Circle FFD 2021

DocTalk

Program DocTalk merangkum aktivitas diskusi, panel, dan presentasi mengenai perkembangan praktik dan ekosistem dokumenter. Program ini dibangun sebagai ruang yang membawa pembahasan dokumenter dalam pembicaraan spesifik melalui berbagai perspektif.

Documentary Heritage: Praktik Pencatatan Warisan Budaya dengan Medium Dokumenter

23 November 2021 | 19.00 - 21.00 WIB | 20.00 - 22.00 WITA | 21.00-23.00 WIT

Indonesia memiliki beragam kekayaan warisan budaya. Warisan budaya dapat diartikan sebagai produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi yang berbeda dan prestasi-prestasi spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang menjadi elemen pokok dalam jati diri suatu kelompok atau bangsa. Dari gagasan ini, warisan budaya merupakan hasil budaya fisik (tangible) dan hasil budaya nonfisik budaya (intangible) dari masa lalu. 

Warisan budaya dapat digolongkan menjadi dua kategori, yaitu warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda. Warisan budaya tak benda adalah berbagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan, serta instrumen-instrumen, objek, artefak, dan lingkungan budaya yang terkait meliputi berbagai komunitas, kelompok, dan (dalam beberapa hal tertentu) perseorangan yang diakui sebagai warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda diwariskan dari generasi ke generasi; secara terus-menerus diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksi mereka dengan alam, dan sejarahnya; serta memberikan mereka makna jati diri dan keberlanjutan untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia. Proses perawatan atas warisan budaya tak benda kerap kali menjadi suatu yang menantang dan perlu perhatian khusus. 

Pada tahun 1992, UNESCO meluncurkan program Memory of the World (MoW) sebagai bagian dari upaya perlindungan warisan budaya yang dimiliki masyarakat dunia. MoW adalah dokumentasi dari memori kolektif bangsa-bangsa di dunia (warisan dokumenter) yang merepresentasikan warisan budaya dunia.

Dengan melandaskan pada praktik tersebut, FFD ingin mengangkat diskusi terkait praktik pencatatan warisan budaya tak benda melalui pendekatan medium dokumenter. Bagaimana secara praktik hal tersebut dilakukan? Apa yang menjadi prinsip dari pendekatan documentary heritage? Bagaimana unsur-unsur yang sudah melekat pada medium film dokumenter dapat dioptimalisasikan dalam kerangka kerja ini? 

Kami ingin mengundang publik untuk mendiskusikan prinsip dokumentasi budaya dan pertautannya dengan film dokumenter. 

Pembicara

Harry Waluyo
Harry Waluyo

Harry Waluyo adalah anggota Global Network of Facilitator for ICH-UNESCO untuk wilayah Asia Pacific (2011-sekarang). Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan IPTEK di Kemenparekraf (Jilid 1, Oktober 2012-Oktober 2014); Sekretaris Utama di Badan Ekonomi Kreatif (2015); Staf Khusus Kementerian Pariwisata (2016-2017); Tenaga Ahli untuk Produksi Dokumentasi Video ICH-UNESCO di Asia Tenggara yang bekerja sama dengan ICHCAP, Korea Selatan (2018-2019). Saat ini Harry menjadi Tenaga Ahli bidang Pengembangan Usaha Ekonomi Kreatif di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tonny Trimarsanto
Tonny Trimarsanto

Tonny dikenal sebagai sutradara dan fasilitator workshop film dokumenter. Sejak terjun di bidang dokumenter, sudah puluhan film dokumenter yang dilahirkan Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini, begitu juga puluhan penghargaan atas karyanya. Serambi (2005), salah satu film Tonny, adalah film Indonesia pertama yang masuk dalam Un Certain Regard di Festival Film Cannes, 2006.

Moderator

Irfan R. Darajat

Lahir di Purbalingga, Oktober 1988. Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM dan Kajian Budaya dan Media UGM. Kini, Irfan bergiat sebagai staff pengajar di Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi UGM dan peneliti di LARAS: Studies of Music in Society.

Pemrograman dalam Festival Film

Rabu, 24 November 2021 | 19.00 - 21.00 WIB | 20.00 - 22.00 WITA | 21.00-23.00 WIT

Praktik pemrograman film yang baik diperlukan dalam menumbuhkan perspektif kritis terhadap pembacaan isu dan fenomena, bentuk dan perkembangan film, serta relevansinya dengan konteks tertentu sehingga program yang dihadirkan dapat diterima penontonnya. Festival sebagai ruang ekshibisi penting untuk membicarakan dan mendiskusikan praktik pemrograman film.

Dilatarbelakangi oleh sedikitnya antusias ataupun akses pengetahuan terhadap kegiatan pemrograman film, diskusi ini bertujuan untuk menawarkan perspektif lain di balik program film yang muncul dalam festival. Sekaligus, diskusi ini menjadi upaya melihat bahwa setiap program memiliki poin serta keunikan masing-masing.

Pembicara

Hafiz Rancajale
Hafiz Rancajale

Hafiz Rancajale (Juni 1971, Pekanbaru) menamatkan pendidikan Seni Murni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1994. Dia adalah seorang seniman, kurator, sutradara filem, dan salah satu pendiri dua organisasi yang berbasis di Jakarta, yakni Forum Lenteng (2003) dan ruangrupa (2000). Bersama kedua organisasi itu, Hafiz sering menjadi inisiator bagi penyelenggaraan berbagai acara dan proyek di bidang kesenian, media, dan perfileman, baik untuk skala nasional maupun internasional. Pada tahun 2003-2011, Hafiz menjadi Direktur Artistik OK. Video - Jakarta International Video Festival; pada tahun 2013-2017 ia juga menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta; dan sejak tahun 2013 hingga sekarang, dia adalah Direktur Artistik ARKIPEL - Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival.

John Badalu
John Badalu

John Badalu bekerja di bidang film programming dimulai dari British dan Italian Film Festival di Jakarta kemudian berpindah ke Jiffest sebelum akhirnya mendirikan Q! Film Festival. Dia juga sempat bekerja di tim praseleksi beberapa film festival yang penting di dunia seperti Berlin, Shanghai, Tallinn Black Night Film Festival, dan Bifan di Korea. John juga bekerja sebagai produser independen yang telah menghasilkan beberapa film seperti Malila: The Farewell Flower (Thailand) dan Everyday is A Lullaby (Indonesia). John baru saja bergabung di tim praseleksi di Busan International Film Festival sejak tahun 2020.

Moderator

Ayu Diah Cempaka
Ayu Diah Cempaka

Ayu Diah Cempaka adalah tim program Festival Film Dokumenter (FFD) 2015-2019. Saat ini bermukim di Bali dan mulai tahun 2016 menyelenggarakan program pemutaran dan diskusi film reguler bernama Cinecoda. Sejak tahun 2017, ia menginisiasi program Lokakarya Kritik Film serangkaian gelaran FFD bersama Cinema Poetica.

Perspektif: Kerja-Kerja Imaterial

25 November 2021 | 19.00 - 21.00 WIB | 20.00 - 22.00 WITA | 21.00-23.00 WIT

Dalam praktik kehidupan keseharian kita, sering kali kita temukan seseorang atau sekelompok komunitas yang bersikukuh dan gigih dalam menjalankan suatu hal diyakininya. Kegiatan itu—jika tidak bisa disebut sebagai kerja—bisa jadi merupakan hobi belaka, bisa jadi merupakan kegiatan tambahan yang mesti ia tekuni di samping pekerjaan sehari-harinya, atau bisa jadi merupakan pekerjaan sehari-harinya yang kemudian tidak mendapatkan kompensasi atau gaji yang sesuai dengan beban kerjanya, atau bisa jadi merupakan kegiatan yang harus dilakukan karena tidak pilihan lain dan jika bukan mereka yang mengerjakan, hal tersebut maka tak ada lagi yang bersedia.

Praktik tersebut sering kali menyita pikiran, waktu, tenaga, dan emosi dari para pelakunya. Sebagian orang yang mau melakukan hal tersebut landasannya bisa jadi karena dorongan internal dalam dirinya atau mungkin dorongan dari luar dirinya. Misalnya, sekelompok orang yang sangat mencintai musik atau film kemudian melakukan kerja preservasi musik atau film; atau juga ragam pekerjaan domestik seperti bagaimana seorang anggota keluarga yang harus merawat kondisi anggota keluarganya yang kesusahan, atau seorang ibu yang merawat anaknya, atau seorang anak yang merawat orang tuanya. Contoh lain, bagaimana sekelompok orang bersedia meluangkan tenaga, pikiran, waktu, biaya, dan perasaan mereka untuk menemukan identitasnya di tengah lapisan-lapisan konflik personal yang dialaminya. Praktik-praktik kerja ini sering kali dialami oleh seseorang atau kelompok yang tentu berada di luar kerangka ekonomi atau kerja-kerja yang barangkali jauh dari usaha untuk memenuhi kebutuhan domestik sehari-hari.

Manusia dibayangkan dapat menemukan jati dirinya melalui kerja, sementara dalam perkembangan kapitalisme lanjut, ragam pekerjaan justru banyak mengasingkan manusia. Kegiatan atau kerja-kerja yang didasarkan pada afeksi memiliki kemungkinan lebih besar bagi manusia untuk menemukan dirinya, tetapi pekerjaan ini justru berada di luar kerangka ekonomi. Dari pengalaman personal, dari ingatan personal, gerakan-gerakan kecil tumbuh. Lambat laun gerakan itu menjadi semangat yang terus hidup dan menghidupi pelakunya. Dari pengalaman dan ingatan personal tersebut, kita dapat menemui persoalan yang lebih besar. Lantas, bagaimana kita dapat memaknai pekerjaan ini secara lebih lanjut?

Program Perspektif Festival Film Dokumenter 2021 ingin menghadirkan diskusi terkait bagaimana kita dapat lebih dalam menggali wacana tersebut. Diskusi ini akan menghadirkan Nuraini Juliastuti dan Silvester Petara Hurit sebagai pembicara dan Syafiatudina sebagai moderator.

 

Pembicara

Silvester Petara Hurit
Silvester Petara Hurit

Silvester merupakan seorang pegiat seni dan budaya di Flores Timur, NTT dan telah menyutradarai teater, menulis esai, cerpen, dan lakon. Ia menjadi penggerak komunitas kreatif di Flores Timur, pendiri Nara Teater, penggagas event seni dan budaya berbasis masyarakat, melatih dan mendampingi kontingen kesenian, merevitalisasi sejumlah kesenian, ritus, dan atraksi budaya melalui festival. Ia bekerja sebagai ASN, sekarang penanggung jawab Kepala Bidang Pengembangan Seni dan Budaya Kabupaten Flores Timur.

Nuraini Juliastuti
Nuraini Juliastuti

Nuraini Juliastuti adalah peneliti dan penulis yang berdomisili melintasi batas-batas lokal, dan memusatkan diri pada penelitian tentang organisasi seni dan budaya, aktivisme, produksi budaya alternatif, dan pengarsipan vernakular. Nuraini ikut mendirikan Kunci Study Forum & Collective di Yogyakarta pada tahun 1999. Dia memperoleh gelar PhD di Institute of Cultural Anthropology and Development Sociology, Leiden University pada tahun 2019. Saat ini Nuraini menjalankan program pascadoktoral di Amsterdam School for Cultural Analysis (ASCA), University of Amsterdam. Penelitiannya merupakan bagian dari program Worlding Public Cultures: The Arts and Social Innovation.

Moderator

Syafiatudina
Syafiatudina

Syafiatudina bekerja sebagai penulis serta kurator. Praktiknya dibentuk oleh eksplorasi atas isu gerakan sosial, persoalan kerja, kolektivitas, penciptaan subjek politik, dan pedagogi kritis. Dina adalah anggota KUNCI: sebuah kolektif riset-aksi dan penerbitan di Yogyakarta.