• 7 film

Doc Talk

Program yang merangkum aktivitas diskusi, panel, dan presentasi mengenai perkembangan praktik dan ekosistem dokumenter. Doc Talk dibangun sebagai ruang yang membawa pembahasan dokumenter dalam pembicaraan spesifik melalui berbagai perspektif pada ekosistem dokumenter: produksi, programming film, festival film, distribusi, hingga lembaga atau organisasi kebudayaan sebagai variabel umum, yang mendukung keberlanjutan medium dokumenter dalam ekosistem perfilman di Indonesia. 

Pembahasan ini diturunkan dalam dua sub program: Film Criticism dan Programming on Table. Meski kerja kurasi, ekshibisi, maupun kritik film selama ini dilakukan di festival, nyatanya aktivitas ini tidak banyak dibahas dalam festival film itu sendiri. Dalam ekosistem film yang masih timpang dan jauh dari kata ideal ini, kami ingin mengupas apa dan bagaimana pemrograman film sekaligus mempertanyakan ulang bagaimana bentuk dan peran kritik film hari ini.

Film Criticism

FILM CRITICS, AREN’T WE ALL?

Kritik film, sebagaimana ulasan seni lainnya, awalnya berkembang di media cetak. Zaman berganti dan media daring mulai hadir meramaikan kebutuhan publik akan berita. Kritik film lantas turut memanfaatkan kemudahan akses ini—berbagai kanal daring dengan konten ulasan film bermunculan, mulai dari blog pribadi, ulasan berupa catatan facebook, bahkan media khusus kajian film. Belakangan, ketika YouTube menjadi medium bercerita yang semakin diminati kalangan muda, ulasan-ulasan film pun hadir dalam bentuk video. Masing-masing bentuk memiliki publiknya sendiri. Masing-masing memberikan pengaruh.

Evolusi yang kilat dan jumlahnya berhamburan di segala lini, di satu sisi memberikan keragaman atas bentuk apresiasi film. Di sisi lain, fenomena ini membuat kita perlu untuk merumuskan ulang bagaimana bentuk dan peran kritik film hari ini, terlebih lagi di Indonesia—dan mungkin juga negara-negara berkembang lainnya—yang ekosistem filmnya masih timpang dan jauh dari kata ideal.

Panel:

  • Chris Fujiwara – Programmer Athénée Français Cultural Center (Tokyo), Jeonju International Film Festival, Sydney Film Festival, Mar del Plata Film Festival
  • Adrian Jonathan Pasaribu – Pendiri Cinema Poetica, Terlibat di berbagai film program di Festival Film Dokumenter, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, ARKIPEL International Documentary & Experimental Film Festival, Singapore International Film Festival
Tanggal Pukul Lokasi
Senin, 10 Desember 2018 02.45 - 04.30 pm Amphitheatre, Taman Budaya Yogyakarta

Programming on Table

Siasat Program dan Penonton

Mengapa perlu ada programmer film? Apa sulitnya menonton dan memilih film? Bagaimana menentukan tontonan bagi beragamnya penonton? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas dalam sesi diskusi panel bersama Chris Fujiwara (Jepang), Fan Wu (Taiwan), dan Alexander Matius (Indonesia). Mereka adalah para film programmer yang pekerjaannya tidak lebih mudah dari para pembuat film. Pilihan-pilihan mereka menentukan bentuk estetika yang khas dari setiap wilayah. Tidak hanya itu, film programmer juga memiliki peluang untuk menemukan potensi komersial pada film-film pilihan. Singkatnya, perfilman tanpa film programmer seperti lingkungan dengan ekosistem yang timpang.

Panel:

  • Chris Fujiwara – Programmer Athénée Français Cultural Center (Tokyo), Jeonju International Film Festival, Sydney Film Festival, Mar del Plata Film Festival
  • Fan Wu – Programmer Taiwan International Documentary Film Festival
  • Alexander Matius – Programmer Kinosaurus
Tanggal Pukul Lokasi
Jumat, 7 Desember 2018 02.45 - 04.30 pm Amphitheatre, Taman Budaya Yogyakarta

Programming on Table

Festival Film Papua

Sesi ini akan berbagi pengetahuan terkait bagaimana komunitas berjejaring dan menyuarakan isu-isu yang penting lewat program festival film. Papua Voices adalah komunitas film yang terbentuk pada tahun 2011. Komunitas ini berawal dari program pelatihan produksi dokumenter yang dibuat oleh Engage Media bekerjasama dengan SKPKC Fransiskan Papua, SKP Keuskupan Agung Merauke, dan JPIC MSC di Merauke. Para peserta pelatihan lalu menyatukan diri di bawah Papuan Voices. Papuan Voices menyelenggarakan dua kegiatan utama. Pertama, penguatan kapasitas generasi muda di dalam memproduksi film.  Kedua, melakukan kampanye dan advokasi isu-isu penting di Papua. Festival Film Papua (FFP) menjadi agenda tahunan Papuan Voices sejak Mei 2017. Gagasan dasar pelaksanaan Festival Film Papua adalah memperkenalkan film-film karya anak-anak muda Papua dan mengampanyekan isu-isu tentang alam dan manusia Papua.

Pembicara:

  • Ottow Wanma, koordinator Papuan Voices Wilayah Tambrauw Papua Barat
  • Imanuel Hindom, anggota Papuan Voices Wilayah Keerom

Film

Tanggal Pukul Lokasi
Rabu, 12 Desember 2018 03.20 - 05.20 pm Auditorium IFI-LIP

Mitra

Festival Film Papua
Papuan Voices

Programming on Table

SEA Movie “Catastrophe Captured”

Sesi ini akan mengeksplorasi siasat penyelenggara program pemutaran film dalam menyajikan pilihan tontonan ke audiensnya. SEA Movie adalah program pemutaran film-film Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT), Universitas Gadjah Mada. SEA Movie percaya bahwa film memiliki peran penting dalam reproduksi wacana terkait Asia Tenggara. Hal ini berdasar pada kesadaran bahwa film adalah elemen penting yang dapat digunakan untuk memahami kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Tahun ini, tema “Catastrophe Captured” dipilih sebagai buah pemikiran dan wacana baru tentang keberadaan komunitas Asia Tenggara, khususnya anak muda, teknologi, dan bencana. Beberapa film pendek dari pembuat film di Asia Tenggara dipilih untuk tidak hanya dilihat sebagai media yang mampu memberikan gambaran realitas, tetapi juga mampu menyajikan kritik dan wacana untuk membentuk komunitas ASEAN yang telah disepakati bersama.

Pembicara:

  • Dr. Phil. Vissia Ita Yulianto, peneliti di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UGM
  • Hardiwan Prayogo, Indonesian Visual Art Archive (IVAA) Yogyakarta

Film

Tanggal Pukul Lokasi
Rabu, 12 Desember 2018 01.00 - 03.00 pm Auditorium IFI-LIP

Mitra

PSSAT
Close Menu