Kompetisi: Apresiasi atas Keberagaman Film-Film Dokumenter

Roshmia (Salim Abu Jabal, 2015)

Roshmia (Salim Abu Jabal, 2015)

Selama 14 tahun, Program Kompetisi Festival Film Dokumenter (FFD) telah dirancang sebagai media apresiasi dan penghargaan film-film dokumenter tanah air. Apresiasi dan penghargaan, tentu saja, tidak semata-mata berdiri sendiri, tetapi memiliki tujuan untuk melihat bagaimana, atau sejauh mana, hal tersebut mempengaruhi perkembangan film-film dokumenter Indonesia. Besar harapan FFD dapat memberi pengaruh ke arah positif, meskipun bagaimana bentuknya tidak dapat dibatasi di ranah dunia kreatif, dengan tolak ukur yang terus berubah seiring pembacaan berkala film-film dokumenter yang bermunculan di Indonesia.

Di tahun festival ke-15, dari ketiga kategori yang dihadirkan: Dokumenter Panjang, Dokumenter Pendek, dan Dokumenter Pelajar – untuk kali pertamanya, peluang partisipasi dibuka bagi film-film dokumenter dari luar Indonesia dalam kategori Dokumenter Panjang. Langkah ini diambil sebagai bentuk tantangan festival dalam melihat perkembangan film-film dokumenter Indonesia yang semakin berorientasi global, tidak hanya berbicara tentang konten, melainkan juga sasaran penonton dan lingkup penonton.

Dengan total 151 film submisi: 53 film submisi kategori Dokumenter Panjang, 87 film submisi Dokumenter Pendek, dan 11 film submisi Dokumenter Pelajar. Kompetisi tahun ini berhasil meraih angka submisi tertinggi sejak tahun-tahun sebelumnya. Film-film pun beragam dan kaya tidak hanya dari segi demografi peserta, melainkan juga tema, konten, dan bentuk. Mulai dari pengangkatan tema-tema sederhana dan dekat dengan keseharian hingga tema-tema yang mengulik permasalahan-permasalahan aktual – pun permasalahan-permasalahan yang tidak habis diperdebatkan dan lintas zaman seperti gender dan seksualitas.

Program Kompetisi Dokumenter Panjang, dengan John Badalu, Lisabona Rahman, dan Ranjan Palit selaku juri, akan memilih 1 dari 8 film sebagai pemenang. Mulai dari I Want To Be A King (Mehdi Ganji, 2014) tentang agama dan poligami. Red Clothes (Lida Chan, 2016) tentang pengabaian HAM akibat fashion di Kamboja. Roshmia (Salim Abu Jabal, 2015) tentang lansia yang bertahan hidup di tengah konflik. Nokas (Manuel Alberto Maia, 2016) menyoal kisah keinginan menikah di tengah kondisi perang. Shadow Girl (Maria Teresa Larrain, 2016) dengan kisah perjuangan dalam menghadapi kebutaan. Potongan (Chairun Nissa, 2016) rekaman perjalanan film-film bertema HAM yang melawan LSF. Terakhir, Bulu Mata (Tonny Trimarsanto, 2016) tentang transgender.

Kompetisi Dokumenter Pendek tahun ini memuat 9 film pilihan. Mereka adalah Mata Elang (Wisnu Dewa Broto, 2016) yang mengangkat tentang preman bersurat, Anak Koin (Chrisila Wentiasri, 2016) tentang anak-anak di Pelabuhan Bakauheni, Senandung Sunyi Samudera (Afran Sabran & Andi F. Azzahra, 2016) merekam nelayan dan reklamasi pantai Makassar, Kerabat (Wisnu Kusuma, 2015) melihat pertemuan dua sahabat, Jembatan Sibuk (David D., 2016) melihat rutinitas jembatan Gunung Nago, Lambung Bukik, Padang, Sumatera Barat. Miang Meng Jakarta (Opan Rinaldi, 2015) desakan idealis seorang lulusan SD yang ingin segera ke luar dari kampung halamannya. Generasi Sekian (Vonny Kanisius, 2015) memotret keturunan Tionghoa di Indonesia selepas trauma kerusuhan yang kerap menjadikan etnis Tionghoa sebagai pihak yang dirugikan, Sepanjang Jalan Satu Arah (Bani Nasution, 2016) tentang pemilihan calon walikota, dan Petani Terakhir (Dwitra J. Ariana, 2016) tentang kehidupan petani dengan masalah sektarian yang dihadapinya. Pemenang kompetisi Dokumenter Pendek akan ditentukan oleh 3 orang juri, yaitu Eric Sasono, F.X. Harsono, dan Yosep Anggi Noen.

Di kategori terakhir, Dokumenter Pelajar mencoba mengapresiasi potensi-potensi muda industri dokumenter. Tahun ini, terpilihlah 6 finalis hasil kurasi festival yang pemenangnya akan ditentukan oleh St. Kartono, B.W. Purbanegara, dan Thong Kay-Wee selaku juri. Galian C (Wely Alfian, 2016) menyambangi polemik tambang galian c di wilayah Kabupaten Purbalingga. Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal! (Ilman Nafai, 2016) mengisahkan tiga eks-Cakrabirawa yang menyoal tragedi di satu malam dan hari-hari setelahnya, Setitik Asa dari Kita (Rizkia Tarisa & Rizqa Ananda Mahrani Parisi, 2016) melihat penderita thalasemia yang berjuang dengan keterbatasan perekonomian, 1880 mdpl (Riyan Sigit Wiranto & Miko Saleh, 2016) mengangkat kehidupan transmigran di sebuah desa di kecamatan Atu Lintang kab. Aceh Tengah – yang sudah terlalu jenuh pada hasil yang tidak memuaskan sehingga memaksa mereka untuk membuka lahan baru di hutan. Arang Bathok (Defi Hikmawati, 2016) memaknai cangkang buah kelapa sebagai entitas yang lebih berarti dan memiliki nilai. Waktu Makan (Erika Filiyani & Ikhwanto, 2016) mengangkat seorang pria yang berprofesi sebagai pemberi makan hewan karnivora.

Tiap-tiap film terpilih telah dianggap mampu untuk mewakili keberagaman, atau setidaknya, mampu memicu langgam pembaharuan-pembaharuan yang konstruktif. Dari sini, film-film terpilih diharapkan mampu menstimulus tidak hanya diskusi-diskusi dan kritik-kritik akan rupa dokumenter Indonesia – dan bagaimana sebagian dari mereka berdiri di ranah Internasional. Tetapi juga kemunculan karya-karya dokumenter yang mengusung warna-warna baru di tahun-tahun berikutnya. [Anas AH]

Untuk jadwal lebih lanjut dapat diakses di sini

Recent Posts
ultricies quis, id sem, pulvinar Lorem Donec