Hak untuk Malas

  • 7 film

PERSPEKTIF

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar “kerja”? Pada mula dan pada umumnya, kerja dimaknai sebagai aktivitas pemenuhan kebutuhan semata. Tapi, kerja kemudian menghadirkan dilema dalam hidup. Kerja memungkinkan manusia untuk menemukan dirinya, sekaligus dapat mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Kerja juga membuat orang sembunyi dan lari dari kenyataan. Manusia membutuhkan kerja untuk hidup, tapi karena kerja manusia dapat membenci hidup. 

Melalui program ini, FFD membentangkan wacana tentang relasi manusia dan kerja. Beberapa pilihan film dengan ragam latar belakang, seperti Beautiful Things; Dream Away; Fondata Sul Lavoro; Ladli; Robot Somnambulism; See You, Lovable Strangers; dan X Galeri kami hadirkan untuk menguji dan mempertanyakan kembali sistem kerja yang selama ini berjalan.

Diskusi

Pasukan Antiprei: Menilik Praktik Kerja-Kerja Rentan Masa Kini

“Mereka yang tidak bekerja, maka juga tidak akan makan” (Paul Tarsus – New Testament)

Program ini mengajak penonton untuk mempertanyakan hakikat kerja, sebuah praktik keseharian yang bahkan tidak sempat kita pikirkan tetapi (harus) terus dilakukan. Dalam dunia yang berpusat pada kerja, ia menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kewajaran: sesuatu yang secara alamiah melekat pada manusia dan tidak mungkin ditinggalkan. Narasi yang dibangun begitu lama membuat kita meyakini bahwa hidup adalah kerja, kerja adalah hidup. Produktivitas, kemajuan, dan beragam wacana dibangun dan dipelihara membuat manusia terus bekerja. Bahkan, dogma kerja yang terus dinarasikan membuat orang-orang berpikir bahwa hidup tanpa kerja adalah hina dan bentuk dari kemalasan. Masalahnya, apa itu kerja? Apakah hanya aktivitas yang melibatkan pertukaran uang yang pantas disebut kerja? Apakah perlu penandaan tertentu untuk membuat suatu aktivitas pantas disebut kerja?

Persoalan kerja tetap tidak bisa dilepaskan dari praktik-praktik yang eksploitatif. Gerakan-gerakan sosial di seluruh dunia terus memperjuangkan hak-hak jutaan pekerja yang selama ini ditindas. Waktu luang menjadi sesuatu yang diperjuangkan. Pengurangan jam kerja juga terus diupayakan. Akan tetapi, wacana tersebut dikooptasi dan dibingkai ulang sebagai jargon yang justru melanggengkan praktik eksploitasi tersebut. Munculnya berbagai istilah seperti sharing economy, collaboration, (bahkan) passion, dan berbagai konsep lain seolah-olah hadir untuk memuliakan manusianya. Nyatanya, semu. Ia belum menghindarkan kita dari praktik-praktik eksploitasi yang kian canggih.

Pertanyaan ini mengingatkan kita pada peristiwa yang lebih kontekstual hari ini. Belakangan, muncul bentuk-bentuk kerja baru yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Perkembangan teknologi digital memungkinkan fleksibilitas bekerja yang tidak terbatas ruang-waktu. Generasi yang paling mutakhir kini kemudian memiliki pemaknaan sendiri atas kerja, semacam semangat kebebasan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Di era ini pula makna kerja semakin dipertanyakan. Batas antara bekerja dan tidak bekerja menjadi cair. Kondisi ini justru memungkinkan pekerja berada dalam kondisi yang rentan dengan ketidakpastian jam kerja, penghasilan, jaminan, dan perlindungan kerja. Pentinglah kiranya jika kita dapat mengidentifikasi bentuk pekerjaan apa sajakah yang termasuk di dalamnya dan menilik ulang posisi kita di sana.

Identifikasi tersebut akan menuntun kita ke pertanyaan selanjutnya, mampukah kita membayangkan untuk hidup tanpa bekerja dengan meniadakan sistem kerja yang eksploitatif tersebut? Jika pemaknaan kerja tidak sebatas aktivitas yang melibatkan nilai tukar, apakah ragam kegiatan lain memiliki kemungkinan untuk hadir? Tapi, bagaimana manusia bisa ‘menghidupi’ hidup? Bagaimana dengan sistem kerja yang sudah terlanjur ada saat ini? Bagaimana dengan persoalan kelas dan stratifikasi sosial? Dan seterusnya. Pertanyaan dan gagasan atas wacana kerja selama ini butuh untuk terus dielaborasi lebih jauh lagi. Melalui program ini, kami mengajak penonton untuk merefleksikan kembali hakikat bekerja. Bahkan lebih ekstrem, membayangkan bagaimana dunia tanpa kerja. Diskusi ini terbuka untuk siapapun, tidak terbatas bagi Anda yang merasa bekerja ataupun tidak. Kami mengundang Anda semua untuk hadir dan gelisah bersama.

Pembicara:

Hizkia Yosias Polimpung

Peneliti di Koperasi Riset Purusha dan juga dosen di Fakultas Komunikasi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan di Paramadina Graduate School of Diplomacy. Ia juga adalah editor di IndoProgress dan psikoterapis di klinik Minerva Co-lab. Latar belakang pendidikannya adalah Hubungan Internasional (Master) dan Filsafat Ilmu (Doktor). Selama beberapa tahun belakangan, ia aktif meneliti, menulis dan menjadi pembicara mengenai pekerja kreatif dan seni, pekerja kognitif dan afektif, pekerja media dan jurnalis, pekerja digital, dan mutasi-mutasi pekerja imaterial lainnya.

(*) Program ini merupakan rangkaian dari program Perspektif. Untuk dapat mengikuti diskusi, penonton dianjurkan menyaksikan pemutaran film-film Perspektif sepanjang festival berlangsung.  

Tanggal Pukul Lokasi
Selasa, 11 Desember 2018 07.00 pm Auditorium IFI-LIP
Mitra
Istituto Italiano di Cultura Jakarta
Taiwan Docs
Close Menu