaribu (pengurus harian Cinemapoetica dan programmer Kinoki) sebagai pemateri. Dimoderatori Ayu Diah Cempaka (Programmer FFD 2018), diskusi menghasilkan temuan bahwa fenomena kritik film hari ini yang terimbas perubahan media—cetak ke digital, telah membebaskan siapa saja untuk menulis, membedakan dirinya dari ‘daftar belanja’. Dan, tidak lagi membangun impresi dari seorang pembaca.

Acara yang dihelat pada hari Senin, 10 Desember 2018, di Amphiteater, Taman Budaya Yogyakarta, dimulai dengan paparan keduanya tentang sejarah kemunculan kritik film, baik dunia maupun Indonesia. Berdasarkan pengamatan Chris, kritik di Amerika menduduki dua ruang intelektual, yakni akademik dan majalah. Majalah hadir sebagai ruang yang memfasilitasi kritikus film untuk menurunkan pernyataan dan sudut pandang mereka di luar kerangka akademik. Ruang ini menarik banyak perhatian pembaca. Namun kadang, apa yang ditulis tidak jauh berbeda dengan daftar belanja. Sebab, kritikus film di majalah-majalah biasanya juga menulis tentang restoran, makanan atau berita lain di luar film.

ADRIAN menebalkan dimensi sejarah ini lewat paparannya mengenai kondisi kritik di Indonesia. Menurut ADRIAN, kritik di sini tidak dimulai oleh seseorang yang benar-benar belajar atau mengambil studi tentang film. Melainkan, dari sastrawan dan para jurnalis. Seperti Leila S. Chudori yang basisnya penulis novel, atau J.B Kristanto seorang jurnalis. ADRIAN menekankan bahwa, di Indonesia sendiri kritikus tidak masuk dalam kategori profesi, namun lebih pada hobi.

Dan, keduanya setuju bahwa hadirnya internet, mengubah peristiwa kritik beserta impresi pembaca. Internet memberikan banyak perspektif tetapi membatasi konten penulis. Lebih jauh, ketika kritik hadir dalam medium audio visual, posisi pembaca tidak lagi bebas membayangkan adegan yang dibicarakan. Mereka melihat bahwa kondisi ini menidurkan bayangan filmis di diri pembaca. Chris mencontohkan lewat catatan kaki. Ketika aspek ini diganti dengan insert video—menunjukkan potongan film, impresi pembaca yang sebelumnya diantar ke dalam gambaran terpisah dari induk kalimat, menjadi lenyap. Pembaca tidak lagi memiliki gambaran subjektif tentang dibicarakan. Terlebih ketika berhadapan dengan persoalan Hak Cipta, yang menurut ADRIAN merupakan masalah.

Di sisi lain, internet memudahkan pertemuan kritikus dengan publiknya. Kini, kritikus tidak perlu menjadi seorang jurnalis untuk mendapat ruang di sebuah media. Semua orang bisa mengkritik film lewat berbagai media sosial yang di genggamannya. Kemudahan ini kemudian memunculkan masalah baru, pada biasnya kritik dengan ulasan non-kritik. Walaupun begitu, keduanya sepakat bahwa tidak perlu ada badan yang membuat sistem yang mengatur kritik.

“I stand with the public and between filmmakers” tegas ADRIAN. Kritikus seharusnya berpihak pada publik. Di peta ekosistem perfilman sendiri posisinya berada di antara publik dan pembuat film. Kritik berfungsi membantu publik untuk menangkap dan menemukan sudut yang lain ketika memaknai film. Kritik tidak hadir untuk industri dengan membangun nilai-nilai yang membuat film ini terlihat bersinar, tambah Chris. Pada posisi ini, kritik memiliki titik pijak yang membedakannya dengan brosur belanjaan. Sebagai ulasan yang berisi segala hal ‘baik’ dari produk. Kritik hadir sebagai modal untuk membicarakan film, di saat sebelum  maupun sesudah menonton.

Close Menu