Lokakarya Kritik Film

Lokakarya Kritik Film

Program lokakarya ini untuk mendekatkan film sebagai teks kajian, memiliki fungsi edukasi terhadap penonton dalam mengapresiasi film, serta membangun gagasan atau wacana pembuat film. Program ini bertujuan untuk memajukan literasi media di masyarakat dalam pembacaan sebuah karya film.

Pada tahun 2017, bersama Cinema Poetica, untuk pertama kalinya Festival Film Dokumenter (FFD) menginisiasi sebuah lokakarya kritik film sebagai salah satu rangkaian program FFD 2017. Gagasan ini muncul sebagai respons atas semakin tumbuhnya minat para penikmat film dalam menulis ulasan film melalui medium yang beragam. Setelah itu, secara rutin lokakarya ini diselenggarakan setiap tahun, dan pada tahun 2018 penyelenggaraannya sempat bekerja sama dengan Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) dengan peserta terpilih dari negara-negara Asia Tenggara.

FFD dan Cinema Poetica meyakini bahwa produksi dan distribusi film adalah dua elemen yang mampu menjaga iklim sinema tetap hangat – namun hal ini saja belum cukup. Elemen yang semakin dibutuhkan sinema saat ini adalah literasi film – khususnya pada pengembangan kapasitas apresiasi film. Lokakarya ini tidak digagas dengan intensi sesumbar untuk melahirkan kritikus-kritikus film. Namun hal utama yang diusung dalam lokakarya ini adalah mengajak para pesertanya untuk mengembangkan kapasitas berpikir kritis dalam membaca film, baik sebagai sebuah teks maupun produk kebudayaan kontemporer.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Lokakarya Kritik Film FFD tahun 2020 akan dilakukan secara daring, beradaptasi dengan situasi pandemi COVID-19. Lokakarya akan digelar sepanjang 6 hari dengan jeda waktu antara satu pertemuan dan lainnya. Selain berkesempatan berdiskusi dengan para mentor yang berpengalaman, peserta akan mendapatkan akses khusus untuk menonton secara daring film-film dokumenter pilihan dari seluruh dunia yang terprogram dalam FFD 2020.

Tugas akhir dari dari para peserta lokakarya ini akan diterbitkan dalam versi buku digital oleh FFD.

Mentor
Adrian Jonathan Pasaribu
Adrian Jonathan Pasaribu

Salah seorang pendiri Cinema Poetica—media kolektif pegiat apresiasi dan peneliti film—yang rutin mengisi lokakarya penulisan kritik film sejak 2013. Dari 2010 sampai 2015, ia bekerja untuk Yayasan Konfiden sebagai anggota redaksi filmindonesia.or.id. Pada 2019, ia bersama sejumlah pegiat perfilman merintis Sinematik Gak Harus Toxic—sebuah inisiatif kolektif untuk menyikapi kasus kekerasan seksual di lingkar komunitas film. Saat ini, Adrian bekerja lepas sebagai editor dan penulis.

Aulia Adam
Aulia Adam
Seorang jurnalis yang bermukim di Jakarta. Bekerja untuk Tirto.id sebagai Indepth-Reporting Journalist sejak 2016. Salah satu pengasuh rubrik Misbar di Tirto. Ia merupakan penerima Fellow of GIJN 2017, Fellow of IWMF 2019, dan Penerima SOPA Awards 2020 untuk #NamaBaikKampus.
Peserta Terpilih
Ainidya Hafilda
Ainidya Hafilda Triafani (Batang, Pekalongan)
David Hukom
David Hukom (Malang)
Galih Naufal
Galih Naufal Pramudito (Riau)
Indriastuti S.

Indriastuti Septiyani (Banten)

Moses Parlindungan

Moses Parlindungan (Jakarta)

Pamerdyatmaja
Pamerdyatmaja (Yogyakarta)
Ridho Sabdalilah

Ridho Sabdalillah (Sumatera Barat)