Dokumentasi

Artwork FFD 2018 by Prihatmoko Moki

5 Desember 2018

Antusiasme penonton saat pembukaan Festival Film Dokumenter 2018 di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta (5/12/18).
Direktur Forum Film Dokumenter, Henricus Pria, memberikan penjelasan terkait Forum Film dokumenter dan kegiatan-kegiatan Forum selain festival (5/12/18).
“Beautiful Things” karya Giorgio Ferrero dan Federico Biasin dari Italia menjadi film pembuka FFD 2018 (5/12/18).
Makiko Wakai (paling kiri) dan Fan Wu (kedua dari kiri), dua juri kompetisi FFD 2018 berinteraksi dengan Wan Ying (kedua dari kanan) dari Taiwan Docs dan pengunjung festival pada sesi ramah tamah selepas pemutaran film pembuka FFD 2018 (5/12/18).

6 Desember 2018

Dipandu oleh volunteer, pengunjung menikmati sajian dokumenter interaktif yang bisa diakses dari 6 - 11 Desember 2018 di ruang Galeri, Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta (6/12/18).
Pengunjung FFD 2018 menikmati tontonan dokumenter virtual reality dalam progam “Meretas Realitas” yang mengangkat isu disabilitas (6/12/18).
Haruka Hama (tengah) dari YIDFF (Yamagata International Documentary Film Festival), Jepang adalah salah satu mitra FFD 2018 dalam program “Film Criticism Workshop” (6/12/18).
Jewel Maranan, pembuat dokumenter “In The Claws of a Century Wanting”, berfoto bersama setelah sesi tanya jawab pada pemutaran program Kompetisi Panjang FFD 2018 (6/12/18).
Erik Mjanes (kanan) dari kedutaan Kanada, menjadi pembicara sesi diskusi “Human, Frame by Frame” di IFI-LIP Yogyakarta (6/12/18). Diawali pemutaran ’19 Days” karya Asha Siad & Roda Siad, diskusi menyoal seputar isu imigrasi kaitannya dengan kebijakan pemerintah Kanada.
Penonton memadati Amphitheatre, salah satu venue FFD 2018 di Taman Budaya Yogyakarta (6/12/18), untuk menonton sesi pemutaran program Lanskap yang berusaha menghadirkan wacana dan dialog yang seringkali terlewat dalam mendiskusikan Indonesia.
Chris Fujiwara, adalah salah satu programmer dan kritikus yang menjadi mentor program “Film Criticism Workshop”, yang dihelat dari 6-11 Desember 2018 di Ayaartta Hotel Malioboro. Lokakarya ini diikuti oleh 7 peserta dari 4 negara (Jepang, Filipina, Vietnam, dan Indonesia).
Pengunjung menikmati “Waterland” karya Hsu Yen-ting (Taiwan), sebuah dokumenter yang fokus menggunakan suara dalam bercerita tentang laut di ruang Epson, Taman Budaya Yogyakarta (6/12/18).

7 Desember 2018

Diskusi Doc Talk dengan tajuk “Siasat Program dan Penonton” digelar di Amphitheatre, TBY (7/12/18). Menghadirkan tiga programmer sebagai pemantik, yakni Chris Fujiwara, Fan Wu (Taiwan Int’l Documentary Film Festival-TIDFF), dan Alexander Matius (Kinosaurus).
Fan Wu (programmer TIDFF), menjelaskan bagaimana kerja programming memberi cara pandang baru dalam melihat film.
Diskusi “Talking Money” berlangsung di Loop Station menghadirkan Sebastian Winkels sebagai pembuat film (7/12/18).
Abraham Ravett menceritakan kepada penonton bagaimana produksi filmnya “Holding Hands With Ilse” menjadi cara untuk mengisi kekosongan-kekosongan yang ia alami sepanjang hidupnya.
Penonton menyimak jadwal festival sembari menunggu seri pemutaran program Lanskap di Auditorium IFI (7/12/18).
Diskusi penjurian kompetisi kategori pelajar berlangsung di Hotel Aryaartta Malioboro (7/12/18). Jason Iskandar (tengah), terlibat sebagai juri kompetisi pelajar FFD 2018 bersama Vivian Idris dan Alexander Matius.
Agnes Michelle (paling kanan) menceritakan latar belakang pembuatan filmnya yang diputar di Auditorium IFI-LIP dalam program Lanskap (7/12/18).
Salah satu penonton bertanya kepada Agnes Michelle (sutradara O-Sepig) tentang kemungkinan pembuat film yang memberi label kemiskinan kepada subjek.
Adrian Jonathan (Cinema Poetica), salah satu mentor program “Film Criticism Workshop”, tengah memberi masukan pada hasil tugas review film yang dibuat oleh peserta lokakarya (7/12/18).
Pemutaran Golden Memories (Petite Histoire of Indonesian Cinema) di Societet Militair, TBY diikuti oleh 100 penonton. Film ini merupakan salah satu film yang terseleksi dalam kompetisi kategori panjang FFD 2018 (7/12/18).
Salah satu penonton bertanya bagaimana perkembangan home cinema di Indonesia dalam sesi Q&A pemutaran film Golden Memories (Petite Histoire of Indonesian Cinema) di Societet Militair, TBY (7/12/18).

8 Desember 2018

Suasana penjurian kompetisi kategori pendek (8/12/18). Mandy Marahimin (dua dari kanan) terlibat sebagai juri kompetisi pendek FFD 2018 bersama Aryo Danusiri (dua dari kiri) dan Fan Wu (kiri).
Salah satu pengunjung tengah menikmati karya interaktif The Space We Hold di Ruang Galeri, Taman Budaya Yogyakarta. Karya ini merupakan salah satu bagian dari program “A Play of Perspective” (8/12/18).
Mentor Chris Fujiwara (kiri) dan Adrian Jonathan (tengah) serta Haruka Hama (kanan), mewakili YIDFF selaku mitra, berfoto bersama peserta sekaligus fasilitator Lokakarya Film Kritik FFD 2018 (8/12/18).
Johannes Gierlinger, pembuat dokumenter Remapping The Origins, berfoto bersama setelah sesi tanya jawab pada pemutaran program Kompetisi Panjang FFD 2018 (8/12/18).
Salah satu anggota tim FFD 2018 (kanan) tengah menjelaskan kepada pengunjung (kiri) cara mengoperasikan salah satu karya interaktif dalam program “A Play of Perspective”.
Catatan kesan yang diberikan pengunjung terhadap karya-karya interaktif di Ruang Galeri Taman Budaya Yogyakarta. Terdapat dua program yang dihadirkan di program ini: “A Play of Perspective” dan “Meretas Realitas”.
Tiga dari lima finalis kompetisi dokumenter kategori pelajar tengah menjelaskan tentang karya masing-masing pasca agenda pemutaran di Societet Militair TBY (8/12/18).
Sesi diskusi bersama Richard Hsiuo pasca pemutaran Robot Somnambulism, salah satu film program Perspektif, di Auditorium IFI-LIP (8/12/18).

9 Desember 2018

Aditya R. Pratama (kiri), perwakilan FFD, menyampaikan presentasi terkait peluncuran program “Meretas Realitas” yang akan diadakan selama 3 tahun. Ditemani oleh Dewa Rygen (kanan) sebagai interpreter bahasa isyarat.
Supriadi (tengah), salah satu peserta diskusi program “Meretas Realitas” menyampaikan pendapatnya mengenai kebijakan dan aksesibilitas difabel di Indonesia (9/12/18).
Sesi foto bersama peserta diskusi “Meretas Realitas”, yang diadakan pada tanggal 10 Desember 2018 di Societet Militair TBY pukul 13.00 WIB.
Sesi diskusi pasca agenda pemutaran “Layar Berbisik” di IFI-LIP Yogyakarta,bersama finalis kompetisi Dokumenter Pelajar yang filmnya diputar pada agenda terkait.
Foto bersama peserta diskusi dan pemutaran “Layar Berbisik” di IFI-LIP Yogyakarta pukul 16.00 WIB. (9/12/18)
Diskusi pasca pemutaran “Free To Work” bersama Agnese Cornelio (tengah) di IFI-LIP Yogyakarta, dipandu oleh programmer FFD 2018 Syifanie Alexander (kiri). (9/12/18).
Sesi foto bersama finalis kompetisi Dokumenter Pendek dengan audiens yang datang, di Societet Militair TBY pukul 19.00 WIB. (9/12/18).

10 Desember 2018

Dua orang pengunjung sedang melakukan registrasi untuk mengikuti pemutaran di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.
Pengunjung tengah menikmati instalasi dari artwork utama Festival Film Dokumenter (FFD) 2018, karya Prihatmoko Moki.
Antusiasme pengunjung untuk mengikuti pemutaran “Nyanyian Akar Rumput” dari Yuda Kurniawan di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta (10/12).
Chris Fujiwara (tengah) sedang merefleksikan pengalamannya di ranah kritik film dengan apa yang terjadi di era ini, dalam agenda Doc-Talk “Film Criticism: Aren’t We All?”. Sesi ini dimoderatori oleh Ayu Diah Cempaka (kanan).
Salah satu peserta Doc-Talk “Film Criticism: Aren’t We All?” tertangkap sedang mencatat materi yang disampaikan.
Sesi tanya jawab bersama Mahardika Yudha, filmmaker “Golden Memories” di IFI-LIP Yogyakarta kemarin (10/12). Film ini merupakan salah satu finalis kompetisi Dokumenter Panjang FFD 2018.
Sesi tanya jawab bersama perwakilan dari seluruh finalis kompetisi Dokumenter Pendek FFD 2018 di IFI-LIP Yogyakarta kemarin (10/12).
Yogi Fuad (kanan) tengah menerangkan latar belakang pembuatan film “Angin Pantai Sanleko”, salah satu karyanya yang diputar di Amphitheatre TBY (10/12). Sesi ini dipandu oleh Aditya R. Pratama, programmer FFD 2018.
Hadhi Kusuma, sutradara “Sekeping Kenangan”, tengah menjawab pertanyaan penonton dalam sesi diskusi pasca pemutaran filmnya di Amphitheatre TBY (10/12/18).

11 Desember 2018

Gerai Indikasi Geografis dari BEKRAF dibuka hari ini (11/12) di Societet Militair TBY untuk turut memeriahkan gelaran FFD 2018. Gerai kopi ini menawarkan sajian kopi gratis, dan akan dibuka hingga 12 Desember 2018.
Salah satu pengunjung (kiri) mencoba membuat kopinya sendiri, diawasi oleh penjaga Gerai Indikasi Geografis dari BEKRAF (kanan).
Diskusi bersama Seiko Kato (kanan), Presiden dari IMPLEO, pasca pemutaran program “Fragmen Kecil Asia” di IFI-LIP Yogyakarta (11/12/18). Sesi ini dipandu langsung oleh Direktur Festival, Ukky Satya Nugrahani (kiri).
Antusiasme penonton dalam mengikuti sesi diskusi “Perspektif” yang bertajuk “Pasukan Anti-Prei: Menilik Praktik Kerja-Kerja Rentan Masa Kini” di IFI-LIP Yogyakarta (11/12/18).
Hizkia Yosie Polimpung (kiri) menyampaikan pandangannya terkait aktivitas kerja di era ini dalam sesi diskusi “Perspektif”. Sesi ini dipandu oleh programmer FFD 2018, Irfan R. Darajat (kanan).
ki-ka: Manshur Zikri (Pagi yang Sungsang), Ahmad Fahmi (Sampun Jawah), Muh. Abi (InangInang) dalam sesi tanya jawab bersama filmmaker dalam program “Lanskap” yang diputar di Societet Militair TBY (11/12).
Fauzani Rahmadi, sutradara ‘Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus’ menjawab pertanyaan dari penonton pasca pemutaran filmnya di Societet Militair TBY (11/12/18).

12 Desember 2018

Malam Penganugerahan (12/12/18) pukul 19.00 WIB dipandu oleh Gundhi (kiri) dan Dita (kanan) selaku MC.
Sarah Camara, perwakilan IFI-LIP, menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasih atas kerjasama FFD dengan IFI-LIP.
Sazkia Noor Anggraini, Direktur Program FFD 2018, menjelaskan ulang tentang program-program yang telah dilaksanakan oleh FFD di tahun ini.
Penganugerahan Akatara Award untuk naskah pilihan dari peserta AsiaDoc diberikan kepada Linda Nursanti (kiri), dengan proyek dokumenter berjudul ‘The Ant vs. The Elephant’.
Alexander Matius (Juri Pelajar, kiri) berfoto bersama perwakilan peraih penghargaan Dokumenter Pelajar (kiri), yaitu film 'Tarian Kehidupan' (2018).
Adrian Jonathan Pasaribu dipercaya oleh Juri Kompetisi Pendek yang tidak dapat hadir untuk menyampaikan argumen juri atas ketiadaan peraih penghargaan Dokumenter Pendek Terbaik.
M. Haikal (kanan), editor dari ‘The Nameless Boy’ yang mendapat penghargaan Special Mention Jury Award dalam kategori Kompetisi Dokumenter Pendek.
D.S. Nugraheni mengucapkan terima kasih atas nama Jewel Maranan yang meraih penghargaan Dokumenter Panjang Terbaik FFD 2018.
Ukky Satya (Direktur Festival) menyampaikan pernyataan terakhir sebelum gelaran FFD 2018 ditutup dengan pemutaran film dokumenter pelajar terbaik FFD 2018.
Close Menu