SchoolDoc: Dokumenter sebagai Alternatif Bahan Pendidikan

schooldoc-2016

Media menjadi sistem pendidikan ke-empat setelah keluarga, sekolah dan komunitas (lingkungan). Itu berarti, kesadaran akan penggunaan media disertai literasinya menjadi pedoman penting di era ini. Peran media sangat penting dalam memberikan referensi alternatif bahan pendidikan, dan salah satunya terimplementasi dalam film dokumenter. Namun tuntutan ini tak lantas diimbangi dengan sistem pendidikan yang lebih kontemporer atau budaya massa yang lebih mengarahkan ke melek media.

Kegelisahan tersebut menjadi titik awal untuk memulai SchoolDoc. Program ini dibuat untuk meningkatkan kemampuan apresiasi di mana tujuan akhirnya adalah menguatkan peran anak muda dan generasi pelajar melek media dalam berhadapan dengan agresi media global. Film dokumenter, sebagai salah satu ragam media yang dimaksud, dapat memberi referensi dan menjadi pemantik kesadaran para pelajar akan situasi di lingkungannya.

Di tahun 2016 ini, FFD bekerjasama dengan tiga sekolah untuk menyelenggarakan SchoolDoc yaitu SMAN 6 Yogyakarta (12 Oktober 2016),  SMAN 1 Banguntapan (13 Oktober 2016), dan SMAN 7 Yogyakarta (14 Oktober 2016). SchoolDoc 2016 turut mendapat dukungan dari ReelOzInd! Film Festival, Australia-Indonesia Centre, dan IFI-LIP Yogyakarta.

Melalui film yang ditayangkan, para pelajar ini diharapkan memiliki perspektif tambahan menyangkut fenomena yang dibahas. Seperti ketika memandang kaum alay, predikat alay semacam sebuah marginalisasi di kalangan anak muda kekinian, namun ternyata hal tersebut juga merupakan sebuah proses pendewasaan dan salah satu langkah dalam penemuan jati diri seperti yang disuratkan dalam film Alay (Candra Aditya, 2012).

Hal-hal mengenai stereotype dan norma dicoba dibahas dalam Mama, Anak Perempuanmu Bertato (Citra Melati, 2012). Di Indonesia, wanita bertato dianggap tidak lazim, dan lekat dengan stereotype wanita nakal. Film dokumenter ini memberikan reaksi jujur dari para ibu ketika anak perempuannya bertato. Nyatanya, tidak semua orang pada akhirnya peduli dengan stereotype. Pertarungan antara stereotype dan perilaku masyarakat turut tertampil dalam The Eagle’s Eye (Wisnu Dewa Broto, 2016) terkait kehadiran etnis timur Indonesia. Representasi mengenai orang timur yang tinggal di Jawa selalu diidentikan dengan kriminalitas dan kekerasan, film ini mengajak penonton untuk mempertimbangkan labelling tersebut.

SchoolDoc turut memfasilitasi para peserta untuk menggali lebih dalam terkait film yang ditayangkan dengan menghadirkan sang filmmaker, sekaligus membuka ruang diskusi, dan apresiasi bagi film-film yang ditonton. Melalui diskusi ini para peserta menjadi paham mengenai seluk beluk proses hadirnya sebuah film sekaligus menjadi semakin tergugah untuk membuat film meskipun sumber daya yang dimiliki masih sangat minim. Karena melalui diskusi ini diberi pengertian bahwa film tak melulu menampilkan keindahan sinematografi, namun esensi tetap ada pada tujuan film itu hadir dan untuk siapa film itu dibuat.

Selain melihat tayangan film yang mengulas fenomena yang dekat dengan pelajar SMA, para peserta SchoolDoc juga turut diperkenalkan mengenai dasar film dokumenter. Dasar tersebut terkait pengertian, cakupan, genre, dan apresiasi film. Bagi para peserta yang memang memiliki minat dan ingin menambah pengetahuan mengenai film, para narasumber dalam program ini sangat terbuka terhadap segala pertanyaan seputar film. Harapannya program serupa dapat semakin dilakukan secara intens, mengingat urgensi bahwa media kini adalah agen pembentuk budaya, dan kita tak boleh hanya menjadi penikmat, namun menjadikannya selalu berdayaguna. [Valentina Nita]

Selengkapnya tentang program ini, bisa diakses di sini

Recent Posts
ipsum suscipit ut elementum Aenean odio efficitur. justo