Mengenang Karya Abduh Aziz Melalui Lanskap: Salam untuk Abduh

SHARE

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on print

Pada 30 Juni 2019 lalu, dunia perfilman Indonesia tengah berduka dengan berpulangnya Abduh Aziz. Abduh Aziz tidak hanya dikenal di lingkungan film saja, tetapi juga di lingkungan seni dan budaya melalui aktivisme dan advokasinya terhadap film sebagai produk seni dan budaya. Peran Abduh Aziz dalam organisasi-organisasi kebudayaan membawa perubahan di skala nasional. Di mana film merupakan sebuah medium kreatif yang memiliki peran sebagai media penyampai pesan dalam membawa perubahan di ranah sosial dan politik.

Pemaknaan yang struktural dan jauh keluar merupakan ciri khas dari film karya Abduh Aziz. Beberapa karyanya tidak hanya mengutamakan bentuk dan estetika, tetapi juga mengutamakan kesatuan yang mampu mengkomunikasikan makna dari sebuah film. Sehingga setelah menonton film karya Abduh Aziz akan meninggalkan impresi serta dampak yang kuat untuk penonton. Demi mengenang karya-karya Abduh Aziz, Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 akan menayangkan film-film Abduh Aziz melalui Program Lanskap: Salam untuk Abduh. 

Lanskap pertama kali hadir pada FFD 2017. Secara spesifik, Lanskap hadir untuk melihat kekayaan film dokumenter di Indonesia serta ekosistem yang ada di dalamnya. Program Lanskap berusaha membuka aspek-aspek di luar film untuk diamati melalui film dokumenter. Begitu pula sebaliknya, aspek-aspek di dalam film dokumenter serta cara pemaknaannya dapat ditarik ke luar menuju ekosistem yang membentuk film tersebut.

Program Lanskap: Salam untuk Abduh ingin mengajak penonton untuk melihat kembali kiprah Abduh Aziz di dunia perfilman dan di wilayah sosial-politik Indonesia yang lebih luas lagi melalui film-film yang telah beliau kawal sebagai produser, sutradara, maupun penulis.

Melalui film Abracadabra! (Aryo Danusiri, 2003), filmmaker mengajak para penontonnya menjelajahi situasi di Aceh pada awal tahun 2003, tepatnya beberapa bulan sebelum tentara Indonesia kembali ke Aceh pada 19 Mei 2003. Di mana saat itu, digambarkan situasi Aceh pasca penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan pemerintahan Indonesia. Terlihat kepedulian filmmaker pada implikasi gejolak-gejolak yang terjadi terhadap iklim nasional, serta aspek kemanusiaan disajikan dengan detail melalui subjek-subjek yang dihadirkan dalam film. Dalam film ini, filmmaker membawa Anda untuk melihat potret keresahan masyarakat yang tidak sempat terungkap kamera televisi.

Tjidurian 19 (Lasja F. Susatyo & M. Abduh Aziz, 2009) membawa Anda pada cerita tentang hancurnya suatu komunitas di Jalan Tjidurian nomor 19 karena pertikaian  politik. Jalan Tjidurian nomor 19 adalah rumah untuk gagasan, cinta, ilmu, dan persahabatan. Tempat di mana anak-anak muda berkumpul, mengadu kebolehan dalam memberi warna kancah sastra Indonesia. Film ini mencoba mengangkat sejarah tidak dalam sudut pandang yang megah, tetapi melalui cerita-cerita kecil dari individu di suatu waktu dan tempat.

Kepedulian Abduh Aziz akan sejarah dituangkan melalui Banda: The Dark Forgotten Trail (Jay Subiyakto, 2017), dalam film ini dihadirkan sejarah kuat mengenai Kepulauan Banda yang mulai terlupakan. Kepulauan Banda yang dulu sangat berharga saat ini mulai kehilangan harganya. Pada abad pertengahan, segenggam pala dari Banda dianggap lebih berharga daripada satu peti emas. Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Manhattan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Filmmaker berharap supaya masyarakat Indonesia mengetahui sejarah Kepulauan Banda, sehingga bangga terhadap negaranya.

Melalui Di Atas Rel Mati (Welldy Handoko & Nur Fitriah, 2006) mencoba membawa penonton untuk lebih dalam melihat kondisi lapisan sosial tertentu di Indonesia. Disajikan potret kondisi sosial anak-anak di kampung Dao Atas, Ancol, Jakarta yang bertahan hidup dengan cara menyediakan jasa transportasi lori dorong. Lori dorong adalah sebuah alat untuk mengangkut penumpang dan barang. Tidak hanya kondisi sosial saja yang disajikan dalam film ini, ditampilkan pula sisi kemanusiaan orang-orang yang hidup di dalam lapisan sosial tersebut. Kritik-kritik di dalam film ini diimbangi dengan kepekaan terhadap karakter manusia itu sendiri.

Keempat film tersebut hanya sebagian kecil dari ringkasan panjang mengenai Abduh Aziz dalam kontribusinya di dunia perfilman Indonesia. Melalui karyanya kita dapat terus merasakan keberadaan Abduh Aziz di dunia perfilman Indonesia. Film-film dalam Program Lanskap: Salam untuk Abduh akan diputar pada 5-6 Desember 2019 di Taman Budaya dan IFI-LIP.

Film adalah produk seni, sementara dokumenter memiliki posisi unik dalam reputasinya terhadap konten yang dibawa. Bagaimana dokumenter memadukan estetika dan ketajaman dalam memandang manusia dalam dan dengan aspek-aspek mereka? Bagaimana dokumenter berdiri dalam ekosistem seni di Indonesia dan bagaimana sebaiknya memaknai hal ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab secara lengkap dalam perbincangan bersama dalam salah satu agenda Doctalk khusus untuk program Lanskap dengan tajuk Dokumenter dan Ekosistem Seni Indonesia. Diskusi ini akan dipandu oleh Aryo Danusiri dan Lasja F. Susatyo selaku praktisi film pada 6 Desember 2019 pukul 15.30 WIB di IFI-LIP Yogyakarta.

Close Menu