Kadang kala fakta bisa saja diembargo tidak dengan cara yang lugas, tapi secara terus-menerus, tertutupi oleh tafsiran-tafsiran yang makin lama kian jadi keramat. Hingga muncul fakta fiktif yang tambah mengaburkan segala apa yang dilihat dan dirasa.  Begitulah realitas hidup kita dikelilingi mitos, oleh makna-makna terselubung yang pada akhirnya disahkan bersama. 

Ia seperti diam-diam dan pelan-pelan merasuk ke dalam hari-hari kita. Jalan yang dilalui mitos bisa dari mana-mana, seperti dari bentangan geografis hingga tuturan pengalaman empiris secara kolektif. Hampir semua aspek kehidupan bersinggungan dengan mitos ini. Kemudian, tidak berhenti pada satu anak manusia, mitos itu meluber ke konteks yang lebih luas seperti dalam budaya dan institusi sosial. Kehadirannya tak hanya bersembunyi di balik tempurung kepala, tapi juga keluar dalam bentuk tindakan-tindakan praktis, melalui beragam medium.

Salah satunya film. Gambar hidup ini dinilai sebagai medium yang mampu mencipta realitas, seiring dengan jangkauannya yang luas. Namun, yang kemudian memantik pembahasan lebih lanjut adalah jarak pandang kita terhadap mitos itu sendiri dalam sinema. Apakah sebatas gambaran realitas itu tadi, atau bisa sampai pada tataran pengalaman riil?

Program Spektrum: Memitoskan Mitos pun mendekat pada perkara itu, melalui dua dokumenter panjang dan lima dokumenter pendek terpilih. Masing-masing karya barangkali memiliki titik pijaknya sendiri untuk membuktikan bagaimana film menjadikan mitos benar-benar hidup, ataupun kalau mati, akan gentayangan ke segala penjuru. Ini sekaligus menjadi upaya Festival Film Dokumenter (FFD) 2021 dalam menelusuri memori episodik selama 20 tahun ke belakang, yang tak jauh-jauh dari ranah kehidupan masyarakat: sosial, ekonomi dan budaya.

Dari sana, kita tahu produksi suatu karya dokumenter tak hanya rekaman tuturan berulang-ulang sebuah kejadian atau kenyataan hidup. Juga bukan hanya soal keindahan teknis. Lebih dari itu, dengan halus film-film tersebut membawa pesan kuat yang bisa begitu persuasif bahkan jadi sesuatu yang sifatnya propaganda. Boleh dikata sebelum menampakkan diri, mitos bersembunyi di balik proses kreatif itu. Lalu ketika cerita fakta sudah dipertontonkan dan pesan berhasil menyentuh si penonton, mitos menyelinap hadir sebagai penuntun makna-makna tertentu melalui bahasa sinema.

Film-film dalam program ini menceritakan hubungan manusia dengan mitos dari berbagai lanskap. Seperti halnya Bosco (2020) dan Red Moon Tide (2020). Dua film panjang itu mengambil sudut pandang kedekatan mitos dengan ruang geografis dan kartografi, yaitu mitos kota Bosco serta kisah makhluk dan figur mitologi. Berbeda lagi dengan film pendek Storgetnya (2020) yang memaparkan praktik pengobatan alternatif speleotherapy dengan cara menghirup udara di dalam gua yang mengandung mineral dan garam. Lalu Mada or the story of the first man (2021), mencoba menyandingkan mitos dengan fiksi baru di ranah arkeologi. Ada pula Termimpi Maujun (2021) yang menyajikan bagaimana relasi lingkungan dan komunitas melalui mimpi. 

Dokumenter merupakan salah satu medium yang menangkap lanskap suatu peristiwa dengan persepsi kamera. Persepsi dalam film dokumenter diciptakan dengan penentuan posisi serta sudut pandang kamera. Peristiwa yang ditangkap dalam sudut pandang tertentu berpengaruh kepada narasi yang dibangun sehingga dokumenter dapat menyampaikan narasi-narasi kritis; baik sosial, politik, dan lain sebagainya. Jika ditelisik lebih detail, terdapat perubahan bahasa dan tutur dokumenter yang terjadi dari waktu ke waktu melalui berbagai aspek. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan dokumenter dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan.

Perubahan yang mengiringi perjalanan Dokumenter untuk terus berkembang tentunya akan sulit untuk ditemukan jika tidak ada pembacaan kembali terhadap karya-karya terdahulu. Melalui pembacaan kembali terhadap karya terdahulu, kita bisa melihat perubahan di berbagai aspek dalam dokumenter yang menarik untuk dikaji serta dapat digunakan sebagai referensi di masa sekarang.

Arsip Forum Film Dokumenter berhasil merangkum gagasan serta cara tutur pembuat film dokumenter Indonesia dalam berbagai kompleksitas budayanya. Penyampaian narasi serta cara tutur film dokumenter seringkali bermuara kepada keberlanjutan yang mempengaruhi pembuatan film dokumenter lain, khususnya pada dua dekade perhelatan Festival Film Dokumenter (FFD). Dua dekade terselenggaranya FFD tentu menjadi pencapaian yang luar biasa. Akan tetapi, FFD tidak akan sampai di titik ini tanpa perjalanan panjang dokumenter di tahun-tahun sebelumnya. Maka dari itu, FFD 2021 berusaha mengajak publik untuk membaca kembali arsip film dokumenter melalui program Lanskap 21: 2 Dekade Dokumenter.

Pembacaan lain dari “2 Dekade Dokumenter” juga menjadi penanda dan refleksi bagi penyelenggaraan FFD yang ke-20. Sesuai dengan tema yang diangkat FFD tahun 2021, “Keberdayaan dan Kegigihan”. Tentu para penggiat film dokumenter juga harus terus berdaya dan gigih untuk terus menghadirkan dokumenter-dokumenter berkualitas yang mampu menangkap setiap fenomena dalam masyarakat di Indonesia.

 

Program Lanskap hadir sebagai upaya FFD dalam membicarakan wacana yang hadir tentang dan di Indonesia melalui medium dokumenter. Program ini menawarkan pembacaan karya melalui cara pandang dalam memaknai film dokumenter Indonesia sekaligus melihat Indonesia dari film dokumenter itu sendiri. Melalui Lanskap 21: 2 Dekade Dokumenter, FFD mengajak publik untuk membaca karya dalam rentang waktu yang lebih panjang, yang mana dihadirkan film dokumenter selama dua dekade terakhir. Karena dua dekade tentu menjadi waktu yang lama dalam perjalanan film dokumenter, banyak hal yang dapat menjadi bahan untuk berproses.

Perubahan dokumenter yang paling dirasakan adalah adanya pandemi Covid-19 yang membawa banyak perubahan, baik dari pola produksi, persebaran film dalam jaringan, hingga cara menikmati film. Fenomena ini tentu menjadi perubahan paling terasa dalam ekosistem film dokumenter. Untuk dapat beradaptasi dalam pandemi tentunya diperlukan perubahan dalam pola produksi hingga distribusi film dokumenter. Perubahan ini dapat ditemukan dalam film-film yang disajikan dalam Lanskap 21: 2 Dekade Dokumenter.

Genre Sub Genre (2014)

Melalui film 400 Kata/400 Words (2013), Genre Sub Genre (2014), dan Sepanjang Jalan Satu Arah/Along The One Way (2016) penonton akan diajak melihat peleburan dokumenter dan fiksi dalam ketiga film ini. Peleburan ini membuat batasan antar genre menjadi tidak lagi terlihat dan menjadi satu dalam film tersebut.

Batu Bata Merah (2014), The Coffeemaker (2009), Diary of Cattle (2019), dan Pabrik Dodol (2009 hadir untuk memanjakan penonton dengan visual storytelling dalam penyampaian pesannya. Ketiga film ini sukses menjelaskan fenomena yang diangkat melalui penyajian estetika visual. Meski tanpa dialog, film ini mampu berbicara dan membuat penonton memahami keadaan yang dalam film.

Masih tentang estetika visual, film dokumenter juga dapat penonton nikmati dalam bentuk animasi. Penonton dapat menikmati dokumenter animasi dalam film Begini lho, Ed! (2013), dan kOsOng (2020). Kedua film ini merupakan dokumenter panjang, tapi penyajian animasi membuatnya tidak membosankan untuk dinikmati.

Tahun ini, program Lanskap mengupayakan untuk dapat tercipta cara pandang dan pengimajinasian dokumenter yang lebih inklusif. Penonton dapat mempelajari hal ini dari film Farewell My School (2013) dan Bunyi Banyu (2020). Kedua film ini sukses menyajikan subjek difabel tanpa membuat mereka merasa sebagai difabel.

Penggarapan film tentunya menggunakan pendekatan-pendekatan yang berbeda. memories/fortress (2020) sukses menyajikan dokumenter yang digarap dengan pendekatan etnografis. Latar belakang pendidikan filmmaker di bidang etnografis dan film dokumenter mendukung berhasilnya pendekatan yang digunakan.

Berpindah dari keseriusan dokumenter, Gorila dari Gang Buntu (2009) dan Dogod (2014) sukses menyajikan narasi yang sebenarnya kompleks dengan penyajian yang menyenangkan. Kedua film ini dapat menjadi penyegaran di tengah dokumenter-dokumenter yang serius. 

Selain itu, penonton juga dapat menikmati perbedaan dan perkembangan gaya tutur dan bahasa dalam penyampaian setiap isu serta dinamika film dokumenter melalui Denok & Gareng (2012), Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) (2013), Homo Homini Lupus (2008), Paotere/The Fish Market (2009), Nyalon (2014), Akar/Roots (2014), On The Origin of Fear (2017), dan Salmiyah (2020).

Program Retrospektif berfokus pada perjalanan karya seorang filmmaker serta kontribusinya terhadap perkembangan dokumenter dunia. Tahun ini, Program Retrospektif menghadirkan pengalaman menonton karya-karya ciamik milik Chris Marker.

Siapakah Chris Marker? Penulis, fotografer, editor, pembuat film, videografer, dan seniman multimedia digital; Marker adalah salah satu rahasia sinema. Ia terkenal tertutup dan diselimuti nama samaran. Namun, berkat maraknya festival film yang terus berkembang, hari ini rahasianya menjadi lebih dikenal dan dapat dibagikan secara luas hingga Marker berhasil mendapat pengakuan sebagai salah satu tokoh budaya visual kontemporer yang signifikan.

Chris Marker mendorong kelahiran budaya film esai yang mengeksplorasi bagaimana pergeseran perspektif manusia memengaruhi praktik-praktik produksi film. Karya-karya yang telah dirajut oleh Marker kerap menggambarkan waktu dan peristiwa yang bersifat reflektif. Pemahaman atas keseluruhan pendekatan karya sinematografi Marker bertumpu pada aspek subjektivitas dan tekstualitas. Polisemi imaji yang menjadi caranya dalam mempertanyakan dan menyampaikan kompleksitas sejarah menjadi salah satu keunikan dari karakter sinematografinya.

Marker merefleksikan proses merajut memori yang terjadi melalui permainan dialektis dan proses montase kreatif yang melibatkan masa lalu dengan memberinya makna, bukan melalui kultus sejarah. Dengan foto, urutan footage, atau bentuk arsip lainnya yang direplikasi dan tidak pernah hilang, Marker membawa kembali kenangan masa lalu dan nostalgia. Melalui refleksi terhadap imaji, karya tersebut hidup dan terus berkelana. Marker tidak berusaha mendamaikan politik dan estetika. Sebaliknya, ia mengartikulasikan keduanya dengan memelihara citra yang terus-menerus dipertanyakan dan beresonansi dengan relevansinya saat ini.

Program Retrospektif menghadirkan 4 karya dari Chris Marker yang terdiri dari 3 film panjang dan 1 film pendek sebagai upaya untuk melihat kembali karya Marker sejak kepergiannya hampir 10 tahun lalu. Lettre de Sibérie (1958) merupakan karya pada masa-masa awal Chris Marker membuat filmnya. Dalam film tersebut, Marker mengajak penonton untuk melihat kehidupan dan budaya di Siberia. Le Fond de L’air Est Rouge (1977) merupakan karya Marker yang berfokus pada gejolak politik global pada 60-an dan 70-an, khususnya kebangkitan New Left di Prancis dan perkembangan gerakan sosialis di Amerika Latin. Kemudian Sans Soleil (1982) mengisahkan seorang wanita yang menceritakan tulisan-tulisan kontemplatif dari seorang pelancong dunia yang berpengalaman.

Pada 21 Oktober 1967, lebih dari 100.000 pemrotes berkumpul di Washington, D.C. berusaha untuk mengakhiri Perang di Vietnam. Pertemuan tersebut merupakan  pertemuan protes terbesar yang pernah ada, dan menyatukan berbagai kalangan dari liberal, radikal, hippie, dan Yippies. Chris Marker ada di sana kala itu, dan berhasil melahirkan karya yang berjudul La Sixième face du Pentagone (1968).

Pecahan genteng akan tampak seperti emas yang tak bernilai. Demikian makna dari pepatah Jawa yang berbunyi “wingko katon kencana”. Pepatah ini mampu digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang dimabuk kepayang. Banyak hal yang didasari dengan cinta akan terasa lebih indah, lebih baik, dan lebih nyaman. Jarak yang sebenarnya sangat jauh akan terasa lebih dekat, berat akan terasa ringan, dan sulit akan terasa lebih mudah. Rupa-rupanya memang benar bahwa segala pekerjaan akan terasa lebih nyaman jika dilandasi oleh cinta.

Dunia yang kita tempati berkembang secara dinamis dan tidak satupun manusia mampu mengontrol gerak lajunya. Perkembangan itu kini memasuki era kala dunia seolah-olah membenam dengan kapitalisme. Banyak individu maupun kelompok yang terdistorsi dengan adanya perkembangan ini dan percaya bahwa manusia dapat menemukan jati dirinya melalui bekerja. Celakanya, dalam perkembangan kapitalisme lanjut, ragam pekerjaan justru banyak mengasingkan manusia dan merasa terpinggirkan. Kegiatan atau kerja-kerja yang memiliki pondasi cinta serta afeksi sering kali hanya membuahkan apresiasi (finansial) yang minim karena dirasa tidak sesuai dengan konstruksi sosial yang telah terbentuk. Pernyataan tersebut kerap kali menyita pikiran, waktu, tenaga, dan emosi dari para pelakunya. Lantas, apa yang memotivasi mereka untuk melakukan pekerjaannya dengan tetap gigih dan tekun?

Melalui cinta personal yang tumbuh bersama dengan pengalaman serta ingatan personal, gerakan-gerakan kecil tumbuh. Lambat laun gerakan itu menjadi semangat yang terus hidup dan menghidupi pelakunya. Dari pengalaman dan ingatan personal tersebut, kita dapat bertemu dengan persoalan yang lebih besar yang akan terus tumbuh dari rasa cinta yang memang sudah tertanam. Misalnya, sekelompok orang yang menyukai seni musik atau tari akan memilih untuk bekerja pada ranah seni pertunjukan. Lebih dari itu, banyak pula jenis pekerjaan rumah tangga, seperti anggota keluarga yang bertanggung jawab atas anggota keluarga yang sakit, atau seorang ibu yang bertanggung jawab atas anaknya; atau sebaliknya, seorang anak yang bertanggung jawab atas orang tuanya. Jika menilik lebih dalam lagi, banyak pula individu yang bersedia meluangkan tenaga, pikiran, waktu, biaya, dan perasaan mereka untuk menemukan identitasnya di tengah lapisan-lapisan konflik personal yang dialaminya. Praktik-praktik kerja tersebut kerap kali dijalani oleh individu atau kelompok yang jauh dari usaha untuk memenuhi kerangka kapitalisme.

Jika zaman kapitalis telah gagal untuk memberikan apresiasi terhadap pekerjaan-pekerjaan tersebut, bagaimana kita dapat memaknai pekerjaan ini secara lebih lanjut?

Eksistensi Program Perspektif Festival Film Dokumenter 2021 mencoba menggambarkan kegigihan dan ketahanan seseorang atau sekelompok orang dalam melakukan praktik-praktik kerja yang barangkali berangkat dari landasan personal yang kemudian dapat kita baca untuk memahami persoalan struktural yang lebih besar.

Melalui My Father, Dr. G (Hidayah Hisham, 2020) kita dapat melihat lapisan antara perjuangan yang dilakukan seorang anak dalam mendukung ayahnya, dan seorang Ayah yang melakukan praktik pengobatan dengan tumbuhan ganja dan telah divonis hukuman mati oleh hukum yang berlaku di Malaysia. Anaknya terus berusaha untuk melakukan negosiasi agar ayahnya dibebaskan dari hukuman tersebut.

The Traditional Brazilian Family KATU (Rodrigo Sena, 2020) menceritakan bagaimana identitas dalam komunitas adat diteguhkan melalui dokumentasi foto sebagai artefak ingatan. Dua belas remaja diwawancarai oleh surat kabar dan berbicara tentang perjuangan untuk mengenali akar asli komunitas mereka. Delapan tahun kemudian, tim kembali ke Catu untuk mencari protagonis ini, sekarang dewasa, untuk belajar tentang lintasan pribadi mereka dan untuk mendekati kehidupan sehari-hari dan pandangan dunia penduduk mereka.

The Voice Remains (2021, Laura Pérez Gómez ) memaparkan cerita tentang kerja-kerja rekonsiliasi dalam ranah domestik. A Mandolin in Exile (2020, Rafiqul Anowar) menghadirkan bentuk-bentuk kerja di luar kerangka ekonomi untuk bertahan dan meneguhkan spirit kolektif melalui sajian musik.

Between Fire and Water (2020, Viviana Gomez) menghadirkan persoalan identitas personal yang harus dinegosiasikan dalam sebuah komunitas adat. Dan Ketika Tunas Itu Tumbuh (2020, Kurnia Yudha) menyuguhkan bagaimana peristiwa ‘penghilangan’ simbol kebudayaan yang terjadi di masa silam menjadi ingatan sekaligus semangat baru untuk meneguhkan identitas mereka melalui kegiatan atau aktivitas komunal dalam wujud festival.

Enam film dalam program ini mewakilkan tujuan dari Program Perspektif, yakni mengangkat isu kegigihan dan kebertahanan. Para programmer, Alwan Brilian dan Irfan Darajat, percaya bahwa sampai detik ini, terlepas dari perihal emosi dan energi yang selalu menjadi hal-hal yang dikorbankan dan dipertaruhkan, masih ada bentuk kerja yang diyakini oleh baik seseorang maupun komunitas sebagai upaya untuk mempertahankan sesuatu yang dicintainya, meskipun jauh dari kerangka kapitalisme.

Pada Festival Film Dokumenter tahun 2019, Program Docs Docs membicarakan dokumenter pendek lewat tajuk Short!. Persoalan medium dan impresi menjadi variabel yang diulik untuk menemukan posisi tawar dari karya dokumenter pendek sebagai lahan subur bagi kebaruan bentuk. Konsep-konsep yang dituding sebagai bentuk baru dalam karya ini, memunculkan definisi tentang dokumenter eksperimental. Hal itu  yang kemudian meleburkan batas antara dokumenter pendek, eksperimental dan video art. Namun, sebelum jauh membicarakan medium dan impresi dari dokumenter pendek, ada baiknya kita mundur ke belakang untuk menemukan kerangka soal kebaruan bentuk yang lekat dengan film-film pendek.    

Berdasarkan laporan-laporan Gotot Prakosa kepada DKJ tahun 1982, ketika Departemen Penerangan masih ada, film hanya dibedakan menjadi dua, yakni film cerita dan non cerita. Dokumenter berada di ranah noncerita bersama dengan video dan home movie. Dokumenter di masa itu hadir tak ubahnya sebagai video yang dibuat sesuai kebutuhan instansi pemerintah atau kelompok lain. Tentu dengan capaian konsep estetik yang disesuaikan dengan aturan perfilman pada masanya. Lambat laun, kemajuan teknologi yang hadir di Indonesia, mendorong kemunculan film di luar ketentuan pemerintah. Pun dalam gaya penceritaan dan durasi. Kondisi ini terus berkembang hingga lahir beberapa kelompok yang mengusung gagasan khusus dalam kekaryaan. Seperti kelompok Sinema Delapan dengan eksperimentasi kamera 8mm, hingga Forum Film Pendek yang mulai mengurai hakikat film pendek. 

FFD 2019 - Distancing

Karya-karya dengan berbagai eksperimen bermunculan, hingga mendorong Forum Film Pendek untuk memaknai kehadiran film pendek sebagai model dan alternatif film yang tidak berorientasi pada komersialisme. Lebih jauh, forum tersebut mendefinisikan karya ini sebagai film yang berada di luar jalur bioskop dan dinilai dapat menunjukkan sikap pembuatnya secara utuh. Film pendek di sini mencakup film cerita pendek, home movie, eksperimental, animasi, dokumenter, serta karya lain yang mengikuti konsep konsep yang dibicarakan.

Sejarah yang demikian, menampakkan bahwa perkembangan teknologi, klasifikasi ruang putar, dan kesadaran soal impresinya yang berbeda dengan film kebanyakan—film cerita panjang semakin membentuk logika bahwa film pendek adalah ruang yang mengakomodir kebaruan bentuk. Dalam hal ini, impresi film kebanyakan merujuk pada kesan karya yang di konsep umum—Hollywood. 

Kemudian, dokumenter yang hadir dalam medium film pendek menghasilkan capaian impresi yang berbeda. Capaian ini merujuk pada perspektif sekaligus pengetahuan filmmaker yang termanifestasi dalam permainan konsep estetik—dalam tulisan ini akan dianggap sebagai medium—guna membangun impresi. Di ranah dokumenter, permainan medium merujuk pada metode pengolahan data yang terverifikasi. Pengolahan data menjadi unsur yang memunculkan perbincangkan soal dikotomi dokumenter sebagai genre atau metode. 

FFD 2019 - Katsuo-bushi

Dokumenter sebagai genre merujuk pada konsep film yang menampilkan peristiwa secara faktual, tanpa rekayasa, dan menolak proses interpretasi filmmaker. Film-film jenis ini dapat ditandai melalui gaya, pendekatan, struktur dan bentuk tertentu. Misalnya, melalui lima gaya penceritaan yang dirumuskan Bill Nichols, yakni ekspositori, observasional, interaktif, refleksi, dan performatif. Atau melalui pendekatan naratif/essay. Atau melalui struktur tiga babak/lima babak. Rupa dokumenter ini yang hadir dan diyakini banyak orang sebagai “dokumenter”. Sedangkan interpretasi dan rekayasa diberi ruang dalam konsep dokumenter sebagai metode. Dan, realitas berada pada nilai dari data yang terverifikasi. Akomodasi yang demikian membangun kebaruan bentuk film di luar konsep dokumenter. Di medium ini dokumenter kerap dianggap sebagai karya eksperimental atau video art.  

Perbincangan rupa dokumenter ini, sebenarnya menyisakan dua perkara, pertama apakah perspektif dan pengetahuan filmmaker sejalan dengan permainan medium dan capaian impresi? Kedua, apakah persepsi ini tepat dalam menggambarkan pengetahuan dari data yang dikumpulkan? Perkara ini adalah dasar untuk membentuk konteks film. Konteks yang lahir karena jalinan antara medium, pengetahuan, dan impresi berada dalam satu paket pas. Satu paket yang tidak menyuguhkan keberlebihan tanpa makna pada medium film pendek.

Adapun dua perkara tersebut, akan membingkai bacaan kita pada delapan film di program ini. Film (***) Fish (Filip Bojarski, 2019) menampilkan peristiwa penangkapan ikan lele yang dibenturkan dengan puisi dari Tadeusz Róźewicz. Dua materi ini membangun interpretasi soal kesadaran. Kemudian, interpretasi berulang yang dilakukan Filip dalam gambar ratio 4:3 menempatkan penonton sebagai seorang pengamat yang jauh dengan peristiwa. 

FFD 2019 - (***) Fish

Hal yang sama juga ditawarkan film Introducing to Imamura Shohei (Byung Ki Lee, 2019), Film ini memainkan impresi penonton melalui tafsir atas potongan-potongan film dari Imamura Shohei dan Ozu, voice over, hingga jukstaposisi antar gambar. Obsesi filmmaker mengarahkan penonton untuk menemukan makna dari gambaran rumah sekaligus  berbagai elemen pengisi frame di film-film Shohei dan Ozu.  

Film On Thai Women : They are weak, that’s why they dream of weak women (Rosalia Engchuan, 2017) menghadirkan perspektif filmmaker tentang perempuan Thailand. Perspektif filmmaker mewakili pandangan luar sekaligus penonton atas fenomena yang terjadi di Thailand. Memperlakukan pandangan penonton dalam posisi khusus juga diterapkan dalam film Distancing (Miko Revereza, 2019). Film ini membicarakan soal jarak secara harfiah untuk memaknai jarak yang abstrak. Kedua hal tersebut disampaikan melalui montage dan komposisi gambar yang sedemikian rupa. Persoalan jarak juga diolah dalam film The Missing Scene From Petrus – draft #4 (Arief Budiman, 2019). Materi visual dan audio yang digunakan membangun jarak untuk memaknai realitas sejarah. Seolah-olah sejarah adalah sesuatu yang kabur dan bisa rekayasa. 

Di film Origin of Shadow (Shuhei Hatano, 2017) surat yang tak pernah sampai dan berbagai rindu yang berhamburan, menjadi hantu dalam memaknai berbagai sudut kota. Montage montage yang sedemikian rupa menuntun penonton untuk merasakan berbagai kolase tentang pertemuan dan perpisahan. Memandang bagian kota dari sudut yang terlihat juga ditawarkan film The Summer of Arte (Takayuki Yoshida, 2018). Sudut-sudut taman ini digambarkan penuh daya tarik melalui permainan angle kamera dan komposisi. Berbeda dengan ketujuh film lainnya, film Katsuo Bushi (Yu Nakajima, 2015) menghadirkan proses pembuatan bahan yang sangat diperlukan dalam masakan Jepang. Perjalanan ikan yang hadir dalam montage-montage menghadirkan konteks mengenai Jepang beserta pergerakan Industri di dalamnya.          

Film-film program ini dapat dinikmati dalam rangkaian festival pada tanggal 2-7 Desember 2019. Cek agenda lengkap FFD 2019 di sini.

Kesehatan mental dapat dicapai ketika kebutuhan manusia untuk merasa bahagia terpenuhi. Berbagai cara diusahakan manusia untuk mencapai kebahagiaan itu. Mulai dari melakukan hal yang disenangi terus-menerus, menebar kutipan-kutipan penyemangat di media sosial hingga menciptakan memoar-memoar tentang capaian diri. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang didapat secara cuma-cuma melainkan diusahakan.

Kebahagiaan seseorang hadir ketika mereka mendapatkan perasaan aman, nyaman, dan tenang. Mengusahakan perasaan ini hadir menjadi persoalan berat ketika menilik sifat dasar manusia sebagai makhluk multidimensional. Manusia adalah makhluk multidimensional yang diharuskan hadir dengan banyak peran dalam satu waktu. Diharuskan hadir sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi, makhluk spiritual, makhluk yang berbudaya, dan sekaligus berbagai peran-peran yang lain. Ini bentuk adaptasi mereka terhadap lingkungan. Sifat ini secara tidak langsung juga menggambarkan bahwa, manusia adalah makhluk yang menyandang berbagai problematika. Adaptif dalam konteks tersebut dapat dimaknai sebagai metode, sekaligus sebagai tekanan yang menuntut mereka untuk bermain peran.

Selain menjadi metode mencapai kebahagiaan, adaptasi hadir sebagai tekanan dari sesuatu yang melingkari manusia. Seperti saat mereka lahir kemudian hidup dalam satu kelompok yang bernama keluarga. Di dalam kelompok terkecil dimana identitas dan peran disematkan untuk pertama kalinya, manusia dituntut untuk menjalankan sebuah sistem. Sistem ini mengatur peran sekaligus sikap dari masing-masing anggota. Termasuk mengatur cara pandang mereka tentang sesuatu yang baik, yang kadang menciptakan benturan hingga berdampak pada kondisi mental mereka.

FFD 2019 - China Man

Sistem yang berlaku di sebuah kelompok-kelompok kecil berhubungan dengan sistem yang lebih besar. Hal tersebut adalah wujud dari struktur. Misalnya saja pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 yang mengatur definisi sekaligus prasyarat terbentuknya kelompok (baca: keluarga). Undang-undang ini menjelaskan bahwa manusia harus memiliki peran dan identitas yang telah disebutkan, sebelum membangun kelompok. Ini bentuk konkret dari sistem yang mengatur seseorang hingga ke wilayah personalnya. Lalu, kehadiran sistem yang terstruktur perlu ditelisik kembali ketika, pada praktiknya, bukan konflik manusia yang diredam, melainkan kuasa yang berimbas pada kesehatan mental yang ditebalkan.

Situasi yang demikian mendapat respon dari masyarakat berupa pemberian ruang yang mengakomodir banyak orang untuk melepaskan diri dari tekanan. Ruang yang dibangun secara mandiri atau bersama, membantu masyarakat menemukan kebahagiaan yang dicari. Mereka membangun metode agar sistem bisa dimanfaatkan (baca:dimainkan) guna mengubah tekanan menjadi alat mencapai kebahagiaan. Sikap-sikap ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi memandang persoalan kesehatan mental sebagai bentuk kegilaan. Melainkan sebagai imbas dari kuasa yang hadir bersama sistem di seluruh relasi manusia. Baik relasi personal hingga komunal–dunia kerja, bertetangga, dan berkewarganegaraan. 

Di tahun 2019, program Perspektif Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 berusaha untuk membicarakan isu kesehatan mental di luar narasi utama (medis). Program ini membicarakan berbagai respon pada masalah  kesehatan mental yang mampu mempengaruhi perubahan sistem, paradigma, definisi tentang sesuatu kelompok, bahkan pandangan soal kesehatan mental itu sendiri. 

Film Good Neighbours (Stella van Voorst van Beest, 2018) mendefinisi ulang kehidupan berkelompok di lingkungan yang individualistis, melalui peristiwa subjek ketika mengingat masa lalu dan pertemuannya dengan orang-orang baru. Rekaman yang menunjukkan aktivitas subjek, mendedah prinsip peran, identitas sampai teritori tentang kelompok. Film ini menunjukkan bahwa keluarga tidak melulu terbangun atas hubungan darah saja, melainkan juga hubungan yang diusahakan. Prinsip tentang keluarga di bicarakan lebih dalam melalui film Love Talk (Shen Ko-shang, 2017). Film ini menunjukkan bahwa keluarga bisa terbangun karena ketidaksengajaan pertemuan yang jauh dari gagasan besar soal cinta kasih, bahkan agama. Gambaran keluarga yang ditunjukkan kedua film ini hadir sebagai ruang menyenangkan dan melindungi manusia dari trauma mendalam.

FFD 2019 - Good Neighbours

Di sisi lain, segala bentuk trauma yang hadir pada peran dan identitas dalam keluarga berusaha dilepas oleh dua subyek film Turning 18 (Hao Chao-ti, 2018). Film ini menunjukkan bagaimana kebahagiaan dua subyek perlu diusahakan karena mereka terlahir dalam kondisi yang tidak merdeka. Mereka disituasikan menyandang berbagai warisan masalah yang sebenarnya tidak didapat jika kehadiran mereka berada di kelas sosial tertinggi. Kelas yang memiliki kebebasan berkehendak. 

Usaha personal untuk mencapai kebahagiaan juga diperlihatkan melalui Anxiety of Concrete (Yunmi Jang, 2017). Film ini memperlihatkan memori yang berusaha disampaikan semenyenangkan mungkin  dalam ancaman ruang hidup. Gambaran yang timpang dihadirkan dalam film 48 Years: Silent Dictators (Sunairi Hiroshi, 2018) ketika trauma yang pernah dialami, hadir kembali sebagai imaji yang menyenangkan. Fragmen-fragmen tersebut menandai kebanggaa dirinya yang pernah melakukan perlawanan pada sistem besar. Di film China Man (Jerrell Chow, 2019) usaha mencapai kebahagiaan berhadapan dengan lingkungan yang melihat manusia berdasarkan identitas ras, tentang garis keturunan asli atau tidak asli. Film ini menunjukkan usaha Ek Kiat melakukan pembebasan diri atas perilaku rasial. Friksi dengan lingkungan, juga diperlihatkan dalam film Village of Swimming Cows (Katarzyna Trzaska, 2018). Film ini menunjukkan bentuk penolakan terhadap sistem modern yang berjalan di sebuah wilayah. Namun, lewat pola hidup yang dipilih sekelompok manusia ini apakah bersikap harmonis dengan alam betul-betul menjadi metode mencapai kebahagiaan? 

Tujuh film ini merepresentasikan tujuan program Perspektif, yakni membicarakan isu kesehatan mental yang tidak terpaku pada persoalan medis semata. Tujuh film ini dapat dinikmati dalam rangkaian festival pada tanggal 1-7 Desember 2019. Cek agenda lengkap FFD 2019 di sini.

Kanada memiliki salah satu ajang film prestisius bagi sineas di seluruh dunia dalam wujud Toronto International Film Festival. Tetapi yang mungkin tidak banyak orang ketahui, perkembangan sinema di negara tersebut harus bersihadap dengan berbagai persoalan pada awal perkembangannya. Termasuk bagi perkembangan dokumenter.

Piers Handling dan Jerry White menyebut perkembangan dokumenter di Kanada tidak lepas dari perkembangan sebuah institusi bernama National Film Board (NFB) pada tanggal 2 Mei 1939. Kehadirannya muncul sebagai pionir pengembangan hampir segala bentuk film yang ada, mencakup dokumenter, animasi, hingga feature films. Perkembangan awalnya tak lepas sebagai alat promosi. Salah satu yang cukup berkesan adalah film berjudul Living Canada yang didesain untuk mempersuasi orang-orang di Britania Raya agar bermigrasi ke Kanada.

Selain itu, dokumenter Kanada menemukan signifikansinya di era Perang Dunia Pertama. Tak hanya perang secara fisik, perang wacana pun menjadi medan yang tak luput untuk disesaki. NFB yang telah eksis dan ditangani oleh John Grierson mengembangkan dokumenter lebih jauh lagi.  Dokumenter menjelma menjadi medium untuk menyebarkan informasi. Film dokumenter Kanada, seperti Canada Carries On dan The World in Action menjelma menjadi alat propaganda yang menjangkau jutaan penonton. Usai perang, dokumenter Kanada yang masih banyak diinisiasi oleh NFB menjadi bentuk catatan lain tentang kelompok etnis, penduduk asli, dan masalah sosial yang ada di Kanada.

Terkhusus untuk tema-tema dokumenter Kanada pasca Perang Dunia, sebenarnya tak sepenuhnya baru. Perkembangannya memang baru marak setelah kecamuk perang mereda. Namun bibitnya sudah bisa ditelusuri sejak tahun 1914.

FFD 2019 - Opening Day

Pada tahun tersebut, antropolog Edward S. Curtis menyutradarai film In the Land of the Head Hunters bersama masyarakat Kwakiutl di Provinsi British Columbia, provinsi paling barat di Kanada. Selain menyajikan perspektif yang cukup dekat mengenai masyarakat Kwakiutl, dokumenter ini menjadi salah satu tonggak yang cukup signifikan mengenai adanya dokumenter dari daerah pesisir barat (West Coast) Kanada. Sebab, film ini diklaim berlandaskan prinsip-prinsip dokumenter yang berlaku pada waktu itu.

Selain itu, dokumenter ini juga merupakan salah satu film yang secara terang-terangan menunjukkan British Columbia sebagai provinsi yang menjadi bagian dari pesisir barat Kanada. Sesuatu yang tak lagi tampak dalam produksi-produksi film West Coast setelahnya.

Bahkan posisi Kanada yang terpinggirkan bisa juga dilihat dari posisi British Columbia. Provinsi itu merupakan salah satu basis produksi sinema Kanada yang tak kalah dengan tempat lain seperti Toronto atau Montreal. Insentif pajak yang memikat filmmaker menjadi sebab yang tentu bisa memangkas biaya produksi. Meski demikian ada hal nahas yang mencuat dari kondisi tersebut. Sangat jarang sebuah proyek film menampilkan panorama seperti hutan eksotis dan pesisir di British Columbia sebagai daerah itu sendiri. Ruang-ruang urban dan rural tersebut malah sering ditawarkan sebagai visual pengganti untuk pemandangan di Amerika Serikat.

FFD 2019 - Einst

Tahun ini, Festival Film Dokumenter (FFD) mencoba untuk menyajikan kembali bagaimana panorama sebenarnya dari daerah yang kerap menjadi objek eksploitasi secara presentasi sinematik itu. Sajian program Focus on Canada: Pacific Standard Time menyatukan karya-karya gambar bergerak yang historis dan kontemporer dari karya para filmmaker dan seniman dari British Columbia. Masing-masing karyanya menjawab pertanyaan tentang temporalitas sinematik yang berbeda dan kekhasan geografis pesisir barat Kanada tersebut.

Focus on Canada kali ini akan mempresentasikan tujuh film. Dimulai dengan hitungan mundur Opening Day (Zoe Kirk-Gushowaty, 2016) yang menangkap sensasi menegangkan dari lapangan pacu Hastings di Vancouver. Pengambilan film yang satu ini menjadi menarik lantaran mengandalkan satu rol film Super 8 saja.

Filmmaker lain menggunakan satu rol film sebagai titik awal investigasi mereka. Entah itu durasi dari one take shot dalam Einst (Jessica Johnson, 2016) yang memikat. Atau dalam Seeing in the Rain (Chris Gallagher, 1981), dimana dokumentasi sang filmmaker pada perjalanan bus di tengah hujan gerimis  melewati Jalan Granville di Vancouver diacak dan diedit menjadi satu pertunjukkan tentang awal dan akhir yang menghipnotis.

FFD 2019 - Television Spots

Pada pemutaran lain, waktu dan tempat tumpang-tindih dalam karya Canadian Pacific II ( David Rimmer, 1975) yang menyusun klip rekaman kereta, pegunungan, dan Pelabuhan Vancouver. Sedangkan Eclipse (Peter Lipkis, 1979) sesuai namanya, menyajikan gerhana yang dilihat secara langsung dari dalam kamar hotel, bersamaan dengan liputannya di televisi.

Akhirnya, program ini mengikutsertakan karya-karya para seniman video yang terinspirasi dari film pendek maupun panjang. Diproduksi sesuai dengan standar penayangan televisi dan disiarkan secara lokal Television Spots (Stan Douglas, 1991) menawarkan narasi petunjuk-petunjuk misterius dalam fragmen-fragmen 15 dan 30 detik. Serta eksplorasi T.W.U. Tel (Amelia Produtions, 1981) yang mendokumentasikan pendudukan pusat-pusat telepon utama di provinsi British Columbia selama lima hari oleh Serikat Pekerja Telekomunikasi di provinsi itu.

Program Focus on Canada: Pacific Standard Time bisa dinikmati di FFD 2019 pada 2-7 Desember 2019. Cek Jadwal festival untuk memeriksa agenda lengkap FFD 2019.

Pada tahun 2016, sebuah video viral menampilkan sekelompok siswa SMA Negeri 3 Solo yang melawan sekolahnya sendiri. Dermawan Bakri, ketua OSIS SMA Negeri 3 Solo kala itu bersama teman-temannya menggalang aksi protes. Ada pemotongan dana kegiatan pelajar sebesar 2,5 juta rupiah dari total dana yang turun sebesar 12,5 juta rupiah. Ketika menanyakan ke mana larinya uang 2,5 juta itu kepada wakil kepala sekolah, Derma tidak mendapat jawaban yang memuaskan sampai akhirnya hanya dipotong sebesar 500 ribu rupiah meski tetap tidak menemukan jawaban tentang kemana uang itu dilarikan.

Yang membuat kegeraman Derma dan kawan-kawannya memuncak adalah saat pembacaan anggaran sekolah 2006/2007 yang tertulis pengeluaran kesiswaan mencapai 218 juta rupiah. Padahal, rangkaian kegiatan siswa selama satu tahun ketika dihitung oleh OSIS hanya menghabiskan dana sebesar 45 juta rupiah saja.

Dugaan penyelewengan dana di SMA Negeri 3 Solo bukan hal baru. Generasi sebelum Derma sudah pernah mencoba menggugat, tapi mereka terpaksa mengurungkan niatnya karena mendapat ancaman. Derma dan kawan-kawannya belajar dari kegagalan perlawanan para pendahulunya. Mereka mengadopsi cara-cara baru. Bak operasi klandestin, OSIS pimpinan Derma membentuk tim senyap bernama SOS (Save Our School) beranggotakan siswa lainnya meliputi tim informan, pencari bukti, publikasi, dan media massa. Proses perekrutan anggota tidak sembarangan siswa. Dengan ketat mensyaratkan anggota yang tidak memiliki hubungan keluarga maupun relasi kerja dengan para guru.

Rencana aksi demo besar disusun tanpa terendus guru maupun siswa lainnya yang tidak terlibat. Sampai hari itu tiba. Sejumlah siswa SMA Negeri 3 Solo berdemo dan ditampung di sebuah aula dengan dihadiri para guru-guru mereka. Pelajar menuntut para guru yang berdiri menemui mereka itu untuk melakukan audit keuangan secara transparan. Peristiwa ini mengegerkan dunia pendidikan di Solo ketika itu.

FFD 2019 - Janma Dumunung

Aksi pelajar SMA Negeri 3 Solo yang terekam dalam video berdurasi 11:46 menit tersebut tidak lain adalah film dokumenter pendek berjudul Sekolah Kami, Hidup Kami (Our School Our Live) besutan Steve Pillar Setiabudi. Meski baru diunggah dan seketika menjadi viral pada tahun 2016, film ini sebenarnya diproduksi tahun 2008. Steve membuat film pendek tersebut untuk merekam kehidupan setelah 10 tahun berakhirnya rezim Orde Baru.

Sikap kritis dan mempertanyakan ulang apa-apa yang ada di sekitar hadir di kalangan pelajar putih abu-abu. Jika aktivisme dan demonstrasi lazimnya lekat dengan mahasiswa, pelajar SMA Negeri 3 Solo membuktikan bahwa tidak perlu menunggu jenjang itu untuk melakukan sesuatu. Dan film dokumenter menjadi medium untuk menyampaikan pesan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Kini, peranan pelajar dan anak muda tidak dapat dilihat hanya sebagai konsumen media. Kemajuan teknologi media telah memungkinkan pelajar menempati peranan produsen, distributor, dan sekaligus konsumen. FFD 2019 kembali menghadirkan kompetisi film dokumenter pelajar lewat program SchoolDoc.

Menjadi agenda tahunan sejak 2005, SchoolDoc dirancang untuk meningkatkan kemampuan apresiasi film di kalangan pelajar. Program ini berangkat dari fenomena media yang menjadi sistem pendidikan keempat setelah keluarga, sekolah, dan komunitas (lingkungan). Namun, tuntutan ini tidak lantas diimbangi dengan upaya nyata literasi media. Film, khususnya dokumenter, menjadi salah satu implementasi media yang mampu berperan signifikan dalam memberikan referensi alternatif pendidikan.

FFD 2019 - Merelakan adalah Bagian dari Kebahagiaan

Melalui Forum Film Dokumenter, program SchoolDoc dikembangkan dalam wujud lokakarya produksi dokumenter bagi pelajar SMA/sederajat. Tema tahun ini adalah Melacak Akar, Merekam Asal: Potret Diri. Tahun ini program SchoolDoc dimentori oleh Jean Paul Labro dan Lyn Nékorimaté pengajar bidang video, sinema, dan pertunjukan yang sudah malang melintang mengerjakan berbagai proyek terkait. Keduanya membentuk kolektif seni bernama DING.

Selama masa produksi dari tanggal 4 sampai 10 September 2019, SchoolDoc mengikuti perjalanan para pesertanya dalam mempertanyakan kembali apa yang dianggap penting dalam kehidupan mereka serta apa yang mendefinisikan diri mereka: keinginan, cita-cita, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Berangkat dari refleksi tentang keluarga, manifestasi sejarah personal yang membentuk identitas dicari dan diungkap.

Dihasilkan lima karya produksi film dokumenter pendek dari lima pelajar; Janma Dumunung (Thera Karunia, 2019) mengisahkan tentang seorang pemuda yang mencari alasan untuk tidak meninggalkan kota asalnya yang perlahan dipenuhi pendatang dari negeri asing. Teman-teman dari lingkungannya sudah banyak yang memilih untuk pergi. Dalam pencariannya, sang pemuda menemukan alasannya untuk tinggal dari sumber yang tidak terduga. Perjalanan (Nickho Darmawan, 2019) berkisah seorang pemuda yang telah menyelesaikan studinya dan mempertimbangkan pernikahan. Di sebuah kafe, ia menuliskan hidupnya. Ingatan membawanya ke masa lalu, di mana kesedihan dan kebahagiaan telah ia alami.

FFD 2019 - Perjalanan

Sepi (Muhammad Nazim Pradipa Syah, 2019) menampilkan seorang remaja yang merasa kesepian. Keluarganya seakan tidak peduli dengannya. Dalam sebuah kontemplasi, dia menemukan hal-hal yang perlahan mengubah pandangannya terhadap keluarganya. Merelakan adalah Bagian dari Kebahagiaan (Alhanz Sofyan David Alvarobin, 2019) berkisah tentang seorang remaja laki-laki yang merasa kurang diperhatikan oleh keluarganya setelah kelahiran adik laki-lakinya. Ia belum menyadari betapa besar perhatian yang diberikan orangtuanya dan mencoba menuliskan kisahnya. Ketika pada akhirnya ia menyadari hal tersebut, ia menyelesaikan tulisannya. 

Sacred Heart (Gyanrahma Indrajid Sofwan, 2019) mempertanyakan soal apakah agama penting jika hanya sebagai formalitas? Pertanyaan ini mengikuti diri. Esensi dari keberadaan entitas yang ilahi adalah agar manusia terhubung dengan hati kudusnya. Namun, seringkali manusia terjebak pada praktik agama sebagai formalitas dan merasakan keterpaksaan ketika menjalankannya. Memang tidak semua orang mengalami hal yang demikian. Meski begitu, penting untuk merefleksikan esensi dari semua ini, agar dapat menjalankannya sesuai dengan hati. 

Tidak hanya pemutaran film karya pelajar saja, SchoolDoc menampilkan eksibisi yang berisi rekaman proses dan cerita di balik pembuatan karya sebagai satu kesatuan yang membentuk sebuah bacaan dokumenter bertajuk The Projections of Five. Rekaman proses perjalanan program SchoolDoc 2019 hasil kolaborasi dari Forum Film Dokumenter dengan DING Collective sendiri diberi judul Rekam.SchoolDoc.01, berdurasi 35 menit di mana George C. Ferns sebagai editornya.

Program SchoolDoc: Melacak Akar, Merekam Asal: Potret Diri bisa dinikmati di Lobi Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta dari tanggal 1 sampai 7 Desember 2019.

Senantiasa mempertanyakan sesuatu yang ada di hadapan kita, perlu dikembangkan untuk mengasah sikap kritis. Termasuk kepada produk budaya seperti film. Soalnya sebagai produk manusia yang senantiasa diproduksi, direproduksi, hingga dikritik, film tidak hadir begitu saja. Meminjam kata Seno Gumira Ajidarma dalam pidato terbarunya berjudul “Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi”, kebudayaan adalah situs pertarungan ideologi. Dan ideologi adalah tentang perspektif serta cara pihak-pihak tertentu yang memiliki sebuah intensi.

Di situlah program diskusi dalam sebuah festival film menemukan relevansinya. Kehadirannya bukan untuk menjelaskan pesan yang gagal disampaikan oleh film-film yang diputar. Tanpa berambisi membangun posisi utopis sebagai penentu gerak pengetahuan film, program diskusi hadir sebagai upaya untuk selalu menjangkau wilayah dan perbincangan baru.  Serangkaian diskusi akan hadir dalam Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 melalui program Doctalk dan Public Lecture. 

Isu-isu yang diangkat dalam diskusi ini berangkat dari berbagai kegelisahan. Tidak untuk berusaha merangkumnya dalam satu narasi tunggal, tetapi memperluas kemungkinan produksi pengetahuan kita atas dan melalui film. Setidaknya ada tiga kegelisahan utama yang coba untuk dibagikan. Seluruhnya akan mempertemukan serakan pengetahuan kita atas film.

Kegelisahan pertama yakni film, negara, dan pasar. Pembicaraan mengenai irisan film dengan negara dan pasar menemukan relevansinya ketika film ditempatkan sebagai produk budaya yang tidak lepas dari konteks sosial dan politik. Sebenarnya pembicaraan akan hal ini sudah cukup beragam. Salah satunya adalah mengenai bagaimana posisi film pendek, terutama dokumenter, mencatat dan menjadi perwujudan dari partisipasi yang merupakan hulu dari demokrasi.

Tetapi pada kenyataannya untuk bisa memenuhi hal tersebut, film harus berhadapan dengan sensor. Bentuknya bisa beragam dan bersumber dari mana saja. Seperti institusi negara, paramiliter, organisasi masyarakat tertentu, hingga swasensor setiap orang. Dengan kata lain, kehadiran film pendek sebagai medium yang independen dan bagaimana ia berhadapan dengan sensor akan selalu berhubungan dengan perkembangan demokrasi.

FFD | Call For Entry 2019

Selain konteks sosial dan politik, satu hal yang tidak bisa dilepaskan adalah bagaimana perkembangan film Indonesia bersinggungan dengan urusan ekonomi. Untuk yang satu ini, menjadi penting ditilik kembali ketika dalam satu dekade terakhir berbagai forum pendanaan dan pasar film mulai tumbuh di Indonesia, Asia Tenggara, dan bahkan Asia. 

Hal tersebut berdampak pada pola produksi yang menjadi lebih variatif. Pendanaan itu juga turut memengaruhi estetika dan narasi film. Philip Cheah, founder pop culture magazine asal Singapura BigO dalam pengantar Jogja-Netpac Asian Film Festival 2014 lalu menyebut bahwa modus pendanaan secara tak langsung memunculkan klise-klise baru, terutama dalam sinema independen.  “Ritme dalam gerak lamban, shoot panjang yang bermakna serta momen absurd namun puitik” disebut Philip sebagai kiasan yang mudah sekali ditemui dalam film-film Indonesia yang berhasil melanglang ke festival internasional dan mendapat kucuran duit.

Atas berbagai kelindan itu, maka muncul pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan mengenai bagaimana pendanaan memengaruhi produksi hingga distribusi film. Bagaimanapun, forum pendanaan juga memiliki logikanya sendiri.  Sebagai bagian apparatus yang mempertemukan problem sosial dengan publik yang lebih luas, lantas sejauh apa film yang didanai oleh lembaga atau pendonor tertentu bernegosiasi dalam situasi ini? 

Call For Entry Poster for ASIADOC 2019

Kegelisahan kedua adalah tentang film dan perubahan sosial. Ketika membicarakan hal tersebut, kita bisa melihatnya dalam dua sudut pandang: bagaimana film mendorong perubahan sosial–meski terdengar muluk-muluk–dan bagaimana posisi film di tengah situasi sosial yang tidak pernah abstain. 

Dalam arti yang pertama filmmaker asal India Tapan Bose mengatakanany documentary worth its name is never neutral and non-controversial. If it is to serve as a positive catalyst for social change, it must shock, inspire and provoke”. Meski heroik, tapi kondisi yang kerap dihadapi oleh filmmaker, terutama dokumenter, rupanya cukup pelik.

Dalam film dokumenter untuk bisa mendapatkan karya yang shock, inspire and provoke, intimasi menjadi suatu aspek yang sering diyakini sebagai tolok ukur. Intimasi adalah kondisi dimana keterasingan antara subjek dokumenter dan filmmaker itu sendiri berhasil diatasi. 

Hal ini tidak mudah, karena bagi subjek utama dokumenter (manusia/masyarakat/komunitas), perilaku keseharian yang semula dilakukan secara wajar, kini harus berhadapan dengan mata kamera dan perekam suara. Pun bagi pembuat film, asing karena belum tentu dekat dengan manusia, masyarakat, atau komunitas yang sedang diangkat isunya.Isu ini kerap bertabrakan dengan perkara etis. Demi mampu mendapat kekuatan film yang mampu mendapatkan intimasi, filmmaker dapat menggiring karyanya ke dalam laku yang eksploitatif.

FFD 2018 | Film | Modern Poetry Exhibition/1966

Sedangkan dalam arti kedua, adalah bagaimana posisi film di tengah situasi sosial yang tak pernah abstain. Thomas Barker adalah satu di antara beberapa cendekiawan yang mencoba untuk mencatat sejarah sinema Indonesia dalam kerangka tersebut. Melalui bukunya Indonesian Cinema After New Order: Going Mainstream, sebuah catatan yang sistematis dan komprehensif di Indonesia.

Baginya, kasus yang terjadi di Indonesia ini unik. Salah satunya bagaimana sinema Indonesia memenuhi kemauan gerakan hijrah” yang kini sedang bangkit. Di saat yang bersamaan, arus utama berarti bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang didirikan pada 2011. 

Alih-alih menjadi dunia kreatif yang mulus sebagaimana diharapkan banyak orang, industri film Indonesia sekarang sedang mengarah pada tantangan yang sangat berbeda dengan yang dihadapi pra-1998. Barker melihat industri ini layaknya mikrokosmos bagi Indonesia: demokratis tetapi terbebani dengan warisan otoritarian, kreatif tetapi tetap mengalami kontestasi budaya, mancanegara kendati tetap dibentuk secara domestik.

FFD2018 | Film | Pagi Yang Sungsang

Kegelisahan ketiga adalah tentang bagaimana film mengemban beban dalam pembicaraan produksi pengetahuan. FFD merekognisi bagaimana film hari ini mengantar pengetahuan pada bentuknya yang eksploratif. Salah satunya pada entitas yang disebut dokumenter etnografis. Pada beberapa kisah, entitas ini bisa menemukan fungsinya yang beragam. Tapi entitas ini juga sekaligus merupakan bentuk yang dirasa bisa mengetengahkan wacana tentang keberpihakan, pengalaman empiris, dan tanggung jawab etik dalam pembuatan film dokumenter.

Letak film dan produksi pengetahuan tak melulu pada kontennya saja. Ia juga bisa merujuk pada bentuk. Seperti bagaimana film dokumenter dan video art akhir-akhir ini sering dibicarakan, tetapi sekaligus juga sering dipertukarkan maknanya. Meski sama-sama memiliki unsur audiovisual, tapi perpisahannya terjadi dalam makna-makna yang lebih rinci, termasuk di ruang mana kedua bentuk produk budaya ini dipresentasikan. Jika film bermuara pada festival film atau bioskop, maka video art lebih kerap bermain di arena pameran seni rupa –baik dalam frasa yang lebih spesifik seperti seni media baru, seni multimedia, hingga yang paling umum yaitu seni kontemporer. 

Dua wujud yang serupa tapi tak sama ini juga bisa membuka alternatif estetika yang lain. Garin Nugroho menyebut bisa jadi keduanya sama-sama bisa menyampaikan pendapat “awam” dengan cara popular. Namun potensi perwujudan estetika film yang berbeda dibanding dengan estetika versi artschool bisa terwujud. Keduanya lalu menjadi semacam pena dan senjata bergerilya di tengah situasi sosial-politik tertentu. Perubahan teknologinya juga disebut Garin melahirkan percepatan cara apresiasi dan distribusi yang penuh guncangan–sebuah proses yang saling mematikan sekaligus proses adaptif dan percepatan cara baru momen apresiasi dan kreasi.

FFD | Call For Entry 2019

Setiap kegelisahan yang telah diuraikan tadi coba untuk dirangkum dan dibagikan kepada khalayak luas dalam program DocTalk dan Public Lecture. Untuk Doctalk akan terdiri dari pembicaraan mengenai Distribusi, Pasar, & Ekonomi Politik Film: “Rupa-Rupa Distribusi Film Kita”, Intermedialitas/Alih dan Silang Wahana: “Manuver Mata Mekanis: Video Art dan Film Dokumenter di Indonesia”, Film & Demokrasi: “Film Pendek dan Demokrasi yang Diinginkan”, dan Hacking Methods & Ethics Issue: “Intimacy and Ethics: Universal or Contextual”. 

Selain berkenaan dengan film, FFD juga merancang Doctalk untuk membahas bersama upaya yang perlu ditempuh untuk menciptakan komunitas sebagai ruang aman dan nyaman bagi siapapun. Hal ini berangkat dari batas takaran kegiatan komunitas yang sering kali tidak jelas sehingga pada beberapa titik mengaburkan antara kerja kesukarelawanan dan kerja profesional yang terikat. Selain itu kegelisahan ini juga berangkat dari bagaimana selama ini FFD bisa tumbuh sebagai wadah yang tak jauh dari definisi komunitas.

Imajinasi militansi yang diusung kerap membuat kerja-kerja komunitas kehilangan kegembiraan dari konsep kesukarelawanan itu. Bahkan, tidak jarang melahirkan kerja-kerja yang eksploitatif demi mewujudkan cita-cita kelompoknya. Masalah itu coba akan dibagikan dan didiskusikan dalam mata program Berkumpul di Ruang Aman: “Memahami Ulang Bentuk Kekerasan dalam Komunitas dan Pencegahannya”.

Selain Doctalk, FFD juga menghadirkan Public Lecture. Kali ini, akan ada dua panel yang diisi oleh Thomas Barker dan Kek Huat Lau. Thomas Barker akan membicarakan hasil risetnya yang telah dibukukan dengan judul Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream. Buku ini menyoroti 20 tahun gejolak perubahan, mulai dari permulaan yang indie dan sederhana hingga semakin mengikuti arus utama dan mendapatkan pengakuan internasional. Ia mengajukan gagasan mengenai tiga fase perkembangan industri film: dimulai dari langkah meraih kesuksesan dalam budaya populer lokal, khususnya di kalangan anak muda; mendapatkan kemapanan finansial; hingga akhirnya karyanya mendapatkan pengakuan sebagai sebuah karya seni di tingkat internasional.

Sedangkan Kek Huat Lau akan memaparkan bagaimana ia merancang dan mengeksekusi The Tree Remembers (2019), dokumenter etnografis mengenai korban politik dan kekerasan rasial terburuk di Malaysia. Sebagai seseorang yang lahir di Malaysia dan menetap di Taiwan, Kek akan memaparkan bagaimana ia memiliki pengalaman empiris dan emosional atas ruang, waktu, dan ikatan sosial terhadap persoalan etnis negara kelahirannya. Ini tentu menjadi pertimbangkan dalam perancangan narasi film yang tetap intim dan menjaga etik.

Program-program DocTalk dan Public Lecture itu bisa dinikmati di antaranya di FISIPOL Universitas Gadjah Mada dan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia, pada 2-7 Desember 2019. Cek Jadwal festival untuk memeriksa agenda lengkap FFD 2019.

Pada pengertian umum, kebahagian dan kesenangan adalah dua kata yang dapat dipertukarkan, walaupun berfungsi untuk memaknai peristiwa berbeda. Kesenangan muncul  secara spontan dan singkat karena stimulus pihak lain. Sedangkan, kebahagian dipercayai hadir karena dorongan personal dalam durasi yang lama. Tapi, keduanya adalah wujud dari keinginan, yakni imaji yang tidak pernah tercapai. Konsep ini memaknai bahwa kebahagian dan kesenangan muncul karena dorongan eksternal yang diusahakan terus menerus karena tidak pernah didapat.

Usaha menjadi kata yang perlu digaris bawahi, terlebih ketika kata ini dibawa dalam ranah kewarganegaraan. Namun, bisakah imaji personal ini dimaterialkan; dikumpulkan lalu dihadirkan menjadi sebuah sistem struktural dan kultural  atas nama “kebahagian bersama”?

Kelompok besar, katakanlah Negara, membangun cara untuk memudahkan mereka  menerka dan mendeskripsikan keinginan warganya—kebahagiaan. Entah hasilnya berujung pada identitas diri yang lagi-lagi membicarakan asal, atau soal batas yang berhilir pada klasifikasi manusia berdasarkan hal-hal yang nampak. Negara berusaha untuk menjamin kehidupan warganya melalui cara itu. 

Variabel itu hadir lewat pernyataan empat pembuat film mengenai Prancis—negara asal mereka. Michel Toesca yang membahas silang sengkarut sistem berdasarkan batas wilayah dan sejarah bangsa, lalu mewujud dalam penggolongan manusia melalui film To The Four Winds (2018). Merie Losier dengan film Cassandro, The Exotico! (2018) yang membicarakan teror pada diri agar terakui dan  tergolong dalam satu kelompok tertentu. 

Selanjutnya Prancis dihadirkan sebagai bangsa pada film Le Grand Bal (2018), karya Laetitia Carton. Lewat sudut pandang subyek yang dipilihnya, Carton menunjukkan klangenan pada tradisi. Alam lain yang hadir sebagai ruang kebahagiaan bangsa Prancis. Ruang ini perlu ditempuh dengan peluh tak berkesudahan. Alih-alih menghadirkan kebahagian yang diidamkan, malah ruang tersebut menciptakan masalah yang tidak hanya bermuara pada masalah rasial, tetapi juga menarik subyek-subyek melewati kodratnya sebagai manusia yang tidak memiliki lelah.

Menyeberang jauh ke Madagaskar, Mickoel Andrianaly mengajak untuk mendedah sikap warga bekas jajahan Prancis dalam mencari kebahagian. Menariknya dalam film Nofinofy (2019), filmmaker menunjukkan posisi Prancis dalam bayangan masa lalu seorang tukang cukur rambut. Menit demi menit mengikuti perjalanan subyek mencapai impian, filmmaker menghadirkan ingatan warga pada Prancis dan impian mereka pada Madagaskar. Salon milik tukang cukur menjadi ruang pertemuan gagasan ini.

Empat film tersebut tayang program Le Mois du Documentaire dengan tajuk Pursuit of Happiness—Mengejar Kebahagiaan. Le Mois du Documentaire—Bulan Dokumenter Prancis— sebenarnya adalah perayaan atau festival film dokumenter yang berlangsung di Prancis dan lembaga-lembaga kebudayaan Prancis di seluruh dunia pada bulan November. Di Yogyakarta sendiri, acara ini rutin diselenggarakan sebagai program parsial Festival Film Dokumenter (FFD) menjelang festival di bulan Desember. Acara ini merupakan kerjasama antara Festival Film Dokumenter (FFD) dan Institut Français d’Indonésie (IFI) Yogyakarta sejak tahun 2016.   

Seluruh film dalam program Le Mois du Documentaire sudah diselenggarakan pada 11-12 November 2019 di IFI-LIP Yogyakarta. Namun, film Le Grand Bal (2018) akan diputar kembali secara khusus 4 Desember 2019 pukul 19.00 WIB di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK).