Seusai Malam Anugerah dan Penutupan FFD 2018 tanggal 12 Desember kemarin, tim FFD berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan Muhammad Haikal, editor film The Nameless Boy (2018) yang mendapatkan penghargaan Special Mention Jury Award FFD 2018 untuk kategori Dokumenter Pendek.

Tahun ini, juri kompetisi Dokumenter Pendek FFD memilih untuk tidak memberikan penghargaan utama dari kategori terkait kepada film mana pun. Simak obrolan kami dengan Haikal tentang pernyataan juri dan pengalaman-pengalaman unik yang pernah dilalui film The Nameless Boy.

 

Selamat atas terpilihnya film The Nameless Boy sebagai peraih Special Mention Jury Award di Festival Film Dokumenter 2018 untuk kategori Dokumenter Pendek.

Terima kasih.

 

Ketika pengumuman, disebutkan bahwa belum ada film finalis kategori Dokumenter Pendek FFD tahun ini yang terlihat menonjol. Film The Nameless Boy sendiri terpilih sebagai peraih Special Mention Jury Award karena pengolahan bentuk dan isunya yang dirasa menarik, namun tetap bisa diolah lebih jauh lagi. Bagaimana pendapatmu soal itu?

Kondisi ini memang perlu disayangkan, termasuk untuk film The Nameless Boy sendiri. Kalau untuk diolah lagi, (film kami) sebenarnya bisa. Tapi, memang pilihan kami sendiri untuk menghadirkannya seperti ini, khususnya sutradara (Diego Barata). Menurut dia, ini sudah cukup.

 

Film ini membawa isu agama dan keriuhannya di tahun 2017, yang turut berkaitan dengan pergolakan politik di Jakarta pada saat itu. Lantas, mengapa memilih untuk melibatkan anak-anak sebagai subyek utama di film ini?

Beberapa demo yang ditemukan Diego (sutradara), tidak hanya terkait agama, sebenarnya memang diikuti juga oleh anak-anak. Mereka itu diajak oleh kakak-kakaknya atau orangtuanya untuk ikut ke sebuah demo supaya dapat makanan atau uang. Hanya itu saja. Dan itu jadi keresahan tersendiri untuk Diego. Karena tanpa sadar, itu akan menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Anak-anak yang terlibat ini nantinya akan mengajak anak-anak lainnya untuk ikut ke dalam hal yang tidak mereka tahu dan tidak seharusnya didengarkan juga, seperti ujaran kebencian di film ini misalnya.  Lalu, ketika besar, atau bahkan saat itu juga, anak-anak ini akan mengajak anak-anak lainnya untuk terus ikut demo dan mendengarkan ujaran kebencian hanya untuk makanan dan uang. Tentu ini tidak setimpal.

Dan biasanya, apa yang terjadi di lapangan dengan yang ada di berita itu berbeda; seringnya begitu. Kondisi ini yang nantinya membuat anak-anak bingung. (Kebingungan) itu yang nantinya akan jadi sesuatu yang berkepanjangan, dan berdampak secara langsung maupun tidak langsung ke kehidupan dia, cepat atau lambat.

 

Keterlibatan anak-anak dalam film ini memang menarik. Lalu, adakah rencana dari kalian untuk memutarkan film ini secara khusus pada anak-anak?

Kalau anak-anak doang belum ya. Ada beberapa kata-kata yang kami rasa tidak layak untuk didengar oleh anak-anak. Tapi, kalau (anak-anak) ditemani orangtua malah mau banget.

 

Kalau pada pihak-pihak yang ikut demo bagaimana?

Enggak dong. Kita takut juga. Pertama, isu ini masih panas-panasnya. Lalu, kami juga sempat “dicari” oleh oknum. Sempat ada orang yang telepon Diego dan dapat ancaman. Itu bahkan terjadi ketika film baru jadi. Kami masih submit ke beberapa festival. Dan kondisinya belum pernah diputar secara umum. Baru submit saja sudah ada (pengalaman) begitu.

Tapi, mungkin kalau kondisinya sudah tidak sepanas sekarang kami berani.

 

Terakhir, bagaimana pandanganmu tentang FFD tahun ini, dan posisinya sebagai ekshibisi yang turut memutar film sekaligus menghadirkan bahasan-bahasan tertentu di masyarakat?

Bagus ya. Karena festival ini mau dan berani untuk hadir mengangkat isu-isu sensitif juga. Sebagai contoh, tidak semua festival mau untuk memutar film The Nameless Boy (yang membawa isu tertentu). Seperti di Singapura, misalnya, film ini sempat dianggap tidak lulus sensor. Kami sendiri nggak begitu ngerti alasannya. Mungkin karena isu yang dibawa terlalu keras atau bagaimana.

Tim Festival Film Dokumenter (FFD) 2018 berkesempatan untuk mewawancarai Makiko Wakai, koordinator dari “New Asian Currents”, program kompetisi Yamagata Internasional Documentary Film Festival (YIDFF) yang menjaring filmmaker-filmmaker kenamaan di penjuru Asia.

Tahun ini, Makiko menjadi salah satu dari tiga juri kompetisi Dokumenter Panjang FFD 2018. Di sesi wawancara, kami membicarakan peran festival film sebagai ruang diskusi alternatif hingga ekosistem film dokumenter di Jepang. Simak wawancara kami dengan Makiko dalam artikel ini:

 

Sinema Jepang memiliki sejarah yang panjang. Di tahun 40-an dan 50-an, Jepang sudah memiliki studio besar seperti Toho dan Daiei. Di 1951, Akira Kurosawa mengharumkan nama Jepang ke mata internasional lewat penghargaan yang ia menangkan di Venice Film Festival. Dalam amatanmu, bagaimana peran dokumenter pada masyarakat Jepang sendiri?

Saya rasa itu berkaitan dengan bagaimana dokumenter hadir pertama kali di Jepang. Ini dimulai ketika Bandara Narita dibangun, pemerintah harus mengambil lahan dari para petani setempat. Khususnya di tahun 60-an sampai 70-an, banyak pergerakan pelajar di dunia; termasuk di Jepang sendiri. Ada banyak sekali kaum kiri radikal yang bergabung dengan petani. Termasuk juga Ogawa Shinsuke –salah satu filmmaker Jepang masa itu- bersama kru-krunya. Mereka turut merasakan perjuangannya, dan membuat banyak dokumenter tentang isu perjuangan. Momen itu seperti pijakan bagi Jepang, dalam konteks dokumenter maupun pergerakan.

Itu semua berkat Ogawa dan kru; kita sebut mereka Ogawa Productions. Mereka membuat dokumenter tentang perjuangan di Narita dan membuat pemutaran independen di berbagai daerah di Jepang. Mereka membentuk nama mereka lewat film dokumenter dan pemutaran. Memang, ketika orang-orang berbicara tentang dokumenter Jepang, ada film-film pra-perang, dan mungkin setelah itu semakin banyak pembuat dokumenter. Tetapi, hal pertama yang terlintas di pikiran terkait dokumenter Jepang adalah Ogawa Productions. Mereka tergolong sebagai filmmaker dokumenter kenamaan dan turut membuat dokumenter sebagai tradisi yang terpandang bagi masyarakat.

 

YIDFF dibentuk tahun 1989 dan menjadi salah satu festival film tentang dokumenter pertama di Asia, bahkan dunia. Bisakah anda menceritakan perjalanan YIDFF? Bagaimana ini dimulai? Apakah ada perubahan yang terjadi? Dan, apa yang menjadi fokus utama dari YIDFF belakangan ini?

Ini juga ada kaitannya dengan Ogawa Shinsuke. Karena setelah perjuangan di Narita selesai, Ogawa dan krunya beralih ke Yamagata, dan membuat banyak film di sana. Salah satunya bahkan memenangkan Berlin Internasional Film Festival tahun 1984, dan membuatnya memiliki reputasi di kancah internasional. Dialah salah satu alasan utama YIDFF berdiri, dan tentu Yamagata juga memiliki banyak filmmaker, penikmat film, dan gerakan yang fokus untuk membangun citizen cinema, lewat pemutaran-pemutaran independen. Orang-orang itu, termasuk juga Ogawa, dan pemerintah kota turut membantu penyelenggaraan festival

Tidak banyak festival film untuk dokumenter di Asia ketika 1989. Kondisi politik kala itu masih terlalu menyulitkan bagi filmmaker untuk membuat dokumenter. Karena filmmaker dokumenter independen sering kali dihadapkan dengan opresi dari pemerintahnya, sebab mereka dianggap terlalu lantang dalam menolak rezim politik daerahnya. Jadi, ketika pemerintah tidak ingin opini tertentu diekspresikan, mereka akan melakukan represi. Atmosfir (dokumenter) tidak hidup di sana. Bahkan ketika ada yang ingin membuat dokumenter, mereka tidak bisa bebas melakukannya.

Jadi ketika YIDFF dulu menerima submisi, hanya sedikit sekali dokumenter Asia yang masuk. Dan dulu, orang-orang membuat film menggunakan seluloid; itu saja sudah menjadi halangan besar. Tentu itu menjadi masalah di awal. Hingga, Ogawa dan festival film memilih untuk membuka forum; sebuah simposium di 1989 yang mendiskusikan apa yang terjadi di Asia. Kami benar-benar ingin membuat YIDFF sebagai ruang di mana filmmaker bisa berkumpul, menampilkan filmnya. Dan itu saja masih sulit sekali. Jadi, kami mengundang filmmaker; curhat tentang kondisi politik, rintangan yang ada, dan segi-segi teknis seperti keuangan. Itulah masalah yang kita hadapi.

Dan, ada juga pertanyaan tentang bagaimana kami bisa membuat YIDFF sebagai ruang untuk mendiskusikan hal-hal semacam ini, seperti bagaimana kami mengatur filmmaker yang membuat film, tapi kita tidak tahu mereka. Atau mungkin tidak ada sumber daya untuk mengirim film pada kami, dan bisa saja mereka memiliki keterbatasan akses. Karena, seperti anda tahu, semua tidak mudah pada masa itu. Jadi, setelah simposium, tepatnya di penyelenggaraan kedua, kami menggelar Asian Competition Program (Program Kompetisi Asia). Lalu, Ogawa Shinsuke meninggal pada 1992. Di penyelenggaraan ketiga, kami mendedikasikan penghargaan untuk Kompetisi Asia menjadi “The Ogawa Shinsuke Prize”. Jadi, semangat maupun gagasan pembentukan YIDFF sebagai ruang untuk filmmaker Asia bisa diingat, karena tidak ada tempat lainnya kala itu. Semangat itu kami jaga baik-baik, dan tidak berubah. Tapi mungkin situasinya agak berbeda, karena sekarang sudah banyak festival (yang seperti itu).

 

Bagaimana anda melihat ruang seperti Festival Film Dokumenter (FFD) sebagai sebuah lingkungan yang menawarkan perspektif alternatif?

Tentu saja penting untuk memiliki ruang di mana anda bisa menampilkan film-film yang kritis untuk audiens awam; untuk menawarkan sejarah alternatif. Saya rasa film indepenten, khususnya dokumenter, adalah satu-satunya jalan untuk mengekspresikan opini semacam itu. Dan, senang rasanya ketika itu terjadi, di Jogja ini. Maksudnya, kalian tidak mendapatkan tubrukan ketika memutar film-film tersebut. Pemerintah tidak secara langsung turun tangan dan menghentikan pemutaran. Dan lagi, ketika muncul konflik saat film diputar, itu malah menjadi alasan tambahan untuk benar-benar menayangkannya. Dan penting untuk memiliki ruang yang aman untuk memutar film-film tersebut; yang tidak terintimidasi oleh gerakan-gerakan itu.

Aryo Danusiri, pembuat film dokumenter Indonesia yang kerap menggunakan pendekatan observasional, menemukan masalah dalam dokumenter-dokumenter Indonesia. Menurutnya, para pembuat film masih membangun dualisme antara teks dan non-teks, yang menempatkan fakta hanya dalam tuturan dan terpisah dengan gambar. Hal ini yang nanti menciptakan stereotip dan melanggengkannya.

Di tahun ini, Aryo Danusiri kembali bergabung dengan Festival Film Dokumenter (FFD) sebagai Juri Kompetisi Dokumenter Kategori Pendek. Simak obrolan tim FFD dengan Aryo pada dialog di bawah ini:

 

Sebagai pembuat film dokumenter, bagaimana kesan anda ketika mengamati film finalis kompetisi dokumenter kategori pendek FFD tahun ini?

Saya melihat pola yang berulang di semua film. Semuanya masih tetap membuat dualisme, antara yang verbal dan non-verbal. Kalau dalam filsafat, antara pikiran dengan tubuh. Antara pikiran dengan tindakan. Tetapi, bukan bagaimana antara pikiran dengan tindakan ini terjadi dalam satu situasi yang berkelanjutan.

Kemudian, apa yang disebut pikiran itu disamakan dengan karakter terdalam, disamakan dengan psikologi, karakter orang. Sehingga kita cenderung stereotyping pada orang, ketimbang memahami ‘bagaimana seseorang bergulat dengan kondisi-kondisi sosial, lingkungan-lingkungan sosial, lingkungan alam, yang membuat orang berubah dinamis dan berbeda’. Nah, itu yang menurut saya menjadi persoalan. Karena, di kerangka ini, memahami seseorang adalah memahami tindakan dan memahami praktiknya. Kita tidak melihat akarnya, kita hanya melihat lapisan teratas bagaimana orang tersebut bergerak. Nah itu yang saya lihat selama ini dalam film.

Misalnya dalam Niqab (2018), bagaimana membedakan antara momen adegan untuk interview, dengan adegan yang menangkap kata-kata, dan gambar hanya sebagai ilustrasi untuk kata-kata yang disampaikan dalam verbal. Lagi-lagi ada “peng-istimewa-an” terhadap kata-kata; terhadap bagaimana realitas itu sebenarnya adalah keterlibatan antara kata-kata terhadap kejadian. Itu menjadi persoalan. karena kenyataan itu bukan hanya manifestasi dari apa yang dipikirkan orang. Tetapi, bagaimana proses negosiasi; dialog antara pikiran dengan tindakan. Antara orang dengan situasi di sekitarnya.

Itu, menurut saya menjadi problem, karena kemudian dokumenter tetap dan masih dalam situasi yang mengistimewakan verbalisme. Dan, bukan lagi ekspresi yang pictorial.

 

Dari analisis tersebut, apakah anda sendiri punya gambaran atau kategorisasi tentang dokumenter di Indonesia dari masa ke masa?

Sebenarnya ada beberapa lembaga yang membentuk suatu style atau gaya. Misalnya, film-filmnya Mas Dudit tentang Sumba, yang waktu itu menang di FFD; tahun berapa saya lupa. Ada karakter pembangunannya di situ; yang menggerus tradisi. Ya, style-nya waktu itu bukan observasi, masih dalam bentuk dokudrama. Kenapa dokudrama yang muncul? Ya, karena negara yang membiayai.

Kemudian festival film yang masih berorientasi bahwa dokumenter itu sebagai format atau ekspresi yang tambahan saja dari fiksi. Lalu, di pendidikan sendiri belum diperkenalkan berbagai gaya dokumenter. Tapi, di saat bersamaan Garin Nugroho, bikin dokumenter dengan gaya yang lain, karena bisa dilihat dia punya peer group yang tersosialisasi di kalangan yang lain, seperti di pusat kebudayaan Prancis dan Jerman.

Dan, bagaimana setelah reformasi kita mulai mengeksplorasi gaya-gaya baru. Mulai mengangkat sejarah menjadi sesuatu yang tidak lagi terkuburkan, terbisukan. Setelah reformasi, banyak dari kita yang masih mengangkat topik-topik seputar ini, dengan gaya-gaya dokumenter investigatif. Lalu kemudian kita lelah dengan gaya ini, lalu muncullah gaya observational cinema. Nah, persoalannya sekarang, (gaya ini) sepertinya terhenti. Seharusnya muncul gaya baru yang bisa terus berkembang. Dan, sekali lagi, itu terpengaruh oleh aktor-aktor atau institusi yang hadir dalam ekologi dokumenter Indonesia; Pendidikan, festival, dan segala hal yang mengonstruksi hal ini.

 

Apakah persoalan itu berkaitan dengan masalah perfilman di Indonesia yang tidak bersumber pada satu muara?    

Iya, karena basicnya adalah, embedded in film style is theory of knowledge. Jadi bagaimana style itu sebenarnya mengonstruksi cara orang melihat. Style itu bukan sekadar gaya visual-seperti angle dan segala macem, tapi itu sebetulnya cara melihat, cara berpikir. Tapi kadang-kadang orang terlalu gugup, gelisah dengan hubungan antara inovasi dan popularitas. Artinya, antara satu gaya itu diciptakan baru, kemudian diikuti dan jadi tren, trus kemudian dianggap sebagai satu yang bermasalah. Menurut saya, dua hal itu memang harus selalu ada. Tapi persoalannya adalah, siapa yang sebenarnya bertugas untuk menghadirkan kebaharuan-kebaharuan itu? Itu yang paling penting. Supaya ada cara pandang baru, cara bagaimana melihat realitas dan menyikapinya.

 

Menurut anda, unsur apa yang perlu hadir dalam dokumenter dan biasanya luput digarap oleh pembuat film?

Sebenarnya bukan luput ya, tapi lagi-lagi cara berpikirnya. Jadi cara berpikir seperti, misalnya, ketika kita bicara soal drama. Film itu kan ada drama, ada estetika, dan ada informasi. Itu kan tiga-tiganya akan selalu ada. Bahkan untuk dokumenter yang penuh dengan talking head, penuh dengan interview pun menghargai atau peduli pada drama, misalnya. Tapi persoalannya, bentuk drama macam apa yang mau kita sampaikan?, Drama macam apa yang mau kita ekspresikan?.

Ya kalo cara berpikirnya masih merasa selesai dengan mendapatkan kata-kata ketimbang melihat bagaimana kata-kata hidup dalam keseharian dan bagaimana kata-kata itu muncul, hilang, pergi, bahkan bersembunyi di dalam keseharian. Akhirnya, ketika membuat ‘drama’, ya hanya ditambahin musik. Padahal sebetulnya drama itu hadir ketika tiba-tiba kata-kata itu muncul, dan di beberapa adegan berikutnya dia hilang. Lalu pada adegan berikutnya dia dikhianati. Nah, itu kan drama. Ada kehilangan, ada pengkhianatan.

Nah, bagaimana pengkhianatan itu terjadi dalam keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari. Kan itu yang sebetulnya cara yang berbeda dari melihat drama dalam bentuk dokumenter yang ekspositori, atau misalnya dokumenter yang observasional. Tapi juga ada drama yang berbeda lagi dengan gaya misalnya poetic documentary atau performative documentary.

 

Menuru anda, topik apa yang biasanya belum banyak diangkat oleh pembuat film dokumenter di Indonesia?

Biasanyakan topik-topiknya tentang social justice. Tapi, persoalannya kan bukan di social justice-nya. tapi, lagi-lagi kembali ke cara berpikirnya itu. Bukan masalah topiknya, tapi di bagaimana  ‘Personal is political’, bagaimana cara pandang itu juga penting. Tapi sering kali yang namanya social justice itu ya diekspresikan dengan ‘kepalan tangan’, dengan teriakan demonstran. Tapi tidak melihat banyak hal-hal yang sifatnya keseharian dan remeh temeh itu sebenarnya juga sangat-sangat politis.

 

Menurut anda, apa yang seharusnya dibangun festival melalui program kompetisinya?

Festival itu kan sebenarnya seperti upacara ya. Lalu upacara tugasnya adalah menginisiasi satu momen untuk membicarakan nilai-nilai. Nah, persoalannya kemudian sering kali nilai itu hanya diberikan dalam bentuk yang sangat terbatas. Seperti nilai ‘siapa yang duluan selesai makan kerupuk?’.

Malah sebetulnya kompetisi film bukan kompetisi makan kerupuk kan, tapi sebetulnya ada nilai-nilai baru, ada nilai inovasi, ada kecenderungan-kecenderungan baru yang diperkenalkan ke publik. Karena nilai-nilai baru itu, gaya baru menjadi cara berpikir baru untuk melihat masalah. Jadi sebetulnya, itulah yang penting begitu. Bagaimana melihat festival sebagai upacara, tapi bukan upacara yang terus menerus mengulang nilai-nilai lama. Atau bagaimana dia selalu memperkenalkan nilai-nilai yang baru.

 

Terakhir mas, pengalaman apa yang bisa dibagi setelah hadir dan terlibat dalam Festival Film Dokumenter tahun 2018 ini?

FFD tahun ini menarik ya, karena programnya tidak hanya bicara mengenai dokumenter itu sendiri, artinya melihat film sebagai film aja. Tapi bagaimana film itu dihadirkan sebagai cara melihat, cara berpikir. Jadi bagaimana (fungsi) dokumenter sebagai visual thinking sangat termanifestasi di berbagai program di FFD. Menurut saya itu hal yang dapat membuat FFD selalu update dan relevan bagi Indonesia.

Alexander Matius, programer ruang pemutaran alternatif Kinosaurus Jakarta dan salah satu motor Cinemapoetica,  melihat bahwa kompetisi adalah entitas yang penting dan perlu hadir di sebuah Festival Film. Baginya, program kompetisi tidak hanya hadir sebagai ruang bertemu antara film dengan penontonnya, melainkan turut membentuk standar baru dalam ekosistem film, dalam hal ini dokumenter.

Simak, obrolan kami bersama Alexander Matius, salah satu juri Kompetisi Dokumenter Kategori Pelajar Festival Film Dokumenter (FFD) 2018.

 

Bagaimana penilaian anda pada film-film finalis kompetisi pelajar FFD tahun ini?

Yang pasti sih, (topik atau isu yang diangkat) bisa dikatakan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari ya. Mereka bisa mengambil suatu fenomena atau isu yang paling bersinggungan dengan mereka secara langsung. Itu yang kemudian bisa dilihat dari lima film finalis di kompetisi pelajar. Kemudian, lima film tadi juga punya pendekatan masing-masing. Mereka juga punya metode yang beragam. Tidak ada tema tertentu pastinya yang hampir ada di semua film yang masuk kompetisi tahun ini. Jadi saya pikir menarik ya untuk bisa melihat itu (topik, pendekatan, metode bercerita yang dipercayai) di film kompetisi pelajar tahun ini.

 

Apakah keberagaman tadi bisa membedakan film pelajar tahun ini dengan film generasi sebelumnya?

Sejauh ini, belum ada yang baru. Tapi, di beberapa film sudah terlihat bahwa mereka (pembuat film) sudah punya pernyataan yang cukup kuat pada isunya masing-masing. Itu yang paling bisa tergambar. Mungkin juga beberapa pembuat film yang dimentori oleh seniornya, pendekatan dan gayanya belum terlalu signifikan berbeda (dengan seniornya). Tapi mereka (sudah) lebih berani atau lebih lugas dalam mengeluarkan pendapatnya masing-masing.

 

Apakah keberagaman ini, juga menunjukkan cara suatu masyarakat wilayah tertentu memandang sebuah isu ?

Kalau secara bentuk atau gaya mungkin terlihatnya lebih sama ya. Maksudnya, tidak ada secara yang khas gitu. Kebetulan, karena filmnya berasal dari daerah yang berbeda-beda, lalu metode berceritanya menjadi identik. Mereka bisa mengambil hal-hal dengan lebih detail dan spesifik [yang] berkaitan dengan isu dan fenomenanya, khusus pada daerah itu sendiri. Ini paling bisa dilihat dari shotshot yang mereka gunakan.

 

Menurut anda, apa pentingnya program kompetisi kategori pelajar di lingkup Festival? Apakah hanya menjadi ruang yang mempertemukan pembuat film dengan publiknya?

Sebenarnya, ketika kita berbicara mengenai kompetisi, (arahnya) lebih ke ‘bagaimana standar film kita hari ini’. Itu yang paling bisa terlihat. (Kompetisi) hadir sebagai tolok ukur ‘sudah sampai di titik mana sih, film kita hari ini’.

Untuk ruang pertemuan ya, sebenarnya bisa dilakukan dengan pemutaran reguler, atau dengan festival (lewat program-program yang lain). Tapi pola kompetisi kan, selalu mencari yang lebih unggul. Dan, di situ yang kemudian kita bisa lihat sampai di tahun ini, sampai di titik mana sih pelajar kita membuat film. Standarnya sudah sampai sejauh mana?, apakah berkembang dari tahun yang lalu?, apakah menurun?, ataukah sama saja? Jadi, kompetisi itu hadir lebih untuk membangun patokan dan standar itu.

Buat saya, festival itu arena yang semua orang berkumpul, dari semua aspek. Penonton, pembuat film, dan semua (bagian dari) ekosistem perfilman datang untuk berkumpul, kemudian untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Nah, kompetisi kemudian menjadi bagian dari festival karena tolok ukur tadi penting untuk disaksikan bersama-sama oleh banyak pihak. Kaitannya lebih ke situ. Dan, tentu saja, program ini berbeda dengan lainnya. Karena dari sebuah kompetisi, yang pastinya ada hadiahnya, bisa mendorong kesinambungan karya dari pembuat film.  Jadi, program kompetisi sangat penting si hadir di sebuah festival.

 

Sebagai programmer, bagaimana usaha anda untuk merubah pandangan publik yang mengklaim dokumenter sebagai tayangan yang berat?

Lebih ke bagaimana mengemas tema yang sangat spesifik yang kemudian sangat relefan dengan keseharian publiknya. Jadi bisa dengan keberagaman filmnya, bisa menunjukkan satu tema spesifik yang udah kita tentukan, kemudian meletakkan aspek keterkejutan; mungkin di film-film yang dipilih. Bisa juga dengan side event, aktivitas lain mungkin, ngga harus diskusi.

Mungkin, menggabungkannya [film] dengan musik atau outbound—kalo punya biaya dan cukup masuk. Dan, itu harus dilakukan secara konsisten. Karena, saya cukup percaya bahwa kekonsistenan akan membangun animo publik untuk ‘menyerap’ sebuah karya. Itu penting dijaga. Sehingga, nantinya pemutaran-pemutaran seperti ini, itu ‘ada’, menarik dan sangat penting untuk dipelajari.

 

Bagaimana pandanganmu tentang Festival Film Dokumenter (FFD) 2018?

Saya sebenarnya baru pertama kali ke FFD, tapi saya sudah mendengar FFD sejak lama. Yang perlu diapresiasi adalah konsistensi FFD. Untuk bisa terjus berjalan, untuk bisa terus menjadi salah satu motor, penggerak pemutaran film dokumenter dalam skala festival. Karena tidak banyak festival yang membahas tipe film yang spesifik seperti dokumenter.

Tahun ini seru sih, bisa bertemu banyak orang tentunya. Bisa dikasih kesempatan untuk melihat ‘bagaimana pelajar-pelajar kita hari ini, menyuarakan pendapat dan emosi mereka yang disalurkan lewat film. Ya semoga, semangatnya terus ada, sampai ke FFD selanjutnya.

Pada Jumat, 8 Desember 2018, tim Media dan Publikasi FFD mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Sebastian Winkels, seorang sutradara film asal Jerman. FFD di tahun ini, bekerja sama dengan Goethe-Institut, menggelar pemutaran film terbaru Sebastian Winkels yang berjudul Talking Money untuk pertama kalinya di Indonesia. Berikut perbincangan tim FFD dengan Sebastian Winkels:

 

Mengapa anda memilih untuk bekerja di dunia dokumenter?

Secara umum, mengapa saya memilih bekerja di dunia dokumenter, karena saya tertarik untuk mengabadikan kehidupan manusia dan setiap esensi di dalamnya. Usaha ini tentu suli,t dan kadang tidak berhasil. Tetapi jika berhasil, maka hal ini akan terlihat sangat mengagumkan. Saya suka aspek otensitas yang terkadang saya temukan di dalamnya. Itulah sebabnya saya memilih bekerja di dunia dokumenter.

 

Bagaimana kondisi perfilman dokumenter di negara anda? Bagaimana peran serta pemerintah dan relasi publik atas karya-karya dokumenter di sana?

Kami memiliki beberapa sumber pendanaan di Jerman. Saya rasa itu membuat situasi di Jerman lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Di sini, stasiun televisi dan pemerintah tidak banyak membantu untuk mendanai komunitas film dokumenter independen.

Di Jerman sebenarnya juga tidak mudah; banyak persaingan di sana. Ada banyak orang mengajukan permintaan untuk memperoleh pendanaan dari pemerintah. Saya kira, ada banyak kesulitan untuk menghasilkan uang dan anggaran yang cukup membuat film. Film Talking Money sendiri dapat terselesaikan melalui kerja sama dengan stasiun televisi di Jerman dan Switzerland. Jadi, masih ada kemungkinan.

Dalam 21 tahun terakhir, ada banyak sekolah film yang muncul di Jerman, dan menghasilkan banyak pembuat film baru yang mencari peluang untuk bekerja. Jadi, untuk mendapatkan pendanaan kami harus melewati persaingan yang ketat.

Saya rasa publik menyukai dokumenter. Namun film-film dokumenter tidak selalu mudah untuk ditemukan, karena stasiun TV menayangkannya larut malam. Tetapi mereka juga dapat menyaksikan film dokumenter di bioskop. Abad ini, orang-orang dapat menyaksikan apa pun melalui telepon genggam mereka –termasuk film dokumenter. Jadi kami (sebagai penggiat dokumenter) harus tetap berjuang mempertahankan audiens kami.

 

Bisakah anda menceritakan secara singkat proses kreatif pembuatan film terbaru anda, Talking Money?

Saya memulainya dengan sebuah pertanyaan: apakah saya menjadi orang lain ketika saya berbicara tentang uang? Karena, ketika saya pergi ke bank untuk pertama kalinya dan duduk di meja konsultasi, saya tiba-tiba merasa menjadi orang lain. Saya pikir saya harus memberitahu orang lain, barangkali mereka juga merasakan hal yang sama.

Saya mencoba untuk melihat lebih dekat dan menemukan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Saya menemukan hal yang menarik. Bagi saya, meja konsultasi di bank adalah tempat di mana kita saling berpura-pura. Ketika kita dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan dan kita menjawabnya, pada saat itulah kita tidak menjadi diri sendiri. Kita bahkan berpura-pura dan berbohong. Kita ibarat sebuah boneka yang dikendalikan dalam sebuah pertunjukan. Dan saya tertarik untuk mengabadikan situasi yang aneh ini ke dalam sebuah film.

 

Ada delapan bank di delapan negara yang menjadi objek dalam Talking Money. Bagaimana anda menentukannya? Apakah anda memilihnya berdasarkan pertimbangan tertentu, terutama berdasarkan kondisi ekonomi negara tersebut?

Saya lebih tertarik untuk mengabadikan kehidupan masyarakat di negara yang berbeda-beda. Seperti di negara-negara kaya ataupun miskin, negara-negara yang lebih berorientasi kapitalis atau sosialis, juga negara-negara berbasis agama yang berbeda, misalnya negara republik Islam seperti Pakistan atau negara berbasis agama Katolik yang kuat seperti Bolivia. Bahkan negara bekas jajahan Uni Soviet, seperti Georgia. Saya ingin tahu, apakah orang-orang yang dibesarkan di negara-negara yang berbeda dan tentu saja memiliki bahasa yang berbeda ini memilik reaksi yang sama ketika mereka di tempatkan di satu situasi yang sama, yaitu ketika membicarakan tentang uang, atau saya justru menemukan banyak perbedaan di antara mereka.

Saya menentukan pilihan tidak berdasarkan pertimbangan latar belakang ekonomi negara tertentu. Representasi Eropa dalam film ini tidak hanya mewakili sisi yang lebih kaya seperti Jerman atau Luxemburg tetapi juga menyentuh negara yang tidak kaya seperti Italia dan Napoli. Saya lebih tertarik pada latar belakang sosial, di mana orang-orang dengan tingkat ekonomi rendah menceritakan kisah pribadi tentang keluarga mereka. Saya membayangkan kehidupan mereka di luar bank.

 

Pesan apa yang hendak anda sampaikan melalui Talking Money?

Saya tidak ingin film saya memberi pesan apa pun. Saya hanya ingin penonton merefleksikan hubungan mereka dengan uang. Saya ingin mengeksplorasi bagaimana hubungan orang-orang di seluruh dunia dengan uang.  Saya mulai dengan sebuah kasus yang menarik yang menggambarkan suatu situasi psikologis di meja konsultasi bank. Saya tidak ingin membuat film yang mengatakan: ini hal yang baik, atau ini hal yang buruk. Saya ingin menunjukkan hal yang berimbang: sisi terbaik dan sisi terburuk di balik meja konsultasi bank. Saya tidak bermaksud membuat film yang mengkonfirmasi bahwa sistem perbankan atau sistem keuangan itu buruk. Atau mengajak anda melawan sistem perbankan.

Talking Money merupakan film tentang; apakah kita benar-benar saling percaya satu sama lain? Dengan lebih banyak menggunakan pendekatan antropologis, saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sekarang, setelah krisis finansial melanda sepuluh tahu yang lalu.

 

Ini adalah pertama kalinya Talking Money diputar di Indonesia. Mengapa anda memilih Festival Film Dokumenter sebagai tempat pemutaran pertama?

Saya sangat senang mendapatkan penerjemah dalam bahasa Indonesia. Karena ini penting bagi penonton (di Indonesia) agar dapat mengikuti setiap percakapan satu sama lain dan mengetahui situasi dalam film ini. Saya sangat suka festival ini, saya tahu tentang FFD sejak beberapa tahun lalu. Meskipun saya tidak bisa hadir setiap tahun, namun beberapa tahun ini saya mengenal orang-orang yang menjalankan FFD dan orang-orang yang mendanainya. Dan saya sangat senang bisa memutar film Talking Money pertama kalinya di sini, pada hari ini.

I’ve Got The Blues merupakan film dokumenter tentang Yank Wong, seorang pelukis, musisi, fotografer, art director, set designer. Dia adalah seorang lelaki renaissance yang mengekspresikan kreatifitasnya dalam berbagai bentuk. Lebih dari sebuah potret dari seorang seniman, artis, dan kreatifitas dalam hidupnya, filmnya juga memiliki kualitas tinggi, semacam permainan kucing dan tikus antara pembuat film dan subjek yang diangkat: satu sisi ingin menangkap (cerita), sisi lainnya menghindari. Tim Publisis Festival Film Dokumentar bertemu dengan Angie Chen, sutradara dari film ini. Angie berbicara mengenai pentingnya relasi antara pembuat film dan subjek yang diangkat, untuk tetap berdiri di tengah kultur perfilman Hongkong yang merupakan industri film yang berkiblat ke Hollywood.

Bisakah anda menjelaskan bagaimana Anda masuk ke ranah film dokumenter?

A: Pertama-tama, ini akan menjadi cerita yang panjang. Saya sebenarnya pernah membuat film dokumenter pendek tentang ayah saya ketika masih kuliah, itu adalah film dokumenter pertama saya. Setelah itu saya tertarik pada film naratif, saya telah membuat tiga film naratif di Hongkong. Setelah itu saya membuat advertising film, Iklan TV, dan kemudian mulai kembali membuat film dokumenter (panjang). Ini seperti setelah membuat iklan tv, saya memilih untuk membuat film kembali. Jad seperti saat kamu membuat iklan TV, mereka seperti mengatakan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan, apa yang mereka mau. Dan di sana saya menyadari saya ingin membuat film saya sendiri dan saya saat itu berpikir bahwa film yang mudah dan cepat untuk dilakukan adalah dokumenter karena itu tidak memerlukan banyak kru dan uang.

Suatu hari, seorang teman saya yang berasal dari Perancis mengunjungi Hongkong dan dia adalah seorang sinematografer, jadi kita berbicara banyak dan saya mengatakan bahwa saya ingin membuat film dan dia menjawab bahwa dirinya siap membantu. Jadi saya melihat-lihat dan bertanya topik apa yang sekiranya bisa diangkat. Saat itu saya memiliki seekor anjing yang tua dan sekarat. Saya merasa sedih selayaknya seseorang dekat meninggal dunia. Jadi, saya berkata pada teman saya itu bahwa saya ingin mengusut relasi antara hewan dan manusia. Kemudian kami memulai membuat film mengenai topik tersebut namun, cerita yang muncul justru mengenai manusia. Film itu bercerita mengenai bagaimana kita merasakan sebuah perasaan, apa itu cinta dan hubungan.

Anda tergolong cukup produktif sebagai pembuat film, bagaimana anda melihat reaksi publik dan penonton terhadap film alternatif?

A: Sulit. Saya pikir ini masih tergolong sangat sulit bagi film independen dan dokumenter di Hongkong. Karena Hongkong pada dasarnya sangat bergantung pada komersial seperti yang selama ini kita tahu. Contohnya adalah film tentang Kung-fu dan film-film triad. Publik dibuat untuk menonton film-film tersebut. Film alternatif tidak memiliki platform, bioskop tidak tertarik untuk menanyangkan film-film alternatif karena mereka menganggap bahwa film-film seperti itu tidak menghasilkan uang. Jadi, yang harus kami lakukan adalah mengedukasi penonton dan jika mereka memiliki keinginan untuk menonton film-film alternatif, mereka akan memahami bahwa dokumenter tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Ada sebuah miskonsepsi di Hongkong mengenai dokumenter, mereka menganggap dokumenter adalah film yang panjang, membosankan, dan tidak menarik. Namun, tidak selamanya seperti itu, film adalah film. Dalam dokumenter kami menceritakan sebuah cerita sebaik film naratif lainnya. Kami harus mengetahui bagaimana bercerita dengan baik. Semua sama saja.

Dalam beberapa tahun terakhir, hal ini sedikit demi sedikit berubah. Saya pikir masyarakat akhirnya menerima film alternatif seperti film-film bernilai seni tinggi, film eksperimental, dan dokumenter. Jadi, saya memiliki harapan di sini.

Kami mencoba mengundang pembuat film dokumenter ke Hongkong untuk mendorong pemerintah untuk mendukung film alternatif. Karena kami memiliki lembaga pemerintahan yang akan memberikan modal besar untuk memproduksi film, namun mereka hanya akan memberikan modal tersebut bagi film-film yang mereka kira akan memberikan keuntungan kembali, itu sangatlah komersil. Tapi akhirnya sejak dua tahun lalu saya kira, karena kami selalu mendorong mereka (pemerintah) untuk memberikan modal kepada pembuatan film dokumenter, mereka akhirnya mulai memberikan pendanaan pada produksi film dokumenter.

Anda telah mengenal Yank Wong untuk waktu yang cukup lama, apakah pilihan untuk membuat film tentang dirinya tidak terasa tiba-tia? Dan apa sebenarnya keiistimewaan yang dimilikinya sehingga menarik untuk difilmkan?

A: Hal ini kembali lagi kepada film buatan saya. Pada dasarnya saya selalu mencoba untuk memiliih topik yang menarik untuk saya, topik itu harus membuat waktu saya berharga. Karena membuat dokumenter sangat berbeda dengan film naratif. Dalan film naratif, kita memiliki naskah, itu sangat mudah. Kami melakukan pengambilan gambar selama 20-30 hari, karena kami tau apa yang harus kami ambil (gambarnya), setelah itu selesai. Kemudian proses dilanjutkan dengan penyuntingan. Namun, berbeda dengan dokumenter, rata-rata tiap film memerlukan tiga tahun sejak memulai produksi hingga hasil akhir. Ini merupakan proses yang panjang karena saya mengikuti subjek dalam waktu yang lama. Saya perlu mengikuti subjek hingga suatu hal yang menarik muncul. Ini tidak seperti kamu menanyakan pertanyaan, kemudian dijawab oleh subjek film. Kamu perlu mendapatkan nilai intrinsik dari yang kamu lakukan dan kamu memerlukan waktu (untuk mendapatkan itu). Dan juga karena hal ini memerlukan gairah yang besar terhadap subjek yang dipilih.

Contohnya adalah saya sudah membuat tiga film feature (fiksi panjang), saya selalu mengetahui subjeknya untuk beberapa waktu dan akan ada waktu di mana saya memilih bahwa hal itu interesting dan melanjutkan membahas subjeknya. Hal ini terjadi juga dengan film kedua saya One Tree, Three Lives (2012). Film itu menceritakan seorang penulis yang tinggal di Amerika, memliki hidup yang fantastik karena karakternya seperti itu. Untuk saya, saya menganggap bahwa karakter yang mencerahkan sangat berharga untuk ditampilkan, artinya saat kamu menayangkan film ini dan saya menganggap bahwa karaternya sangat inspiratif, maka saya berpikir bahwa penonton akan berpikir sama. Saya berfokus pada film-film yang bisa memberikan inspirasi, saya pikir, karena hidup itu sulit kan? Dan akan sangat bagus ketika kita bisa memberikan pesan yang bisa menginspirasi orang-orang. Jadi film ini dengan Yank, saya sudah mengenalnya untuk 20 tahun. Kami hanya sebatas teman dan dia adalah seorang lelaki yang sangat menarik. Setelah saya menyelesaikan film kedua saya, saya melihat-lihat untuk melakukan sesuatu dan tiba-tiba dia ada di sana. Dia adalah seorang musisi, pelukis, penulis, set designer, dan fotografer. Saya pikir banyak orang akan memanggil dirinya sebagai lelaki renaissance. Tapi, dia sangat rendah hati sampai tidak banyak orang mengenalnya kecuali orang-orang dalam lingkaran tertentu. Jadi saya pikir dia berbeda, dan karyanya sangat bagus. Saya pikir dia sangat bertalenta, jadi saya pikir cerita mengenai dirinya akan sangat menarik. Sebenarnya ketika saya memulai (film ini), saya tidak begitu mengenal dia dengan baik, dia tidak banyak bicara, semacam menghindari orang, jadi kenapa saya tidak mulai mengikuti dirinya dan berharap akan menemukan hal lebih dari orang ini, dan ya, saya menemukannya.

Apakah Anda sudah pernah memutar I’ve Got The Blues di Hongkong?

A: Belum, I’ve Got The Blues pertama kali diputar di Vancouver International Film Festival Oktober lalu dan pertama kali diputar di Asia di Busan Film Festival, jadi FFD adalah pemutaran ketiga kami.

Apakah Anda memiliki testimoni untuk Festival Film Dokumenter?

A: Saya pikir ini adalah festival dengan skala lebih kecil namun festival ini dibuat oleh pembuat film Indonesia dan merukan festival film dokumenter tertua di Asia Tenggara. Festival ini sudah berjalan selama 16 tahun. Jadi untuk saya merupakan hal yang penting untuk mendukung festival seperti ini dan juga festival lain untuk mendukung kami, pembuat film. Saya pikir hal ini yang membuat kami memilih untuk datang kesini karena ini sangat bermanfaat. Dan saya selalu menganggap bahwa hal ini sangat menarik untuk membagikan film kami dan berbicara dengan penonton dari negara berbeda, dan mereka memiliki pertanyaan yang menarik yang tidak pernah kamu sangka akan ditanyakan. Jadi, saya sangat menantikan untuk bertemu para penonton di Indonesia karena kami belum pernah berpartisipasi dalam festival film di Indonesia sebelumnya. Dan setelah ini saya pikir kami akan pergi ke Dublin, Irlandia dan kami berharap dapat membawa film ini kembali ke Hongkong pada bulan Maret di Hongkong International Film Festival. Saat ini saya berharap kami dapat mendistribusikan film ini di bioskop-bioskop di Hongkong.

Bagi Vivian Idris, durasi menjadi hal penting yang perlu diperhatikan ketika membuat film dokumenter pendek. Pembuat film harus cermat untuk mengembangkan cerita pada durasi yang terbatas tersebut. Festival Film Dokumenter tahun 2017 mengundang Vivian Idris sebagai juri Kompetisi Film Dokumenter Pendek.

Tim Newsletter FFD 2017, berkesempatan untuk mewawancarai salah satu pembuat film perempuan di Indonesia.

Bisa diceritakan mbak, bagaimana awal mula Anda tertarik dengan film hingga terlibat sebagai juri di beberapa festival?

V: Sekitar tahun 2006 atau 2007 ketika saya bersama Nia dinata dan teman-teman yang lain  membuat Kalyana Shira foundation,  Kalyana Shira foundation adalah rumah produksi yang fokus pada film-film dokumenter khususnya bertemakan perempuan. Nah dari situ, kemudian setelah memproduksi beberapa film, saya mulai diundang menjadi juri untuk beberapa festival film. akhirnya dari situ bergulir, lumayan banyaklah, festival film di indonesia ini yang dimana saya berkesempatan menjadi juri. Di FFI pernah,FFD beberapa kali, Eagle, Festival Film Surabaya, Festival Film Edukasi yang dibikin pemerintah, Festival Film anti-korupsi, dan 21-short film festival.

Bagaimana perkembangan ragam film dokumenter dalam 10 tahun terakhir? Apa yang mempengaruhi perkembangan tersebut?

V: Menurut saya film dokumenter di Indonesia berkembang dengan cukup pesat dan kaya. Karena saya pembuat film dokumenter juga, jadi saya melihat Indonesia punya sumber yang kaya sekali. Punya materi yang kaya sekali untuk dokumenter, dari berbagai macam hal atau topik, mulai budaya, kemudian sosial, ekonomi, dan politik.

Kita juga melihat dengan makin demokratisnya teknologi, dan informasi tentang filmmaking yang bisa didapatkan dimana-mana, cukup banyak dan tanpa halangan, punya pengaruh pada semakin banyaknya pembuat film dokumenter yang lahir dan juga mendorong pembuat film yang sudah-sudah jadi makin produktif.

Saya pikir barriernya semakin kecil untuk membuat film saat ini. Tapi juga ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat film dokumenter. Terutama, saya ngeliat biasanya permasalahannya itu ada pada riset.  itu kelihatan sekali kalau risetnya kurang apa enggak.

Kemudian bagaimana mengemas cerita. Banyak cerita-cerita yang tidak selesai atau mungkin pembuat film tidak sabar menunggu sampai unfold dan sampai titik akhir atau titik penyelesaian.

Untuk contohnya atau reference sudah banyak banget, dari mulai yang cukup senior, filmmaker luar ataupun dalam negeri, dan formatnya atau storytellingnya sudah sangat beragam. Sudah ngga kalahlah sama dokumenteri di luar negeri. Cuman juga,  menurut saya cukup banyak lah tema atau topik yang bisa dan belum digarap.

Menurut Anda, topik apa yang sebenarnya menarik diangkat di jaman ini, namun belum banyak mendapat sorotan dari para pembuat film?

V: Tema yang menarik banyak ya, kalo preverensi saya pribadi saya melihat tema-tema budaya dan kearifan lokal sebenernya jarang sekali ya digarap. Mungkin dua tau tiga tahun belakangan ini orang mulai melirik tema budaya atau kearifan lokal.

Saya enggak ngerti kenapa orang tidak terlalu tertarik menangkap ini. Mungkin, karena tema-tema ini tidak menampakkan konflik yang cukup nyata, tapi sebenernya konflik itu ngga harus selalu  nonjok-kan.

Salah satu kekayaan indonesia menurut saya itu [budaya dan kearifan lokal tiap daerah]. Menurut saya budaya dan kearifan lokal yang di tiap-tiap wilayah dari sabang sampai merauke kita kaya banget. Mungkin kalau kita mau teliti atau perhatikan one live time aja enggak cukup. Bagaimana kekhasan di tiap daerah, atau kehidupan sosial politik ekonomi di tiap daerah menarik sekali untuk diamati. Malah, saya ngeliatnya itu justru keluar di film-film fiksi seperti filmnya BW Purbanegara dengan Ziarah itu kan stylenya documentary sekali ya, lalu ada Turah dan Siti. Pendekatan penceritaan yang sangat realistis, tapi itu kisah-kisah yang kita lihat atau kita alami di keseharian kemudian dikemas dengan sangat menarik. Saya pikir pembuat film dokumenter juga penting melirik hal-hal yang berawal dari isu-isu lokal. Harus bisa melihat kearah situ juga. Karena banyak sekali yang bisa di eksplore dari isu-isu lokal. Yang menurut saya dari sekian banyak pembuat film di Indonesia hal tersebut belum banyak di eksplore.

Biasanya, kendala apa yang sering ditemui dalam pembuat film dokumenter pendek?

V: Saya melihat kesulian untuk film pendek dokumenter, kebanyakan mengemas satu cerita yang utuh dengan durasi yang pendek ya. Itu problem saya pikir tidak cuman di dokumenter tapi juga di fiksi ya. Artinya, mendapatkan cerita yang lengkap dari awal, tengah sampai akhir mungkin dalam waktu yang terbatas atau cukup singkat itu cukup sulit. Sehingga kebanyakan film khususnya dokumenter, footagenya masih terlihat seperti footage riset, belum selesai, jadi ceritanya belum ketemu atau maalah bingung bagaimana menajamkan cerita.

Mungkin, saya enggak tahu juga ya, tapi salah satu kendalanya ketika kita memilih fokus itu harus tajam bener. Karena durasi yang pendek berarti cerita juga harus bisa unfold, berkembang dengan durasi yang cukup, durasi yang tidak terlalu panjang.

Sedangkan kalau di dokumenter panjang, kesuliatan biasanya, termasuk yang saya alami sendiri, kita malah terlalu banyak punya stok footage. Karena sekarang pake digital ya sehingga film itu ngga masalah lagi. Kita bisa ngambil footage sebanyak banyaknya. Nah footage yang terlalu banyak itu ya kadang-kadang menjadi godaan. Film kita jadi  engga tight jadinya sayang untuk nge-cut. Karena kita mikir, udah ngambil susah-susah dan segala macam, jadi susah untuk menentukan fokuskan.

Saya rasa itu bisa di atasi dengan planing, storyline yang lebih mateng. Tentunya karena dokumenter harus punya ruang-ruang untuk mengakomodir perubahan yang terjadi di lapangan. Saya pikir itu ya yang signifikan pada dokumenter pendek dan panjang.

Menurut Anda, hal-hal apa saja yang mempengaruhi ketertarikan penonton pada film dokumenter?

Pertama  ceritanya tetap harus menarik. Karena film itu bagaimanapun juga adalah cerita yang disampaikan melalui audio visual. Cara penyampaiannya harus menarik, storytellingnya harus menarik dan harus bisa ditangkap oleh si penonton. Isu juga menjadi faktor yang cukup menentukanlah. Apa si topiknya apa si temanya. Kemudian segi teknis tentu saja. Meskipun banyak orang yang bilang kalo dokumenter, biasanya orang lebih memaafkan segi teknis.

Tapi sekarang saya pikir, kita tidak bisa bilang gitu lagi ya. Karena dulu mungkin, ragam, style, eksprosure, atau informasi yang didapatkan orang tidak terlalu banyak, tapi sekarang udah abad internet dan informasi sudah begitu banyak ya. Documentary filmmaker sudah bisa mengejar hal-hal teknis seperti visual dan audio, ngga boleh kurang juga si.

Adakah testimoni untuk FFD?

Untuk FFD tahun ini, saya menjuri di short documentary FFD 2017 sebenarnya saya berharap lebih banyak film atau  style yang berbeda di dalam film yang masuk dikompetisi ini. ada enam film yang dikompetisikan untuk kategori ini. tidak terlalu banyak film yang bertema berbeda. tapi ada satu dua yang menonjol. Harapan saya tahun-tahun kedepan mungkin lebih banyak filmmaker documentary Indonesia yang memasukkan filmnya. Atau mungkin informasinya disebarluaskan lebih jauh ke pelosok daerah. Karena saya pikir banyak sekali di daerah documentary filmmaker yang potensial dan juga derah itu punya konten yang sangat menarik yang kita belum tahu disini. Kita belum banyak tahu dan menjadi sesuatu yang segar, sesuatu yang baru dalam hal cerita ataupun bertutur, karena bertutur dipengaruhi oleh kultur setempat.

Di tahun 2017, Ronny Agustinus terlibat kembali sebagai Juri Kompetisi Film Dokumenter panjang, setelah sebelumnya pernah menjuri di FFD 2015. Kejeliannya dalam melihat fenomena sosial didukung dengan keterlibatannya sebagai juri pada berbagai festival dan kecintannya pada film membuat Ronny peka pada ragam dokumenter di  10 tahun terakhir.

Berikut wawancara kami, Tim Newsletter FFD-2017, dengan pemimpin redaksi Marjin Kiri.

Bagaimana awal mula ketertarikan anda pada film, dan keterlibatan anda sebagai juri maupun pengamat film?

R: Ketertarikan saya pada film, awalnya dari pertemanan, dalam arti saya kuliah di IKJ seni Rupa dan kawan-kawan saya dan banyak senior saya yang menyukai film. Kami nonton bareng dan sebagainya. Sebagaian kawan saya tersebut mendirikan forum lenteng yang menjadi penyelenggara Arkipel festival film eksperimental di Jakarta dan website jurnal footage, jurnal yang khusus tentang film. Saya ikut serta di situ meskipun saya bukan praktisi, dalam arti saya tidak pernah memproduksi atau membikin film sendiri.

Bagaimana perkembangan film dokumenter dalam 10 tahun terakhir?

R: Oke, saya tidak bisa bilang punya pengetahuan yang sangat komprehensif tentang itu (dokumenter), tapi dari apa yang saya tonton di festival-festival, ketika diminta menjadi juri atau hanya menonton saja, dan di beberapa TV, ya saya pikir, ada perkembangan baru yang dihadirkan teknologi pada ragam dokumenter. Dan teknologi tersebut belum semuanya dipake secara baik saya kira. Namun, ada upaya kesana [menjadi lebih baik] saya pikir

Beberapa film dokumenter sangat bagus saya kira,  seperti Nokas, Negeri Di bawah Kabut, atau Tanah Mama. Ya itu bisa dibilang dalam sisi storytelling yang cukup konvensional. Sementara ada beberapa lain yang mencoba keluar dari situ [story telling konvensional] dengan cara bercerita yang tidak biasa, serta pendalaman medium yang tidak konvensional.

Saya pikir saat ini memang saat yang krusial untuk memilkirkan lagi apa art film dokumenter bagi para pelakunya, ataupun bagi audience. Karena kemudahan tekhnologi membuat semua orang bisa membuat dokumenter sehari-hari di jalan dengan merekam pakai HP dan lain sebagainya. Dan beberapa rekaman yang diviralkan kemudian di sosial media, saya pikir mendapat pemirsa yang jauh-jauh lebih banyak dari pada apa yang umumnya kita sebut sebagai film dokumenter yang hanya diputar di festival, bioskop dan lain sebagainya.

Menurut Anda, bagaimana keragaman topik dalam dokumenter saat ini? apakah terdapat topik-topik yang menarik, namun belum banyak disorot oleh banyak pembuat film?

R: Kalau kita bicara Indonesia, kita bisa golongkan topik-topik itu umumnya berkisah tema sosial, atau berkisah tentang tokoh atau suatu fenomena. Itu secara umum. Tapi, tema sosial bisa kita bagi-bagi lagi, misalnya tentang perempuan atau tentang kemiskinan yang paling umum atau bencana.

Secara khusus, akibat sejarah Indonesia para pembuat film memiliki ketertarikan khusus pada permasalaan seputar 65, banyak sekali dokumenter tentang ini. Baik sisi korban maupun sebagainya. Namun, umumnya korban si ya, yang pelaku saya pikir cuman Oppenhaimer (Sutradara Senyap dan Jagal).

Saya pikir banyak hal yang belum pernah diangkat. Dalam arti “masa si persoalan sosial kita itu itu aja”.

Tapi memang untuk keluar dari pakem-pakem kadang memang sulit. Karena membutuhkan keterlibatan si sutradaranya dalam satu isu, atau berpikir keluar dari lazimya untuk mengamati keadaan. Saya pikir film soal desabilitas masih sedikit, dan Karya Wahyu Utami yang tentang itu menarik. Dan dalam rapat juri panjang, yang film Rumania itu juga sangat menarik. Temanya bagaimana lelaki memandang body image-nya sendiri itu sesutu yang cukup jarang dieksplore dimanapun. Meski ada dokumenter Indonesia, tentang tempat fitnes yang dibikin seadanya di kampung. Tapi secara khusus tidak bicara soal pria memandang body image-nya.

Bagaimana, pendapat anda mengenai keterkaitan post-truth dengan dokumenter sebagai sebuah medium yang mengetengahkan fenomena dari persepsi pembuat?

R: Tema Post-truth menurut saya sangat menarik dan sebenarnya saya berharap lebih banyak film yang bersangkutan dengan tema ini diputar selama ini. Karena tema ini benar-benar urgen untuk kita dalami sekarang, karena kemajuan teknologi memungkinkan manipulasi film yang belum ada presedennya dan itu bisa sangat mengelabui mata tentang mana yang benar atau tidak, dan dokumenter punya peran yang besar disitu.

Dalam arti begini, saya sehari-harinya seorang penerbit. Saya selalu menyamakan dokumenter dengan karya nun-fiksi. Di jaman sekarang ada beberapa karya non fiksi yang sangat perlu dipertanyakan “apakah itu benar karya non fiksi?” meskipun dia mengutip katanya data riset dan sebagainya. Tapi bisa dibilang itu pseudosience. Seperti bumi datar dan lain sebagainya. Itu dipasarkan dengan non-fiksi. Dan di era post-truth itu menjadi rujukan dan akhirnya kebenaran baru.

Nah, saya pikir dokumenter sedang dalam pertarungan seperti itu. Ya seperti dalam kasus-kasus yang dipertikaikan. Misalnya mereka yang pro dengan industri tembakau dan mereka yang kontra. Saya tahu Djarum pernah membikin dokumenter yang diputar di Metro TV, tentang dampak pengekangan terhadap rokok dan buruh-buruhnya. Sementara Human Right Watch, belum lama membuat dokumenter tentang bagaimana industri tembakau Indonesia mengeksploitasi buruh anak dan lain sebagainya.

Dari kedua pihak saya pikir ada ketidakjujurannya, atau ada pengelabuannya dalam menangkap suatu isu. Misalnya soal buruh anak. Pandangan sangat baratlah yang memandang anak harus sekolah dari pukul 8 sampai sore. Sementara di kehidupan pedasaan kita, anak ikut bekerja di ladang itu bukan buruh, tapi bagian dari proses bermain dan belajar mereka.

Dalam situasi ketika orang meraba raba mana informasi yang benar dan tidak. Dokumenter berperan dalam membentuk pandangan seseorang tentang suatu isu.

Bagaimana dampak festival seperti FFD pada iklim dokumenter, menurut Anda?    

R: Saya mengamati FFD sendiri dari setidaknya tahun-tahun yang saya pernah ikuti, Itupun terjadi pergerseran ya sekarang. Tahun ini jauh dari tahun ketika saya jadi juri (di tahun 2015). Pilihan-pilihan film oleh kuratornya sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya pikir itupun akan mempengaruhi generasi seseudahnya.

Saya pikir, apa yang ikut sekarang sedikit banyak dipengaruhi oleh apa yang dipandang baik sebelumnya, dan apa yang diyakini baik sekarang akan mempengahi secara estetik generasi penonton yang ingin jadi filmmaker berikutnya. Kalau tahun ini, perubahan itu tampak pada pengolahan mediumnya sendiri, beberapa tahun lalu saya pikir film-film yang masuk masi isu waves atau isu center, dimana isunya yang lebih menonjol. Sementara,  tahun ini sekarang lebih komprehensif melihatnya bagaimana isu itu disuarakan. Sebagaimana medium dimainkan untuk menyampaikan isu itu. Jadi lebih kompleks sekarang.

Bagaimana anda menentukan kriteria nilai dari dokumenter ?

R: Yang pertama, seperti semua karya seni atau film lain. Satu harus ada dampaknya ke penonton. Dampak itu bisa macem-macem. Tapi yang pasti itu berdampak dan menimbulkan pemikiran baru tentang apa yang dilihat. Kedua tentu saja sebagai dokumenter ada info-info baru terutama info yang belum pernah diketahui. Info ini bisa berupa fakta bersifat faktual atau bagaimana respon subjek-subjek atau manusia-manusia yang tergambar di situ terhadap fakta atau kejadian itu.

Saya pikir itu merupakan syarat dokumenter yang baik. Namun, bagaimana itu dikemas melalui teknik dan gaya tersendiri tentunya ada penilaian sendiri.

Kalau soal penonton, aku pikir di mana pun bukan hanya di Indonesia, sesuatu yang serius sesuatu yang baik memang kurang diminati dari pada yang menghibur. Kalau mengejar  penonton mungkin bisa dipakai formula untuk membuat karya yang menghibur. Tapi kalau mau mengejar kualitas ya nilai-nilai itu yang akan dikejar.

Ya kita butuh penonton jelas, tapi di manapun dokumenter akan tetap susah mendapat penonton daripada karya-karya komersil.

Adakah testimoni untuk FFD?

R: Ya seperti yang saya bilang tadi, tahun ini banyak kejutan untuk saya yang sempat ikut serta dalam beberapa FFD. Begitu banyak perubahan yang saya pikir baik untuk memperluas cakrawala tentang dokumenter itu sendiri. Saya kira bisa dipertahankan untuk tahun-tahun mendatang.

Dalam kesempatan kali ini, Tim Publisis Festival Film Dokumenter mendapat kesempatan untuk mewawancarai Sandeep Ray, seorang pembuat film dokumenter, penulis, reviewer, dan pengajar di STUD-HASS. Keterlibatannya dengan FFD sejak 2008 membuat perspektifnya mengenai program Kompetisi sangat luas. Berikut adalah hasil wawancara kami dengan salah satu juri dalam Kompetisi Panjang FFD 2017 ini.

Bagaimana awalnya keterlibatan anda menjadi juri dalam program Kompetisi?

S: Saya membuat film dokumenter beberapa kali, saya juga mengajar, menulis review, saya juga sudah terlibat dengan FFD selama kurang lebih 9 tahun, sudah beberapa kali di sini dan sangat senang bisa kembali.

Bagaimana perkembangan film dokumenter dalam beberapa tahun terakhir?

S: Tentu saja kita mengetahui kalau perkembangan terbesar (dalam film dokumenter) terjadi sekitar 15 tahun lalu saat kamera digital mulai terjangkau, semua orang bisa memilikinya. Sekarang juga mulai banyak sekali produksi (film dokumenter). Ini terjadi di mana-mana di seluruh dunia.

Kini, orang-orang lebih memilih untuk membuat film yang lebih pendek karena cepat selesai, cepat untuk diupload secara online dan keuntungan terbesar dari teknologi yang tidak mahal adalah kita bisa membaca atau membeli sesuatu untuk disimpan lebih lama membuat lebih memungkinkan untuk memproduksi dokumenter dalam format panjang. Tapi, saya perhatikan lagi di Indonesia produksi dokumenter panjang tidak sebanya film pendeknya.

Adakah kesamaan gaya atau topik dalam produksi film dokumenter dalam beberapa tahun terakhir?

S: Tidak juga. Saya pikir banyak sekali keragaman topik yang diangkat dalam film dokumenter. Tapi, memang orang-orang berfokus pada isu-isu politik karena itu yang terjadi saat ini. Dokumenter juga lebih berfokus pada isu-isu sosial daripada kehidupan keseharian. Kadang cara mendokumentasi dari setiap pembuatnya juga berbeda-beda yang membuat dokumenter makin beragam.

Topik apa yang sebenarnya mungkin diangkat di film panjang dokumenter, tapi jarang diangkat, atau malah tidak pernah diangkat?

S: Saya pikir kisah-kisah mengenai seni, isu-isu politik masih mendominasi film dokumenter. Sebelumnya ada pengaruh antropologi dan etnografi dalam dokumenter, orang-orang memproduksi film dokumenter mengenai daerah tertinggal dan kehidupan di sana, tapi mungkin kini orang-orang tidak lagi tertarik pada isu-isu tersebut dan lebih tertarik pada sesuatu yang lebih kompleks jadi itu mungkin yang menjadi alasan mengapa isu politik ramai diangkat dalam film dokumenter.

Kendala apa yang biasanya muncul secara identik dalam film dokumenter panjang?

S: saya pikir tidak ada kendala apapun karena tiap film memliki cirinya dan kisahnya masing-masing. Kemarin saya menonton film dokumenter yang bagus sekali berjudul Phantom of Illumination dan film itu ada di kategori dalam film yang mengangkat isu politik, namun dengan cara yang begitu halus dan memiliki beberapa cara di mana dia tidak terlihat seperti film dokumenter karena cara membuatnya. Film tersebut merupakan sebuah karya seni yang terlihat seperti berada di antara fiksi dan dokumenter, mengaburkan batas-batas antara fiksi dan dokumenter. Membuat kita sadar bahwa pengkategorian ini tidaklah penting, walaupun di beberapa titik ciri dokumenternya masih terasa kental seperti cerita yang tidak dibuat-buat dengan karakter sebenarnya.

Kesan anda setelah melihat beberapa film kompetisi?

S: Jadi, saya merupakan salah satu juri dari program Kompetisi Kategori Panjang tahun ini. satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa tahun ini saya tidak menemukan film Indonesia dalam kategori Panjang. Saya mengerti ada keputusan yang adil pada proses kurasi yang artinya ada pertimbangan bagus atau tidaknya film untuk menjadi finalis dalam kategori ini.

Mengesampingkan hal tersebut, saya pikir film-film yang masuk dalam nominasi adalah film yang begitu bagus. Dengan tema besar Post-Truth yang diangkat, film nominasi telah menggambarkan keadaan Post-Truth dengan baik. Yang menarik adalah film-film tersebut sarat dengan isu politik. Dan yang lebih menarik adalah kompetisi tahun ini memiliki eksplorasi dokumenter yang lebih luas dan tidak ada film-film agenda.

Kriteria apa yang dijadikan sebagai penilaian dalam film?

S: Saya pikir tidak masuk akal bagi saya untuk menentukan kriteria dalam menilai film. Kamu bisa menyusun kategori dasar untuk itu seperti riset, teknik kamera, akses kepada subjek, kedalaman eksplorasi, narasi film, dan sebagainya yang merupakan kriteria umum. Kriteria ini bisa digunakan untuk menilai apa saja, bahkan bisa untuk menilai sebuah buku. Yang menjadi penilaian adalah di mana saat ada sesuatu yang menarik secara tidak biasa, untuk saya sesuatu yang dapat menyentuh pusat dari karakter yang diangkat dalam film. Film seperti ini yang bisa membawa kita lebih mengenal seseorang, masuk ke kehidupannya dengan kedalam cerita mengenai karakter.

Berikan testimoni anda untuk FFD tahun ini

S: Saya sudah terlibat dengan FFD sejak 2008 dan beberapa kali kembali sejak saat itu. Ada banyak sekali perubahan setiap tahunnya, FFD berevolusi, menandakan sesuatu yang dinamis, tidak selalu terpaku pada satu tema. FFD selalu bisa menghadirkan keberagaman dalam film dokumenter, tidak hanya di program Kompetisi tapi juga di program-program lainnya. Saya pikir, hal tersebut adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh sebuah festival. Di mana festival tersebut dapat meluaskan cakupannya dalam keberagaman, mempertahankan integritas artistiknya sebagai festival film dokumenter pertama di Asia Tenggara.

Tim publisis Festival Film Dokumenter 16 berkesempatan mewawancarai Roy Thaniago, pendiri dan peneliti di lembaga kajian media Remotivi, yang menjadi salah satu pembicara pada program diskusi Dokumenter di Era Post-Truth. Isu-isu dari populisme sayap kanan, fenomena post-truth, hingga literasi media, mengisi pembicaraan dengan kami bersama Roy Thaniago kali ini. Berikut hasil wawancara kami, mari simak!

Melihat fenomena post-truth di Indonesia, kami menangkap adanya kaitan dengan fakta bahwa kita masih belum selesai dengan ketakutan-ketakutan imajiner ala Orba. Yang berbeda hanyalah ketakutan tersebut telah berganti wujud, dari komunisme menjadi isu-isu SARA. Menurut Anda apa yang sebenarnya terjadi?

R: Post-truth adalah gejala ketika individu lebih mengandalkan emosi, kepercayaan, daripada data. Dalam konteks tragedi ’65 misal, selepas Soeharto lengser banyak muncul data-data baru. Dari pembantaian pada oknum yang dituduh PKI, sampai keterlibatan Amerika Serikat. Namun data-data baru ini menjadi tidak berarti bagi mereka yang sudah terlebih dahulu memiliki keyakinan bahwa PKI bersalah atas percobaan menggulingkan pemerintahan yang sah. Data-data baru ini mengganggu kebenaran yang mereka yakini.

Mitos akan bertahan sebagai kebenaran sementara, selama tidak ada kerja-kerja ilmiah untuk mengisi kekosongan tentang kebenaran. Hal inilah yang terjadi selama rezim Orba, mitos tentang ’65 versi Soeharto akhirnya berkembang, bekerja dan mengoperasikan cara kita memahami Indonesia. Tapi setelah Soeharto lengser, muncul narasi-narasi baru yang menggerus dominasi mitos tersebut. Dalam studi discourse misal, sebuah narasi mapan yang tiba-tiba patah oleh narasi baru adalah tanda terjadinya perubahan politik-sosial. Saya pikir kita sedang mengarah ke sana. Memang proses tersebut tidak mudah, kita bukan negara dengan sejarah panjang budaya demokrasi. Feodalisme masih sangat erat dengan kehidupan kita. Sementara peradaban Eropa sudah begitu akrab dengan akal sejak renaissance. Hal ini membuat data-data baru tersebut tidak berbunyi, selama otoritas tidak memberikan konfirmasi. Jadi meskipun terdapat lapisan-lapisan untuk mengganti narasi dominan, saya rasa kita sudah berada pada jalur yang tepat.

Apakah literasi media bisa dilihat hanya sebagai kampanye anti-hoax yang sekarang sedang dicanangkan di rezim jokowi? Karena sepertinya langkah kominfo tersebut sejauh ini tidak berhasil dan justru mereduksi masalah menjadi fasisme agama vs nasionalisme sayap kanan, yang semakin memperdalam jurang keterpisahan di akar rumput.

R: Ini penilaian yang jeli karena nasionalisme dan agama adalah dua hal yang paling dominan mengontrol kita di Indonesia. Bahkan kadang nasionalisme di atas agama. Jargon ‘NKRI Harga Mati’ misal, adalah bentuk nyata bahwa tidak ada ruang diskusi atas pembacaan nasionalisme. Kita bisa membicarakan ini itu tapi ketika sudah menyangkut Pancasila, itu adalah final.

Ketika dikaitkan dengan kampanye anti-hoax, maka yang terjadi adalah proses seleksi atas dasar kepentingan-kepentingan politik. Dengan bangkitnya populisme sayap kanan lewat aksi 212 misal, satu-satunya cara rezim Jokowi untuk bertahan adalah dengan tameng NKRI. Saya melihat ini adalah respon tidak dewasa bagaimana pemerintah lagi-lagi memaknai nasionalisme sebagai jargon yang sama dengan yang digunakan untuk membunuh orang Papua, mengokupasi Timor Leste. Bagaimana pemaknaan nasionalisme tidak bisa dilepaskan dari militer sebagai kekuatan politik utama pada rezim Orba.

Rezim kemudian mengoperasikan apa yang disebut hoax dan tidak. Ada sistem pengetahuan tertentu yang akhirnya mampu membuat kita memindai yang hoax hanya dari situs-situs islam kanan. Padahal, kalau kita lihat situs-situs kanan yang lain, karena keduanya sama-sama kanan, seword, fan page katakita di Facebook, mereka juga menyajikan hoax yang sama. Tapi tidak pernah dicap sebagai hoax, sebagaimana yang terjadi pada arrahmah.com, atau voaislam.com. Jadi ada proses seleksi apa yang disebut hoax, apa yang disebut berita kredibel, yang semuanya digerakkan oleh satu sistem pengetahuan tertentu yang kalau ditarik lebih jauh, ada di dalam ideologi ultra-nasionalisme ala ‘NKRI Harga Mati’.

Dalam artikel ‘Menguji Logika Pandji’, Anda menyebutkan bahwa selera tidak pernah lahir secara alami. Ia adalah wahana pertarungan politik, ekonomi, kelas. Bagaimana Anda melihat peran FFD sebagai ruang wacana alternatif melalui film dokumenter dalam kondisi pertarungan tersebut?

R: Saya selalu suka dengan ruang-ruang yang berada di luar sentral kekuasaan budaya, dalam hal ini industri media, koran dan negara, yang menawarkan narasi-narasi baru. Ruang-ruang seperti FFD memberikan kesempatan untuk mengutarakan gagasan tanpa harus masuk dalam mekanisme industri. Mekanisme yang selama ini seleksinya didasari oleh kepentingan-kepentingan pasar, sementara FFD menawarkan untuk melihat audiens sebagai publik. Karena ini memiliki konsekuensi yang berbeda. Dengan logika pasar, ada proses seleksi apa yang boleh disampaikan dan apa yang tidak. Sehingga perlu ada ruang-ruang seperti FFD untuk memutus rantai mekanisme itu dan menghadirkan narasi-narasi baru. Namun yang perlu diperhatikan bagi ruang-ruang seperti FFD adalah begitu besarnya pengaruh apa yang disebut mahzab Frankfurt sebagai industri budaya. Dia sudah menjadi culture kita bersama, menjadi sistem pengetahuan yang melekat pada bahasa, visual, cara berpikir. Sehingga meskipun ada mekanisme baru, bahasa yang kita pakai masih menggunakan bahasa mereka.

Mengingat Amerika Serikat dengan sejarah panjang kebebasan berpendapat pun nyatanya masih menghadapi masalah sama terkait post-truth politics, apa yang bisa publik harapkan dari masa depan ruang-ruang seperti FFD di indonesia sebagai salah satu wahana kompetisi kebenaran?

R: Saya sendiri tidak bermaksud mewakili publik tapi karena saya sendiri sebagai bagian dari publik, saya berharap ruang-ruang seperti FFD harus terus ada. Bagi saya poin penting FFD adalah memberikan suara, kemungkinan yang selama ini tidak mendapat tempat di industri arus utama. Tapi bukan sekadar menawarkan perbedaan, FFD juga harus memiliki sikap politik, tidak ada istilah netral. Keberpihakan pada kelompok-kelompok tertindas, petani Kulonprogo, korban ’65, perempuan korban kekerasan seksual, atau mungkin suara HTI perlu kita beri ruang terkait Perppu Ormas. Saya pikir, sikap politik ini yang perlu dijaga oleh FFD agar bukan sekadar berbeda, lalu dianggap keren.