Gedoran Depok (2019): Sejarah yang Diungkap

26—11—2020
Film Review

Gedoran Depok (2019) mengajak penonton menyelami tragedi berdarah yang telah lama disimpan, hingga akhirnya diungkap pada 2011. 

Gedoran Depok (Bobby Zarkasih, 2019) mengajak penonton kembali ke masa peralihan kekuasaan penjajah menuju Negara Kesatuan Indonesia (NKRI). Proklamasi kemerdekaan memang berlangsung pada 17 Agustus 1945, ketika Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, riuhnya kemerdekaan tidak langsung dirasakan seluruh penjuru Indonesia.

Salah satunya di Depok, riuh kemerdekaan belum sampai sana ketika pengumuman terjadi. Saat itu, warga kota Depok belum mengibarkan bendera Merah-Putih untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Hingga belum genap dua bulan kemerdekaan diproklamasikan, Depok mengalami tragedi berdarah. Tragedi yang memilukan bagi korban dan keturunannya.

Tepatnya pada 11 Oktober 1945 terjadi kekacauan dan perampokan massal terhadap orang-orang yang dianggap “nonpribumi”. Laskar rakyat menyebar ke seluruh penjuru Depok untuk menyapu bersih seluruh antek penjajah dari Indonesia. Kekacauan ini dikenal dengan nama “Gedoran Depok”.

Kaum “Belanda Depok” menjadi sasaran utama dalam kekacauan ini. Akan tetapi, ternyata kaum “Belanda Depok” yang diserang secara brutal bukan antek penjajah. Melainkan orang Indonesia asli yang merupakan keturunan budak Belanda yang dimerdekakan. Dapat dipastikan banyak “pribumi” yang menjadi korban kekacauan ini.

Arsip foto yang disajikan dalam Gedoran Depok (2019) memberi kesempatan pada penonton untuk membayangkan keadaan ketika kekacauan terjadi. Bobby juga menghadirkan sejarawan yang memperjelas cerita-cerita survivor. Menjelaskan betapa kacaunya keadaan pada saat peristiwa ini terjadi.

Kehadiran para penyintas  Gedoran Depok sukses membangun suasana film ini. Gaya bercerita survivor yang sarat akan rasa sakit membuktikan bahwa kekacauan tersebut meninggalkan trauma yang dalam. Waktu memang berjalan, namun rasa kehilangan masih membekas di benak penyintas.

Rasa sakit dan kehilangan itulah yang membuat para korban dan keturunannya semula enggan bercerita mengenai Gedoran Depok. Mereka belum mau bercerita karena enggan mengingat ataupun membahas peristiwa menyakitkan ini. Hingga pada 2011, kaum “Belanda Depok” mengungkapkan kejadian ini melalui buku Gedoran Depok (2011) karya Wenri Wanhar.

Ketika menonton film ini terbayang bagaimana rasa sakit dan trauma yang dialami penyintas, hingga membutuhkan waktu yang lama untuk siap bercerita. Awalnya mereka memilih mengikhlaskan kejadian tersebut dan tidak menyimpan dendam. Hingga memilih bercerita, karena mereka sadar bahwa Gedoran Depok merupakan sejarah. Sejarah yang tidak seharusnya dilupakan.

Sudah seharusnya sejarah diabadikan. Melalui Gedoran Depok (2019) kita mengetahui bahwa sesakit apapun sejarah yang terjadi, tidak boleh sejarah disembunyikan. Lewat sejarah kita mendapatkan banyak pelajaran.

 

Gendoran Depok (2019) merupakan bagian dari program Lanskap FFD 2020. Kamu bisa tonton filmnya secara gratis di sini

 

Penulis: Dinda Agita

Bagikan ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email