Music et Docs: Pemaknaan Ulang Musik dalam Film Dokumenter

SONY DSC

Berkolaborasi dengan LARAS, sebuah komunitas studi yang berfokus pada topik-topik terkait dengan musik dalam masyarakat, Rabu (9/12), program Music et Docs telah selesai digelar pada hari ketiga FFD-14. Bertempat di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta, diputarkan tiga film dengan musik sebagai narasi utama jalannya alur dalam program Music et Docs.

Dari India, Nafir: Musical Impressions of A New Age Dervish sebagai film pembuka pada program ini menyampaikan narasi akan eksplorasi musikal seorang pria bernama Nima. Seorang darwis yang berasal dari Iran dan invensinya terhadap konsep ketenangan batin, kerohanian yang suci, dan cinta tulus tatkala ia bermain musik selama perjalanan sufisme-nya di India. Dengan hibrida rekaman video lama dan baru dalam montase-nya, kita disuguhkan akan sebuah ikatan spiritual dan kultural yang kudus antara India dan Iran.

Selanjutnya ada I Am Just A Song yang menyuguhkan kegiatan harian tiga orang paruh baya dengan latar belakang personal berbeda yang lalu disatukan oleh aktivitas karaoke. Film pendek asal Kanada dengan durasi 15 menit ini secara rapi menampilkan bagaimana karaoke menjadi pelarian akan keseharian pasai para aktor utama di dalamnya.

When A Song Begins adalah film terpendek sekaligus terakhir dalam program ini. Sebuah pengisahan akan seorang tuna-netra penyandang disabilitas bernama Maria yang bernyanyi untuk menyembuhkan dirinya. Membaurkan realitas dan narasi sinematik, kekosongan dalam beberapa scoring di sebagian scene awal menjadi senjata utama bagaimana dramatisasi atmosfer kesepian dan terisolasinya Maria menjadi sangat menarik untuk disajikan dalam film tanpa dialog ini.

Selepas screening tiga film dengan total durasi 54 menit di atas, Music et Docs kemudian ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama Irfan R Darajat (Irfan) dan Franciscus Apriwan (Iwan), dua orang perwakilan dari LARAS dan FFD. Dimoderatori oleh Michael H.B Raditya, kemungkinan-kemungkinan penjelasan atas kuasa musik sebagai media ekspresi emosi personal maupun media ekspresi gagasan kultural lantas dipaparkan. Mengusung tema besar “Pemaknaan Ulang Musik dalam Dokumenter,” pendefinisian ulang bagaimana film dokumenter bisa dikatakan dokumenter musik adalah ketika posisi musik bukan sekadar menjadi scoring, namun ketika musik itu sendiri menjadi basis narasi yang diangkat oleh pembuat film melalui interpretasinya.

Dalam eksplanasinya, Iwan menambahkan tentang kecenderungan film-film dokumenter Indonesia yang lebih banyak mengangkat perjalanan sebuah band, keseharian para musisinya, dan pertunjukan musik yang juga nampak pada film Nafir: Musical Impressions of A New Age Dervish. Bagaimana musik sendiri mempengaruhi lingkungan sangat kurang diekspos.

Selain menjadi narasi utama, kekuatan musik dalam film dokumenter juga terlihat pada kemampuannya membangun atmosfer keruangan pada indra manusia. Memori kognitif kolektif yang terbangun secara tidak sengaja maupun sengaja dibangun oleh film-maker lewat soundscape melalui musik terbukti mampu menambah intensi film tersebut untuk membentuk emosi penontonnya.

Senang melihat kolaborasi FFD dan LARAS. Jadi bahasan LARAS lebih luas, FFD juga bisa diskusi beda, yang biasanya cuma diskusi dengan film-maker tapi di Music et Docs diskusinya jadi lebih mendalam. Tapi yang tadi, entah karena penonton kurang antusias atau materi kurang menarik, jadi agak membosankan. Tapi terlepas dari eksekusinya, ide program Music et Docs sangat menarik. Semoga terus diadakan di tahun-tahun depan,” ucap Titah, salah seorang penonton program Music et Docs.

[Dwiki Aprinaldi]

Recent Posts
justo elit. felis elementum adipiscing mattis consequat. lectus Curabitur venenatis, elit.