Pada Festival Film Dokumenter tahun 2019, Program Docs Docs membicarakan dokumenter pendek lewat tajuk Short!. Persoalan medium dan impresi menjadi variabel yang diulik untuk menemukan posisi tawar dari karya dokumenter pendek sebagai lahan subur bagi kebaruan bentuk. Konsep-konsep yang dituding sebagai bentuk baru dalam karya ini, memunculkan definisi tentang dokumenter eksperimental. Hal itu  yang kemudian meleburkan batas antara dokumenter pendek, eksperimental dan video art. Namun, sebelum jauh membicarakan medium dan impresi dari dokumenter pendek, ada baiknya kita mundur ke belakang untuk menemukan kerangka soal kebaruan bentuk yang lekat dengan film-film pendek.    

Berdasarkan laporan-laporan Gotot Prakosa kepada DKJ tahun 1982, ketika Departemen Penerangan masih ada, film hanya dibedakan menjadi dua, yakni film cerita dan non cerita. Dokumenter berada di ranah noncerita bersama dengan video dan home movie. Dokumenter di masa itu hadir tak ubahnya sebagai video yang dibuat sesuai kebutuhan instansi pemerintah atau kelompok lain. Tentu dengan capaian konsep estetik yang disesuaikan dengan aturan perfilman pada masanya. Lambat laun, kemajuan teknologi yang hadir di Indonesia, mendorong kemunculan film di luar ketentuan pemerintah. Pun dalam gaya penceritaan dan durasi. Kondisi ini terus berkembang hingga lahir beberapa kelompok yang mengusung gagasan khusus dalam kekaryaan. Seperti kelompok Sinema Delapan dengan eksperimentasi kamera 8mm, hingga Forum Film Pendek yang mulai mengurai hakikat film pendek. 

FFD 2019 - Distancing

Karya-karya dengan berbagai eksperimen bermunculan, hingga mendorong Forum Film Pendek untuk memaknai kehadiran film pendek sebagai model dan alternatif film yang tidak berorientasi pada komersialisme. Lebih jauh, forum tersebut mendefinisikan karya ini sebagai film yang berada di luar jalur bioskop dan dinilai dapat menunjukkan sikap pembuatnya secara utuh. Film pendek di sini mencakup film cerita pendek, home movie, eksperimental, animasi, dokumenter, serta karya lain yang mengikuti konsep konsep yang dibicarakan.

Sejarah yang demikian, menampakkan bahwa perkembangan teknologi, klasifikasi ruang putar, dan kesadaran soal impresinya yang berbeda dengan film kebanyakan—film cerita panjang semakin membentuk logika bahwa film pendek adalah ruang yang mengakomodir kebaruan bentuk. Dalam hal ini, impresi film kebanyakan merujuk pada kesan karya yang di konsep umum—Hollywood. 

Kemudian, dokumenter yang hadir dalam medium film pendek menghasilkan capaian impresi yang berbeda. Capaian ini merujuk pada perspektif sekaligus pengetahuan filmmaker yang termanifestasi dalam permainan konsep estetik—dalam tulisan ini akan dianggap sebagai medium—guna membangun impresi. Di ranah dokumenter, permainan medium merujuk pada metode pengolahan data yang terverifikasi. Pengolahan data menjadi unsur yang memunculkan perbincangkan soal dikotomi dokumenter sebagai genre atau metode. 

FFD 2019 - Katsuo-bushi

Dokumenter sebagai genre merujuk pada konsep film yang menampilkan peristiwa secara faktual, tanpa rekayasa, dan menolak proses interpretasi filmmaker. Film-film jenis ini dapat ditandai melalui gaya, pendekatan, struktur dan bentuk tertentu. Misalnya, melalui lima gaya penceritaan yang dirumuskan Bill Nichols, yakni ekspositori, observasional, interaktif, refleksi, dan performatif. Atau melalui pendekatan naratif/essay. Atau melalui struktur tiga babak/lima babak. Rupa dokumenter ini yang hadir dan diyakini banyak orang sebagai “dokumenter”. Sedangkan interpretasi dan rekayasa diberi ruang dalam konsep dokumenter sebagai metode. Dan, realitas berada pada nilai dari data yang terverifikasi. Akomodasi yang demikian membangun kebaruan bentuk film di luar konsep dokumenter. Di medium ini dokumenter kerap dianggap sebagai karya eksperimental atau video art.  

Perbincangan rupa dokumenter ini, sebenarnya menyisakan dua perkara, pertama apakah perspektif dan pengetahuan filmmaker sejalan dengan permainan medium dan capaian impresi? Kedua, apakah persepsi ini tepat dalam menggambarkan pengetahuan dari data yang dikumpulkan? Perkara ini adalah dasar untuk membentuk konteks film. Konteks yang lahir karena jalinan antara medium, pengetahuan, dan impresi berada dalam satu paket pas. Satu paket yang tidak menyuguhkan keberlebihan tanpa makna pada medium film pendek.

Adapun dua perkara tersebut, akan membingkai bacaan kita pada delapan film di program ini. Film (***) Fish (Filip Bojarski, 2019) menampilkan peristiwa penangkapan ikan lele yang dibenturkan dengan puisi dari Tadeusz Róźewicz. Dua materi ini membangun interpretasi soal kesadaran. Kemudian, interpretasi berulang yang dilakukan Filip dalam gambar ratio 4:3 menempatkan penonton sebagai seorang pengamat yang jauh dengan peristiwa. 

FFD 2019 - (***) Fish

Hal yang sama juga ditawarkan film Introducing to Imamura Shohei (Byung Ki Lee, 2019), Film ini memainkan impresi penonton melalui tafsir atas potongan-potongan film dari Imamura Shohei dan Ozu, voice over, hingga jukstaposisi antar gambar. Obsesi filmmaker mengarahkan penonton untuk menemukan makna dari gambaran rumah sekaligus  berbagai elemen pengisi frame di film-film Shohei dan Ozu.  

Film On Thai Women : They are weak, that’s why they dream of weak women (Rosalia Engchuan, 2017) menghadirkan perspektif filmmaker tentang perempuan Thailand. Perspektif filmmaker mewakili pandangan luar sekaligus penonton atas fenomena yang terjadi di Thailand. Memperlakukan pandangan penonton dalam posisi khusus juga diterapkan dalam film Distancing (Miko Revereza, 2019). Film ini membicarakan soal jarak secara harfiah untuk memaknai jarak yang abstrak. Kedua hal tersebut disampaikan melalui montage dan komposisi gambar yang sedemikian rupa. Persoalan jarak juga diolah dalam film The Missing Scene From Petrus – draft #4 (Arief Budiman, 2019). Materi visual dan audio yang digunakan membangun jarak untuk memaknai realitas sejarah. Seolah-olah sejarah adalah sesuatu yang kabur dan bisa rekayasa. 

Di film Origin of Shadow (Shuhei Hatano, 2017) surat yang tak pernah sampai dan berbagai rindu yang berhamburan, menjadi hantu dalam memaknai berbagai sudut kota. Montage montage yang sedemikian rupa menuntun penonton untuk merasakan berbagai kolase tentang pertemuan dan perpisahan. Memandang bagian kota dari sudut yang terlihat juga ditawarkan film The Summer of Arte (Takayuki Yoshida, 2018). Sudut-sudut taman ini digambarkan penuh daya tarik melalui permainan angle kamera dan komposisi. Berbeda dengan ketujuh film lainnya, film Katsuo Bushi (Yu Nakajima, 2015) menghadirkan proses pembuatan bahan yang sangat diperlukan dalam masakan Jepang. Perjalanan ikan yang hadir dalam montage-montage menghadirkan konteks mengenai Jepang beserta pergerakan Industri di dalamnya.          

Film-film program ini dapat dinikmati dalam rangkaian festival pada tanggal 2-7 Desember 2019. Cek agenda lengkap FFD 2019 di sini.

Kesehatan mental dapat dicapai ketika kebutuhan manusia untuk merasa bahagia terpenuhi. Berbagai cara diusahakan manusia untuk mencapai kebahagiaan itu. Mulai dari melakukan hal yang disenangi terus-menerus, menebar kutipan-kutipan penyemangat di media sosial hingga menciptakan memoar-memoar tentang capaian diri. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang didapat secara cuma-cuma melainkan diusahakan.

Kebahagiaan seseorang hadir ketika mereka mendapatkan perasaan aman, nyaman, dan tenang. Mengusahakan perasaan ini hadir menjadi persoalan berat ketika menilik sifat dasar manusia sebagai makhluk multidimensional. Manusia adalah makhluk multidimensional yang diharuskan hadir dengan banyak peran dalam satu waktu. Diharuskan hadir sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi, makhluk spiritual, makhluk yang berbudaya, dan sekaligus berbagai peran-peran yang lain. Ini bentuk adaptasi mereka terhadap lingkungan. Sifat ini secara tidak langsung juga menggambarkan bahwa, manusia adalah makhluk yang menyandang berbagai problematika. Adaptif dalam konteks tersebut dapat dimaknai sebagai metode, sekaligus sebagai tekanan yang menuntut mereka untuk bermain peran.

Selain menjadi metode mencapai kebahagiaan, adaptasi hadir sebagai tekanan dari sesuatu yang melingkari manusia. Seperti saat mereka lahir kemudian hidup dalam satu kelompok yang bernama keluarga. Di dalam kelompok terkecil dimana identitas dan peran disematkan untuk pertama kalinya, manusia dituntut untuk menjalankan sebuah sistem. Sistem ini mengatur peran sekaligus sikap dari masing-masing anggota. Termasuk mengatur cara pandang mereka tentang sesuatu yang baik, yang kadang menciptakan benturan hingga berdampak pada kondisi mental mereka.

FFD 2019 - China Man

Sistem yang berlaku di sebuah kelompok-kelompok kecil berhubungan dengan sistem yang lebih besar. Hal tersebut adalah wujud dari struktur. Misalnya saja pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 yang mengatur definisi sekaligus prasyarat terbentuknya kelompok (baca: keluarga). Undang-undang ini menjelaskan bahwa manusia harus memiliki peran dan identitas yang telah disebutkan, sebelum membangun kelompok. Ini bentuk konkret dari sistem yang mengatur seseorang hingga ke wilayah personalnya. Lalu, kehadiran sistem yang terstruktur perlu ditelisik kembali ketika, pada praktiknya, bukan konflik manusia yang diredam, melainkan kuasa yang berimbas pada kesehatan mental yang ditebalkan.

Situasi yang demikian mendapat respon dari masyarakat berupa pemberian ruang yang mengakomodir banyak orang untuk melepaskan diri dari tekanan. Ruang yang dibangun secara mandiri atau bersama, membantu masyarakat menemukan kebahagiaan yang dicari. Mereka membangun metode agar sistem bisa dimanfaatkan (baca:dimainkan) guna mengubah tekanan menjadi alat mencapai kebahagiaan. Sikap-sikap ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi memandang persoalan kesehatan mental sebagai bentuk kegilaan. Melainkan sebagai imbas dari kuasa yang hadir bersama sistem di seluruh relasi manusia. Baik relasi personal hingga komunal–dunia kerja, bertetangga, dan berkewarganegaraan. 

Di tahun 2019, program Perspektif Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 berusaha untuk membicarakan isu kesehatan mental di luar narasi utama (medis). Program ini membicarakan berbagai respon pada masalah  kesehatan mental yang mampu mempengaruhi perubahan sistem, paradigma, definisi tentang sesuatu kelompok, bahkan pandangan soal kesehatan mental itu sendiri. 

Film Good Neighbours (Stella van Voorst van Beest, 2018) mendefinisi ulang kehidupan berkelompok di lingkungan yang individualistis, melalui peristiwa subjek ketika mengingat masa lalu dan pertemuannya dengan orang-orang baru. Rekaman yang menunjukkan aktivitas subjek, mendedah prinsip peran, identitas sampai teritori tentang kelompok. Film ini menunjukkan bahwa keluarga tidak melulu terbangun atas hubungan darah saja, melainkan juga hubungan yang diusahakan. Prinsip tentang keluarga di bicarakan lebih dalam melalui film Love Talk (Shen Ko-shang, 2017). Film ini menunjukkan bahwa keluarga bisa terbangun karena ketidaksengajaan pertemuan yang jauh dari gagasan besar soal cinta kasih, bahkan agama. Gambaran keluarga yang ditunjukkan kedua film ini hadir sebagai ruang menyenangkan dan melindungi manusia dari trauma mendalam.

FFD 2019 - Good Neighbours

Di sisi lain, segala bentuk trauma yang hadir pada peran dan identitas dalam keluarga berusaha dilepas oleh dua subyek film Turning 18 (Hao Chao-ti, 2018). Film ini menunjukkan bagaimana kebahagiaan dua subyek perlu diusahakan karena mereka terlahir dalam kondisi yang tidak merdeka. Mereka disituasikan menyandang berbagai warisan masalah yang sebenarnya tidak didapat jika kehadiran mereka berada di kelas sosial tertinggi. Kelas yang memiliki kebebasan berkehendak. 

Usaha personal untuk mencapai kebahagiaan juga diperlihatkan melalui Anxiety of Concrete (Yunmi Jang, 2017). Film ini memperlihatkan memori yang berusaha disampaikan semenyenangkan mungkin  dalam ancaman ruang hidup. Gambaran yang timpang dihadirkan dalam film 48 Years: Silent Dictators (Sunairi Hiroshi, 2018) ketika trauma yang pernah dialami, hadir kembali sebagai imaji yang menyenangkan. Fragmen-fragmen tersebut menandai kebanggaa dirinya yang pernah melakukan perlawanan pada sistem besar. Di film China Man (Jerrell Chow, 2019) usaha mencapai kebahagiaan berhadapan dengan lingkungan yang melihat manusia berdasarkan identitas ras, tentang garis keturunan asli atau tidak asli. Film ini menunjukkan usaha Ek Kiat melakukan pembebasan diri atas perilaku rasial. Friksi dengan lingkungan, juga diperlihatkan dalam film Village of Swimming Cows (Katarzyna Trzaska, 2018). Film ini menunjukkan bentuk penolakan terhadap sistem modern yang berjalan di sebuah wilayah. Namun, lewat pola hidup yang dipilih sekelompok manusia ini apakah bersikap harmonis dengan alam betul-betul menjadi metode mencapai kebahagiaan? 

Tujuh film ini merepresentasikan tujuan program Perspektif, yakni membicarakan isu kesehatan mental yang tidak terpaku pada persoalan medis semata. Tujuh film ini dapat dinikmati dalam rangkaian festival pada tanggal 1-7 Desember 2019. Cek agenda lengkap FFD 2019 di sini.

Kanada memiliki salah satu ajang film prestisius bagi sineas di seluruh dunia dalam wujud Toronto International Film Festival. Tetapi yang mungkin tidak banyak orang ketahui, perkembangan sinema di negara tersebut harus bersihadap dengan berbagai persoalan pada awal perkembangannya. Termasuk bagi perkembangan dokumenter.

Piers Handling dan Jerry White menyebut perkembangan dokumenter di Kanada tidak lepas dari perkembangan sebuah institusi bernama National Film Board (NFB) pada tanggal 2 Mei 1939. Kehadirannya muncul sebagai pionir pengembangan hampir segala bentuk film yang ada, mencakup dokumenter, animasi, hingga feature films. Perkembangan awalnya tak lepas sebagai alat promosi. Salah satu yang cukup berkesan adalah film berjudul Living Canada yang didesain untuk mempersuasi orang-orang di Britania Raya agar bermigrasi ke Kanada.

Selain itu, dokumenter Kanada menemukan signifikansinya di era Perang Dunia Pertama. Tak hanya perang secara fisik, perang wacana pun menjadi medan yang tak luput untuk disesaki. NFB yang telah eksis dan ditangani oleh John Grierson mengembangkan dokumenter lebih jauh lagi.  Dokumenter menjelma menjadi medium untuk menyebarkan informasi. Film dokumenter Kanada, seperti Canada Carries On dan The World in Action menjelma menjadi alat propaganda yang menjangkau jutaan penonton. Usai perang, dokumenter Kanada yang masih banyak diinisiasi oleh NFB menjadi bentuk catatan lain tentang kelompok etnis, penduduk asli, dan masalah sosial yang ada di Kanada.

Terkhusus untuk tema-tema dokumenter Kanada pasca Perang Dunia, sebenarnya tak sepenuhnya baru. Perkembangannya memang baru marak setelah kecamuk perang mereda. Namun bibitnya sudah bisa ditelusuri sejak tahun 1914.

FFD 2019 - Opening Day

Pada tahun tersebut, antropolog Edward S. Curtis menyutradarai film In the Land of the Head Hunters bersama masyarakat Kwakiutl di Provinsi British Columbia, provinsi paling barat di Kanada. Selain menyajikan perspektif yang cukup dekat mengenai masyarakat Kwakiutl, dokumenter ini menjadi salah satu tonggak yang cukup signifikan mengenai adanya dokumenter dari daerah pesisir barat (West Coast) Kanada. Sebab, film ini diklaim berlandaskan prinsip-prinsip dokumenter yang berlaku pada waktu itu.

Selain itu, dokumenter ini juga merupakan salah satu film yang secara terang-terangan menunjukkan British Columbia sebagai provinsi yang menjadi bagian dari pesisir barat Kanada. Sesuatu yang tak lagi tampak dalam produksi-produksi film West Coast setelahnya.

Bahkan posisi Kanada yang terpinggirkan bisa juga dilihat dari posisi British Columbia. Provinsi itu merupakan salah satu basis produksi sinema Kanada yang tak kalah dengan tempat lain seperti Toronto atau Montreal. Insentif pajak yang memikat filmmaker menjadi sebab yang tentu bisa memangkas biaya produksi. Meski demikian ada hal nahas yang mencuat dari kondisi tersebut. Sangat jarang sebuah proyek film menampilkan panorama seperti hutan eksotis dan pesisir di British Columbia sebagai daerah itu sendiri. Ruang-ruang urban dan rural tersebut malah sering ditawarkan sebagai visual pengganti untuk pemandangan di Amerika Serikat.

FFD 2019 - Einst

Tahun ini, Festival Film Dokumenter (FFD) mencoba untuk menyajikan kembali bagaimana panorama sebenarnya dari daerah yang kerap menjadi objek eksploitasi secara presentasi sinematik itu. Sajian program Focus on Canada: Pacific Standard Time menyatukan karya-karya gambar bergerak yang historis dan kontemporer dari karya para filmmaker dan seniman dari British Columbia. Masing-masing karyanya menjawab pertanyaan tentang temporalitas sinematik yang berbeda dan kekhasan geografis pesisir barat Kanada tersebut.

Focus on Canada kali ini akan mempresentasikan tujuh film. Dimulai dengan hitungan mundur Opening Day (Zoe Kirk-Gushowaty, 2016) yang menangkap sensasi menegangkan dari lapangan pacu Hastings di Vancouver. Pengambilan film yang satu ini menjadi menarik lantaran mengandalkan satu rol film Super 8 saja.

Filmmaker lain menggunakan satu rol film sebagai titik awal investigasi mereka. Entah itu durasi dari one take shot dalam Einst (Jessica Johnson, 2016) yang memikat. Atau dalam Seeing in the Rain (Chris Gallagher, 1981), dimana dokumentasi sang filmmaker pada perjalanan bus di tengah hujan gerimis  melewati Jalan Granville di Vancouver diacak dan diedit menjadi satu pertunjukkan tentang awal dan akhir yang menghipnotis.

FFD 2019 - Television Spots

Pada pemutaran lain, waktu dan tempat tumpang-tindih dalam karya Canadian Pacific II ( David Rimmer, 1975) yang menyusun klip rekaman kereta, pegunungan, dan Pelabuhan Vancouver. Sedangkan Eclipse (Peter Lipkis, 1979) sesuai namanya, menyajikan gerhana yang dilihat secara langsung dari dalam kamar hotel, bersamaan dengan liputannya di televisi.

Akhirnya, program ini mengikutsertakan karya-karya para seniman video yang terinspirasi dari film pendek maupun panjang. Diproduksi sesuai dengan standar penayangan televisi dan disiarkan secara lokal Television Spots (Stan Douglas, 1991) menawarkan narasi petunjuk-petunjuk misterius dalam fragmen-fragmen 15 dan 30 detik. Serta eksplorasi T.W.U. Tel (Amelia Produtions, 1981) yang mendokumentasikan pendudukan pusat-pusat telepon utama di provinsi British Columbia selama lima hari oleh Serikat Pekerja Telekomunikasi di provinsi itu.

Program Focus on Canada: Pacific Standard Time bisa dinikmati di FFD 2019 pada 2-7 Desember 2019. Cek Jadwal festival untuk memeriksa agenda lengkap FFD 2019.

Pada tahun 2016, sebuah video viral menampilkan sekelompok siswa SMA Negeri 3 Solo yang melawan sekolahnya sendiri. Dermawan Bakri, ketua OSIS SMA Negeri 3 Solo kala itu bersama teman-temannya menggalang aksi protes. Ada pemotongan dana kegiatan pelajar sebesar 2,5 juta rupiah dari total dana yang turun sebesar 12,5 juta rupiah. Ketika menanyakan ke mana larinya uang 2,5 juta itu kepada wakil kepala sekolah, Derma tidak mendapat jawaban yang memuaskan sampai akhirnya hanya dipotong sebesar 500 ribu rupiah meski tetap tidak menemukan jawaban tentang kemana uang itu dilarikan.

Yang membuat kegeraman Derma dan kawan-kawannya memuncak adalah saat pembacaan anggaran sekolah 2006/2007 yang tertulis pengeluaran kesiswaan mencapai 218 juta rupiah. Padahal, rangkaian kegiatan siswa selama satu tahun ketika dihitung oleh OSIS hanya menghabiskan dana sebesar 45 juta rupiah saja.

Dugaan penyelewengan dana di SMA Negeri 3 Solo bukan hal baru. Generasi sebelum Derma sudah pernah mencoba menggugat, tapi mereka terpaksa mengurungkan niatnya karena mendapat ancaman. Derma dan kawan-kawannya belajar dari kegagalan perlawanan para pendahulunya. Mereka mengadopsi cara-cara baru. Bak operasi klandestin, OSIS pimpinan Derma membentuk tim senyap bernama SOS (Save Our School) beranggotakan siswa lainnya meliputi tim informan, pencari bukti, publikasi, dan media massa. Proses perekrutan anggota tidak sembarangan siswa. Dengan ketat mensyaratkan anggota yang tidak memiliki hubungan keluarga maupun relasi kerja dengan para guru.

Rencana aksi demo besar disusun tanpa terendus guru maupun siswa lainnya yang tidak terlibat. Sampai hari itu tiba. Sejumlah siswa SMA Negeri 3 Solo berdemo dan ditampung di sebuah aula dengan dihadiri para guru-guru mereka. Pelajar menuntut para guru yang berdiri menemui mereka itu untuk melakukan audit keuangan secara transparan. Peristiwa ini mengegerkan dunia pendidikan di Solo ketika itu.

FFD 2019 - Janma Dumunung

Aksi pelajar SMA Negeri 3 Solo yang terekam dalam video berdurasi 11:46 menit tersebut tidak lain adalah film dokumenter pendek berjudul Sekolah Kami, Hidup Kami (Our School Our Live) besutan Steve Pillar Setiabudi. Meski baru diunggah dan seketika menjadi viral pada tahun 2016, film ini sebenarnya diproduksi tahun 2008. Steve membuat film pendek tersebut untuk merekam kehidupan setelah 10 tahun berakhirnya rezim Orde Baru.

Sikap kritis dan mempertanyakan ulang apa-apa yang ada di sekitar hadir di kalangan pelajar putih abu-abu. Jika aktivisme dan demonstrasi lazimnya lekat dengan mahasiswa, pelajar SMA Negeri 3 Solo membuktikan bahwa tidak perlu menunggu jenjang itu untuk melakukan sesuatu. Dan film dokumenter menjadi medium untuk menyampaikan pesan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Kini, peranan pelajar dan anak muda tidak dapat dilihat hanya sebagai konsumen media. Kemajuan teknologi media telah memungkinkan pelajar menempati peranan produsen, distributor, dan sekaligus konsumen. FFD 2019 kembali menghadirkan kompetisi film dokumenter pelajar lewat program SchoolDoc.

Menjadi agenda tahunan sejak 2005, SchoolDoc dirancang untuk meningkatkan kemampuan apresiasi film di kalangan pelajar. Program ini berangkat dari fenomena media yang menjadi sistem pendidikan keempat setelah keluarga, sekolah, dan komunitas (lingkungan). Namun, tuntutan ini tidak lantas diimbangi dengan upaya nyata literasi media. Film, khususnya dokumenter, menjadi salah satu implementasi media yang mampu berperan signifikan dalam memberikan referensi alternatif pendidikan.

FFD 2019 - Merelakan adalah Bagian dari Kebahagiaan

Melalui Forum Film Dokumenter, program SchoolDoc dikembangkan dalam wujud lokakarya produksi dokumenter bagi pelajar SMA/sederajat. Tema tahun ini adalah Melacak Akar, Merekam Asal: Potret Diri. Tahun ini program SchoolDoc dimentori oleh Jean Paul Labro dan Lyn Nékorimaté pengajar bidang video, sinema, dan pertunjukan yang sudah malang melintang mengerjakan berbagai proyek terkait. Keduanya membentuk kolektif seni bernama DING.

Selama masa produksi dari tanggal 4 sampai 10 September 2019, SchoolDoc mengikuti perjalanan para pesertanya dalam mempertanyakan kembali apa yang dianggap penting dalam kehidupan mereka serta apa yang mendefinisikan diri mereka: keinginan, cita-cita, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Berangkat dari refleksi tentang keluarga, manifestasi sejarah personal yang membentuk identitas dicari dan diungkap.

Dihasilkan lima karya produksi film dokumenter pendek dari lima pelajar; Janma Dumunung (Thera Karunia, 2019) mengisahkan tentang seorang pemuda yang mencari alasan untuk tidak meninggalkan kota asalnya yang perlahan dipenuhi pendatang dari negeri asing. Teman-teman dari lingkungannya sudah banyak yang memilih untuk pergi. Dalam pencariannya, sang pemuda menemukan alasannya untuk tinggal dari sumber yang tidak terduga. Perjalanan (Nickho Darmawan, 2019) berkisah seorang pemuda yang telah menyelesaikan studinya dan mempertimbangkan pernikahan. Di sebuah kafe, ia menuliskan hidupnya. Ingatan membawanya ke masa lalu, di mana kesedihan dan kebahagiaan telah ia alami.

FFD 2019 - Perjalanan

Sepi (Muhammad Nazim Pradipa Syah, 2019) menampilkan seorang remaja yang merasa kesepian. Keluarganya seakan tidak peduli dengannya. Dalam sebuah kontemplasi, dia menemukan hal-hal yang perlahan mengubah pandangannya terhadap keluarganya. Merelakan adalah Bagian dari Kebahagiaan (Alhanz Sofyan David Alvarobin, 2019) berkisah tentang seorang remaja laki-laki yang merasa kurang diperhatikan oleh keluarganya setelah kelahiran adik laki-lakinya. Ia belum menyadari betapa besar perhatian yang diberikan orangtuanya dan mencoba menuliskan kisahnya. Ketika pada akhirnya ia menyadari hal tersebut, ia menyelesaikan tulisannya. 

Sacred Heart (Gyanrahma Indrajid Sofwan, 2019) mempertanyakan soal apakah agama penting jika hanya sebagai formalitas? Pertanyaan ini mengikuti diri. Esensi dari keberadaan entitas yang ilahi adalah agar manusia terhubung dengan hati kudusnya. Namun, seringkali manusia terjebak pada praktik agama sebagai formalitas dan merasakan keterpaksaan ketika menjalankannya. Memang tidak semua orang mengalami hal yang demikian. Meski begitu, penting untuk merefleksikan esensi dari semua ini, agar dapat menjalankannya sesuai dengan hati. 

Tidak hanya pemutaran film karya pelajar saja, SchoolDoc menampilkan eksibisi yang berisi rekaman proses dan cerita di balik pembuatan karya sebagai satu kesatuan yang membentuk sebuah bacaan dokumenter bertajuk The Projections of Five. Rekaman proses perjalanan program SchoolDoc 2019 hasil kolaborasi dari Forum Film Dokumenter dengan DING Collective sendiri diberi judul Rekam.SchoolDoc.01, berdurasi 35 menit di mana George C. Ferns sebagai editornya.

Program SchoolDoc: Melacak Akar, Merekam Asal: Potret Diri bisa dinikmati di Lobi Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta dari tanggal 1 sampai 7 Desember 2019.

Senantiasa mempertanyakan sesuatu yang ada di hadapan kita, perlu dikembangkan untuk mengasah sikap kritis. Termasuk kepada produk budaya seperti film. Soalnya sebagai produk manusia yang senantiasa diproduksi, direproduksi, hingga dikritik, film tidak hadir begitu saja. Meminjam kata Seno Gumira Ajidarma dalam pidato terbarunya berjudul “Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi”, kebudayaan adalah situs pertarungan ideologi. Dan ideologi adalah tentang perspektif serta cara pihak-pihak tertentu yang memiliki sebuah intensi.

Di situlah program diskusi dalam sebuah festival film menemukan relevansinya. Kehadirannya bukan untuk menjelaskan pesan yang gagal disampaikan oleh film-film yang diputar. Tanpa berambisi membangun posisi utopis sebagai penentu gerak pengetahuan film, program diskusi hadir sebagai upaya untuk selalu menjangkau wilayah dan perbincangan baru.  Serangkaian diskusi akan hadir dalam Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 melalui program Doctalk dan Public Lecture. 

Isu-isu yang diangkat dalam diskusi ini berangkat dari berbagai kegelisahan. Tidak untuk berusaha merangkumnya dalam satu narasi tunggal, tetapi memperluas kemungkinan produksi pengetahuan kita atas dan melalui film. Setidaknya ada tiga kegelisahan utama yang coba untuk dibagikan. Seluruhnya akan mempertemukan serakan pengetahuan kita atas film.

Kegelisahan pertama yakni film, negara, dan pasar. Pembicaraan mengenai irisan film dengan negara dan pasar menemukan relevansinya ketika film ditempatkan sebagai produk budaya yang tidak lepas dari konteks sosial dan politik. Sebenarnya pembicaraan akan hal ini sudah cukup beragam. Salah satunya adalah mengenai bagaimana posisi film pendek, terutama dokumenter, mencatat dan menjadi perwujudan dari partisipasi yang merupakan hulu dari demokrasi.

Tetapi pada kenyataannya untuk bisa memenuhi hal tersebut, film harus berhadapan dengan sensor. Bentuknya bisa beragam dan bersumber dari mana saja. Seperti institusi negara, paramiliter, organisasi masyarakat tertentu, hingga swasensor setiap orang. Dengan kata lain, kehadiran film pendek sebagai medium yang independen dan bagaimana ia berhadapan dengan sensor akan selalu berhubungan dengan perkembangan demokrasi.

FFD | Call For Entry 2019

Selain konteks sosial dan politik, satu hal yang tidak bisa dilepaskan adalah bagaimana perkembangan film Indonesia bersinggungan dengan urusan ekonomi. Untuk yang satu ini, menjadi penting ditilik kembali ketika dalam satu dekade terakhir berbagai forum pendanaan dan pasar film mulai tumbuh di Indonesia, Asia Tenggara, dan bahkan Asia. 

Hal tersebut berdampak pada pola produksi yang menjadi lebih variatif. Pendanaan itu juga turut memengaruhi estetika dan narasi film. Philip Cheah, founder pop culture magazine asal Singapura BigO dalam pengantar Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014 lalu menyebut bahwa modus pendanaan secara tak langsung memunculkan klise-klise baru, terutama dalam sinema independen.  “Ritme dalam gerak lamban, shoot panjang yang bermakna serta momen absurd namun puitik” disebut Philip sebagai kiasan yang mudah sekali ditemui dalam film-film Indonesia yang berhasil melanglang ke festival internasional dan mendapat kucuran duit.

Atas berbagai kelindan itu, maka muncul pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan mengenai bagaimana pendanaan memengaruhi produksi hingga distribusi film. Bagaimanapun, forum pendanaan juga memiliki logikanya sendiri.  Sebagai bagian apparatus yang mempertemukan problem sosial dengan publik yang lebih luas, lantas sejauh apa film yang didanai oleh lembaga atau pendonor tertentu bernegosiasi dalam situasi ini? 

Call For Entry Poster for ASIADOC 2019

Kegelisahan kedua adalah tentang film dan perubahan sosial. Ketika membicarakan hal tersebut, kita bisa melihatnya dalam dua sudut pandang: bagaimana film mendorong perubahan sosial–meski terdengar muluk-muluk–dan bagaimana posisi film di tengah situasi sosial yang tidak pernah abstain. 

Dalam arti yang pertama filmmaker asal India Tapan Bose mengatakanany documentary worth its name is never neutral and non-controversial. If it is to serve as a positive catalyst for social change, it must shock, inspire and provoke”. Meski heroik, tapi kondisi yang kerap dihadapi oleh filmmaker, terutama dokumenter, rupanya cukup pelik.

Dalam film dokumenter untuk bisa mendapatkan karya yang shock, inspire and provoke, intimasi menjadi suatu aspek yang sering diyakini sebagai tolok ukur. Intimasi adalah kondisi dimana keterasingan antara subjek dokumenter dan filmmaker itu sendiri berhasil diatasi. 

Hal ini tidak mudah, karena bagi subjek utama dokumenter (manusia/masyarakat/komunitas), perilaku keseharian yang semula dilakukan secara wajar, kini harus berhadapan dengan mata kamera dan perekam suara. Pun bagi pembuat film, asing karena belum tentu dekat dengan manusia, masyarakat, atau komunitas yang sedang diangkat isunya.Isu ini kerap bertabrakan dengan perkara etis. Demi mampu mendapat kekuatan film yang mampu mendapatkan intimasi, filmmaker dapat menggiring karyanya ke dalam laku yang eksploitatif.

FFD 2018 | Film | Modern Poetry Exhibition/1966

Sedangkan dalam arti kedua, adalah bagaimana posisi film di tengah situasi sosial yang tak pernah abstain. Thomas Barker adalah satu di antara beberapa cendekiawan yang mencoba untuk mencatat sejarah sinema Indonesia dalam kerangka tersebut. Melalui bukunya Indonesian Cinema After New Order: Going Mainstream, sebuah catatan yang sistematis dan komprehensif di Indonesia.

Baginya, kasus yang terjadi di Indonesia ini unik. Salah satunya bagaimana sinema Indonesia memenuhi kemauan gerakan hijrah” yang kini sedang bangkit. Di saat yang bersamaan, arus utama berarti bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didirikan pada 2011. 

Alih-alih menjadi dunia kreatif yang mulus sebagaimana diharapkan banyak orang, industri film Indonesia sekarang sedang mengarah pada tantangan yang sangat berbeda dengan yang dihadapi pra-1998. Barker melihat industri ini layaknya mikrokosmos bagi Indonesia: demokratis tetapi terbebani dengan warisan otoritarian, kreatif tetapi tetap mengalami kontestasi budaya, mancanegara kendati tetap dibentuk secara domestik.

FFD2018 | Film | Pagi Yang Sungsang

Kegelisahan ketiga adalah tentang bagaimana film mengemban beban dalam pembicaraan produksi pengetahuan. FFD merekognisi bagaimana film hari ini mengantar pengetahuan pada bentuknya yang eksploratif. Salah satunya pada entitas yang disebut dokumenter etnografis. Pada beberapa kisah, entitas ini bisa menemukan fungsinya yang beragam. Tapi entitas ini juga sekaligus merupakan bentuk yang dirasa bisa mengetengahkan wacana tentang keberpihakan, pengalaman empiris, dan tanggung jawab etik dalam pembuatan film dokumenter.

Letak film dan produksi pengetahuan tak melulu pada kontennya saja. Ia juga bisa merujuk pada bentuk. Seperti bagaimana film dokumenter dan video art akhir-akhir ini sering dibicarakan, tetapi sekaligus juga sering dipertukarkan maknanya. Meski sama-sama memiliki unsur audiovisual, tapi perpisahannya terjadi dalam makna-makna yang lebih rinci, termasuk di ruang mana kedua bentuk produk budaya ini dipresentasikan. Jika film bermuara pada festival film atau bioskop, maka video art lebih kerap bermain di arena pameran seni rupa –baik dalam frasa yang lebih spesifik seperti seni media baru, seni multimedia, hingga yang paling umum yaitu seni kontemporer. 

Dua wujud yang serupa tapi tak sama ini juga bisa membuka alternatif estetika yang lain. Garin Nugroho menyebut bisa jadi keduanya sama-sama bisa menyampaikan pendapat “awam” dengan cara popular. Namun potensi perwujudan estetika film yang berbeda dibanding dengan estetika versi artschool bisa terwujud. Keduanya lalu menjadi semacam pena dan senjata bergerilya di tengah situasi sosial-politik tertentu. Perubahan teknologinya juga disebut Garin melahirkan percepatan cara apresiasi dan distribusi yang penuh guncangan–sebuah proses yang saling mematikan sekaligus proses adaptif dan percepatan cara baru momen apresiasi dan kreasi.

FFD | Call For Entry 2019

Setiap kegelisahan yang telah diuraikan tadi coba untuk dirangkum dan dibagikan kepada khalayak luas dalam program DocTalk dan Public Lecture. Untuk Doctalk akan terdiri dari pembicaraan mengenai Distribusi, Pasar, & Ekonomi Politik Film: “Rupa-Rupa Distribusi Film Kita”, Intermedialitas/Alih dan Silang Wahana: “Manuver Mata Mekanis: Video Art dan Film Dokumenter di Indonesia”, Film & Demokrasi: “Film Pendek dan Demokrasi yang Diinginkan”, dan Hacking Methods & Ethics Issue: “Intimacy and Ethics: Universal or Contextual”. 

Selain berkenaan dengan film, FFD juga merancang Doctalk untuk membahas bersama upaya yang perlu ditempuh untuk menciptakan komunitas sebagai ruang aman dan nyaman bagi siapapun. Hal ini berangkat dari batas takaran kegiatan komunitas yang sering kali tidak jelas sehingga pada beberapa titik mengaburkan antara kerja kesukarelawanan dan kerja profesional yang terikat. Selain itu kegelisahan ini juga berangkat dari bagaimana selama ini FFD bisa tumbuh sebagai wadah yang tak jauh dari definisi komunitas.

Imajinasi militansi yang diusung kerap membuat kerja-kerja komunitas kehilangan kegembiraan dari konsep kesukarelawanan itu. Bahkan, tidak jarang melahirkan kerja-kerja yang eksploitatif demi mewujudkan cita-cita kelompoknya. Masalah itu coba akan dibagikan dan didiskusikan dalam mata program Berkumpul di Ruang Aman: “Memahami Ulang Bentuk Kekerasan dalam Komunitas dan Pencegahannya”.

Selain Doctalk, FFD juga menghadirkan Public Lecture. Kali ini, akan ada dua panel yang diisi oleh Thomas Barker dan Kek Huat Lau. Thomas Barker akan membicarakan hasil risetnya yang telah dibukukan dengan judul Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream. Buku ini menyoroti 20 tahun gejolak perubahan, mulai dari permulaan yang indie dan sederhana hingga semakin mengikuti arus utama dan mendapatkan pengakuan internasional. Ia mengajukan gagasan mengenai tiga fase perkembangan industri film: dimulai dari langkah meraih kesuksesan dalam budaya populer lokal, khususnya di kalangan anak muda; mendapatkan kemapanan finansial; hingga akhirnya karyanya mendapatkan pengakuan sebagai sebuah karya seni di tingkat internasional.

Sedangkan Kek Huat Lau akan memaparkan bagaimana ia merancang dan mengeksekusi The Tree Remembers (2019), dokumenter etnografis mengenai korban politik dan kekerasan rasial terburuk di Malaysia. Sebagai seseorang yang lahir di Malaysia dan menetap di Taiwan, Kek akan memaparkan bagaimana ia memiliki pengalaman empiris dan emosional atas ruang, waktu, dan ikatan sosial terhadap persoalan etnis negara kelahirannya. Ini tentu menjadi pertimbangkan dalam perancangan narasi film yang tetap intim dan menjaga etik.

Program-program DocTalk dan Public Lecture itu bisa dinikmati di antaranya di FISIPOL Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia, pada 2-7 Desember 2019. Cek Jadwal festival untuk memeriksa agenda lengkap FFD 2019.

Pada pengertian umum, kebahagian dan kesenangan adalah dua kata yang dapat dipertukarkan, walaupun berfungsi untuk memaknai peristiwa berbeda. Kesenangan muncul  secara spontan dan singkat karena stimulus pihak lain. Sedangkan, kebahagian dipercayai hadir karena dorongan personal dalam durasi yang lama. Tapi, keduanya adalah wujud dari keinginan, yakni imaji yang tidak pernah tercapai. Konsep ini memaknai bahwa kebahagian dan kesenangan muncul karena dorongan eksternal yang diusahakan terus menerus karena tidak pernah didapat.

Usaha menjadi kata yang perlu digaris bawahi, terlebih ketika kata ini dibawa dalam ranah kewarganegaraan. Namun, bisakah imaji personal ini dimaterialkan; dikumpulkan lalu dihadirkan menjadi sebuah sistem struktural dan kultural  atas nama “kebahagian bersama”?

Kelompok besar, katakanlah Negara, membangun cara untuk memudahkan mereka  menerka dan mendeskripsikan keinginan warganya—kebahagiaan. Entah hasilnya berujung pada identitas diri yang lagi-lagi membicarakan asal, atau soal batas yang berhilir pada klasifikasi manusia berdasarkan hal-hal yang nampak. Negara berusaha untuk menjamin kehidupan warganya melalui cara itu. 

Variabel itu hadir lewat pernyataan empat pembuat film mengenai Prancis—negara asal mereka. Michel Toesca yang membahas silang sengkarut sistem berdasarkan batas wilayah dan sejarah bangsa, lalu mewujud dalam penggolongan manusia melalui film To The Four Winds (2018). Merie Losier dengan film Cassandro, The Exotico! (2018) yang membicarakan teror pada diri agar terakui dan  tergolong dalam satu kelompok tertentu. 

Selanjutnya Prancis dihadirkan sebagai bangsa pada film Le Grand Bal (2018), karya Laetitia Carton. Lewat sudut pandang subyek yang dipilihnya, Carton menunjukkan klangenan pada tradisi. Alam lain yang hadir sebagai ruang kebahagiaan bangsa Prancis. Ruang ini perlu ditempuh dengan peluh tak berkesudahan. Alih-alih menghadirkan kebahagian yang diidamkan, malah ruang tersebut menciptakan masalah yang tidak hanya bermuara pada masalah rasial, tetapi juga menarik subyek-subyek melewati kodratnya sebagai manusia yang tidak memiliki lelah.

Menyeberang jauh ke Madagaskar, Mickoel Andrianaly mengajak untuk mendedah sikap warga bekas jajahan Prancis dalam mencari kebahagian. Menariknya dalam film Nofinofy (2019), filmmaker menunjukkan posisi Prancis dalam bayangan masa lalu seorang tukang cukur rambut. Menit demi menit mengikuti perjalanan subyek mencapai impian, filmmaker menghadirkan ingatan warga pada Prancis dan impian mereka pada Madagaskar. Salon milik tukang cukur menjadi ruang pertemuan gagasan ini.

Empat film tersebut tayang program Le Mois du Documentaire dengan tajuk Pursuit of Happiness—Mengejar Kebahagiaan. Le Mois du Documentaire—Bulan Dokumenter Prancis— sebenarnya adalah perayaan atau festival film dokumenter yang berlangsung di Prancis dan lembaga-lembaga kebudayaan Prancis di seluruh dunia pada bulan November. Di Yogyakarta sendiri, acara ini rutin diselenggarakan sebagai program parsial Festival Film Dokumenter (FFD) menjelang festival di bulan Desember. Acara ini merupakan kerjasama antara Festival Film Dokumenter (FFD) dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Yogyakarta sejak tahun 2016.   

Seluruh film dalam program Le Mois du Documentaire sudah diselenggarakan pada 11-12 November 2019 di IFI-LIP Yogyakarta. Namun, film Le Grand Bal (2018) akan diputar kembali secara khusus 4 Desember 2019 pukul 19.00 WIB di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).

Perbedaan tidak seharusnya membuat sekelompok orang merasa paling berhak akan suatu hal dan menutup kesempatan pihak lain. Sederhana sebenarnya, tapi sayang hal itu kadung terlampau rumit buat sebagian orang. Ada baiknya menyikapi perbedaan antarmanusia sebagai sesuatu yang wajar dan sepatutnya dihargai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) misalnya pada 10 November 1948 memproklamirkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Dengan deklarasi itu, setidaknya berlaku pengakuan akan nilai-nilai universal mengenai hak dasar setiap manusia seperti akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan hidup layak lahir-batin tanpa memandang embel-embel tertentu. Termasuk embel-embel yang berkenaan dengan kelengkapan dan kesempurnaan bagian, serta fungsi dari tubuh seseorang. Karena serapat-rapatnya kita menutup mata, pihak-pihak yang disebut sebagai penyandang disabilitas memang ada di sekitar kita.

Meski begitu, jaminan penyandang disabilitas untuk bisa mengakses hak-hak dasar yang sama sebagai manusia masih jauh dari kondisi semestinya. Kita mundur sedikit ke belakang, pada bulan Juli 2019, ketika mimpi seorang dokter gigi di Solok Selatan (Romi Syofpa Ismael) untuk mendapatkan status sebagai pegawai negeri sipil (PNS) harus tertunda. Pasalnya, surat keputusan Bupati Solok Selatan memupus status PNS yang telah berhasil Romi dapatkan setelah melalui berbagai tes dan prosedur.

Kondisi tungkai kakinya yang tidak mampu menopang badan lantaran mengalami paraplegia setelah melahirkan, membuat ia harus beraktivitas dengan kursi roda. Kondisi itulah yang menjadi sebab pupusnya harapan perempuan itu. Pemerintah daerah meragukan kapasitas Romi meski dirinya sudah mendapatkan rekomendasi berbagai pihak, termasuk lolos uji kesehatan jasmani dan rohani.  Padahal sejak 2015, Romi telah mengabdi sebagai pegawai tidak tetap di Puskesmas Talunan, sebuah wilayah terpencil di Solok Selatan.

Apa yang terjadi dengan Romi merupakan potret bagaimana diskriminasi yang terlanjur curam dan tajam kepada penyandang disabilitas di Indonesia telah terjadi. Padahal Indonesia sendiri sudah memiliki instrumen legal tentang penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas yang  tertuang pada UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Potret lain yang bisa disodorkan mengenai kondisi tidak ideal itu bisa kita tilik juga pada persentase penyandang disabilitas yang masih bisa mengakses sekolah. Berdasarkan Statistik Pendidikan 2018 –yang disajikan kembali oleh Databoks Katadata pada Agustus 2019 lalu– menunjukkan persentase penduduk usia 5 tahun ke atas penyandang disabilitas yang masih sekolah hanya 5,48%. Persentase tersebut jauh dari penduduk yang bukan penyandang disabilitas, yaitu mencapai 25,83%.

Penyandang disabilitas yang belum atau tidak pernah bersekolah sama sekali mencapai 23,91%. Adapun penduduk usia 5 tahun ke atas yang bukan disabilitas dan belum sekolah hanya 6,17%. Sementara itu, penyandang disabilitas yang tidak bersekolah lagi sebesar 70,62%.

Dua paparan di atas adalah contoh bagaimana diskriminasi kepada penyandang disabilitas begitu terstruktur. Hal itu belum menimbang diskriminasi yang mereka terima dari lingkungan terdekat mereka, termasuk keluarga misalnya, dalam kehidupan sehari-hari. Buktinya, masih bisa kita temui bagaimana seorang difabel justru dianggap aib oleh keluarga sehingga tidak diperbolehkan untuk membaur dengan lingkungan di luar rumah.

Kerap kali kelompok minoritas yang satu ini juga masih harus menyesuaikan diri dengan masyarakat atau individu lainnya demi eksistensi yang diakui. Posisi tawar penyandang disabilitas sebagai “subjek” tak jarang tercerabut lantaran kondisi tubuh yang semata-mata berbeda. Bahkan, bentuk diskriminasi itu bisa terlihat sangat sepele dari bagaimana cara mata kita menatap penyandang disabilitas. 

Menurut filsuf Jean-Paul Sartre, mata dan tatapan kita bisa memengaruhi bagaimana subjek mempersepsi eksistensinya. Mungkin permasalahan dasarnya ada disitu. Kita menatap penyandang disabilitas dengan cara yang berbeda sehingga rasa sebagai sesama manusia tidak tersambung.

Melalui program The Feelings of Reality, Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 mencoba untuk mengetengahkan lagi isu-isu terkait disabilitas. Sekaligus mengonfrontasi bagaimana cara kita menatap penyandang disabilitas. Program ini mencoba untuk membawa penonton ke dalam sinema itu sendiri melalui teknologi bernama virtual reality (VR).

Dengan dukungan dari Voice Global, The Feelings of Reality ingin mempelajari dan menyelami lebih dalam medium VR sebagai sebuah media tutur yang imersif. Dengan VR, kita seolah-olah dibawa ke dalam film—dan berada lebih dekat dengan subjek yang ada di film. Keunikan dan kekhasan medium ini hendak dari dieksplor lebih jauh bersamaan dengan misi mewujudkan inklusivitas dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi penyandang disabilitas. 

Perpaduan VR dan dokumenter ini ingin membawa penonton untuk lebih dekat menatap, bahkan mengalami keseharian penyandang disabilitas dari beberapa kota di Indonesia. Untuk beberapa menit, kita diajak untuk “masuk ke dalam sepatu” mereka dan merasakan realitas mereka. Tatapan kita yang selama ini bisa jadi diskriminatif terhadap penyandang disabilitas terkonfrontasi secara langsung. 

Tahun ini, FFD tidak hanya ambil peran sebagai ekshibitor. Porsi lebih besar coba untuk diambil dengan menjadi produser yang menyediakan ruang fasilitasi workshop  di 4 provinsi: DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Bersama dengan Angen Sodo, Ajiwan Arief Hendradi, Kisno Ardi, dan Muhammad Ismail yang ditunjuk sebagai mentor, delapan film hasil fasilitasi workshop itu akan membawa Anda ke sebuah kotak yang diimajikan. Setelahnya, penonton kembali ke realitas yang kita persepsikan dengan realitas maya dari dalam VR. Akan lebih banyak tabir untuk kembali peka terhadap realitas penyandang disabilitas.

Seluruh film dalam program The Feelings of Reality bisa dinikmati dalam bentuk pameran VR pada 2-7 Desember 2019 di Lobby Societet Taman Budaya Yogyakarta. Ada juga agenda diskusi terkait program ini pada 3 Desember 2019 pukul 10.00 WIB di IFI-LIP Yogyakarta.

Urusan gusur-menggusur dengan dalih pembangunan, negara kita punya sejarah yang panjang. Tiga puluh dua tahun silam, penggusuran besar-besaran pernah menimpa warga Kedung Ombo lantaran pemerintah hendak membangun sebuah waduk. 

Konflik agraria semakin pelik dari hari ke hari. Ditinjau dari catatan akhir tahun Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) pada 2017, terdapat 659 konflik agraria dengan luasan 520.491,87 hektar dan melibatkan 652.738 kepala keluarga. Adapun data Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia pada 2018 menunjukkan bahwa konflik agraria terjadi di sektor perkebunan, kehutanan, pertambangan, pesisir dan kelautan, perkotaan, dan infrastruktur.

Menurut Iqra Anugrah dalam esainya yang dimuat pada situs The Conversation, konflik agraria di Indonesia  bukan hanya seputar persoalan besaran kompensasi dan ganti rugi. Ada persoalan perebutan ruang hidup antara masyarakat dengan pemerintah dan korporasi yang terjadi dalam ketimpangan relasi politis (struktur pemilikan dan penguasaan tanah) serta sosio-ekonomi.

Keterikatan masyarakat terhadap lahan tidak hanya sebatas sebagai aset ekonomi saja. Bagi masyarakat yang hanya memiliki sebidang sawah berukuran kecil misalnya, nilai lahannya tidak hanya sebatas seberapa besar sawah itu menghasilkan, tetapi lahan sawah itu juga memberikan rasa aman karena mereka tidak akan kekurangan beras.

Lahan juga memberikan keterikatan sosial bagi masyarakat. Jika seseorang harus pindah karena lahannya diambil alih, ia kemungkinan besar akan merasakan ketidakpastian kondisi sosial di tempat yang baru. Misal, ikatan kekeluargaan dengan para tetangga yang sulit diperoleh.

Lebih jauh, masyarakat juga memiliki keterikatan identitas dengan lahan yang mereka tinggali. Jika sebuah desa harus ditenggelamkan untuk pembangunan waduk misalnya, maka masyarakat desa tersebut akan kehilangan identitas kampung halaman yang sudah turun temurun mereka tempati. Bagi masyarakat tertentu, lahan bahkan bisa memiliki keterikatan spiritual, seperti tempat yang dikeramatkan sehingga tidak mudah digantikan dengan uang atau material.

Pembangunan, apapun penjelasan ideologisnya, merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara sengaja (intervention) dan terencana dalam rangka mendapatkan hasil yang lebih baik dari kondisi kehidupan sebelumnya. Kondisi kehidupan yang lebih baik seperti apa yang diinginkan dalam proses perubahan itu, kata yang tidak pernah absen dari telinga setiap warga negara adalah kehidupan masyarakat yang sejahtera. Oleh sebab itu, perdebatan terkait proses perubahan dalam pembangunan berkembang menjadi perdebatan ideologis tentang bagaimana cara pencapaian perubahan dan hasil dari proses perubahan itu sendiri, yang berhubungan dengan kualitas kehidupan manusia. Kalau perubahan yang diharapkan lebih baik itu adalah sejahtera sebagai sebuah kondisi yang dapat dirasakan oleh masyarakat, pertanyaannya adalah, berdasarkan basis apa hidup sejahtera itu  diletakkan? Apakah sejahtera itu ditunjukkan oleh basis individu atau basis komunitas? Atau bahkan keduanya?

Berbagai bentuk perebutan ruang hidup masyarakat disajikan oleh Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 melalui program Etnografi Indrawi: Saksi Mata. Menyaksikan lima film dalam program ini secara bersamaan, mereka tampaknya terikat dalam upaya memeriksa peredaran pengalihan ruang hidup. Peredaran dapat bermakna sebuah sirkuit, gelanggang, atau lalu lintas yang terus melaju, mundur, ataupun ulang-alik. Ia dapat berwujud tindakan dan bahkan wujud yang menaungi lintasan tersebut. Pengalihan ini didorong oleh perluasan pembangunan dari waktu ke waktu dan di berbagai tempat, baik yang dialami segera oleh subyek manusia atau bentuk subjek-sebagai-pusat lainnya seperti alam atau lingkungan. Peredaran ini tidak serta merta menunjukkan dampak langsung pembangunan dalam nalar sebab-akibat, namun dapat berwujud fenomenal yang dapat dipahami melalui kemunculan gejalanya atau simtomatis dalam kurun waktu dan dimensi ruang tertentu. 

Program ini mempertemukan produksi audiovisual dan pendekatan etnografi indrawi. Pemahaman realitas melalui indra coba ditawarkan dalam program ini. Ada kemungkinan pendekatan lain untuk memahami kehidupan dan kebudayaan masyarakat di berbagai tempat, tidak melulu secara verbal seperti testimoni dan voiceover yang lazim digunakan dalam film dokumenter konvensional. Secara khusus, lima film dokumenter yang ditayangkan dalam program ini diproduksi oleh kolektif Antropolog Sensory Ethnography Lab (SEL) yang berbasis di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Narasi antara tempat bermain dan ancaman banjir di daerah kumuh tepi Sungai Ciliwung direkam dalam Film Notes From The Fringe (Aryo Danusiri, 2018) beberapa bulan sebelum penggusuran massal di daerah tersebut, sebagai bagian dari proyek gentrifikasi dengan dalih menangkal banjir.

Film The Iron Ministry (J.P. Sniadecki, 2014) merekam catatan perjalanan para migran Cina di dalam satu kereta api yang sama, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Laju kereta api seolah menarasikan kecepatan pembangunan.

Masih mengambil latar tempat di Negeri Cina, J.P. Sniadecki dalam Film The Yellow Bank (2010) mengajak penonton untuk menyaksikan, menunggu, dan melintasi potret Shanghai yang dibelah oleh Sungai Huangpu, saluran air dan udara keruh, arsitektur bangunan yang menjulang tinggi, serta kelap-kelip lampu gedung pencakar langit di malam hari.

Film yang berjudul An Aviation Field (Joana Pimenta, 2016) menyusun ulang fiksi tentang bagaimana kuasa maha besar Gunung Fogo yang menaklukkan Brasil di bawah debunya. Pimenta menjahit fiksi tentang rakyat imajiner di bawah kaki Fogo dengan permainan skala kota sebagai perpindahan antara yang konkret dan abstrak.

Dibuat di sebuah kamp tidak resmi Badui Palestina yang didirikan pada 1948 di hamparan pantai utara Tirus, Lebanon Selatan, Film Terrace of the Sea (Diana Keown Allan, 2009) memanfaatkan koleksi foto masa lalu untuk merenungkan ingatan, kehilangan, dan sejarah tentang penggusuran oleh Israel.

Selain perhatian khusus pada pemilihan film, upaya untuk menghadirkannya dalam format pameran menjadi cukup berbeda dibandingkan dengan pemutaran selama festival berlangsung. Gagasan ini memungkinkan penonton untuk dapat merasakan stimulan tertentu dengan keleluasaan waktu dan kesempatan untuk kembali menyaksikan karya-karya tersebut.

Tantangan berikutnya adalah, seberapa besar pendayagunaan indra, misalnya pencium, bisa dirancang lebih jauh? Pembahasan tersebut akan didiskusikan dalam program Doctalk: Etnografi Indrawi yang akan menghadirkan Aryo Danusiri dan Muhammad Zamzam Fauzanafi. Agenda ini akan diselenggarakan pada 4 Desember 2019 pukul 15.30 WIB di Kedai Kebun Forum.

Seluruh film dalam program Etnografi Indrawi: Saksi Mata akan dihadirkan dalam bentuk pameran yang digelar di Kedai Kebun Forum mulai tanggal 2 hingga 7 Desember 2019.

Pada 30 Juni 2019 lalu, dunia perfilman Indonesia tengah berduka dengan berpulangnya Abduh Aziz. Abduh Aziz tidak hanya dikenal di lingkungan film saja, tetapi juga di lingkungan seni dan budaya melalui aktivisme dan advokasinya terhadap film sebagai produk seni dan budaya. Peran Abduh Aziz dalam organisasi-organisasi kebudayaan membawa perubahan di skala nasional. Di mana film merupakan sebuah medium kreatif yang memiliki peran sebagai media penyampai pesan dalam membawa perubahan di ranah sosial dan politik.

Pemaknaan yang struktural dan jauh keluar merupakan ciri khas dari film karya Abduh Aziz. Beberapa karyanya tidak hanya mengutamakan bentuk dan estetika, tetapi juga mengutamakan kesatuan yang mampu mengkomunikasikan makna dari sebuah film. Sehingga setelah menonton film karya Abduh Aziz akan meninggalkan impresi serta dampak yang kuat untuk penonton. Demi mengenang karya-karya Abduh Aziz, Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 akan menayangkan film-film Abduh Aziz melalui Program Lanskap: Salam untuk Abduh. 

Lanskap pertama kali hadir pada FFD 2017. Secara spesifik, Lanskap hadir untuk melihat kekayaan film dokumenter di Indonesia serta ekosistem yang ada di dalamnya. Program Lanskap berusaha membuka aspek-aspek di luar film untuk diamati melalui film dokumenter. Begitu pula sebaliknya, aspek-aspek di dalam film dokumenter serta cara pemaknaannya dapat ditarik ke luar menuju ekosistem yang membentuk film tersebut.

Program Lanskap: Salam untuk Abduh ingin mengajak penonton untuk melihat kembali kiprah Abduh Aziz di dunia perfilman dan di wilayah sosial-politik Indonesia yang lebih luas lagi melalui film-film yang telah beliau kawal sebagai produser, sutradara, maupun penulis.

Melalui film Abracadabra! (Aryo Danusiri, 2003), filmmaker mengajak para penontonnya menjelajahi situasi di Aceh pada awal tahun 2003, tepatnya beberapa bulan sebelum tentara Indonesia kembali ke Aceh pada 19 Mei 2003. Di mana saat itu, digambarkan situasi Aceh pasca penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan pemerintahan Indonesia. Terlihat kepedulian filmmaker pada implikasi gejolak-gejolak yang terjadi terhadap iklim nasional, serta aspek kemanusiaan disajikan dengan detail melalui subjek-subjek yang dihadirkan dalam film. Dalam film ini, filmmaker membawa Anda untuk melihat potret keresahan masyarakat yang tidak sempat terungkap kamera televisi.

Tjidurian 19 (Lasja F. Susatyo & M. Abduh Aziz, 2009) membawa Anda pada cerita tentang hancurnya suatu komunitas di Jalan Tjidurian nomor 19 karena pertikaian  politik. Jalan Tjidurian nomor 19 adalah rumah untuk gagasan, cinta, ilmu, dan persahabatan. Tempat di mana anak-anak muda berkumpul, mengadu kebolehan dalam memberi warna kancah sastra Indonesia. Film ini mencoba mengangkat sejarah tidak dalam sudut pandang yang megah, tetapi melalui cerita-cerita kecil dari individu di suatu waktu dan tempat.

Kepedulian Abduh Aziz akan sejarah dituangkan melalui Banda: The Dark Forgotten Trail (Jay Subiyakto, 2017), dalam film ini dihadirkan sejarah kuat mengenai Kepulauan Banda yang mulai terlupakan. Kepulauan Banda yang dulu sangat berharga saat ini mulai kehilangan harganya. Pada abad pertengahan, segenggam pala dari Banda dianggap lebih berharga daripada satu peti emas. Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Manhattan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Filmmaker berharap supaya masyarakat Indonesia mengetahui sejarah Kepulauan Banda, sehingga bangga terhadap negaranya.

Melalui Di Atas Rel Mati (Welldy Handoko & Nur Fitriah, 2006) mencoba membawa penonton untuk lebih dalam melihat kondisi lapisan sosial tertentu di Indonesia. Disajikan potret kondisi sosial anak-anak di kampung Dao Atas, Ancol, Jakarta yang bertahan hidup dengan cara menyediakan jasa transportasi lori dorong. Lori dorong adalah sebuah alat untuk mengangkut penumpang dan barang. Tidak hanya kondisi sosial saja yang disajikan dalam film ini, ditampilkan pula sisi kemanusiaan orang-orang yang hidup di dalam lapisan sosial tersebut. Kritik-kritik di dalam film ini diimbangi dengan kepekaan terhadap karakter manusia itu sendiri.

Keempat film tersebut hanya sebagian kecil dari ringkasan panjang mengenai Abduh Aziz dalam kontribusinya di dunia perfilman Indonesia. Melalui karyanya kita dapat terus merasakan keberadaan Abduh Aziz di dunia perfilman Indonesia. Film-film dalam Program Lanskap: Salam untuk Abduh akan diputar pada 5-6 Desember 2019 di Taman Budaya dan IFI-LIP.

Film adalah produk seni, sementara dokumenter memiliki posisi unik dalam reputasinya terhadap konten yang dibawa. Bagaimana dokumenter memadukan estetika dan ketajaman dalam memandang manusia dalam dan dengan aspek-aspek mereka? Bagaimana dokumenter berdiri dalam ekosistem seni di Indonesia dan bagaimana sebaiknya memaknai hal ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab secara lengkap dalam perbincangan bersama dalam salah satu agenda Doctalk khusus untuk program Lanskap dengan tajuk Dokumenter dan Ekosistem Seni Indonesia. Diskusi ini akan dipandu oleh Aryo Danusiri dan Lasja F. Susatyo selaku praktisi film pada 6 Desember 2019 pukul 15.30 WIB di IFI-LIP Yogyakarta.

Kekerasan merupakan suatu pengalaman yang dirasakan secara personal maupun kolektif. Terdapat beraneka ragam kekerasan di dunia ini. Menurut Galtung (1990), terdapat ‘violence triangle’ untuk membantu mengidentifikasi bentuk-bentuk kekerasan. Ketiganya, antara lain: kekerasan langsung, struktural, serta kultural. Kekerasan langsung merupakan kekerasan yang terlihat secara nyata beserta pelakunya. Kekerasan struktural melukai kebutuhan dasar manusia. Dalam kekerasan ini, tidak ada pelaku yang dapat diminta pertanggungjawabannya. Kekerasan kultural merupakan legitimasi akan kekerasan langsung serta struktural secara budaya. 

Kekerasan yang dialami seseorang tentunya akan selalu teringat, baik itu kekerasan fisik maupun nonfisik (psikis). Meskipun kekerasan yang dialami tidak terlihat wujudnya (nonfisik), dampaknya tetap terasa sehingga meninggalkan luka yang berbekas pada korbannya. Melalui film, beraneka ragam pengalaman mengenai kekerasan dapat dimaknai, dibagikan, dimaknai kembali, dibagikan kembali, dan begitu seterusnya. Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 mengajak Anda untuk turut serta melihat serta memaknai film tentang pengalaman kekerasan melalui program Layar Lebar, Layar Kekerasan.

Layar Lebar, Layar Kekerasan adalah program tiga tahun (2018-2021) yang menjadi bagian dari penelitian Screening Violence: A Transnational Study of the Local Imaginaries of Societies in Transition from Conflict. Program ini dirancang untuk memahami cara manusia dalam memaknai, serta membagikan beraneka ragam pengalaman kekerasan.

Beberapa tokoh yang terlibat dalam penelitian Layar Lebar, Layar Kekerasan, antara lain: FISIPOL UGM (Diah Kusumaningrum), Post Office Cowboys (Pablo Burgos), Universidad Claretiana (Manuel Beltrán), Veto Films (Yacine Helali), Ulster University (Brandon Hamber),  El Pampiro Cine (Alejo Moguillansky), University of London (Cecilia Sosa), University of Bristol (Roddy Brett), serta Newcastle University (Guy Austin, Nick Morgan, Philippa Page, Simon Philpott, dan Carolyn Taylor) sebagai koordinator.

Layar Lebar, Layar Kekerasan mengajak komunitas-komunitas film di lima negara: Aljazair, Argentina, Kolombia, Indonesia, dan Inggris (Irlandia Utara) untuk menonton, mendiskusikan, serta melakukan riset seputar aneka pengalaman akan kekerasan yang terefleksikan di dalam film. Di Indonesia rangkaian kegiatan Layar Lebar, Layar Kekerasan melibatkan komunitas-komunitas di Ambon, Bireuen, dan Yogyakarta. Di setiap negara mitra, kelompok dan individu akan menonton serangkaian film tentang konflik di masing-masing negara lain. Setelah pemutaran akan ada kesempatan untuk membahas film, masalah yang dilontarkan akan disesuaikan dengan relevansi pandangan serta pengalaman lokal kita sendiri.

Program Layar Lebar, Layar Kekerasan memanfaatkan film untuk memfasilitasi diskusi mengenai bagaimana suatu individu dan komunitas yang berbeda, muncul membawa kekhasan imajinasi akan pengalaman kekerasan mereka. Pertanyaan besarnya adalah, apakah kekhasan ini juga membatasi bayangan mereka akan cara-cara binadamai? Apa yang bisa dilakukan guna memperkaya imajinasi kolektif kita dalam mentransformasi konflik? Sepanjang FFD 2019 ini, kami mengajak Anda menonton dan mendiskusikan pengalaman kekerasan melalui film dari Aljazair, Kolombia, Malaysia, dan Taiwan untuk menjawab pertanyaan di atas.

Film Lettre á ma sœur (Habiba Djahnine, 2006) ini akan membawa Anda pada pengalaman kekerasan yang dituliskan melalui surat seorang aktivis perempuan, Nabila Djahnine. Nabila Djahnine dibunuh pada 15 Februari 1995 di Tizi-Ouzou. Pada tahun 1994, sebelum kematiannya Nabila Djahnine menulis surat kepada kakaknya, Habiba Djahnine (filmmaker). Surat tersebut berisi tentang represi dan kekerasan yang tengah terjadi, serta perasaan tak berdaya yang menderanya. Timbul berbagai pertanyaan dalam benak Habiba Djahnine karena surat itu. Salah satunya, mengapa pembunuhan menjadi satu-satunya solusi dalam konflik yang memecah Aljazair? Film ini menyajikan jawaban Habiba Djahnine atas surat Nabila.

Tidak jauh berbeda dari film sebelumnya, film Falsos Positivos (Simone Bruno & Dado Carillo, 2009) juga bercerita mengenai pembunuhan. Lebih tepatnya, pembunuhan hingga 3000 warga sipil di Kolombia. Pada 2008, tentara dan polisi Kolombia terlibat dalam skandal, mereka dengan sengaja melakukan penembakan terhadap warga sipil. Warga sipil yang ditembak merupakan warga sipil yang dianggap pemberontak maupun yang dianggap gila dan cacat mental. Penembakan ini dilakukan agar tentara serta polisi diakui sebagai bagian dari keberhasilan negara dalam menumpas pemberontakan. Filmmaker akan membawa Anda untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh keluarga korban demi mencari jawaban atas kematian orang kesayangan mereka.

Berpindah dari pengalaman kekerasan mengenai pembunuhan, film The Tree Remembers (Kek Huat Lau, 2019) mengajak Anda untuk memikirkan ulang kehidupan lintas ras di Malaysia. Diiringi dengan pertanyaan mengenai apa itu ras hingga dari mana asal muasalnya, filmmaker akan menarik Anda untuk kembali mengingat kisah Semenanjung Malaya, kerusuhan rasial pada 1969. Menghadirkan wawancara serta rekaman arsip dari tahun 1960-an, filmmaker mengingatkan penonton akan kebenaran yang buruk. Melalui film ini, filmmaker mendobrak anggapan bahwa mendiskusikan kerusuhan 1969 adalah tabu.

Demokrasi tidak akan pernah berkembang jika tidak ada keterlibatan dari warga negaranya. Film Our Youth in Taiwan (Yue Fu, 2018) mencatat delapan tahun perjalanan aktivis-aktivis muda yang membangkang terhadap penguasa Taiwan dan Cina. Seorang aktivis Taiwan yang berjuang melawan Cina, seorang pelajar Cina yang mencintai Taiwan, seorang pembuat film dokumenter Taiwan yang tertarik pada politik ada dalam film ini. Sebagaimana perjalanan aktivis pada umumnya, gerakan sosial di Taiwan ini penuh gejolak. Anak muda dan politik selalu menjadi perpaduan yang menarik.

Keempat film di atas akan disajikan dalam program Layar Lebar, Layar Kekerasan pada 3-7 Desember 2019 di Taman Budaya Yogyakarta.