Circle FFD 2021

Spektrum

Memitoskan Mitos

Pada hakikatnya kita tidak dapat melepaskan mitos dari kehidupan sosial dan menerjemahkannya menjadi elemen-elemen formal. Mitos adalah salah satu pola terpenting dari tatanan kehidupan manusia sehari-hari. Selain berkelindan dalam tatanan budaya, mitos banyak bertegangan dengan produksi pengetahuan yang bersifat pragmatik, misal politik keseharian hingga ke konstruksi ideologi. Dalam konteks antropologi dan studi agama, mitos di budaya mana pun hampir selalu berhubungan dengan asal muasal institusi sosial, mulai dari institusi pernikahan sampai kepemimpinan yang selalu lahir dari apa yang Mircea Eliade sebut sebagai illo tempore—waktu di luar waktu realita yang kita alami, di mana hukum sosial dan natural yang kita ketahui hari ini tidak berlaku: mulai dari makhluk mitos, binatang yang berbicara, dan kekuatan gaib.

Penyampaian mitos beragam: mulai dari kisah yang ditransmisikan secara turun-temurun pada sebuah lanskap geografis hingga mitos-mitos yang diterjemahkan dalam bentuk nonverbal dan berbasiskan pada pengalaman. Sinema, dalam konteks tertentu, adalah mesin pencipta mitos kontemporer yang beroperasi sejak satu setengah abad yang lalu. Dalam konstruksi estetika sinema dokumenter, sebagai sebuah bentuk yang digadang merepresentasikan realitas, dorongan epistemophilic pada spektator—seperti yang dituliskan oleh Bill Nichols—adalah unsur yang kuat dari mengalami film dokumenter, meskipun bentuk dokumenter dalam perkembangannya mengalami evolusi yang dinamis. Bagaimana caranya mengalami mitos dalam konteks gaya sinema yang dalam perkembangan sejarahnya ajek dengan terminologi, seperti faktual, nyata, dan kebenaran?

Pada program Spektrum: Memitoskan Mitos, pertanyaan tersebut coba ditelisik dan juga diobservasi dari dua film panjang dan tiga film pendek yang menginvestigasi, menginterpretasi, hingga menciptakan mitos, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pendekatan yang beragam. Film-film ini menceritakan mitos lewat dinamikanya dengan lanskap sosial maupun natural lewat pengalaman yang lebih indrawi. Kehadiran mitos tidak semata-mata diungkapkan sebagai sebuah cerita yang saklek, tetapi juga diterjemahkan dalam bahasa sinema yang paling kini—bermain dengan bentuk. Kelima film dalam program ini merepresentasikan relasi manusia dengan mitos di zaman informasi.

Dua film panjang, Bosco dan Red Moon Tide, memaparkan mitos dan kedekatannya dengan ruang geografis dan kartografi. Dalam Bosco, mitos Kota Bosco dan penghuninya yang diimajinasikan oleh kakek si pembuat film dijukstaposisi dengan keadaan faktual kota tersebut, sedangkan dalam Red Moon Tide, kisah makhluk-makhluk mitologi di semesta Galicia dijahit dengan kisah seorang figur mitos Rubio de Camelle. Kedua film ini dipresentasikan dengan nuansa yang kontemplatif seraya bertamasya pada ruang fantasi dan realitas.

Kedua film pendek, Storegetnya dan Mada, berhubungan dengan tumpang tindihnya mitos (dalam kasus Mada lebih berfokus pada fiksi) dan ilmu pengetahuan. Storegetnya mengobservasi praktik pengobatan alternatif speleotherapy, yang mitosnya dapat menyembuhkan asma dan penyakit akut respiratori lainnya dengan menghirup udara penuh mineral dan garam di dalam gua, di pertambangan garam bawah tanah di Avan, Armenia. Mada di lain pihak mencoba untuk mendestabilisasikan keilmuan arkeologi dengan menciptakan mitos dan fiksi baru. Kedua film ini menantang pemahaman tentang verifikasi dalam ilmu pengetahuan. Film pendek Termimpi Maujun, lewat konteks mimpi dan relasinya pada lingkungan dan komunitas, mengilustrasikan bagaimana mitos dapat juga menjadi momok jika direproduksi dan meregenerasi terus-menerus. People on Sunday memitoskan fenomena waktu luang dalam konteks pembuatan film, di mana dalam industri sinema nyaris tidak ada batas antara waktu kerja dan waktu luang. Terakhir, secara puitis dan reflektif, Dormant Soil / Concrete Reflections mempresentasikan relasi keterhubungan manusia dengan alam sekelilingnya dilihat dari perspektif yang tidak antroposentris, melawan mitos antroposentrisme yang selama ini melekat pada kehidupan sehari-hari.

Programmer: Riar Rizaldi

2020  —
  80 min  —
  PG
Alicia Cano Menoni

Bosco adalah desa Italia dengan 13 penduduk yang dikelilingi oleh pohon kastanye yang melahapnya hari demi hari. Bentuk hutannya memaksa untuk kembali.

2020  —
  19 min  —
  PG
Zai Tang, Rei Hayama

Dormant Soil / Concrete Reflections adalah sebuah jawaban untuk sebuah puisi Kim Hyesoon berjudul “Haeundae Texas Queen Kong”.

2021  —
  9 min  —
  PG
Kholif Mundzira

Seseorang menceritakan mimpi yang didapatinya, yaitu pergi memancing dan mendapatkan banyak sekali ikan.

2021  —
  10 min  —
  PG
Laurent Pantaléon

Pada zaman dahulu, pulau-pulau di Samudera Hindia membentuk sebuah pulau yang besar. Pada zaman dahulu, manusia pertama lahir di sebuah provinsi di Madagaskar.

2020  —
  20 min  —
  PG
Tulapop Saenjaroen

Film ini berusaha mempertanyakan keterwakilan hari libur, pekerja kognitif dan kelelahan mental, etos kerja kontemporer, juga paradoks mengenai.

2020  —
  84 min  —
  15+
Lois Patiño

Di sebuah desa di mana lautan dan bulan berdekatan, ada seekor monster, tiga penyihir, banyak hantu, dan seorang pria yang kapalnya karam.

2020  —
  21 min  —
  PG
Hovig Hagopian

Yerevan, ibukota Armenia. Berada 230 meter di bawah tanah, di dalam tambang garam Avan, semua orang berjalan-jalan untuk bisa bernapas lebih mudah.