Lokakarya Kritik Film

Perubahan iklim dunia perfilman terus berkembang. Dari cara konsumsi film hingga terbukanya kemungkinan bagi semua orang untuk menjadi kritikus. Kini, pertanyaan seperti: “kualitas apa yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi seorang kritikus film?” tampaknya menjadi lebih relevan di tengah keberagaman opini yang ada di sekitar narasi tentang film.

Berangkat dari pembacaan ini, FFD menginisiasi program Lokakarya Kritik Film. Sebuah kelas yang menyediakan pelatihan dalam kerangka kritis dan praktik penulisan tajam tentang film dokumenter dan menjadikannya bagian dari salah satu dialog dan pertukaran wacana kebudayaan. Di tahun ketiganya, bekerja sama dengan Cinema Poetica, Lokakarya Kritik Film FFD 2019 telah memilih tujuh peserta untuk bergabung dalam lokakarya selama lima hari penuh: dari 2 – 6 Desember 2019.

Peserta

  • Ahmad Fauzi (Bandung)
  • Ageng Indra (Banjarnegara)
  • Bram Adimas Wasito (Surabaya)
  • Reza Mardian (Jakarta)
  • Sirojul Khafid (Yogyakarta)
  • Rheisnayu Cyntara (Yogyakarta)
  • Zakiyya Danaparamitha (Semarang)

Mentor

Mentor_Adrian-Jonathan-Pasaribu

Adrian Jonathan Pasaribu

Adrian Jonathan Pasaribu merupakan salah satu pendiri Cinema Poetica. Ia merupakan seorang kritikus film, penulis, pemrogram film, jurnalis, dan juga Alumni Berlinale Talents pada tahun 2013. Dari tahun 2007 hingga 2010, Adrian menjadi manajer program Kinoki, sebuah ruang pemutaran alternatif di Yogyakarta. Ia juga mengembangkan beberapa program film untuk  rbagai ruang pemutaran dan festival film, seperti Festival Film Dokumenter, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, ARKIPEL International Documentary & Experimental Film Festival, dan Singapore International Film Festival. Saat ini, Adrian tengah melakukan penelitian tentang sejarah yang hilang dari sinema Indonesia.

Mentor_Raksa-Santana

Raksa Santana

Raksa Santana menulis untuk Cinema Poetica sejak 2013. Sempat menjadi editor rubrik film di Jurnal Ruang dan juga juru program pemutaran film di Bentara Budaya Jakarta. Sekarang bekerja di Kepustakaan Populer Gramedia sebagai editor buku.

Tentang Lokakarya

Sejak muncul sebagai profesi pada tahun 1960-an, kritik film terus berkembang bersamaan dengan industri sembari tetap mempertahankan fungsi dasarnya. Terlepas dari apa yang menarik minat kita pada sinema, kita tidak dapat mengabaikan bahwa kritik film telah membantu membentuk ekosistem pengetahuan dengan memperluas dan memperkaya pengalaman seseorang untuk mengungkapkan aspek-aspek baru dari sebuah film. Tanpa kritik, nilai dan kepentingan budaya dari sebuah film akan berkurang, meskipun perbedaan antara kerja-kerja kritis dan opini publik masih dan akan tetap terus ada.

Saat ini, internet telah memungkinkan munculnya variasi opini dari berbagai kelompok orang. Media sosial barangkali adalah salah satu medium yang paling kuat untuk membentuk kesan terhadap kualitas sebuah film. Medium ini, kini, sering kali memenuhi fungsinya sebagai mimbar bagi sudut pandang yang berbeda untuk mengadu dirinya di hadapan wacana mayoritas. Hal ini memungkinkan orang untuk mengalami film tertentu melalui cara pandang kritis dari orang lain yang berasal dari kelompok yang berbeda darinya.

Berangkat dari pembacaan ini, Festival Film Dokumenter (FFD) menginisiasi program Lokakarya Kritik Film. Kegiatan ini menghadirkan pelatihan praktik penulisan tentang film dokumenter sekaligus menjadikannya bagian dari salah satu dialog dan pertukaran wacana kebudayaan. Bekerja sama dengan Cinema Poetica, Lokakarya Kritik Film FFD membuka pendaftaran bagi warga negara Indonesia. Peserta akan menghadiri pemutaran film selama festival untuk menulis tentang film dan mendiskusikannya bersama mentor dan sesama peserta. Selain itu, peserta akan memiliki kesempatan untuk menghadiri Public Lecture yang diselenggarakan oleh FFD yang utamanya berfokus pada isu-isu kontemporer tentang perkembangan dokumenter dan festival film di Asia Tenggara maupun di seluruh dunia.

Lokakarya ini bertujuan untuk menyediakan ruang pembelajaran bagi para kritikus film muda Indonesia untuk meningkatkan pengetahuan tentang kritik film dan membentuk sebuah lingkungan yang saling berbagi, belajar, dan memberdayakan sesama. Kami berupaya untuk terlibat dan mempromosikan karya independen dari sinema dunia yang paling orisinal dan penting, serta mengakui pentingnya dokumenter sebagai situs produksi dan pemikiran sinematik kontemporer. Upaya tersebut dibarengi dengan semangat untuk menunjukkan perlunya para kritikus untuk menjangkau dan melampaui batas-batas negara dan definisi budaya yang ada.

Selama dua minggu masa pendaftaran dibuka, kami menerima 32 pendaftar dengan berbagai jenis tulisan dari beragam visi dan latar belakang. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami telah memilih tujuh peserta untuk bergabung dalam lokakarya selama lima hari penuh: dari 2-6 Desember 2019. Tugas akhir para peserta akan diterbitkan dalam buku digital yang didesain oleh FFD.

  • Lanjut baca
Close Menu