DocTalk & Public Lecture

Menjadi kepanjangan tangan dari festival film, DocTalk dan Public Lecture akan menajamkan fungsinya sebagai bagian dari upaya kontekstualisasi wacana-wacana kritis dan kontemporer, sekaligus usaha dalam merefleksikannya. Target publik dari program ini bisa seluas-luasnya, bagi siapapun yang berhasrat untuk terus memperbincangkan film dalam bingkai-bingkai eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Seperti umumnya forum-forum diskusi, DocTalk dan Public Lecture akan menjadi ruang temu atas berbagai gagasan.

DocTalk akan berlangsung selama lima hari, pada 2-6 Desember 2019. Mengambil beberapa isu yang diharapkan bisa dihayati oleh publik, baik umum maupun pembuat film. Kemudian Public Lecture akan berlangsung di ISI Yogyakarta pada 3 Desember 2019 dan Universitas Gadjah Mada pada 2 Desember 2019.

DocTalk

Community & Society

Berkumpul di Ruang Aman: Memahami Ulang Bentuk Kekerasan dalam Komunitas dan Pencegahannya

Pemahaman dan definisi komunitas terus berkembang dari waktu ke waktu, begitu juga dengan bentuk relasi dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Komunitas menawarkan relasi yang luwes dan hadir dengan sifat kesukarelawanan. Tapi pada perkembangannya, batas takaran kegiatan yang dilakukan oleh komunitas sering kali tidak jelas sehingga pada beberapa titik mengaburkan antara kerja kesukarelawanan dan kerja profesional yang terikat.

Hal ini bisa jadi disebabkan oleh proses pembagian kerja dalam organisasi yang kurang terstruktur sehingga menyebabkan ketimpangan antara beban kerja dengan jumlah orang di dalam komunitas. Belum lagi jika ditambah dengan tuntutan-tuntutan yang diberikan dari pihak luar dalam kaitannya sebagai penyandang dana. Imajinasi militansi yang diusung kerap membuat kerja-kerja komunitas kehilangan kegembiraan dari konsep kesukarelawanan itu. Bahkan, tidak jarang melahirkan kerja-kerja yang eksploitatif demi mewujudkan cita-cita kelompoknya.

Dalam komunitas, relasi interpersonal sering kali tidak memiliki batas-batas yang jelas. Kekaburan ini dapat memiliki risiko untuk  terjerumus dalam bentuk-bentuk kekerasan dan pelecehan berbasis kelas, ras, atau seksual. Hal ini kerap diabaikan dan dinormalisasi. Selain itu, persebaran kekuasaan dalam bentuk modal pengetahuan, modal jaringan, dan modal finansial tiap-tiap anggotanya sering kali tidak merata. Ketimpangan relasi kuasa ini dapat mengubah persepsi awal komunitas sebagai ruang aman menjadi ruang rawan.

Diskusi ini dirancang untuk membahas bersama upaya yang perlu ditempuh untuk menciptakan komunitas sebagai ruang aman dan nyaman bagi siapapun. Alih-alih hanya berfokus pada menghukum dan menghakimi pelaku kekerasan dalam komunitas, program ini dibayangkan dapat menghadirkan diskursus kesetaraan, kerja komunitas yang sehat, dan emansipatoris terhadap para anggota di dalamnya sehingga dapat menghadirkan komunitas yang sehat dan terbebas dari segala macam bentuk kekerasan (verbal, fisik, dan psikis).

Inisiasi awal telah dilakukan dalam lingkungan Forum Film Dokumenter dengan terlibat dalam program “Sinematik Gak Harus Toxic” serta upaya penyusunan panduan etik Festival Film Dokumenter 2019 yang telah didiskusikan dan didistribusikan kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Festival Film Dokumenter. Melalui diskusi ini, kesadaran tentang pencegahan kekerasan dalam bentuk apapun dan upaya penciptaan ruang aman dalam komunitas dapat lebih diperjuangkan oleh berbagai kalangan.

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Vauriz Bestika (Sinematik Ngga harus Toxic)
  • Ayu Diasti Rahmawati (FISIPOL UGM)

Moderator

  • Amerta Kusuma

Jadwal

  • 2 Desember 2019
  • Kedai Kebun Forum
  • 03.00 pm

DocTalk

Film & Demokrasi

Film Pendek dan Demokrasi yang Diinginkan

Film pendek sebagai sebuah medium sering kali diperlakukan sebagai batu loncatan bagi para pembuat film pemula. Batu loncatan untuk membuat film berdurasi panjang sebagai karya yang dianggap memiliki nilai lebih di hadapan publik. Tetapi, medium film pendek lebih dari itu. Durasi dan keterjangkauannya untuk bisa diproduksi oleh siapapun membuat film pendek menjadi medium yang merdeka. Sehingga karya-karya yang dihasilkan dengan menggunakan film pendek sering kali penuh dengan eksperimen dan tawaran kebaruan.

Namun bagaimanapun merdekanya film pendek, ia akan selalu berhadapan dengan sensor. Sensor bisa hadir dari mana saja; institusi negara, paramiliter, organisasi masyarakat tertentu, hingga swasensor setiap orang. Dengan kata lain, kehadiran film pendek sebagai medium yang independen berhubungan dengan perkembangan demokrasi. Hal inilah yang menjadi asumsi dasar DocTalk sesi ini. Tentu seni bukanlah satu-satunya motor penggerak perubahan, tetapi setidaknya bisa merekam ingatan atas suatu dinamika sosial. Maka pertanyaan yang muncul adalah bagaimana film dokumenter pendek mencatat dan menjadi perwujudan atas demokrasi hari ini?

Diskusi ini akan coba ditajamkan dengan dua perspektif. Pertama, tentang bagaimana sirkuit festival film menempatkan film pendek, sebagai dekorasi atau justru perayaan utama. Kedua, pertanyaan mendasar tentang bagaimana film pendek yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan perjuangan demokrasi.

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Fransiska Prihadi (Programmer of Minikino Film Week)
  • Jesse Cumming (Associate Programmer of Toronto International Film Festival (TIFF))
  • Aryo Danusiri (Filmmaker & Peneliti)

Moderator

  • Ayu Diah Cempaka

Jadwal

  • 4 Desember 2019
  • Kedai Kebun Forum
  • 01.00 pm

DocTalk

Hacking Methods & Ethics Issue

Intimacy and Ethics: Universal or Contextual?

Membuat film dokumenter, terutama yang fokus pada satu atau dua subjek utama, bagaikan meminjam hidup manusia yang mungkin semula asing. Asing dalam konteks ini memiliki banyak artian. Bagi pembuat film, asing karena belum tentu dekat dengan manusia, masyarakat, atau komunitas yang sedang diangkat isunya. Pun bagi subjek utama (manusia/masyarakat/komunitas), perilaku keseharian yang semula dilakukan secara wajar, kini harus berhadapan dengan mata kamera dan perekam suara. Apparatus asing ini yang kemudian memfilmkan aktivitas mereka dan nantinya ditampilkan di hadapan publik. Dalam proses yang berjalan panjang, jika perasaan asing ini dapat diatasi, maka bisa tercapailah yang dinamakan sebagai intimasi. Intimasi sering diyakini menjadi tolok ukur bagi keberhasilan sebuah film dokumenter. Apresiasi tinggi kerap disematkan pada film yang dirasa mampu secara dalam masuk ke kehidupan para subjeknya.

Namun, praktik pembuat film kerap terjebak di antara obsesi intimasi ini, dengan mengesampingkan perkara etis. Pada beberapa titik, obsesi untuk menjadi intim dapat menggiring film ke dalam laku yang eksploitatif. Di samping kelihaian pembuat film memahami peralatan perekam nan canggih, rupanya kepekaan untuk mengerti nilai-nilai lokal, tanpa melihatnya secara eksotis, perlu dilakukan. Tentu kita tidak bisa mewajarkan perilaku demikian, meski bisa jadi sudah dan jamak terjadi dalam praktik kesenian. Intimasi dapat diukur dengan melihat bagaimana film masuk ke dalam subjek, tetapi selalu dipertanyakan bagaimana mengukur etika sebuah film. Jika intimasi diasumsikan sebagai ukuran universal untuk menilai film, maka etik adalah ukuran kontekstual yang bisa jadi berbeda dari nilai-nilai universal. Bagaimana proses produksi film bernegosiasi atas problem ini?

Jika etik hanya persoalan di balik layar dan tidak terlihat dalam presentasi akhir, bagaimana cara kita belajar agar persoalan eksploitasi tidak terus berulang? Adakah upaya untuk mewujudkan film yang dekat dengan penonton dengan tetap menghargai subjeknya sebagai manusia yang membutuhkan privasi? Mungkinkah manusia, masyarakat, atau komunitas dalam film tersebut berperan sebagai subjek yang aktif di hadapan sorot kamera? Setelah seluruh pertanyaan ini diajukan, pertanyaan diujung wacana ini bisa mengarah pada: Siapakah pemegang otoritas tertinggi dalam proses pembuatan film?

Pertanyaan seputar ini akan dibedah bersama narasumber yang berpengalaman di bidang produksi film, dan akademisi yang lihai untuk menilai bagaimana seni, khususnya film, hadir dalam problem-problem sosial yang nyata.

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Shin Eun-shil (programmer of Seoul Independent Documentary Film Festival (SIDOF))
  • DS Nugraheni (filmmaker)
  • Tonny Trimarsanto (filmmaker)

Moderator

  • Dag Yngvesson

Jadwal

  • 5 Desember 2019
  • Kedai Kebun Forum
  • 01.00 pm

DocTalk

Intermedialitas/Alih dan Silang Wahana

Manuver Mata Mekanis: Video Art dan Film Dokumenter di Indonesia

Video art dan dokumenter bisa dimaknai sebagai seni audiovisual. Perpisahannya terjadi dalam makna-makna yang lebih rinci, hingga akhirnya institusi ekshibisinya berbeda satu sama lain. Jika film bermuara pada festival film atau bioskop sebagai ruang pertemuannya dengan publik, video art lebih kerap bermain di arena pameran seni rupa, baik dalam frasa yang lebih spesifik seperti seni media baru, seni multimedia, hingga yang paling umum yaitu seni kontemporer. Akan tetapi, seperti umumnya makna atas kontemporer, batasan ekshibisi ini juga semakin mencair. Keduanya sama-sama terus melakukan pemaknaan ulang agar semakin kontekstual dari masa ke masa. Jika demikian, maka membicarakan video art dalam perhelatan festival film juga menjadi bagian untuk menajamkan wacana mutakhir.

Dari sisi teknologi, video art dan dokumenter bisa jadi berawal dari perilaku yang sama ketika perangkat perekam audio dan visual rumahan marak beredar di pasaran seperti yang terjadi pada 1970-an. Diperkuat juga dengan kampanye dari perusahaan kamera digital yang tidak pernah terang menyebutkan demografi konsumen, entah diperuntukkan untuk profesional atau amatir. Maka tuntutan teknis kualitas gambar dan suara yang mengharuskan kejernihan keduanya bisa jadi tidak lagi terlalu relevan. Selalu ada upaya melekatkan gagasan pada karya-karya demikian, mulai dari gagasan yang sangat personal hingga persoalan transnasional. Gagasan ini tentu juga tersemat dalam setiap karya seni, baik video maupun dokumenter.

DocTalk sesi ini tidak akan membahas tentang sejarah panjang perkembangan video art di Indonesia. Lebih dari itu, melacak bagaimana kekhasan video art dan film dokumenter–yang sama-sama memiliki medium audiovisual–mengemas gagasan-gagasannya. Dari mana dan untuk kepentingan siapa kekhasan ini perlu dimunculkan? Atau itu justru aspek yang tidak dipikirkan secara dalam oleh seniman, lalu menyerahkannya pada tafsir kurator dan publik luas?

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Alia Swastika (kurator, direktur Jogja Biennale)
  • Rosalia Namsai Engchuan (filmmaker)

Moderator

  • Hendra Himawan

Jadwal

  • 5 Desember 2019
  • Kedai Kebun Forum
  • 03.30 pm

DocTalk

Distribusi, Pasar, & Ekonomi Politik Film

Rupa-Rupa Distribusi Film Kita

Dalam satu dekade terakhir, berbagai forum pendanaan dan pasar film mulai tumbuh di Indonesia dan Asia Tenggara. Hal ini turut berkontribusi tidak hanya pada aspek pengembangan produksi dan promosi film-film Indonesia, tapi juga berpengaruh pada lahirnya film-film dengan pola produksi yang lebih kompetitif. Forum-forum yang kini mulai marak hadir sebagian besar memberi peluang pada pembuat film yang telah berpengalaman, atau setidaknya pernah satu atau dua kali terlibat dalam produksi film berskala profesional. Sementara forum pendanaan, baik praproduksi, produksi, maupun pascaproduksi, memiliki bahasa dan logikanya sendiri.

Forum pendanaan secara langsung maupun tidak akan memengaruhi bagaimana estetika dan narasi film dirancang. Sebagai bagian apparatus yang mempertemukan problem sosial dengan publik yang lebih luas, sejauh apa film yang didanai oleh lembaga atau pendonor tertentu bernegosiasi dalam situasi ini. Satu kepastian yang tidak bisa diabaikan adalah awasnya para pembuat film dengan lalu lintas distribusi film yang senantiasa mengiringi proses produksi film. Kehadiran platform digital seperti Netflix, Fandor, FNB, dan VIU bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi ruang ekshibisi konvensional. Singkatnya, kita bisa melihat ini sebagai pemangkas rantai distribusi film, meski beberapa platform digital masih membutuhkan akses khusus. Namun, ini tetap dapat dimaknai sebagai situasi di mana potensi pertemuan publik dengan film semakin luas serta kanal yang semakin beragam.

Asumsi yang dapat dilahirkan dari situasi tersebut adalah adanya karakter yang khas dari setiap forum pendanaan dan distribusinya. Kekhasan ini bisa jadi muncul dengan dua dorongan: ideologis atau kecenderungan pragmatis. Pertanyaan yang ingin dielaborasi dalam sesi ini adalah di manakah letak strategis film dokumenter di pasar film Asia Tenggara?; siapakah yang membutuhkan konten-konten dokumenter dari Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya?; bagaimana forum-forum pendanaan turut memengaruhi konten film, baik dalam pemilihan isu bercorak lokalitas hingga medium yang sesuai dengan permintaan pasar?; apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam produksi film dokumenter di Asia Tenggara agar memenuhi selera pasar global?; namun, siapa yang berkuasa atas permintaan pasar?; bagaimana kemungkinan untuk meletakkan film sebagai subjek yang aktif, bukan melulu ditempatkan sebagai objek yang dijadikan komoditas oleh subjek yang bernama pasar?; bagaimana pendanaan, distribusi, dan film saling memengaruhi secara dialektis?

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Karolina Lidin (Nordisk Panorama, Denmark)
  • Nia Dinata (Kalyana Shira Films, Indonesia)
  • Matthieu de Faucal (Institut Français d’Indonésie (IFI) Jakarta)
  • Deputi Akses Permodalan (D2) BEKRAF

Moderator

  • Amelia Hapsari (In-docs)

Jadwal

  • 6 Desember 2019
  • Kedai Kebun Forum
  • 01.00 pm

Public Lecture

Getting the Story Right, Telling the Story Well

Kek Huat Lau membuat film berjudul The Tree Remembers (2019) yang berkisah tentang para korban politik rasial di Malaysia. Film ini menggunakan berbagai footage dari arsip dan wawancara masyarakat adat. Kehadiran kolonial di Malaysia sebagai pihak yang mengidentifikasi masyarakat berdasarkan kategori rasial dan etnis telah mengonstruksi masyarakat adat menjadi minoritas yang hak hidupnya semakin minim. Situasi ini akhirnya berkembang menjadi sikap rasisme yang meluas dan masih terjadi hingga kini. Malaysia mencatat kekerasan rasial terburuk dalam sejarahnya terjadi pada 13 Mei 1969. Artinya, sudah lima dekade berlalu sejak peristiwa itu terjadi.

Kehadiran film dengan cerita tentang persoalan ini bisa membawa dua kondisi, membuat orang mengingat sejarah paling kelam agar tidak terulang; atau justru hanya mengorek trauma tanpa ujung. Dengan demikian, posisi dan latar belakang pembuat film menjadi krusial. Kek Huat Lau sebagai filmmaker kelahiran Malaysia yang menetap di Taiwan bisa dipertanyakan sejauh apa dirinya memiliki pengalaman empiris dan emosional atas ruang, waktu, dan ikatan sosial terhadap persoalan etnis negara kelahirannya. Hal peliknya adalah merancangnya dalam narasi film yang tetap intim dan menjaga etik.

Wacana yang ingin dielaborasi pada Getting the Story Right, Telling the Story Well adalah dokumenter etnografis. Bagaimana Lau mengolah pengalaman dan latar belakang personalnya untuk membuat film dengan isu-isu sensitif semacam ini? Dari citra audio dan visual yang dipresentasikan, mewakili suara siapakah subjek-subjek dalam film berbicara? Bagaimana Lau mewujudkan otoritas dan keberpihakannya pada isu etnis dan ras?

Getting the Story Right, Telling the Story Well–yang diambil dari judul bab dalam buku Decolonizing Methodologies (Linda Tuhiwai Smith)–dipilih untuk mengetengahkan wacana tentang keberpihakan, pengalaman empiris, dan tanggung jawab etik dalam pembuatan film dokumenter. Public Lecture ini diselenggarakan di Ruang Auvi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta.

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Kek Huat Lau

Jadwal

  • 3 Desember 2019
  • Ruang Auvi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta
  • 01.00 pm

Public Lecture

Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream

Dalam bukunya berjudul Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream, Thomas Barker menyajikan sejarah sinema kontemporer yang sistematis dan komprehensif untuk pertama kalinya dalam kasus di Indonesia. Buku ini menyoroti 20 tahun gejolak perubahan, mulai dari permulaan yang indie dan sederhana hingga semakin mengikuti arus utama dan mendapatkan pengakuan internasional. Barker tidak hanya menawarkan narasi yang sederhana, melainkan juga sebuah sumbangan bagi kajian budaya dan sosiologi. Ia mengajukan gagasan mengenai tiga fase perkembangan industri film: dimulai dari langkah meraih kesuksesan dalam budaya populer lokal, khususnya di kalangan anak muda; mendapatkan kemapanan finansial; hingga akhirnya karyanya mendapatkan pengakuan sebagai sebuah karya seni di tingkat internasional. Paradigma going mainstream ini melampaui sekadar sejarah film dan membentuk sebuah metodologi dalam memahami pasar tempat semua industri budaya bermain, menempatkan warga negara-konsumen (bukan negara) menjadi berdaulat.

Indonesia memiliki kasus yang unik dan menarik karena going mainstream termasuk dalam memenuhi kemauan gerakan Islam ‘hijrah’ yang kini sedang bangkit. Di saat yang bersamaan, arus utama berarti bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didirikan pada 2011. Alih-alih menjadi dunia kreatif yang mulus sebagaimana diharapkan banyak orang, industri film Indonesia sekarang sedang mengarah pada tantangan yang sangat berbeda dengan yang dihadapi pra-1998. Barker melihat industri ini layaknya mikrokosmos bagi Indonesia: demokratis tetapi terbebani dengan warisan otoritarian, kreatif tetapi tetap mengalami kontestasi budaya, mancanegara kendati tetap dibentuk secara domestik.

Selama kurang lebih dua jam, Thomas Barker akan mempresentasikan hasil penelitiannya secara umum sekaligus dikontekstualisasikan dengan temuan-temuan terbarunya. Public Lecture ini dilaksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada.

  • Lanjut baca

Pembicara

  • Thomas Barker

Jadwal

  • 4 Desember 2019
  • FISIPOL Universitas Gadjah Mada
  • 10.00 a.m.
Close Menu