Digelar sejak 2002, Festival Film Dokumenter (FFD) diinisiasi oleh sekumpulan anak muda yang membicarakan kondisi dan urgensi dokumenter di Indonesia. Sebagai salah satu festival film dokumenter tertua, FFD menempuh jalan panjang hingga mampu bertahan hingga sekarang di antara geliat festival film di Indonesia maupun asia.

Tahun ini, Tim FFD berkesempatan merekam kilas balik perjalanan awal FFD melalui keterangan salah satu pendiri FFD, Nurbertus Nuranto. Pria yang akrab disapa Mas Nur itu merupakan pengelola Tembi Rumah Budaya, yang juga merupakan saksi tempat pertama kali FFD dihelat.

 

FFD dulu berdiri tahun 2002 yang diinisiasi oleh Mas Nur dan kawan-kawan. Apa kegelisahan atau gagasan awal saat itu hingga terbentuk FFD?

Dulu, dokumenter selalu jadi bagian dari festival film. Gak pernah berdiri sendiri dan selalu masuk salah satu kategori dalam festival film. Kegelisahan saya, Herlambang Yudho, dan Ons Untoro (orang-orang yang menginisiasi FFD) berangkat dari sebuah pertanyaan: mengapa tidak ada festival dokumenter yang berdiri sendiri dan bukan jadi bagian dari sebuah festival film? Di satu sisi, saat itu orang-orang masih belum paham bedanya dokumenter dengan dokumentasi. Kita mau tahu cara berpikir waktu itu. Karena dokumenter itu memunculkan cara berpikir. Dokumenter punya plot dan maksud sendiri. Dokumenter itu mengangkat realita yang ada. Intinya mau memotret dan melihat cara berpikir orang-orang yang dikonstruksikan dalam bentuk film. Karena dulu banyak sutradara film terkenal berangkatnya dari pengerjaan dokumenter. Salah satunya kalau di Indonesia adalah Garin Nugroho. Ketika membuat film dokumenter, barangkali kalau bikin film cerita bisa punya banyak perspektif.

Selain itu, ada rasa ingin tahu. Waktu itu Indonesia baru saja memasuki era reformasi; banyak orang mulai merasa bebas mengemukakan pendapatnya. Bagaimana kalau pendapat atau pikiran itu dituangkan dalam film, yang salah satu bentuknya adalah film dokumenter?  Selanjutnya, yang dikenal pada waktu itu barangkali hanya jenis dokumenter propaganda atau feature di televisi. Dari obrolan ringan itu tercetuslah ide untuk mengadakan sebuah festival dokumenter yang fokus utamanya adalah kompetisi film. 

 

Apakah ada dukungan dari pihak lain baik dari sisi pendanaan atau bentuk dukungan lain? Kenapa akhirnya bisa terbentuk padahal referensi festival film terkait dokumenter masih sedikit saat itu? 

Waktu itu kami, saya dan Ons Untoro dari Tembi Rumah Budaya dan Herlambang yang aktif di Gelanggang Mahasiswa UGM, tepatnya Unit Fotografi (UFO) memulai festival dengan pendanaan dari kami (Tembi Rumah Budaya) dan volunteer dari mahasiswa. Bisa dikatakan bahwa awalnya festival film dokumenter adalah semacam kegiatan bersama Tembi Rumah Budaya bersama UFO UGM. Tidak ada dukungan pendanaan atau bentuk dukungan lain.

Meskipun referensi festival film terkait dokumenter masih sedikit, kami menjalankan dengan segala keterbatasan. Karena festival khusus dokumenter adanya juga di luar negeri, kami jadi tidak tahu banyak soal itu. Bisa dikatakan, kegiatan FFD ya berjalan begitu saja. Semuanya gak pernah punya pengalaman bikin festival sama sekali. Jadi coba-coba aja. Artinya, FFD ini bener-bener trial and error aja. Pertama kali pemutaran waktu itu di Tembi dan yang datang gak banyak. Waktu itu gak tahu mau sampai mana, yang penting jalan aja dulu, deh. Dulu ada pemutaran dan penjurian kompetisi. Tapi kita fokusnya pengen lihat film dokumenter Indonesia aja. 

 

 

Soal program utama kompetisi, bagaimana ceritanya ada sejak awal? Mengingat saat itu pemetaan orang-orang yang produksi dokumenter masih sedikit dan potensi yang muncul belum tergarap secara optimal.

Dengan fokus pada kompetisi kita bisa melihat peta film dokumenter waktu itu, khususnya yang ada di Yogyakarta. Sehingga bisa dikatakan memang saat itu jadinya festival film dokumenter Yogyakarta. Namun penamaannya sebagai Festival Film Dokumenter, dengan harapan bahwa pada perjalanannya semua bisa melebar. Jadi titik perjalanan awal FFD memang di Yogyakarta. Dan sampai sekarang memang di Yogyakarta meskipun peserta kompetisinya akhirnya bisa berasal dari mana-mana, bahkan dari luar negeri.

Yang mengirim, itulah yang dikompetisikan. Sepanjang waktu, kita mengubah-ubah kategori juga. Dulu pernah ada kategori profesional. Saya lalu berpikir, orang-orang itu tahu tidak ya profesional yang dimaksud itu adalah orang yang benar-benar bergelut di dokumenter dalam durasi yang lama. Toh, jumlahnya saat itu juga gak banyak. Kualitasnya juga kalau dibandingkan dengan yang sekarang juga jauh. Bahkan dulu pun ada video kawinan yang dimasukkan ke kompetisi FFD. Padahal, itu dokumentasi bukan dokumenter. Waktu itu memang temanya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti lingkungan, kehidupan dan lainnya.

 

Bagaimana kendala yang dihadapi saat itu?

Banyak banget. Kesulitan bertahan ada, kesulitan organisasi juga ada. Dulu pelaksana festival itu saya berpikir untuk tidak lebih dari dua kali, karena kalau begitu orang berikutnya tidak bisa belajar hal baru. 

Kendala utama adalah pengorganisasian sebagai festival karena belum ada satupun dari kita punya pengalaman mengorganisasi festival. Sementara sepenuhnya memang model volunteer mahasiswa gelanggang UGM Unit Fotografi yang pada waktu itu banyak mengorganisir kegiatan-kegiatan di kampus. Bisa dikatakan memang FFD ini awalnya ya festival mahasiswa. 

Jadi, tidak ada yang punya pengalaman bikin festival. Istilahnya, kalau dari saya, belajar dari nol. Sumber keuangannya juga bener-bener masih dari Tembi, belum terpikir caranya untuk mencari sumber pendanaan lain saat itu.

 

Mengapa akhirnya bertahan? 

Ya akhirnya belajar dari pengalaman. Yang mengelola waktu itu banyak volunteer dari mahasiswa yang terlibat. Saya juga belajar dari mereka dan belajar dari festival lain. Semisal ada yang diundang ke luar negeri, kita melihat bagaimana penyelenggaraan di tempat lain. Semuanya learning by doing. Artinya kenapa ini tetap harus ada itu keputusan bersama. Ini (FFD) ada relevansinya gak sih? Hingga akhirnya bisa menginisiasi festival film dokumenter yang lain, pada akhirnya juga membuat banyak orang tertarik untuk membuat film dokumenter. Ini soal konsistensi. Saya pun ingin men-challenge saja. Siapa yang akan meneruskan ini? Dan ternyata ada Mbak Heni (Dwi Sujanti Nugraheni; Filmmaker Dokumenter & Penulis Skenario) dan Mita (Mita Hapsari) waktu itu yang meneruskan. Sekarang bahkan orang-orangnya sudah berganti lagi. Kalau gak ada konsistensi susah itu. 

 

Bagaimana perkembangan yang Mas Nur lihat dari FFD? Apa yang perlu diapresiasi dan apa yang perlu ditingkatkan?

Saya melihatnya ini perjalanan yang luar biasa karena memang yang terlibat di situ punya passion. Kalau gak punya passion, tentu gak bisa punya concern terhadap film dokumenter. Dengan festival itu bisa nonton film banyak banget dari mana saja, itu kan jadi tempat belajar. Belajar juga mengorganisir sebuah festival. Lama-lama udah pada jago, berbeda dengan dulu. 

Selama dua puluh tahun, FFD berkembang melalui proses yang panjang. FFD adalah hasil dari sebuah proses panjang dan konsisten untuk setia pada tujuannya memperkenalkan film-film dokumenter ke masyarakat luas. Saya mengapresiasi proses panjang itu sebagai tempat belajar dan tumbuh melalui berkembangnya jejaring seiring dengan perkembangan dunia film dokumenter itu sendiri.

Namun, apapun kekurangan itu ya biasa dalam sebuah perjalanan. Dan FFD banyak belajar dari kekurangan-kekurangan itu. Secara pengorganisasian saya juga mengapresiasi karena FFD sekarang dijalankan oleh orang-orang yang memang aktif di dunia perfilman terutama di bidang film dokumenter. FFD tumbuh menjadi muara jejaring dari banyak pembuat film baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan kata lain saya sangat mengapresiasi apa yang dicapai FFD, dalam hal ini Forum Film Dokumenter.

Saya mengapresiasi perkembangan FFD itu benar-benar menjadi tempat belajar anak muda untuk pengorganisasian sebuah festival, sebagai ajang pergaulan yang luar biasa dengan orang-orang film. Dari situ kan kita bisa banyak belajar. Makin ke sini mulai lebih rapi, mulai terstruktur. Jadi, itu sebenarnya sebuah perjalanan panjang. Dari yang tidak tahu apa-apa jadi lebih baik lagi. Dari gak bisa menjadi bisa. 

 

Seiring tahun, FFD selalu menghadirkan topik tertentu sesuai dengan kondisi dan persoalan saat ini. Bagaimana Mas Nur melihat soal perubahan itu? 

Terhadap perubahan, saya melihat bahwa perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Artinya dengan adanya perubahan topik dan lain-lain FFD tetap hidup dan maju menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi di seputar kita.

Itu artinya kita tidak stuck. Kita selalu mengikuti dan tidak berhenti. FFD itu untuk saya seperti itu: dinamis, tumbuh, dan juga banyak melibatkan anak muda yang akhirnya banyak yang bergerak di bidang film. Ketika film diputar kan mereka banyak belajar dari sana, langsung praktik. 

 

Bagaimana Mas Nur melihat FFD saat ini? 

Sekali lagi, saya senang dengan perkembangan FFD sekarang meskipun mungkin masih banyak kekurangan di sana-sini. FFD menjadi pusat jejaring yang memiliki jaringan internasional. Dan barangkali sekarang sudah jadi barometer bagi festival-festival dokumenter yang akhirnya muncul di mana-mana. 

 

FFD akhirnya tumbuh lebih populer dikenal sebagai “ruang bertemu”. Bahkan berdasarkan data riset internal tahun 2019, cukup banyak orang yang datang ke FFD bukan untuk menonton film, tapi untuk bergaul dan berjejaring. Bagaimana pendapat Mas Nur soal itu? 

Tentu saya mengapresiasi, senang, dan bersyukur. Berkat konsistensi perjalanannya, FFD bisa menjadi ruang bertemu dan akhirnya siapapun yang ada di situ merasa sebagai rumahnya. Ibaratnya dari titik kecil bisa tumbuh dan berkembang sebagai lingkaran besar.

Saya melihatnya yang penting adalah konsistensi. Kemudian adaptif terhadap kondisi apapun. Pemutaran online ini pun karena keadaan. Tapi sebagai komunitas FFD ini tetap berjalan. Saya mengharapkan itu berjalan terus, karena yang menjalankan pun concern terhadap persoalan yang ada dalam dokumenter. 

 

Maksudnya konsistensi terhadap apa? 

Konsisten terhadap perkembangan dunia film, terhadap mereka yang bergerak di bidang dunia dokumenter. Karena sebenarnya FFD ini usaha banyak orang. Saya sudah tidak ikut mengelola sejak 2014 atau 2015. Penontonnya pun sekarang sudah beda. Jangkauannya lebih luas. 

 

Terakhir, apa harapan Mas Nur untuk FFD?

Harapan saya FFD tetap konsisten menjalankan visi dan misinya. Tetap adaptif dengan situasi dan kondisi yang ada sehingga menjadi lebih baik dari yang lalu lalu. Cara-caranya, harus mengikuti perkembangan zaman namun tetap mempertahankan visi dan misi sebagai rohnya.

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Tonny Trimarsanto dikenal sebagai sutradara dan fasilitator workshop film dokumenter. Sejak terjun di bidang dokumenter, sudah puluhan film dokumenter yang dilahirkan Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini. Beliau adalah pengelola Rumah Dokumenter (Klaten), salah satu komunitas/kelompok produksi dokumenter paling aktif di Indonesia.

Kami berkesempatan mewawancarai Tonny yang menjadi pembicara dalam program DocTalk sesi Documentary Heritage: Praktik Pencatatan Warisan Budaya dengan Medium Dokumenter pada gelaran FFD 2021. Dalam wawancara ini Tonny memaparkan upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi dokumenter pelajar, tanggapannya sebagai pemenang gelaran pertama FFD, hingga masa depan dokumenter heritage Indonesia.

 

Sebagai pemenang pada gelaran FFD yang pertama, bagaimana pandangan Mas Tonny tentang 20 tahun FFD?

Menarik mengamati perjalanan FFD karena saya mengetahui benar bagaimana proses pertumbuhannya. Dari penyelenggaraan FFD tahun pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya, tentu butuh energi yang luar biasa. Dulu kan awalnya (FFD digelar) di Tembi; di daerah kidul Yogyakarta, saya pernah merasakan suasana FFD itu seperti apa. Teman-teman dengan energi yang sama ingin menciptakan forum untuk bisa mendialogkan capaian-capaian kreatif dalam ranah dokumenter. 

Di dua dekade ini, saya melihat capaiannya FFD adalah berhasil membangun brand yang cukup kuat. Ketika kita berbicara dokumenter, pasti akan lari ke FFD dan di Jogja. Isinya adalah para pembuat film dokumenter dengan energi, ketekunan, kesabaran dalam proses panjang untuk bisa menghadirkan forum yang penting dalam pertumbuhan film dokumenter. Bagaimanapun juga, pembuat film dokumenter tidak hanya melahirkan film dokumenter saja, tapi juga harus diukur bagaimana karya itu mempunyai daya jelajah kreatif ke penontonya. Artinya, FFD telah mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam membangun dan menciptakan ekosistem produktifitas film dokumenter. Ketika saya mendapatkan penghargaan di FFD pertama, saya masih membaca apakah FFD akan terus menerus berlangsung? Ternyata iya, dan mimpi itu menjadi semakin luar biasa hingga hari ini. FFD sudah mempunyai brand, sudah mempunyai sidik jari. Sidik jari festival yang sangat spesifik dan punya peran penting dalam peta besar film dokumenter di Indonesia. Peta besar film dokumenter di Asia Tenggara juga, bahkan sudah tingkat Asia.

Mas Tonny adalah pendiri komunitas produksi & filmmaker Rumah Dokumenter yang tumbuh menjadi komunitas produksi/pelatihan produksi yang banyak diminati oleh pelajar (SMK/sederajat). Sejauh pengalaman Mas Tonny, gagasan apa saja yang sering diangkat oleh kalangan pelajar dalam produksi film dokumenter?

Kami mungkin komunitas yang cukup demokratis, artinya hanya memberikan ruang pertumbuhan. Ruang pertumbuhan berarti kalau mau tumbuh ya ayo, kalau engga ya silakan. Ketika teman-teman datang ke Rumah Dokumenter; baik itu SMK, SMA, mahasiswa atau kalangan umum yang ingin belajar film dokumenter, di sini kami menerimanya dengan senang. Cuma prasyaratnya adalah mereka harus mempunyai idenya sendiri ketika datang ke sini. Artinya, datang dengan ide, lalu mereka pulang dengan film. Itu konsep yang kami kembangkan.

Untuk pemetaan anak-anak pelajar ataupun mahasiswa yang magang di sini pembacaannya pada isu-isu yang melekat dengan dunia mereka. Kami sarankan untuk mencari saja ide-ide yang dekat saja, jangan jauh-jauh. Tidak perlu pelajar bicara tentang hal-hal yang muluk-muluk, hal-hal besar; cukup isu yang sederhana. Kalau kita mampu mempunyai perspektif yang berbeda terhadap hal itu, maka akan menjadi sebuah isu yang luar biasa. 

 

Beberapa tahun terakhir, submisi film dokumenter pelajar di FFD menurun (bahkan terlepas dari pandemi). Itu juga ternyata dialami festival-festival lain yang punya concern ke apresiasi film pelajar di Indonesia. Bagaimana Mas Tonny melihat ini?

Produksi film pelajar selama ini kalau saya melihat perjalanan FFD itu hanya pada kantong-kantong tertentu. Maksudnya ketika gerak komunitas tersebut tidak intens, tentu akan berakibat pada turunnya jumlah produktivitas. Itu sebenarnya pola yang sudah dicermati.

Poin pertama adalah jumlah komunitas yang mendampingi produksi film dokumenter mungkin tidak lagi maksimal ya, saya tidak tahu faktornya apa. Tapi dari sisi lain, mungkin mereka memiliki fokus yang berbeda atau pelajar sekarang lebih tertarik dengan isu-isu yang bisa mereka kemas dalam film fiksi pendek. Banyak sekolah formal yang belum mempunyai panduan standar dalam produksi film dokumenter. Baik dari support pengajarnya atau sistem kurikulumnya yang belum berjalan dengan maksimal kalau output-nya soal produktivitas.

Melihat variasi tema dari dokumenter pelajar Indonesia yang muncul belakangan, apakah variasinya terus meningkat?

Saya rasa variasinya meningkat karena tingkat pembacaan pelajar semakin ke sini semakin beragam. Terutama pada isu-isu yang berkembang di sekitarnya, menjadi penting untuk dicatat. Misalnya, teman-teman pelajar pernah buat film tentang politik, lingkungan, subjek yang inspiratif di lingkungannya; ini menjadi penting di samping karya-karya yang bersifat personal.

Pembacaan pada isu-isu pada tingkat pelajar juga semakin meningkat. Artinya, kegelisahan dan keinginan untuk tumbuh itu ada tinggal ditambah upaya untuk pendampingan. Nah proses pendampingan inilah yang harus dikelola secara terus menerus.

 

Usaha apa yang kira-kira bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi film dokumenter pelajar?

Kalau bicara strategi,tentu berkaitan dengan SDM yang ada di sekolah masing-masing. Tidak setiap SMA/SMK mempunyai effort bahwa harus ada karya yang lahir secara audiovisual dengan standar tertentu. Misalnya, banyak SMK yang mempunyai karya film dokumenter, tapi ketika dikirimkan ke FFD standar kualifikasinya tidak masuk. Mungkin itu yang sering terjadi.

Atau pada sisi lain, guru-guru tidak cukup mempunyai kegelisahan tentang bagaimana karya anak-anak bisa mempunyai daya jelajah kreatif yang lebih luas ke festival. Sekarang ada banyak banget festival, khususnya untuk pelajar di FFD misalnya. Kalau kita berbicara lebih spesifik juga ada Festival Film Pelajar Yogyakarta. Di situlah persoalan yang seringkali saya amati, bahwa perlu membentuk perspektif guru tentang produksi film. Jangan anak-anak terus yang didampingi, tapi faktor penggeraknya itu juga perlu. Tidak hanya anak-anak yang harus didekatkan dengan cara dan praktek kerja bagaimana pembuatan dokumenter, tetapi juga pada guru. Kalau anaknya disuruh belajar tapi guru tidak tahu apa-apa, ya tidak jalan. Jangan hanya mengelola siswa, tapi juga desain kurikulumnya dan juga effort setiap pengajar.

 

Bagaimana masa depan Documentary Heritage di Indonesia? Karena tidak semua individu menyadari pentingnya pencatatan warisan budaya?

Kalau saya melihat, tanpa kita perlu bicara bahwa film A ada unsur heritagenya atau tidak, teman-teman filmmaker sudah melakukan itu. Artinya, peristiwa-peristiwa yang teman-teman catat lalu rekam dan sampaikan menjadi sebuah cerita akhirnya sampai ke mata penonton itu sudah heritage. Irisannya sudah ada dan terlihat, cuma tidak spesifik. Maksudnya, teman-teman itu tidak membuat film textbook. Dalam film tidak disebutkan secara langsung yang ini peninggalan benda, ini nonbenda, ada nilai di dalamnya, dan lain-lain. Meski tidak spesifik, filmmaker sebenarnya sudah berbicara itu, tapi pada wilayah yang lebih besar lagi. Ada persoalan di sebuah masyarakat dengan tradisinya. Nah usaha seperti ini justru lebih lengkap (dalam menggambarkan heritage) sebenarnya.

Apakah masyarakat umum perlu mengetahui pentingnya pencatatan warisan budaya? Karena secara tidak langsung unsur heritage didapatkan dari masyarakat.

Sebenarnya kalau kita bicara tugas, itu bukan tugasnya masyarakat ya; itu tugasnya negara. Bagaimana negara itu secara sistem dia bisa melindungi dan mengelola aset-aset, baik itu yang berbentuk nilai dan benda. Jadi memang itu menjadi tanggung jawab negara, tetapi persoalannya adalah bagaimana bisa melibatkan masyarakat ke wilayah praktik tersebut. Tentu butuh jangka panjang, butuh sosialisasi hingga edukasi tentang hal apa yang harus dijaga. Toh, sebenarnya para pembuat film dokumenter telah membantu kerja pencatatan warisan budaya lewat karya yang mereka hasilkan tanpa harus mendapatkan satu perintah dari negara. 

 

Bagaimana pengalaman Anda di FFD yang digelar secara daring saat ini?

Saya melihat semuanya memang harus dipaksa masuk pada sistem baru. Bahwa ruang apresiasi itu berubah, yang dulu fisik sekarang nonfisik itu butuh proses adaptasi. Mungkin awalnya penuh kejutan ketika kita nonton film secara online, tapi tentu ini menjadi pembelajaran juga untuk teman-teman yang bergerak di sistem pengorganisasian FFD ini.

Pada satu sisi teman-teman memiliki pengalaman yang kaya dalam melaksanakan festival offline, tetapi dalam waktu singkat dipaksa untuk belajar mengelola festival secara online. Ketika dua pengalaman ini dipadukan itu akan menjadi strategi yang luar biasa, ternyata online dan offline dapat dilakukan secara bersama-sama. Ketika masih offline, itu daya jangkaunya sedikit. Sedikit jika dibandingkan dengan daya jangkau festival online yang bisa ke mana-mana. Misalnya, dalam kelas saya (DocTalk: Documentary Heritage) ada yang whatsapp saya dari Maluku dan ikut kelas. Daya jelajahnya semakin jauh, tetapi kehangatannya menjadi tidak ada. Artinya, setiap proses transisi memiliki konsekuensi; ada yang hilang tetapi ada nilai baru yang muncul dan ditemukan. 

 

Penulis: Dinda Agita

John Badalu adalah produser dan publisis film sekaligus pendiri Q-Munity, organisasi yang yang menyuarakan isu-isu minoritas, terutama LGBTQ+ melalui seni dan budaya. Pada 2002, John menginisiasikan Q! Film Festival, di mana ia menjabat sebagai direktur festival. Q! Film Festival merupakan festival film yang mengusung tema LGBTQ+, HIV/AIDS, dan HAM. John memang menggeluti dunia film, beliau juga merupakan programmer film di berbagai festival serta menjadi co-producer beberapa film pendek.

Tahun ini, John diundang sebagai pembicara untuk sesi DocTalk: Pemrograman dalam Festival Film. Pada 23 November 2021, John berbagi perspektifnya mengenai lika-liku FFD selama 20 tahun, khazanah pemrograman film, dan festival daring.

Bagaimana kamu melihat 20 tahun Festival Film Dokumenter? (bisa dalam segi perkembangannya, yang masih perlu ditingkatkan, atau yang sudah baik)

FFD ini kan menjadi salah satu festival film tertua di Indonesia. Menurutku, hal tersebut merupakan sebuah prestasi karena membuat festival baru selalu lebih mudah jika dibanding dengan mempertahankan yang sudah ada. Aku salut karena FFD itu masih sangat independen, tetapi juga berhasil mempertahankan eksistensinya selama ini. Dulu kan sempat juga ada Q! Film Festival, saya memulainya di tahun yang sama. Tetapi Q! Film Festival memutuskan untuk berhenti di tahun 2016.

Saya melihat FFD berangkat dari ide jiwa-jiwa yang memang sangat cinta dengan film, yang memang passionate dalam bidang tersebut. Meskipun dengan budget yang tidak banyak, tapi FFD tetap berusaha digelar dengan penuh semangat. Aku sungguh salut dengan FFD karena masih bisa bertahan sampai sekarang. Oh ya, selama 20 tahun ini, sistem manajemen dan pengelolaan sumber daya manusia yang dilakukan FFD patut diacungi jempol. Sumber daya manusia ini kan pasti berganti-ganti di dalamnya selama 20 tahun, dan hal tersebut berhasil dilakukan oleh FFD; atau istilahnya menyambung tongkat maraton ke generasi yang lebih muda. Namun, terus terang, aku melihat langkah-langkah FFD untuk menjadi sustainable itu masih sangat-sangat tertatih-tatih. Jadi perlu pemikiran yang lebih jauh, bukan hanya pemikiran jangka pendek dari tahun ke tahun, melainkan pikiran terkait programasi atau sponsor dalam 5 tahun ke depan. Hal tersebut perlu dipikiran jauh-jauh.

 

Menurutmu, bagaimana peran FFD sebagai salah satu festival film tertua (khususnya dalam ranah dokumenter) di mata festival lain?

Tentu FFD adalah festival yang kegigihannya perlu diapresiasi. Tapi, kalau menurutku, FFD ini dalam segi exposure untuk dikenal di kalangan publik ataupun di kalangan orang yang passionate akan film masih sangat kecil dibandingkan dengan beberapa festival lain. Bagi saya, FFD masih kurang promosi diri, sehingga tidak banyak orang tahu kalau ada FFD di Jogja. Mungkin ini akan menjadi PR yang perlu dipikirkan oleh FFD; apa yang kira-kira bisa dilakukan dengan budget minim, tapi orang bisa mengenal FFD.

Dalam ranah program, bagaimana programasi FFD dari kacamata John Badalu?

Program film itu sangat berkaitan dengan keuangan dan juga dari visi misi festival itu sendiri. Mungkin perlu dipertanyakan kembali FFD ini visinya ke mana sih, maunya memutar film seperti apa sih. Yang kedua, biasanya program itu bisa menjadi dipandang bagus karena berhasil mengantarkan film yang lagi hot dibicarakan di dunia. Menyoal budgeting, berkaca dari Q! Film Festival, kami banyak bekerja sama dengan banyak pihak luar supaya pendanaan tetap ada. Ya, memang harus memutar otak untuk bisa mendapatkan keturunan yang bermutu yang mungkin harus bayar mahal. Biasanya, kami meminta banyak bantuan dari kedutaan asing. Dan hal ini belum aku lihat di FFD.

Aku melihat FFD agak kurang dalam mengorganisir keuangan dari jauh-jauh hari. Dalam ranah keuangan, sepertinya masih sangat perlu dibenahi. Mungkin bukan dibenahi sih, tapi lebih cepat saja dalam mengajukan proposal, lebih cepat menghubungi siapapun yang kira-kira bisa membantu FFD. Tapi, terlepas dari budgeting, programasi juga bisa menjadi kuat karena selalu ada regenerasi. Aku melihat hal tersebut sudah dilakukan FFD dengan sangat baik.

 

Bagaimana kamu melihat kegigihan FFD untuk terus menghadirkan/memperkenalkan isu dan diskusi di masyarakat melalui medium dokumenter?

Kegigihan FFD dalam hal ini tidak perlu diragukan lagi. Tetapi bagiku penonton FFD adalah penonton yang setia saja. Aku belum melihat FFD mengembangkan diri untuk menggapai penonton dari lingkup yang baru. Nah, bagiku hal tersebut merupakan PR untuk FFD untuk mengupas cara menarik perhatian penonton yang belum pernah tahu atau datang ke FFD. Tapi ini dari pengamatanku saja, sih. Mungkin sebenarnya banyak penonton yang baru. Terlebih lagi dengan skema daring, penonton malah bisa bertambah karena yang dari luar kota bisa ikut merayakan dari jauh.

Tahun ini, banyak festival yang stop di tengah jalan atau malah berubah jadi daring. Sejauh yang Pak John rasakan, apakah skema daring untuk sebuah festival itu sustainable? Lalu, dari pengalaman di FFD, apa yang sudah bagus dan masih perlu dikembangkan?

Menonton dengan cara online ini kan memang sesuatu yang baru untuk sebuah festival film. Kalau nonton online sih kita sudah terbiasa nonton YouTube. Tapi pengalaman menonton sebuah film festival dengan online itu kan memang baru lahir sejak pandemi ini, dan tentu hal ini menimbulkan pro dan kontra.

Dengan skema online, tentu jangkauannya jadi lebih luas. Orang yang memang tidak bisa hadir secara fisik masih bisa ikut menonton. Jadi, skema daring ini membuka kesempatan untuk mendapatkan penonton baru. Aku sungguh melihat FFD mampu mengadaptasi perubahan ini dengan sangat cepat, atau malah menurutku sangat profesional.

Yang harus dipikirkan adalah apakah FFD ini selanjutnya akan selalu berjalan secara hybrid atau kembali seperti semula. Karena tentu ada pengalaman sinematik yang tidak akan didapatkan ketika menonton secara online. Berjejaring juga menjadi sangat susah. Menonton daring akan membuat penonton kesusahan untuk berkenalan dengan teman baru dan memiliki koneksi secara fisik. Ketika menonton festival film secara online, konsentrasi kita nggak akan 100% karena kita sudah kelelahan dengan Zoom sehari-hari. Nah, ini yang memang harus dipikirkan; bagaimana sebuah festival mampu membuka banyak peluang untuk menjadi lebih besar dan luas, tapi bagaimana caranya juga tidak membuat kelelahan dalam masa pandemi ini. Bagiku FFD secara manajemen itu sudah beres. Namun, dalam masa seperti ini, memang harus memutar otak memilah kembali konten-konten yang akan ditampilkan. Jadi memang perlu ada surprise yang baru untuk menggugah hati penonton.

 

Penulis: Tirza Kanya

26 November 2021, tim FFD mendapat kesempatan untuk bertemu secara daring dengan Jewel Maranan yang berada di Filipina. Bertemu dengan seseorang yang berjarak ±2,620 kilometer tidak pernah semudah ini, berkat teknologi canggih dapat membuat hal ini menjadi mudah.

Jewel Maranan adalah seorang filmmaker dokumenter, produser, sinematografer yang dokumenter kreatifnya menilik bagaimana sejarah merajut jalannya ke kehidupan sehari-hari. Tondo, Beloved (Filipina, 2011), In the Claws of a Century Wanting (Filipina, 2017), The Future Cries Beneath Our Soil (Vietnam, Philippines, 2018), dan The Silhouettes (Iran, Filipina, 2020) adalah beberapa film yang ia sutradarai dan produksi yang sudah diputar dan mendapat penghargaan di banyak festival film di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Selatan. Tahun ini, Jewel menjadi juri untuk kompetisi dokumenter pendek di FFD dan dia mengungkapkan pemikirannya yang mendalam tentang perkembangan dan pertumbuhan film dokumenter di Filipina dan Indonesia melalui wawancara online.

Selama 20 tahun FFD digelar, Jewel sudah berpartisipasi sebanyak empat kali. Ia terlibat di FFD pertama kali pada tahun 2012. Saat itu ia melakukan pemutaran filmnya, Tondo, Beloved (2011), dengan beberapa teman filmmaker dari Asia Tenggara yang juga menghadiri Doc.Net Southeast Asia Festival di Jakarta. Mereka kemudian pergi ke Yogyakarta untuk bergabung dengan FFD. Jewel mengakui bahwa ia merasa sangat nyaman menghadiri FFD pada saat itu.

“Semua orang sangat-sangat baik, hangat, dan menyambut kami. FFD terasa seperti sebuah komunitas seni atau penikmat film yang besar,” ucapnya.

Selanjutnya, ia berpartisipasi di tahun 2018. Saat itu, filmnya yang berjudul In the Claws of a Century Wanting (2018) menjadi salah satu peraih penghargaan di kompetisi tersebut. Jewel tidak dapat menghadiri FFD di tahun itu, tetapi ia sangat senang mendengar berita bahwa filmnya terpilih menjadi salah satu peraih penghargaan, Tahun selanjutnya, Jewel mengirimkan The Future Cries Beneath Our Soil (2018), film yang ia produksi bersama Pham Thu Hang, seorang sutradara asal Vietnam. Film tersebut juga masuk ke dalam kompetisi panjang internasional FFD 2021 dan menjadi peraih penghargaan di kategori tersebut.

“Beberapa bulan setelah (penganugerahan), saya menerima sebuah paket penghargaan bersama kenang-kenangan dari FFD. Itu adalah sebuah kenangan yang berharga buat saya,” tutur Jewel.

Waktu terus berjalan. Setelah beberapa kali mengirimkan filmnya ke FFD, tahun ini, Jewel menjadi salah satu juri di Kompetisi Dokumenter Pendek FFD. Pengalaman ini membawa ia kepada pikiran bahwa FFD telah banyak berubah sejak tahun 2012, saat pertama ia bergabung. Banyak aspek dari FFD yang berubah ke arah yang lebih baik, dan Jewel mengakui bahwa festival ini mampu beradaptasi segala kondisi yang terjadi di tengah pandemi.

Bagi Jewel, FFD telah berkembang pesat dari hanya beberapa orang yang terus berdedikasi di festival ini. FFD tumbuh menjadi salah satu festival film yang paling menonjol di Asia Tenggara, dan ia merasa sangat senang bisa menyaksikan dan terus berpartisipasi di dalamnya.

“FFD masih tampak seperti grup yang sangat erat di mana ada diskusi yang jujur, orang-orang berteman satu sama lain, selain menampilkan atau membuat pilihan dokumenter yang sangat bagus,” jelasnya.

Kami meminta Jewel untuk menyampaikan pandangannya tentang ekosistem film dokumenter baik di Filipina maupun di Indonesia. Jewel merasakan banyak perubahan pada film dokumenter Filipina sejak pertama kali ia mulai membuat film dokumenter tahun 2010. Dokumenter menjadi sesuatu yang semakin global. Dokumenter menjadi sebuah proyek film yang mencari mitra baik di Asia dan Asia Tenggara, dan Eropa dan Amerika. Jewel percaya bahwa industri dokumenter di Filipina telah menentukan posisinya untuk mengikuti jejak yang tengah dikejar industri dokumenter internasional sembari tetap menjaga identitasnya.

Dalam kasus dokumenter Indonesia, Jewel mengklarifikasi bahwa ini hanyalah observasi personalnya, bukan pendapat seorang ahli. Jewel mengawali pertemuannya dengan filmmaker dokumenter Indonesia pada tahun 2012, dan pendapatnya saat itu adalah ia datang dari sebuah industri yang tumbuh dengan tradisi yang mirip. Jewel berkata bahwa kemiripan dokumenter Indonesia dan Filipina dalam satu pandangan ditimbulkan karena kedua negara ini memiliki kesamaan dalam situasi sosial-politik dan ekonomi. Banyak dokumenter yang peka terhadap isu sosial dari kedua negara ini. Dalam beberapa tahun atau dekade kedepan, Jewel percaya bahwa interaksi antara negara-negara Asia Tenggara akan terus bertambah, khususnya antara Filipina dan Indonesia, tidak hanya dalam partisipasi di acara atau festival, tetapi juga kolaborasi produk.

Jewel yang berpartisipasi sebagai juri Kompetisi Dokumenter Pendek tahun ini mengatakan bahwa semua film finalis di kategori ini sangat peka terhadap isu sosial dan mengidentifikasi tema yang kritis. Ia merasa para filmmaker berhasil mendekati sesuatu dengan berbagai cara dan gaya. Ada yang menggunakan teknik dokumenter yang lebih konvensional, observasional, hingga hybrid atau gabungan pada proses produksinya; semuanya hadir di sini. Secara umum, ini adalah gabungan dari banyak strategi dengan satu tujuan yang sama: berusaha lebih relevan dengan topik dan wacana saat ini. Bagi Jewel, hal terburuk yang dapat terjadi di dalam sebuah kompetisi adalah apabila semua peserta memiliki gaya dan bentuk yang sama. Untungnya, ia tidak melihat hal itu di kompetisi tahun ini; malah, Jewel melihat banyak sekali style yang berbeda. Dan itu adalah hal yang bagus.

Selain berbagi pendapatnya tentang pertumbuhan dan perkembangan dari dokumenter Indonesia dan Filipina, ia juga berbagi pengalamannya tentang produksi bersama (co-producing) lintas negara. Hal ini tentu memberi kita pandangan baru karena di Indonesia metode produksi bersama (co-producing) lintas negara masih jarang ditemukan, terutama di dokumenter. Menurut Jewel, hal baik dari produksi bersama adalah filmmaker dapat memperluas sisi pandang film tersebut. Filmmaker dapat memperluas dan melihat lebih banyak sisi pandang internasional, atau mungkin sisi pandang Asia yang lebih luas. Ketika seorang sutradara membuat film di negaranya sendiri, tentunya mereka memikirkan penonton dari negara yang sama, dan itulah dasarnya. Saat ini, kita hidup di masa dimana karya kita dapat dilihat oleh penonton yang lebih luas dan global. Situasi ini membawa kepada tantangan untuk menceritakan bagaimana bahasa atau aspek film yang lain dimengerti dan dipahami. Itu adalah manfaat dari kolaborasi atau memiliki kolaborator internasional. Juga, hal tersebut menambah kemungkinan untuk mendapatkan kesempatan dalam mencari sumber sponsor. 

Pertemuan daring ini berlangsung dengan sangat singkat karena bersamaan dengan acara awarding FFD. Walaupun dengan keterbatasan, tim FFD mendapatkan banyak sekali hal baru dari Jewel Maranan dalam kurang lebih 30 menit. Jewel berharap kegigihan dan keberdayaan FFD yang membuatnya kagum dapat terus berlangsung.

 

Penulis: Tirza Kanya

Piring Tirbing merupakan kolektif seni asal Yogyakarta yang berfokus di ranah sinema. Piring Tirbing dihidupi oleh anak-anak muda yang sejak 2016 lalu mengerjakan proyek film bersama. Di rumah produksi ini, mereka sekaligus mencipta karya-karya film yang eksploratif. Dalam perjalanan karyanya, Commision Artist pilihan FFD ini selalu mencari capaian artistik dan medium alternatif tanpa batasan yang saklek.

Dalam satu kesempatan, tim FFD mewawancarai beberapa anggota Piring Tirbing, di antaranya Aditya Krisnawan, Achmad Rifqon, Agge Akbar, Arief Budiman, Bagas O.A, dan Muhamad Erlangga Fauzan. Mereka menyampaikan pandangan hingga seluk beluk karya yang dibuat untuk helatan FFD tahun ini.

 

Bagaimana Piring Tirbing melihat FFD secara umum?

Kalau kita ngomongin festival film di Jogja itu sendiri, FFD berpengaruh sekali. Kebetulan kami juga sekolah di jurusan audiovisual. Dengan adanya festival film, bisa membuat kami belajar banyak, bisa menonton film yang belum pernah kami tonton sebelumnya. Lalu soal akses, dengan adanya FFD bisa mempermudah.

Ngomongin festival di Jogja, FFD merupakan salah satu yang bertahan cukup lama. FFD menjadi salah satu festival film dokumenter yang cukup penting untuk dibicarakan dan diikuti pergerakannya. Dalam wilayah festival film di Jogja kalau dilihat tidak ada yang berfokus pada dokumenter seperti FFD.

Apa kaitannya dengan karya yang dibuat?

Kalau kaitanya dengan karya yang dibuat, sebenarnya lebih membicarakan ketahanan FFD untuk tetap hadir selama 20 tahun ini, sih. 20 bukan waktu yang pendek untuk menyelenggarakan festival. FFD juga bukan festival yang anggaran selalu mengucur. Karena juga setahuku FFD bergerak secara kolektif. 

Bisa dijelaskan lebih lanjut terkait “ketahanan” FFD? Mengapa ingin menggambarkan itu dalam karya?

Kalau secara kronologis, di awal kami disodorkan satu teks tentang retrospektif FFD selama ini. Kemudian kami mengambil kata kunci yang paling tidak itu menggambarkan keseluruhan dari FFD. Kata kunci yang kami ambil adalah keberdayaan dan kegigihan. Terus kami kembangkan lagi bagaimana caranya gambaran ini bisa ada ruh tentang keberdayaan, tentang kritisisme di dunia dokumenter, sama tentang dokumenter itu sendiri. Kami berdiskusi dan mengembangkan ide, sampai akhirnya merumuskan konsep dan teknis produksi. Garis besarnya adalah tentang filmmaker dokumenter kelaparan yang akhirnya ditolong oleh narasumbernya. Soal teknis produksi atau konsep artistiknya itu kami menggambarkan ada dua hal yang kira-kira bisa dilihat bagaimana ketahanan atau keberdayaan itu ada. 

Pertama adalah, kalau kita bicara tentang bikin film itu sekarang alatnya hebat-hebat ya, alatnya sudah lumayan oke. Ada tripod, kamera, segala macam gitu. Nah, di karya ini, alat kami gambarkan dengan manusia. Dengan konsep: ada yang jadi tripod, ada yang jadi kamera, ada yang jadi mic. Di karya itu yang tidak siap malah si filmmakernya. Lalu terjadilah sebuah insiden dan akhirnya ditolong oleh si narasumber tadi. Begitu.

Kami ngomongin soal jarak antara manusia dengan alat produksi. Sekarang, alat-alat sudah cukup canggih. Alat yang berkembang itu kemudian diiringi dengan sumber daya manusianya yang berkembang juga gak? Hal ini yang kemudian digambarkan dengan meragakan anatomi alat-alat produksi. Kalau secara internal, kita sering kali bicara soal alat-alat yang harus proper. Kenapa alatnya yang harus proper? kenapa bukan manusianya? Sebenarnya sejauh mana, sih, gap antara manusia dengan alat yang ada? Paling tidak seperti itu, sih.

Intinya karya ini ngomongin alat produksi yang mendukung manusia itu sejalan gak sama ide yang dibawa filmmaker ya?

Sebenarnya kalau ditarik lebih umumnya lagi ngomongin soal FFD sebagai sebuah festival yang gak mungkin jalan kalau tidak ada orang-orang di dalamnya. Dua puluh tahun, orang-orang yang terlibat secara kolektif di dalamnya itu seberjuang apa? Itu kan gak mudah. Ya, itu tadi kalau ngomongin soal kebertahanan dan kegigihan.

Jadi alat produksi itu sebenarnya untuk menopang produksi karya audio visual. Kemudian kalau di karya ini untuk menopang manusianya. Ditarik lagi ke FFD, orang-orang di dalamnya itulah yang menjadi perhatian khusus. 

“Jangan Lupa Makan” itu kami gambarkan pula soal kritik kami terhadap dunia dokumenter, diwakilkan dengan si filmmaker itu yang lupa makan. Istilahnya dalam film ini: durung pondasi. Intinya alat-alat sudah oke, tapi malah si director lupa makan.

Bagaimana Piring Tirbing melihat kehadiran dan posisi FFD di tengah gairah festival seni?

Lebih banyak acara lebih beragam itu lebih bagus. Lebih mengasyikkan untuk dinikmati, apalagi di jogja. Itu gak jadi masalah.

Tapi kalau ngomongin posisi FFD di tengah festival seni, menurut kami ya adanya FFD jadi keharusan untuk diselenggarakan tiap tahun. Meski terdapat beberapa festival seni lain yang karya-karyanya juga mengandung produk audio visual, yang secara spesifik ngomongin soal dokumenter saya pikir gak ada selain FFD. Khususnya dalam scope Jogja, FFD cukup penting dan harus. 

Ini soal konsistensi juga. Dua puluh tahun sejak 2002, yang katanya awalnya dari nonton film kemudian jadi sebuah festival, menurutku FFD harus terus ada. Buat update soal film dokumenter itu juga penting. Kami pun gak sering nonton film dokumenter selain dari FFD dan internet.

Bagaimana melihat keinginan FFD yang secara konsisten menghadirkan isu dan memantik diskusi di masyarakat melalui medium dokumenter?

FFD yang menampilkan film-film dokumenter itu menjadi pintu masuk buat banyak orang melihat apa yang terjadi di Jogja, nasional, bahkan internasional. Kami melihatnya ini sebagai media untuk membuka mata. FFD cukup membantu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Baik isu seputar dokumenter itu sendiri, maupun tema-tema yang dibawakan oleh film yang diputar dalam FFD.

Kami melihat upaya FFD itu harus diapresiasi. Karena pilihan festival yang secara spesifik ngomongin dokumenter di Jogja ini belum ada, FFD yang secara konsisten tetap ada setiap tahunnya menjadi ruang bagi kami untuk update tentang dunia dokumenter itu sendiri.

Bagaimana soal akses atau keterjangkauan masyarakat umum terhadap dokumenter menurut kalian?

Soal akses lumayan bisa dijangkau. Kalau kami datang ke festival, mayoritas untuk mengobrol di luar ruang pemutaran, bertemu teman-teman dari luar kota, bertemu teman-teman filmmaker lain, atau teman sebagai lain yang senang menonton film. Sisanya baru untuk menonton. Jadi dengan aktivitas itu, kami jadi memiliki jarak yang lebih enak untuk memandang sesuatu, khususnya FFD. Soal akses pun oke, gak jauh-jauh banget bahkan kalau dilebarkan lagi buat masyarakat yang sangat umum. FFD jadi semacam terminal atau tempat janjian; entah mau nonton film atau enggak, ya ketemunya di venue acara. Kemeriahan festivalnya begitu. Nah, itu kemudian jadi tantangan tersendiri kalau kita bicara menyiasati pandemi. Kata ‘festival’ itu akhirnya pakai konsep hybrid. Wilayah festivalnya ada di sebelah mana? Pertanyaan itu sendiri yang akhirnya menjadi pertanyaan menarik.

 

Penulis: Dina Tri Wijaya

Agung Kurniawan (atau biasa dikenal Agung Leak) merupakan commission artist Festival Film Dokumenter (FFD) 2021. Sejak tahun 90-an ia telah aktif di dunia seni. Agung memiliki ketertarikan membuat karya seni dengan mengangkat tema dari isu-isu tabu atau isu sensitif. Seperti genosida, politik, perempuan, transgender dan lain sebagainya.

Tim FFD berkesempatan mewawancarai Agung yang memaparkan pandangannya terkait dokumenter, makna karyanya untuk perupaan FFD tahun ini, serta harapannya untuk FFD secara umum. Berikut wawancara lengkap kami dengan Agung Leak:

 

Bagaimana Pak Agung melihat FFD secara umum?

Saya mengetahui FFD sejak lama sekali, kalau tidak salah sejak pertama digagas. Kemudian informasi tentang FFD saya peroleh dari kantornya langsung, karena kebetulan dekat tempat saya biasa nongkrong pada waktu itu. Tahun lalu juga festivalnya (diadakan) di Kedai Kebun ya,  jadi saya juga menikmatinya langsung. Secara fisik dan secara festival, saya sudah mengenal dengan cukup baik. Saya juga kenal beberapa orang yang sebagai penggiatnya.

Secara festival, saya kira Festival Film Dokumenter itu punya peran yang sangat penting,terutama pada hari ini. Karena saat ini yang berkuasa dalam rezim kesenian adalah rezim industri kreatif. Meski banyak kelebihannya, salah satu kelemahan bagi industri kreatif adalah sikap yang cenderung positivistik. Maksudnya, kemudian masyarakat diharapkan untuk berpikir secara positif, memberi kesan positif, jadi semua dalam situasi yang sangat positif. Kemudian hal itu menimbulkan sesuatu yang tidak normal, karena dalam kehidupan tidak bisa kita selalu menerima kesan yang positif. Karena jelas ada “kepalsuan” di situ. 

Nah, film dokumenter menyimpan substansi subversif di dalamnya, karena dia praktis berbeda dengan film fiksi. Lewat dokumenter, bisa muncul sesuatu yang lebih kritis karena film dokumenter bersifat personal. Film dokumenter ini menampilkan sisi kritis dan mencoba melihat manusia dari seluruh aspek kehidupannya secara lebih berimbang, terhindar dari intervensi pihak-pihak yang mengekang. Saya kira dalam konteks itulah FFD menjadi penting, karena ia memberi ruang  untuk menyuarakan  sisi balik senyap dari situasi hari ini. Sesuatu yang sulit disampaikan dalam film-film fiksi, sesuatu yang sulit ditangkap oleh festival-festival lain, katakanlah seperti tari atau lain sebagainya. 

 

Apa yang ingin Pak Agung gambarkan melalui karya yang dibuat untuk FFD 2021?

Saya diminta  menceritakan tentang ketabahan dan kengototan. Awalnya, saya berpikir repot juga. Bagaimana kita membayangkan situasi itu?

Kemudian saya kembali pada model pemikiran saya tentang film dokumenter, film fiksi, dan dunia kreatif industri. Saya melihat film dokumenter punya sifat yang lebih kritis dan lebih sederhana. Pada faktanya, dia punya persistensi yang lebih kuat karena secara umum dia lebih mandiri. Sehingga saya berpikir apa yang bisa menggambarkan situasi itu? Ketika saya ngomong tentang industri kreatif, saya membayangkan mereka itu seperti burung merak, burung berkicau, atau burung-burung hias lainnya. Lalu ketika berpikir tentang film dokumenter, saya membayangkan mereka seperti serangga. 

 

Kenapa serangga? Bisa dijelaskan lebih jauh?

Serangga adalah suatu jenis makhluk hidup yang paling tidak bisa dikalahkan dan dia tidak mungkin punah. Contohnya kecoa, dia tidak akan punah. Beberapa penelitian menunjukkan perang nuklir sekalipun tidak bisa membuat kecoa punah. Bahkan ketika dipotong kepalanya, dia masih bisa hidup untuk beberapa waktu. 

Kemunculan serangga dalam beberapa kebudayaan dianggap sebagai sebuah hukuman. Munculnya serangga dalam jumlah yang banyak itu artinya ada sesuatu yang salah. Jika kemudian ada banyak film dokumenter, ada banyak orang yang mulai merekam dan mendokumentasikan berarti ada hal yang ingin mereka bicarakan. Jadi film dokumenter tidak beda dengan serangga, secara ideologis dia sama dengan serangga. Berbeda dengan film fiksi, mereka burung merak, burung berkicau atau burung beo yang ditugaskan untuk menghibur. Kalau film dokumenter esensinya adalah bertahan hidup, menyerang dan mengingatkan jika ada suatu hal yang salah. 

Kalau banyak serangga muncul dalam ekosistem pasti ada sesuatu yang salah. Misalnya karena jumlah predatornya berkurang, ini membuktikan adanya ketidakseimbangan alam. Serangga itu jumlahnya tidak boleh terlalu banyak dan tidak boleh terlalu sedikit. Jika terlalu banyak, menandakan ada masalah. Jika terlalu sedikit juga ada masalah. Posisi yang berimbang itulah yang harus dipegang oleh film dokumenter. Kalau film dokumenter terlalu sedikit maka ada suatu masyarakat yang tidak cukup kritis memandang dunianya. Itu adalah cara pandang saya tentang bagaimana film dokumenter diposisikan pada saat ini. Film dokumenter itu serangga, jadi dia harus jadi penanda. Penanda zaman, ini kita sedang baik-baik saja atau ada sesuatu yang salah. 

 

Ada hal menarik yang pak Agung alami ketika mengerjakan karya untuk FFD 2021?

Secara pribadi, karya yang saya buat untuk FFD itu membuat saya punya ide membuat wayang. Sekarang saya membuat proyek baru yang akan bekerja dengan wayang kulit. Hasil dari saya mendapat commission work dari FFD. Saya selalu menganggap commission work itu sebagai sebuah keuntungan. Karena saya bekerja dalam situasi khusus dengan tema khusus. Kemudian nanti saya refleksikan dengan situasi saya saat ini, sehingga mendapatkan ide untuk membuat karya baru. Serangga yang saya buat untuk FFD membuat saya memiliki karya baru. Karena jika saya tidak menjadi commission artist di FFD saya tidak akan menemukan tema ini. 

 

Apa yang Pak Agung harapkan dari interpretasi khalayak akan karya Bapak untuk FFD 2021 ini? Karena tidak semua orang dapat memahami karya seni dengan mudah.

Untuk melihat karya seni itu sebenarnya dibutuhkan sebuah preferensi. Tapi ketika mereka membaca penjelasan saya, mereka bisa membayangkan ya menjadilah serangga, jadilah makhluk hidup yang tidak cepat mati, serta hanya tidak jadi hiasan. Saya kira itu nilai ideologis dari festival ini. 

 

Bagaimana Pak Agung melihat FFD yang sudah mencapai 20 tahun penyelenggaraan?

Dua puluh tahun festival itu merupakan sebuah prestasi karena tidak banyak yang bisa mencapai itu. Ketika dia mampu bertahan selama itu, mungkin karena FFD tidak berupaya menjadi terlalu besar. Tetap kecil, tetap sederhana, sehingga kemudian cost-nya tidak sebesar untuk membuat festival yang megah. Saya kira itu pencapaian yang luar biasa. Saat ini kita menghadapi situasi yang sulit yaitu pandemi dan tetap berlangsung, ini luar biasa. Saya kira tidak semua festival mampu melakukannya. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir FFD sudah bersifat internasional.

Mungkin saran saya, FFD tidak perlu setiap tahun sekali. Jadi dua tahun sekali, sehingga punya ruang, punya waktu, punya sarana untuk lebih reflektif. Kalau setahun sekali itu berarti, begitu selesai langsung persiapan untuk tahun berikutnya. Sehingga ruang untuk refleksinya tidak cukup banyak.  

 

Bagaimana Pak Agung melihat kehadiran FFD di tengah gairah festival seni (secara umum) di Indonesia (atau Yogyakarta)?

FFD harus membayangkan bagaimana posisinya diantara festival-festival lain di Asia. Kalau kita bicara FFD secara tidak langsung kita tidak hanya membicarakan secara nasional, tapi juga kawasan Asia Tenggara. Kalau kita bicara Indonesia saat ini tidak hanya Indonesia, tapi bagaimana Indonesia berkontestasi di wilayah Asia tenggara. Jika membicarakan FFD di Indonesia, secara tidak langsung kita juga membicarakan FFD di Asia dan di dunia karena FFD memiliki posisi strategis. FFD harus mampu mencari nilai strategis yang tidak bisa diperoleh di festival-festival lain.

 

Bagaimana Pak Agung melihat keinginan FFD untuk terus menghadirkan/memperkenalkan isu dan diskusi di masyarakat melalui medium dokumenter?

Saya kira medium dokumenter adalah medium yang sederhana ya. Lebih hemat biaya dibandingkan film fiksi yang menghabiskan banyak biaya. Nilai penting dari dokumenter yang harus dijaga, yaitu tetap sederhana. Dulu tahun 90-an ada kamera prototype, kemudian orang mulai merekam apa yang mereka lihat. Nah sekarang dapat dilakukan dengan handphone. Saya kira suatu saat FFD harus mengadakan workshop tentang bagaimana melakukan editing film dokumenter melalui handphone. Pada dasarnya semua orang adalah sineas dokumenter

 

Sebagai seniman yang menikmati gelaran FFD, apa harapan Pak Agung untuk FFD ke depannya?

Tetaplah menjadi kecil dan sederhana, karena dengan itu terbukti FFD bisa bertahan selama 20 tahun. Jangan tergoda untuk menjadi besar dan bercahaya, karena itu membuat kita bekerja untuk menyenangkan orang lain dan kehilangan esensi awal. Jangan bekerja untuk menyenangkan orang lain, saya kira tujuan dari kerja kreatif.

 

Penulis: Dinda Agita

Slamet Thohari adalah dosen Departemen Sosiologi Universitas Brawijaya yang banyak bergelut di isu-isu inklusivitas. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya selama tujuh tahun serta merupakan ketua untuk Indonesia di AIDRAN (Australia Indonesia Disability and Advocacy Network). Dia menyelesaikan studinya di Departemen Filsafat Universitas Gadjah Mada dan Department of Sociology di University of Hawaii at Manoa. Bidang penelitiannya meliputi studi difabel, interseksionalitas, sosiologi kesehatan, gender, dan Islam di Indonesia. 

Festival Film Dokumenter 2020 mengundang Slamet Thohari sebagai pembicara dalam sesi DocTalk bertajuk Voice: Virtual Reality, Lintas Medium dan Dampak Baru Dokumenter.  Pada Jumat, 11 Desember 2020, kami berkesempatan mengulik lebih lanjut sudut pandangnya mengenai isu difabel dan kaitannya dengan kehadiran teknologi lintas medium.

 

Bagaimana Anda memandang aksesibilitas platform digital saat ini? 

Dunia digital ini menghadirkan banyak perubahan dan juga instrumen revolusioner bagi difabel yang menjadi jalan bagi ilmu pengetahuan. Semuanya kini aksesibel. Dulu tunanetra untuk membaca koran atau buku itu harus dibacakan atau (pakai huruf) braille. Tapi dengan adanya website, soft file, dan bermacam-macam itu menjadikan mereka menikmati berita yang orang lain juga baca. Mereka juga bisa bermedia sosial. Dulu kan tidak. Koran pagi itu dulu mereka tidak baca, hanya dengar-dengar saja.

Masalahnya, ada hal-hal yang tidak bisa dibaca oleh screen reader. Misalnya gambar poster tanpa teks, itu susah dibaca oleh aplikasi. Sehingga tunanetra kalau membaca pengumuman atau buku panduan yang formatnya gambar itu tidak bisa dibaca. Mereka tidak bisa mengakses itu. Demikian pula dengan film. Kini, YouTube juga menyediakan narasi dari apa yang ada di gambar. Maka dulu ada gerakan membuat narasi sebuah film. Seperti film yang baru saja rilis, Sejauh Melangkah (2019) karya Ucu Agustin itu ada aksesibilitasnya. Termasuk film-film dokumenter yang ditampilkan di sini ada akses seperti itu. Sehingga bisa dinikmati tunanetra.

 

Bagaimana pandangan Anda dengan kehadiran program The Feelings of Reality?

Itu menyuguhkan hal yang baru bagi penyandang disabilitas. Khususnya Tuli, dia bisa menikmati suasana yang ada. Kemudian dia akan menganalisis semua gerak bibir, kedipan, mimik dan ruangan. Virtual reality-lah yang bisa menghadirkan hal seperti itu. Tapi masalahnya kemudian adalah, bisakah virtual reality itu juga dinikmati oleh tunanetra?

Itu menjadi problem. Banyak sekali website-website bahkan menurut penelitian, 70 website pemerintah standar aksesibilitasnya itu di bawah 80%. Artinya itu nilai rendah banget. Bahkan Menkominfo itu cuma 42%. Artinya itu sulit diakses. Jadi memang harus disiapkan. Ini menawarkan hal yang bagus, tetapi masih perlu dikembangkan lebih luas.

 

Kesadaran atau hal apa yang masih perlu dibangun?

Narasi dari cerita atau gambaran. Misalnya sebuah video itu di bawahnya ada link teksnya. Yang kedua ada hal-hal yang perlu dikembangan dalam video virtual reality adalah perspektif si membuat film.

Perspektif dalam membuat film yang pertama adalah banyak film-film yang dibuat menurut saya, dia melihat difabel dalam kacamata nondifabel. Contohnya antara saya dengan Anda memiliki kemampuan yang berbeda. Dunia saya kadang bergoyang-goyang, maka apakah film juga menghadirkannya? Terkadang film itu hanya menghadirkan perspektif polos, bagus dan rapi. Begitu juga dengan tunanetra ketika sedang mengamati sesuatu, itu kelihatan. Padahal dunia tunanetra itu kan gelap. Dengan demikian, ia di situ masih menjadi objek. Sehingga pengalaman menjadi tunanetra itu tidak dapat, yang ada pengalaman bersanding dengan tunanetra. Bukankah tujuan dari virtual reality itu salah satunya supaya kita ada di situ? Tujuan orang menonton dokumenter soal tunanetra salah satunya adalah merasakan bagaimana menjadi bagian dari mereka.

Selanjutnya saya sangat senang, ketika film itu tidak menceritakan berita sedih tentang difabel. Seolah difabel di-setting untuk memberikan inspirasi bagi nondifabel. Itu gak bener model seperti itu. Difabel bukan alat inspirasi bagi nondifabel. Difabel adalah kehidupan keseharian yang berbeda, sama dengan yang lain. Menariknya film ini, tidak ada hal semacam itu. Tetapi yang tunanetra, bagi saya itu agak berjarak, tidak ikut di dalam ceritanya.

 

Menurut Anda, sejauh apa dokumenter memiliki pengaruh terhadap inklusivitas di masyarakat secara luas? 

Apapun itu, film sangat memberi pengaruh. Dia adalah satu bagian dari alat advokasi untuk memberikan literasi dan awareness kepada masyarakat perihal isu difabel agar masyarakat menerima. Kadang ketika kita berkoar-koar di media sosial itu hanya akan menjadikan masyarakat jenuh. Tetapi dengan melihat film dia akan tahu fakta kehidupan sehari-hari yang dipotret dalam dokumenter. Dulu sempat ada festival film difabel, itu seharusnya dijalankan terus. 

Sekarang ini banyak orang menekuni dan aware terhadap isu difabel, meskipun masih jauh dari implementasi. Tetapi setidaknya orang sudah membicarakannya. Itu tidak lain adalah peranan dari pembuat film.

 

Apa yang perlu diperhatikan atau saran Anda dalam pembuatan film dokumenter yang inklusif? 

Pertama adalah perspektif. Kemudian sejauh mana film itu dapat dinikmati oleh orang banyak, termasuk aksesibilitasnya. Perspektifnya kalau bisa jangan menjadikan difabel itu objek charity, sumber inspirasi, dan mendramatisir kehidupan mereka. Sehingga mereka harus dikasihani. Tapi hadirkanlah film difabel yang apa adanya.

Jadi yang perlu diperbarui adalah paradigma dan perspektif dalam membuat film soal difabel. Dia tidak kemudian menceritakan penderitaan difabel, seolah-olah difabel hebat dengan kekurangannya. 

 

Bagaimana perspektif suatu medium itu dapat menciptakan pengalaman tertentu yang dapat menggugah kesadaran akan isu difabel?

Dari riset. Dan cara pandang terhadap difabel. Misalnya kita memandang perempuan, ya itu sebagai subjek bukan objek. Maka sebelum itu kita harus belajar feminis. Begitu pula saat membuat film soal difabel, kita belajar perspektif soal disabilitas. Itu yang kurang menurut saya. Tapi setidaknya representasi difabel di dalam film itu naik-turun. Dia berubah dari tahun ke tahun. Sekarang ini sudah lumayan bagus. Jadi riset itu memang penting sekali. Sehingga itu inklusif; film itu melibatkan difabel sejak awal. Jadi memberikan mereka ruang untuk bicara, bukan menyuarakan mereka.

 

Mengapa objektifikasi semacam ini ada dan apa peran teknologi ini terhadap hal tersebut?

Itu karena bagian dari proses konstruksi yang menjadikan penyandang disabilitas itu difabel. Bahwa mereka memberi inspirasi kan mengherankan. Itu adalah bentuk stigma. Televisi, film dan seterusnya itu menjadi bagian besar atas pembentukan itu. Itu adalah bagian dari diskriminasi, cara nondifabel mengkonstruk difabel bahwa mereka sebagai orang yang lemah, tidak mampu.  Sehingga mereka menjadikan mereka sebagai inspiration porn, yang tujuannya hanya menyenangkan diri bagi penonton.

 

Bagaimana pandangan Anda soal representasi difabel sebagai subjek di dalam produk audio visual secara umum?

Harus diakui masih ada stigma. Kalau tidak inspiration porn, ya pandangan medis. Pandangan yang sesuai dengan Hak Asasi Manusia itu, seperti di kalangan aktivis, mereka masih memandang difabel sebagai golongan yang tidak mampu dan harus ditolong. Itu bisa dilihat dari berbagai kebijakan di daerah maupun pusat.

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Hardiawan Prayoga adalah arsiparis IVAA (Indonesian Visual Art Archive), yang bertanggung jawab mengelola Arsip IVAA yang komprehensif dan mudah diakses. Ia adalah lulusan studi pascasarjana di Universitas Gadjah Mada program studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa.

Kami berkesempatan mewawancarai Hardiawan Prayoga yang pada tahun ini berperan sebagai narasumber program Lanskap: Indonesia dalam Dokumen, Pemanfaatan Arsip Film Dokumenter. Dalam wawancara ini, Hardiawan Prayoga memaparkan pentingnya pengarsipan karya audiovisual, masa depan arsip film dokumenter Indonesia hingga tanggapannya terkait program diskusi yang diselenggarakan FFD.

Berikut wawancara lengkap kami dengan Hardiawan Prayoga:

 

Secara umum, bagaimana mas Yoga memandang kerja-kerja pengarsipan di Indonesia? Apa yang sudah baik? Apa yang perlu ditingkatkan?

Pengarsipan di Indonesia yang jelas tidak bisa diseragamkan di dalam satu bentuk ideal sih. Kecuali mungkin dia berangkat dari kepentingan institusi negara. Sementara itu, di wilayah yang lebih komunal lebih komunitas itu pengarsipannya dilakukan dengan ragamnya masing-masing.

Sebenarnya yang perlu dilihat ulang adalah keragaman model pengarsipannya. Saya percaya sebenarnya semua komunitas melakukan kerja pengarsipan dengan caranya masing-masing, dengan konsekuensinya masing-masing.

 

Indonesia punya ragam model pengarsipan yang coraknya berbeda-beda. Sebagai salah satu sosok yang terjun langsung pada kerja-kerja pengarsipan, menurut mas Yoga, sejauh mana karya audiovisual perlu diarsipkan? Apa pentingnya? Siapa yang harus melakukan?

Itu sebenernya bisa dibilang kalau film sendiri itu sudah arsip ya. Banyak yang meyakini film bagian dari representasi atas kenyataan. Nah, karena ada keyakinan dari itu, seolah-olah kita bisa melihat film juga sebagai arsip sebenarnya. Karena membuat film juga kerja pengarsipan, maka sudah sewajarnya menjadi bagian yang ikut dikelola sebagai arsip. Untuk siapa yang mengelola, sebenarnya semua orang yang berkepentingan, semua pelaku dalam ekosistem perfilman juga perlu melakukan pengarsipan.

 

Sejauh mana masyarakat umum perlu terlibat dalam pengarsipan karya audiovisual?

Masyarakat umum yang tidak seumum itu. Menurutku yang perlu melakukan kerja pengarsipan secara intens itu ya mungkin yang memang berkepentingan. Siapapun dalam elemen masyarakat yang merasa punya kepentingan untuk menggunakan arsip atau merasa bahwa arsipnya punya potensi digunakan lagi di masa depan, ya dia pasti orang yang melakukan kerja pengarsipan. Tidak didefinisikan dengan yang umum atau yang khusus. Ya ga tau juga sih kategori itu, gimana definisi detailnya. Tapi bagi saya, siapapun yang merasa berkepentingan untuk menganggap bahwa arsip punya sesuatu yang penting jadi bagian dari hidupnya penting untuk melakukan kerja pengarsipan.

 

Apakah edukasi kepada masyarakat mengenai cara mengakses arsip  karya merupakan hal yang penting?

Selama kalau itu arsip yang bagi dia merasa perlu dipublikasikan ya itu harus dipublikasikan. Cuma kan problem-nya tidak semua arsip itu terbuka untuk diakses oleh publik. Jadi sebenarnya soal hak akses itu juga dipegang sepenuhnya oleh pembuat arsipnya atau pemegang kuasa dari arsipnya. Kita sadar bahwa arsip itu penting, tapi di satu sisi juga ada arsip yang kita ga bisa akses.

Kaya info-info tentang ‘65 atau kekerasan yang dilakukan oleh negara, itu kan informasinya tidak semudah itu untuk dibuka. Nah, itu ada situasi yang berbeda soal akses. Dan ketika arsip udah kita publikasikan ke publik, harus dipikirkan juga bagaimana karakter user-nya. Karakter pengguna dari arsipnya, apakah sesuai dengan model pengarsipan yang kita lakukan atau model publikasi arsip yang dilakukan.

 

Menurut Anda bagaimana masa depan arsip film dokumenter Indonesia?

Kalau film sebenarnya saya kurang begitu menguasai. Tapi kalau bagi saya sih, selama dunia kesenian ini bergerak. Selama masih ada orang bikin film, selama masih ada orang melakukan kerja-kerja kebudayaan dan kesenian ya pengarsipan tetap akan jalan dengan berbagai caranya dengan berbagai macam metodenya. Ya kan kita ga tau ke depannya akan berkembang teknologi yang lebih canggih di bidang internet atau justru kembali ke model-model analog yang membuat orang sengaja membatasi akses. 

Tapi kalau sekarang, (saya percaya) ke depannya akan banyak terobosan yang lebih canggih di akses teknologi internet. Cuma yang jadi titik berangkat diskusi panjangnya adalah yang mungkin pas diskusi DocTalk sudah banyak disinggung; bahwa problem hak akses terhadap arsip yang semakin terbuka di masa teknologi ini kan jadi problem yang lain. Mungkin ke depannya pembicaraan selain soal kecanggihan teknologi pengarsipan, juga soal kebijakan dan akses-akses khusus pada arsip tertentu. Tentang hak cipta, hak intelektual gitu. Untuk ke depan mungkin (isu-isu semacam itu) akan lebih banyak dibahas.

 

Mas Yoga pernah terlibat dalam penyelenggaraan program diskusi FFD di tahun lalu. Dari pandangan mas Yoga, seperti apa sih posisi FFD sebagai pengedar wacana di khalayak, khususnya terkait persoalan sosial politik dan dokumenter? Apa yang kurang? Apa yang perlu dipertahankan?

Saya melihat kadang acara diskusi di acara-acara film itu memang berusaha untuk membicarakan persoalan yang dialami oleh teman-teman yang bergelut di bidang film aja, atau memperluas diskusi (ke ranah) yang lebih luas. Tidak hanya di wilayah untuk orang-orang yang melakukan kegiatan film. Dan ga tau apakah tema-tema yang dibuat di acara-acara diskusi ini memang sesuatu yang dicoba ditingkatkan kualitas diskusinya dari tahun ke tahun. Saya ga tau karena sebenarnya sudah cukup banyak acara yang membikin diskusi di acaranya. Entah yang sifatnya nempel di pemutaran film atau diskusi yang berdiri sendiri. 

Tapi apakah kemudian diskusi ini menjadi bagian yang lebih luas dari sekedar obrolan di anak film aja? Apakah itu memang visinya? Saya ga tau. Itu mungkin jelas visi yang dibentuk oleh FFD sendiri. Tapi menurut saya, sebagai publik yang lebih luas yang mungkin mencoba memandang dari luar sepertinya pembicaraan yang tidak hanya melihat film sebagai kepentingan anak-anak film tu bisa coba lebih ditekankan. Karena saya melihat FFD ini festival yang penontonnya lebih umum daripada festival film yang lain. Karena itu, sebenarnya (FFD) memiliki potensi publik yang lebih luas untuk membicarakan isu-isu yang mungkin tidak hanya berputar soal produksi film atau apalah.

Yang perlu dipertahankan ya program diskusinya. Ada satu program yang berusaha jadi bagian dari edukasi publik itu adalah sesuatu yang menarik. Sesuatu yang sangat penting dipertahankan adalah semangat untuk terus menjadi bagian dari obrolan yang berputar di sekitar pembuatan film. Ada upaya untuk  terus terlibat dalam diskusi, obrolan atau percakapan di seputar film itu menarik. Itu harus dipertahankan.

 

Bagaimana pengalaman Anda di FFD yang digelar secara daring saat ini?

Mungkin pengalaman datang ke festival, tapi rasanya ga datang ke festival. Rasanya kaya nonton film di platform daring gitu. Biasanya kalau datang ke festival yang offline itu terasa sekali bahwa saya sedang mendatangi salah satu festival. Meskipun nonton filmnya juga masuk dulu ke websitenya FFD. Tapi saya di sini merasa “oh ini ga kaya datang ke festivalnya”. Malah jadi pengalaman yang asyik kalau saya pribadi. Jadi udah masuk jadi satu dalam satu kesatuan presentasi filmnya. Juga sudah melupakan lagi label branding-nya, sudah lepas dari bayang-bayang itu. 

Ini pengalaman menonton yang paling enak, paling luwes dibandingkan yang harus datang. Pengalaman nonton film yang paling santai, karena kita bisa nonton sambil tiduran. Kalau nontonnya ngantuk terus ketiduran kita ga akan terlewat, nanti bisa nonton lagi. Sampai empat hari ke depan. Jadi pengalaman yang baru untuk ke festival. semoga penemuan yang sekarang bisa dipertahankan, meskipun pandeminya sudah selesai.

 

Penulis: Dinda Agita

Gayatri Nadya adalah distributor film di KOLEKTIF, sebuah inisiatif distribusi dan pemutaran yang berkolaborasi dengan berbagai komunitas film di Indonesia. Ia juga sempat menjadi tim kurator dan juri di kompetisi film pendek Festival Sinema Prancis, Bandung Shorts, dan menjadi Luang Prabang International Film Festival Motion Picture Ambassador sejak 2017. Nana baru saja menyelesaikan Fellowship Program di SEAD 2019-2020 dan juga masih aktif menggawangi Sinema Paradisco, podcast tentang film.

Kami mewawancarai Gayatri Nadya yang berperan sebagai salah satu dewan juri pada program kompetisi FFD 2020, kategori dokumenter pelajar. Selain itu, Nana (sapaan akrab Gayatri juga menjadi moderator pada program DocTalk Platform Daring dan Disrupsi Tontonan. Pada kesempatan ini, Nana memberikan pendapatnya tentang perkembangan dokumenter pelajar sejak pandemi terjadi, distribusi dokumenter pelajar di masa pandemi serta harapannya untuk dokumenter pelajar Indonesia.

Berikut wawancara lengkap kami dengan Gayatri Nadya:

 

Menurut Anda fenomena apa yang banyak terjadi namun belum mendapat perhatian filmmaker pelajar Indonesia?

Menurut saya yang menarik itu ketika ada isu yang sedang terjadi; apakah itu baru atau sedang dibahas saat itu. Saya pengin melihat betapa isu itu relevan buat pelajar. Misalnya. ada dua isu; yang satu tentang disabilitas, satunya lagi isu pembangunan. Itu adalah isu yang bisa ditemukan di manapun; mau itu pelajar, mahasiswa, atau umum. Saya pengin lihat mereka berbicara dari kacamata sebagai pelajar, sebagai generasi muda. Apa yang membuatnya terasa beda, kalau keluar dari filmmaker pelajar. Kalau yang membuat film seperti ini mereka aktivis atau orang-orang yang sudah lama bergelut di isu ini, pandangannya pasti berbeda. 

Sebagai pelajar, menurut saya mereka bisa memberi kacamata yang sangat segar. Apakah artinya mereka perlu membuka perspektif baru yang tidak terpengaruh oleh pihak-pihak lain atau mencari sesuatu yang dekat itu tidak harus isu-isu yang besar. Mungkin kita yang udah bukan pelajar, udah ga tau lagi masalahnya anak-anak sekolah. Jangan-jangan sudah tidak relevan dengan yang sudah lebih dewasa? Itu yang pengin saya tau. Cara mereka melihat isu itu ga selalu yang besar, tapi yang dekat. Ketika diputar ke pelajar lain, yang merasa satu nasib, itu akan lebih banyak diskusi yang bisa terbuka. Lebih banyak pandangan atau respon dari sesama angkatan itu. Dibanding dari yang berbeda generasi. 

 

Bagaimana Anda memandang perkembangan dokumenter pelajar di Indonesia sejak pandemi terjadi? 

Saya ga terlalu tau finalis (dokumenter pelajar FFD 2020) membuat filmnya ketika pandemi atau sudah selesai sebelum pandemi terjadi. Tidak terlalu terbaca juga. 

Dari film-film (secara umum) yang dibuat selama pandemi, mungkin ada beberapa hal (yang mirip). Mereka mengalami keterbatasan. Keterbatasan produksi, mereka tidak bisa ke tempat yang sudah disurvei atau diriset. Mungkin juga topik-topik yang ingin diangkat jadi lebih terbatas. Sebenarnya ini menarik; apakah keterbatasan itu membuat keterbatasan berkarya? Padahal pada keterbatasan itu, mereka bisa meng-capture sesuatu yang luput dari orang-orang. Lagi-lagi soal kedekatan, pembuat film dapat melihat fenomena atau isu yang dekat dulu. Bisa saja fenomena tersebut merupakan satu hal yang hanya bisa terekam ketika pandemi. 

Mungkin ketika sudah tidak ada pandemi, orang-orang akan berbicara hal lain, dan hal-hal tersebut tidak ada yang mendokumentasikan. Keterbatasan produksi sebenarnya membuat konsep produksi yang jarak jauh atau dengan orang yang terbatas. Itu bisa sangat unik kalau para pelajar yang membuat dokumentasi selama pandemi. Menjadi satu rekaman yang mungkin tidak akan terjadi lagi di 2021. Menarik untuk menandakan satu zaman yang hanya bisa bergantung pada sedikit jumlah orang atau keterbatasan kita akan ruang. 

 

Bagaimana tanggapan Anda mengenai distribusi film pelajar yang dilakukan melalui platform daring?

Ini menarik ya, ketika mereka belajar formalnya sudah daring dan berkarya juga daring. Satu hal yang saya khawatirkan adalah kebosanan terhadap semua orang yang menikmati konten daring. Ketika menonton film atau tontonan, pasti maunya ada hiburan. Gimana caranya pembuat film mengkomposisi tontonan ini atau penyelenggara acara (dalam konteks ini adalah festival atau ekshibitor) mulai berubah menjadi daring itu membuat konten-konten yang masih enak dilihat? Mungkin pendek-pendek, tidak langsung nonton film dua jam. Itu mempengaruhi skema distribusi.

Kami pelaku distribusi perlu juga mencari strategi. Bagaimana supaya orang mau menatap layar lagi, yang tujuannya adalah hiburan? Diharapkan ada sesuatu yang baru. Apalagi kalau buat pelajar nonton film lagi setelah mereka seminggu menatap layar dan ditambah tugas-tugasnya yang berat. 

Menurut saya itu challenge buat pelaku distribusi dan juga pembuat film; bagaimana supaya tidak ada kebosanan. Apalagi isu-isu dokumenter kan banyak yang menganggap “serius”. Apakah itu tetap bisa menarik buat orang, terutama teman-teman pelajar untuk menikmati konten-konten dokumenter? Strategi yang perlu dibuat atau mungkin masih dieksplorasi itu komposisi program. Tidak bisa hanya nonton film dokumenter, harus ada sesuatu. Misalnya dapat ditambahkan program diskusi setelah pemutaran film atau mungkin dapat juga memperpanjang rentang waktu menonton. Memperpanjang rentang waktu menonton di sini maksudnya adalah penonton diberikan kesempatan menonton satu film dengan rentang waktu beberapa hari tidak harus hari itu juga selesai. Jadi artinya waktu kita untuk menikmati film itu lebih panjang. Orang nanti mikirnya wah hari ini gak usah nonton banyak-banyak dulu, tapi dapet kontennya. Seperti yang sekarang dilakukan FFD dengan daring. Waktunya cukup longgar, jadi menyantap konten itu ga buru-buru. 

 

Apa harapan Anda untuk dokumenter pelajar Indonesia?

Saya masih perlu melihat dokumenter pelajar di tempat lain, bahkan di luar festival. Mungkin ketika ada festival dia ada wadahnya, namun ketika tidak ada festival dia harus ke mana? Saya masih perlu melihat itu dulu.

Mungkin dari finalis-finalis yang udah ditonton di FFD ini, saya sih pengin lihat sesuatu yang sangat dekat dan relevan buat mereka. Tapi juga bisa dimengerti sama yang bukan pelajar, lebih penting sesama generasinya itu. At the end of the day, sebenernya bikin film itu buat penonton. Tapi ketika penonton yang disasar itu ada di dalam circle mereka sendiri, saya rasa responnya akan lebih menarik. Seperti berbicara pada diri sendiri, tapi bukan bikin film untuk diri sendiri.

Menurut saya itu yang lebih bisa banyak dieksplor, apalagi kalau nanti bisa memengaruhi sesama pelajar. Meskipun sama-sama pelajar belum tentu sama-sama filmmaker. Menurut saya itu penting, karena yang namanya dokumenter itu menariknya benar-benar bisa sangat bebas. Tapi sebebas-bebasnya itu perlu juga diberi respon. Respon itu penting dari sesama pelajar yang ada meskipun bukan dari sesama filmmaker. Itu sih, mencari sesuatu yang relevan dan bisa dieksplor. 

 

Bagaimana pengalaman Anda di FFD yang digelar secara daring saat ini?

Ini seru sih, karena saya terakhir ke FFD itu dua tahun lalu, kebetulan absen tahun lalu. Challenge-nya semua kegiatan pemutaran online kan kita tahu lah dengan pembajakan juga tadi kebosanan menatap layar. Jujur dengan adanya yang versi online tahun ini dari FFD, sebenarnya cukup memangkas waktu dan juga mungkin keterbatasan ruang. Tidak bepergian ke suatu tempat sudah tidak masalah dan kita juga bisa mengatur waktu kita untuk menonton film yang mana tanpa terbatas jadwal. Sebenarnya ini satu hal yang sangat solutif buat banyak orang dan juga dengan platform yang cukup aman. Saya rasa ini bisa jadi satu jawaban juga buat saya, sebagai distributor juga buat temen-temen yang ingin menikmati film dengan cara daring. Karena kita tidak tahu keterbatasan ini akan sampai kapan. Satu hal yang menarik juga untuk teman-teman penonton dan juga pelaku distribusi untuk mulai beradaptasi. 

Kita tidak bisa berharap semua benar-benar kembali normal karena tidak akan ada normal lagi menurut saya setelah ini. Jadi ini satu cara untuk pembuat film, penikmat dan juga distributor belajar gimana membagi-bagi film yang tentunya tidak akan menghilangkan luring. Daring ini tetap akan jadi salah satu senjata baru buat kita semua. Menarik sekali, sudah saya rasakan di FFD jadi bukan satu hal yang gagap lagi bagi banyak orang. Sudah sangat dipermudah, menjadi complimentary.

 

Penulis: Dinda Agita

Eric Sasono adalah salah satu pendiri Indonesian Film Society, London, yang menyelenggarakan pemutaran film Indonesia secara reguler di London. Ia menyelesaikan pendidikan doktor bidang kajian film di King’s College, London dan pernah menjadi anggota dewan pengawas Indonesia Documentary Film Centre atau InDocs (2009-2019) dan JIFFest (2009-2011). Menjadi international advisor board Asia Film Award, Hong Kong (2010-2014). Saat ini sedang menyelesaikan buku mengenai film Islam di Indonesia rentang tahun 1960 sampai 2018.

Ia beberapa kali terlibat dalam FFD dan tahun ini kembali menjadi salah satu juri dalam kompetisi kategori Panjang Internasional sekaligus pembicara diskusi dalam DocTalk Platform Daring dan Disrupsi Tontonan FFD 2020.

Pada Rabu, 9 Desember 2020, Eric berbagi banyak perspektifnya tentang film kompetisi yang ia nilai hingga budaya menonton pada masa ini.

 

Bagaimana sebuah film dokumenter mampu memengaruhi posisi penonton sebagai bagian dari kehidupan sosial?

Persoalannya itu bertanya dalam posisi dia dalam kehidupan sosial politik. Tapi kan tidak semua film dokumenter ditujukan untuk membuat advokasi atau opini yang menginginkan penonton seperti itu. Mungkin kalau dalam film tertentu seperti Aswang (2019), terasa ada aspek yang immediate supaya penonton bersikap terhadap kekerasan politik ekstrayudisial seperti itu. Tapi kalau film seperti Tender (2019) misalnya, itu pun sebenarnya fiksi atau dokumenter kita tidak bisa membedakan dan itu tidak penting. Dimaksudkan seperti itu oleh si pembuat film yang lebih banyak melakukan pertanyaan-pertanyaan bersifat sinematik menurut saya.  Konsep ingatan, kenangan, masa lalu, masa sekarang; hal-hal semacam itu yang juga ada di fiksi.

 

Di era disrupsi seperti sekarang ini, kehadiran new media membuat pilihan menonton menjadi sangat beragam. Orang-orang juga kini memiliki preferensi masing-masing. Menanggapi budaya sinema semacam ini, bagaimana tanggapan Anda? Poin dari disrupsi itu sendiri menurut Mas Eric apa sih?

Menurut saya, bagaimanapun menonton film secara kolektif itu tetap penting seperti distribusi dan ekshibisi digital. Meskipun sudah ada fasilitas-fasilitas new media. Terbukti bahwa orang-orang masih ingin pergi ke bioskop. Karena bioskop itu kan orang menyaksikan secara bersama-sama, dalam ruang gelap, dalam situasi yang sifatnya khusus. Itu sesuatu yang tidak bisa didapat dari hanya menonton sendirian di laptop. Misalnya, sering kali kita tertawa pada sesuatu yang mungkin tak terlalu lucu kalau kita menonton sendirian. Tapi kalau di bioskop rasanya lebih lucu karena penonton lain ketawa. Itulah aspek afektual. Respons tubuh kita dipengaruhi oleh atmosfer sekitar kita. Itu sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan metode menonton secara digital perorangan.

Dengan demikian sebetulnya apa yang terjadi adalah diversifikasi model menonton. Yang membedakan mungkin sekarang model menonton dalam bentuk digital melalui perangkat pribadi, dilakukan sendiri di rumah masing-masing akan menjadi semakin banyak. Biasanya akan ada kecenderungan orang yang menonton untuk sharing di media sosial. Hal itu sebenarnya ingin membangun kolektif juga, ingin mencari afirmasi, mencari solidaritas dalam menonton kalau dia merasa tergerak dengan tontonan, atau semata ingin menjadi bagian dari fandom yang lebih besar. Itu semua tak terhindarkan bahwa menonton film sebagiannya bersifat kolektif. Jadi gak bisa dikatakan semata-mata orang berpindah dari bentuk teknologi digital, seperti streaming dan berbagai macam perangkat,  menonton menjadi persoalan individual.

 

Dikaitkan dengan budaya menonton saat ini, film-film mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau. Apakah Anda melihat persoalan lain yang muncul terkait aksesibilitas menonton?

Soal akses, ini sebenarnya kita hidup di zaman yang berbeda. Kalau dulu, katakanlah dua puluh atau tiga puluh tahun lalu, kita hidup di the age of scarcity, yaitu masa dimana segala sesuatu jarang. Sehingga kita mencoba untuk mencari, menemukan, bahkan mengoleksi.

Sekarang adalah the age of abundance, dimana segala sesuatu itu berkelimpahan. Informasi, rekomendasi tontonan, fasilitas, dan sebagainya. Tetapi kalau kita memandangnya hanya itu saja, di situ ada bias. Bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap itu semua. Ada digital divide: perbedaan kemampuan untuk mengakses infrastruktur, juga waktu menonton yang merupakan bagian dari manajemen waktu luang. Tidak semua menggunakan waktu luang untuk menonton.

Semua ini adalah faktor yang mempengaruhi ketersediaan yang begitu banyak. Yang jelas dengan akses sebanyak itu, maka rekomendasi menjadi lebih penting. Hal yang selama ini menjadi patokan itu bisa jadi berubah. Misalnya selama ini orang mengandalkan pada familiarity yang dasarnya adalah genre.

Orang akrab dengan genre action, horor, dan lainnya. Sekarang orang sudah berpikir berbeda, memilih rekomendasi berdasarkan algoritma atau rekomendasi teman. Kalau dalam musik itu sudah terjadi dengan adanya playlist, kita tidak mencari band tertentu tapi mengikuti playlist tertentu. Yang menentukan pola industri sekarang. Ini yang mengubah preferensi orang, preferensi jualan, preferensi musisi, bahkan mempengaruhi estetika.

Dalam film juga demikian. Misalnya bagaimana genre berubah. Orang tidak lagi mengikuti apakah ini fiction, action, ataukah ini genre apa; hal itu longgar sekali sekarang. Padahal itu dulu menjadi hal yang begitu penting, pendefinisiannya begitu ketat. Jadi kalau bicara akses dan penonton kita masih bicara begitu.

 

Terkait akses bagi penyandang disabilitas bagaimana?

Kalau bicara dengan orang-orang yang memiliki fungsionalitas tubuh yang berbeda, menurut saya itu faktor yang lain lagi. Metodenya juga sampai sekarang itu masih belum ada, belum menjadi sesuatu yang dianggap menjadi bagian dari estetika produksi. Orang masih membuat film dengan asumsi bahwa manusia bisa mendengar dan melihat, baru kemudian dilengkapi dengan sesuatu yang berbeda. Masih dengan asumsi bahwa manusia masih bisa berjalan pergi ke bioskop. Asumsinya juga masih asumsi mainstream yang digunakan dalam produksi.

Kita tidak bisa bicara peningkatan akses sebelum asumsi yang minor ini dimasukkan dalam bagian dari produksi. Artinya, ada film yang dibuat untuk orang yang bisa melihat, ada film yang dibuat untuk orang yang tidak bisa mendengar, kan (hingga saat ini masih) gak ada.

 

Adakah catatan penting Anda soal nasib film, khususnya dokumenter di tengah situasi seperti sekarang ini dan ke depannya?

Fenomena ini masih sangat baru. Kita masih melihat bagaimana platform-platform daring yang sudah ada. Bagaimana pola-pola yang terjadi dan bagaimana mereka kewalahan menampung ledakan kunjungan dan pemrograman pada saat pandemi seperti ini. Misal, Viddsee kewalahan dengan aplikasi festival. Festival Scope tiba-tiba meledak dengan aplikasi untuk membuat festival bersama mereka. Platform daring ini mengalami hal seperti itu. Akhirnya, menurut saya ke depan ini akan menjadi lebih stabil dalam melakukan the long tail, seperti yang dikatakan Chris Anderson.

Dia memperpanjang distribusi, usia film. Tetapi apakah ada budaya yang berubah? Atau sejauh apa dia akan terus bertahan? Masih sangat ditentukan oleh banyak hal terkait pandemi. Tidak hanya oleh kultur menonton itu sendiri, tetapi juga bagian dari kultur bepergian, kebijakan-kebijakan terkait kesehatan, dan seterusnya.

Sekarang bioskop sudah mulai dibuka, orang mulai datang, tetapi orang sangat berhati-hati dalam menonton. Menurut saya selagi kondisi angka infeksi masih ribuan, itu masih terjadi. Sebetulnya ada upaya-upaya alternatif seperti drive-in, atau misalnya sinema di dalam tenda. Tetapi bisa dibilang belum berhasil karena kualitas suaranya yang jauh. Jadi akhirya orang masih ke online

Ini pun seperti yang saya katakan tadi, bahwa tidak semua orang punya waktu luang untuk menonton. Dan ini semakin menyulitkan, karena lebih mudahnya orang berpindah pilihan. Berbeda dengan orang yang berniat pergi ke bioskop, beli tiket. Itu kan protokolnya adalah protokol going out. Ada prosedur untuk menonton yang dijalani sebagai sebuah ritual. Menurut saya ritual itu masih belum kembali dalam waktu cepat. Kebiasaan menonton itu tidak bisa membangun ritual yang sedemikian kuat. Itu yang menurut saya masih perlu perumusan ulang ke depannya.

 

Cerita yang kuat itu yang seperti apa?

Aswang (2019) adalah cerita yang kuat menurut saya. Juga Nan (2019) dan La Vida en Común (2019). Cuma saya bayangkan misalnya Yu Gong (2020), itu sketchy banget. Tentang masuknya Cina di Afrika, kemudian dia mengumpulkan footage-footage dari berbagai negara, interview dan membuat kesan yang mitologis dan puitis dengan mengulang-ulang kisah tentang Yu Gong. Menurut saya dia bercerita tentang sesuatu yang berulang-ulang tanpa ada progresi terhadap cerita. Isinya keheranan orang Eropa Jerman terhadap masuknya Cina di Afrika. Itu 40-50 tahun yang lalu terjadi juga ketika kita semua heran dengan orang Eropa masuk ke Asia. Terus sekarang dia yang kaget. Klise.

Matanya masih menganggap bahwa kalau Eropa itu normal-normal saja masuk ke sana, sedangkan kalau China harus dipertanyakan. Menurut saya itu satu pandangan yang masih berbau kolonialis. Itu kritik poskolonial terkait itu.

Atau misalnya juga film spanyol Malditos (2020). Film itu bayangan saya seperti Big Brother (2018) aja. Kalau gak ada filmnya, gak ada event juga. Semua disusun untuk keperluan sinematis. Akhirnya konfliknya dibuat sedemikian rupa, dibikin latar belakang cerita. Menurut saya dia tidak fair terhadap tarian. Tarian yang menjadi bagian utama pertunjukan itu diedit untuk keperluan narasi sedemikian rupa sehingga tidak menyenangkan nonton tariannya. Atau bahkan tidak menimbulkan kesan apa-apa; semua untuk kepentingan narasi. Bagi saya itu ceritanya tipis. Cerita secara visual juga biasa-biasa saja, secara tema juga tidak ada yang baru, tidak immediate sama sekali.

Sebaliknya dengan Aswang (2018) yang sangat immediate, extrajudicial killing, dan menggambarkan makna ketakutan bagi sebuah bangsa. Bagaimana melawan ketakutan itu secara bersama-sama, bisakah itu dilakukan? Itu semua kan pertanyaan yang penting sekali ya, karena berkaitan dengan hal yang nyata setiap hari. Itu kan sesuatu yang menurut saya immediate sekali untuk diceritakan. Kita di manapun di dunia bisa relate.

Apalagi dokumenter seperti yang disebutkan sebagai makhluk sosial ketika menonton, ya memang pada saat seperti itulah kita berpikir juga. Misalnya dalam konteks Indonesia itu kayak apa, kaitannya dengan extrayudicial killing atau apapun. Itu kan mirip tahun 1983, pernah dilakukan di Indonesia terhadap kriminal.

 

Bagaimana Anda melihat perkembangan FFD? Apa yang patut diapresiasi dan apa yang perlu dibahas ulang?

Dulu itu selalu ada kesan pemakluman di FFD kalau berjalan dengan tidak lancar, karena ini adalah kegiatan komunitas, kegiatan student. Ini diakui oleh pelaksana maupun pendiri FFD. Ini kan tempat belajar, gapapa lah salah-salah. Etos semacam itu ada.

Sekarang saya melihat itu sudah jauh berkurang sebetulnya, sejak 2016 saya ke sana terakhir. Sebenarnya sejak 2012 sudah kelihatan FFD sudah mendapat kepercayaan begitu besar dari komunitas film. Sejak 2002 pertama kali dibuat sampai sepuluh tahun di tahun 2012, event-nya agak besar sampai ada ekshibisi-ekshibisi luar ruang.

Kemudian tahun 2016 pelibatan seni rupa untuk mendesain merchandise. Itu semua jauh sekali bedanya ketika FFD 2009, ketika saya masih juri. Meskipun semangat komunitasnya masih. Artinya ini community-based festival yang menurut saya sudah mendapat kepercayaan yang cukup besar dari kalangan film tidak hanya di Indonesia. Karena selalu ada juri internasional. Lalu ada filmmaker Asia Tenggara maupun Asia yang menengok pada FFD.

FFD adalah tempat yang cukup prestisius untuk diikuti. Ketika datang pun suasana komunitasnya terasa, susana festive-nya terasa. Karena kan kita cukup tersentral lokasinya. Itu salah satu keunggulan dari festival film di Jogja, suasananya pun suasana yang komunal yang relatif berpusat di Societet Militaire (Taman Budaya Yogyakarta) terus melebar ke sekitar. Itu sangat menguntungkan.

Apalagi tahun ini sampai ada 200-an submisi untuk internasional, saya dengar. Itu luar biasa menurut saya, sangat luar biasa. Karena produksi lebih banyak, beberapa film yang masuk pun sudah di festival besar terus di-submit lagi.. Ini salah satu tanda kemajuan festival. Bahwa orang-orang mulai mau internasional premiere di sana, menurut saya tinggal menuju ke sana sih FFD.

 

Haruskah terbiasa dengan pemutaran daring semacam ini?

Iya betul, ini menjadi peluang sebetulnya. Meskipun gak harus orang selalu nonton full. Tetapi setidaknya jauh lebih diatas dari biasanya ketika offline. Sekarang tidak hanya Jogja, tapi Jakarta, Manado, Pekanbaru, Medan bisa ikut nonton. Itu diakui oleh Akbar Rafsanjani dari Aceh Menonton, bahwa sekarang kerjanya memburu film aja. Padahal selama ini kalau dia di Aceh gak bisa kemana-mana buat nonton festival. 

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti