Still Film Doel

Doel (2018): Mengintip Kota dari Sisi Hantu

27—11—2020
Film Review

Jika Doel yang sepi dan kosong disebut sebagai Kota Hantu, maka siapa yang sebenarnya sedang dihantui? siapa hantu itu? 

Sebuah jalan di Kota Doel yang pernah mencatat keramaian toko, kini sepi berhias mural penuh kritik. Tidak ada lagi aroma roti yang baru saja matang. Tidak ada lagi hukum yang mengatur warga. Yang tersisa hanya suara reaktor nuklir, rencana pelebaran pelabuhan Antwerpen, orang-orang yang sedang mengokupasi bangunan untuk arena pesta, dan trauma 24 orang yang masih mendiami kota.

Federik Sølberg merekam aktivitas kota Doel melalui kehidupan beberapa penduduk. Berbagai ancaman yang mempengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka, dihimpun Sølberg dalam film berjudul Doel (Federik Sølberg, 2018); sebuah film yang mengusung nama salah satu kota di Belgia yang kini dikenal sebagai ‘ghost town’.

Kota Doel menyimpan berbagai konflik internal maupun eksternal. Pada salah satu peristiwa yang ditemukan Sølberg, konflik kota tersebut dimanfaatkan pihak tertentu sebagai arena wisata. Arena yang seolah hadir sebagai etalase, yang menjajakan trauma warganya. Segala pertunjukkan ini dinikmati wisatawan dari balik kaca bus, seraya mendengarkan uraian pemandu wisata.

Beberapa wisatawan menikmati Doel dengan cara berbeda. Ada yang menikmati  jalanan yang sepi dengan balap liar, ada pula yang menguji kekuatan fisik dengan merusak bangunan tanpa pemilik. Seluruh aktivitas ini direkam Sølberg dari kejauhan, seolah ia ingin menunjukkan bahwa posisinya berbeda dengan wisatawan.

Federik Sølberg, bukan seorang Belgia yang tinggal di kota Doel. Ia seorang Belanda yang mengawali ketertarikannya pada kota hantu itu melalui perjalanan wisata. Paparan ini dijelaskan Liam Cristello di wawancara-nya untuk Northeastern University. Tulisan Cristello juga menjelaskan bahwa hasrat Sølberg untuk bercerita tentang kota ini mulai muncul saat ia menemui berbagai pabrik, kilang bahan kimia dan pembangkit listrik tenaga nuklir di perjalanan memasuki area. Namun, halangan pertama muncul ketika ia sadar bahwa posisinya saat itu adalah pendatang. Sebuah posisi yang tidak membedakannya dengan wisatawan di balik jendela bus.

Usaha Sølberg untuk mengurangi jarak, terlihat dalam karakter visual film Doel (2018). Karakter yang dibangun Sølberg membahasakan kejujurannya sebagai pembuat film. Ia hadir bukan sebagai turis, namun juga bukan penduduk. Ia mengamati segala aktivitas subjek pilihannya dari jauh. Tidak ada gambar-gambar dekat untuk menunjukkan detail subjek. Secara kontekstual, visualisasi ini menjelaskan bahwa kota tersebut tidak benar-benar mati, di mata pendatang sekalipun.

Visualisasi Sølberg, bercerita bahwa sebutan kota hantu untuk Doel menjadi tidak tepat. Daerah ini masih menjadi arena penduduk untuk beraktivitas, tidak kosong sehingga berhantu. Ia sebagai pendatang menceritakan peristiwa kota Doel melalui subjek yang tidak pernah dilepaskannya dengan arena mereka. Ruang dan manusia saling terhubung dan berinteraksi; seperti sapi yang terhubung dengan hamparan rumput, bibi dengan televisi yang masih menyala, atau dapur dengan seorang pembuat teh dan xanax-nya.

Kebebasan Sølberg mengamati subjek seolah menjadikannya sebagai hantu. Ia bisa menembus batas privat yang tidak pernah terjangkau oleh pendatang atau turis. Namun, visualisasi ini membangun pertanyaan besar: jika benar Doel adalah kota hantu, maka siapa yang sebenarnya sedang dihantui? Lalu, siapa hantu itu?

 

Film Doel (2018) merupakan bagian dari program Perspektif FFD 2020. Kamu bisa menonton filmnya secara gratis di sini.

 

Penulis: Annisa Rachmatika  

 

Bagikan ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email