Stigma perempuan di Indonesia saat ini masih dipengaruhi oleh budaya patriarki yang melekat dan terus-menerus direproduksi. Mulai dari perempuan dituntut untuk lebih cepat menikah daripada laki-laki hingga domestifikasi perempuan. Tidak selesai di situ, jika sudah menikah maka perempuan dituntut untuk cepat-cepat punya anak. Memiliki anak setelah menikah di Indonesia seolah menjadi sebuah keharusan. Tuntutan ini dilatarbelakangi anggapan bahwa semua pasangan suami-istri yang baru saja menikah pasti langsung menginginkan kehadiran si buah hati. 

Jika kehamilan tidak kunjung terjadi, maka akan muncul pertanyaan pada kehidupan pernikahan tersebut dari masyarakat dan orang-orang di sekitar pasangan. Meski anak adalah hasil hubungan antara suami-istri, ketidakmampuan untuk memiliki anak seakan-akan sepenuhnya menjadi salah perempuan. Jika terus dituruti, tuntutan masyarakat pada perempuan tidak akan ada habisnya; seolah masyarakat yang mengatur bagaimana hidup seorang perempuan harus berjalan.

kOsOng (Chonie Prysilia & Hizkia Subiyantoro, 2020) hadir mengajak penonton melihat pengaruh tuntutan memiliki anak dari sudut pandang perempuan yang tidak memiliki buah hati dalam menanggapi pembahasan masyarakat akan keadaannya. Tidak memiliki buah hati dalam sebuah pernikahan dapat didasari oleh dua hal; keadaan perempuan yang menginginkan anak namun tidak kunjung dianugerahi buah hati serta pilihan perempuan untuk tidak memiliki buah hati. Filmmaker menyajikan pembahasan ini melalui narasi dari lima perempuan dari generasi dan latar belakang yang berbeda. 

Filmmaker menghadirkan perempuan yang berada pada keadaan tidak kunjung memiliki buah hati. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di masyarakat tentang pasangan suami-istri yang tidak kunjung memiliki buah hati banyak dibahas secara terbuka tanpa memikirkan perasaan pasangan suami istri yang dibicarakan. Lama-kelamaan, pembahasan masyarakat semacam ini berubah menjadi intimidasi. Intimidasi membuat pasangan suami-istri selalu mengusahakan apapun agar buah hati lekas hadir. Sejumlah eksperimen medis dilakukan untuk cepat hamil; mulai dari pengobatan herbal, rumah sakit, hingga pijat. Mengesampingkan risiko pengobatan yang dapat membahayakan diri hanya demi memenuhi tuntutan sosial di masyarakat. 

Tidak jauh berbeda, pilihan untuk menunda atau tidak memiliki buah hati juga mendapatkan pandangan negatif dari masyarakat. kOsOng (2020) menghadirkan cerita dari perempuan yang memilih tidak memiliki buah hati yang juga mendapat kecaman dari masyarakat. Mereka nyaman dengan pilihannya, bahkan sudah sepakat dengan pasangan untuk tidak memiliki buah hati. Akan tetapi, orangtua dan masyarakat tetap menuntut untuk memiliki buah hati. Jika tidak memiliki buah hati, seakan-akan perempuan belum menjadi perempuan seutuhnya. 

Sajian animasi dalam film kOsOng (2020) memperkuat pengimajinasian narasi yang diceritakan oleh subjek. Filmmaker sukses membuat animasi yang menceritakan keadaan tertekannya subjek ketika mendapat tuntutan tentang buah hati. Hal ini membuat penonton ikut merasakan kepedihan yang dirasakan subjek ketika mendapatkan intimidasi tersebut. Penyampaian narasi yang ekspresif dari subjek mendukung pengimajinasian keadaan melalui sajian animasi film ini. 

Dokumenter animasi panjang ini mencoba mengingatkan  bahwa memiliki buah hati adalah pilihan personal perempuan. Film ini mengingatkan penonton bahwa urusan memiliki buah hati merupakan ranah privat perempuan. Film ini juga memberikan pandangan bahwa bagaimana campur tangan masyarakat dalam hal-hal privat dapat menyebabkan perempuan tertekan. tekanan tersebut dapat menyebabkan ketidakbahagiaan bagi perempuan itu sendiri. 

Film kOsOng (2020) adalah bagian dari program Lanskap 21: 2 Dekade Dokumenter. Kamu bisa menontonnya di sini.

 

Penulis: Dinda Agita

Beberapa individu mungkin gemar mengukir kenangan dalam bentuk foto, video, maupun bentuk arsip lainnya. Tanpa disadari, kehadiran arsip tersebut ternyata bisa menjadi wujud kenangan terhadap proses yang sudah dilalui. Melalui beragam bentuk arsip, sebuah karya film dapat terus hidup dan berkelana. Sans Soleil (Chris Marker, 1982) adalah bukti nyatanya. Dokumenter eksperimental yang merupakan karya dari sutradara Prancis ini berisi kumpulan ragam arsip yang telah direkam di berbagai negara. Kemudian, kumpulan arsip tersebut dikemas dalam bentuk dokumenter yang benar-benar terasa nyata. Melalui karya tersebut, Marker mencoba membawa kembali kenangan masa lalu dan nostalgia –yang tidak terpisah dari kehidupan manusia.

Sans Soleil (Chris Marker, 1982) adalah dokumenter tentang perjalanan: di seluruh dunia, sepanjang waktu. Penonton diajak duduk sangat dekat dengan ketiga subjek, yaitu Jepang, postmodernisme, dan penghapusan ingatan. Dokumenter tersebut mempertunjukan seorang narator wanita yang membaca surat-surat seorang pelancong yang menceritakan kesannya tentang tempat-tempat yang telah ia kunjungi dan apa yang dia lihat di sana. Marker menguraikan premis sederhana ini melalui kumpulan footage luar biasa yang mengalir dengan bebas. Melalui Sans Soleil (Chris Marker, 1982), filmmaker merenungkan kebiasaan budaya dari berbagai negara, efek alienasi dari teknologi modern, serta sifat yang sulit dipahami dari memori manusia.

Sans Soleil (Chris Marker, 1982) bergerak dengan mudah dari istana Kekaisaran Jepang abad 11 ke perjuangan revolusioner di Afrika tahun 1960-an namun tetap selaras dari peristiwa di awal. Garis waktu inilah yang kemudian menciptakan nuansa ‘nyata’. Di sisi lain, tampaknya Marker memang ingin menyampaikan banyak hal dalam karya ini, sehingga ragam narasi yang dipaparkan dalam Sans Soleil (Chris Marker, 1982) terasa sangat tergesa-gesa. Ada beberapa adegan dengan freeze-frame yang sepertinya dirancang untuk membuat penonton fokus. Namun, tetap saja, itu bukanlah jeda yang cukup lama untuk meresapi narasi yang terasa sangat cepat.

Beriringan dengan isu-isu dan narasi yang telah disebutkan di paragraf sebelumnya, dokumenter ini juga mencoba menelusuri kembali hubungan yang terjadi secara diam-diam dalam ingatan manusia. Hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa tidak peduli seberapa keras manusia mencoba, manusia tidak akan pernah melarikan diri dari sebuah ingatan dan kenangan. Tidak ada gunanya untuk mencoba mengabaikannya atau bahkan menulis ulang sebuah kenangan, karena memori memang sudah sejatinya melekat dalam kehidupan tiap-tiap manusia.

Sans Soleil (Chris Marker, 1982) dapat dinikmati dalam Program Retrospektif tahun ini, sebuah program yang berfokus pada perjalanan karya Chris Marker, serta kontribusinya terhadap perkembangan dokumenter dunia. 

 

Penulis: Tirza Kanya Bestari

Perihal siapa manusia pertama di bumi menjadi perbincangan tiada habis. Manusia dalam setiap peradaban selalu menelusuri jejak moyangnya dan mengungkapnya dengan teori-teori paling logis. Kita tahu, segala yang kita tinggalkan di bumi adalah harapan supaya kelak kita menjadi abadi. Leluhur mewarisi nilai, monumen, maupun kisah-kisah dan mewanti-wanti anak cucunya supaya tidak tercerabut dari akar. Jangan sampai lupa asal-usul. Sepertinya kita semua bakal kembali mundur ke satu masa ke pungkur. 

Dalam lingkaran turun-temurun ini, menjadi sepenuhnya modern tanpa memegang memori masa lampau nampaknya bukan jalan yang mulus untuk ditempuh. Sejarah melingkar dibentuk oleh cara pandang masing-masing. Yang betulan terjadi bersilang-sengkarut dengan dongeng yang hidup di alam fantasi. Dan di sinilah mitos mengandung arti yang mendalam pada setiap gerak manusia sehari-hari. 

Dokumenter MADA or the story of the first man (Laurent Pantaléon, 2021) menyodorkan sejarah lain yang beberapa bagiannya pernah kita dengar: tentang asal mula lahirnya manusia pertama. Riwayat itu semua diungkap oleh tiap narasumber dengan tandas. Film ini memberi gambaran bagaimana ilmu pengetahuan berhadapan dengan fiksi. Meski kita semua dididik untuk percaya bahwa hanya dokumen dalam bentuk teks dan bukti materiil yang bisa disebut sejarah, tuturan dari satu mulut ke mulut secara terus menerus terkadang mampu mengikis fakta menjadi kisah lain. 

Dalam teks-teks sakral, khususnya kitab tua dengan rumpun bahasa Semit, terdapat cerita tentang Adam dan Hawa sebagai manusia pertama di bumi. Ada pula kisah-kisah lain yang dianggap mitos, kemudian timbul tenggelam dalam pergulatan hasil pemikiran manusia terdahulu tentang sejarahnya sendiri. Dalam film ini, dikisahkan bahwa manusia pertama bernama Mada dari sebuah provinsi di Madagascar. Secara tak langsung ini menjadi kritik atas dominasi dunia barat dan praktik kolonialisme. Karena mereka mengatakan, orang-orang barat telah memutar fakta, membalik nama Mada menjadi Adam, menulis ulang riwayat manusia dengan alasan-alasan tertentu. Ada pula bantahan terhadap teori evolusi bahwa manusia pertama lahir dari seekor kukang dan Kalanoro (sejenis kurcaci yang hidup di hutan hujan Madagaskar), bahwa suatu hari manusia akan kembali ke habitatnya di air dimana pulau-pulau Samudera Hindia membentuk benua besar. Tapi manakah yang benar?

Film dibuka dengan menyorot seorang nelayan di sebuah desa pinggir laut Mauritus. Ia mengisahkan bahwa habitat leluhur mereka adalah lautan yang tidak sedalam sekarang. Dulu, orang-orang tua bahkan bisa menyentuh dasar laut. Entah air bertambah setiap harinya hingga membuat bumi tenggelam atau memang daratan yang semakin mengerut. Tapi yang jelas nelayan itu mengatakan, sesuatu akan terjadi ketika ada seseorang yang bisa menyentuh dasar lautan dengan kedua kakinya secara bersamaan. 

Ada benang merah yang terulur dari setiap pernyataan narasumber. Koran Waro, seorang sejarawan asal Saint-Denis, Réunion Island, percaya bahwa dalam waktu yang lama ilmuan barat pura-pura percaya bahwa kota mereka berdiri karena letusan vulkanik. Pulau itu seolah tersembul karena titik panas bawah laut, yang menurut Waro, seharusnya keluar dari Samudera Hindia. Namun, kini sains berkata lain. Kita tahu bahwa Madagaskar, Mauritus Rodrigues, The Chagos, dan Reunion Island adalah sisa benua kuno yang dikenal dengan Lemuria, tempat dimana Kalanoro hidup. Ada dongeng dari wilayah Samudera Hindia yang mengatakan bahwa kita mempersiapkan untuk kembali ke air. Kalanoro keluar dari air untuk menetap di darat, manusia akan kembali ke lautan, kembali ke Lemuria.

Dokumenter pendek ini membuat kita memisahkan batas kabur antara fakta dengan fiksi. Juga, membuka mata kita, betapa mitos dapat benar-benar hidup. Cerita itu merangsek ke dalam kesadaran kita, bahkan pada para ilmuwan sekalipun. Film ini bisa jadi rekaman deteksi fantasi kebohongan. Atau malah sebaliknya, jadi rekaman pembenaran dari yang selama ini kita yakini benar. Tapi film garapan Laurent Pantaléon ini memberi ruang pada satu sudut pandang, alih-alih melakukan cover both sides. Barangkali memang film ini ingin kita mengapa mereka menceritakannya, mengapa mitos itu ada. Atau, membuat kita selaku penonton justru berhenti skeptis dan menimbang-nimbang: inikah jawaban dari masa depan? 

Lalu sebuah kutipan di ujung film seperti menjawab pertanyaan itu,

“Tidak ada kebenaran tanpa kesalahan yang diperbaiki.” 

Film yang menyandingkan mitos dengan fiksi baru ini menjadi bagian dari program Spektrum: Memitoskan Mitos dan dapat diakses dalam helatan FFD tahun ini. Kedekatan tema yang kuat dalam dokumenter eksperimental ini mengurai kuatnya pengaruh mitos yang menjelma menjadi karya dalam bentuk atau kemungkinan lain.

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Pria Afro-Kolombia semata wayang di Quillasinga melakukan perjalanan untuk mencari ibu kandungnya sambil memikirkan kembali identitasnya. Melalui kisah pribadi tersebut, Between Fire and Water (Viviana Gómez, 2020) mencoba menelusuri penyerbuan ke dalam adat masyarakat di laguna Cocha. Dokumenter ini bukanlah sebuah kisah penolakan, melainkan sebuah kisah asimilasi.

Camilo, seorang anak angkat dari pasangan suku asli dari laguna Cocha, Kolombia, adalah satu-satunya pria Afro-Kolombia di komunitasnya. Keadaan tersebut membuatnya selalu merasa berbeda. Tak hanya diam, Camilo memutuskan untuk memulai perjalanan dalam menelusuri asal-usul biologisnya yang kemudian membuatnya bertanya-tanya tentang identitas gandanya sebagai kulit hitam dan -di saat yang bersamaan-  tergolong sebagai orang asli Quillasinga yang mayoritas berkulit putih.

Bingung bagaimana membantunya, orangtua dan masyarakat sekitar mengadakan pertemuan untuk mendukung perjalanan Camilo. Kemudian, Camilo dan ayahnya pergi ke sebuah upacara bersama. Dalam upacara tersebut, pemimpin masyarakat Quillasinga memberikan mereka ayahuasca, ramuan suci untuk bimbingan spiritual yang menyokong mereka untuk memulai perjalanan menemukan ibu kandung Camilo. Bersama-sama mereka mengumpulkan kebenaran tentang kelahiran Camilo beserta kisah keluarganya. Dengan sinematografi yang cantik, Viviana Gómez dan timnya mengikuti perjalanan Camilo serta berkontribusi dalam menghubungkannya kembali dengan akar asalnya. 

Dalam wawancaranya di DOK.fest Munchen, Viviana Gómez bercerita bahwa ide untuk merenda karya ini muncul 4 tahun yang lalu ketika ia menjadi cameraperson untuk sebuah proyek dokumenter lain. Dokumenter tersebut bersarang di laguna Coach, tempat Camilo tinggal. Saat itu –4 tahun lalu, salah satu karakter yang terlibat dalam dokumenter tersebut adalah Norberto, ayah dari Camilo. Dalam prosesnya, Norberto memperkenalkan Camilo sebagai anaknya. Viviana mengaku kebingungan karena Camilo berkulit hitam. Rasa bingung inilah yang membawa Vivian untuk bersedia menemani perjalanan Camilo mencari ibu kandungnya.

Lewat Between Fire and Water (Viviana Gómez, 2020), Viviana mencoba menggambarkan kebebasan Camilo untuk memahami dirinya sebagai individu dari dua identitas. Perjalanannya berhasil membangun jembatan antara dua dunia yang sangat berbeda. Lebih dari itu, dokumenter ini juga memotret masyarakat yang penuh kasih sayang, beriring dengan nilai-nilai dan ritual kuno.

Program Perspektif merupakan program yang selalu hadir di FFD untuk memberikan ruang berdiskusi terkait persoalan sosial politik dan ekonomi yang lebih luas dan mendalam melalui film dokumenter. Tahun ini, tujuan Program Perspektif adalah membicarakan praktik kerja yang tidak hanya terpaku dengan aspek ekonomi semata, atau jauh dari kerangka kapitalisme. Between Fire and Water (Viviana Gómez, 2020) mampu merepresentasikan tujuan dari Program Perspektif. Keputusan Camilo untuk mengulik asal-usulnya yang juga didukung oleh otoritas adat dan keluarganya di Quillasinga memberikan gambaran bentuk kerja yang menguras energi, emosi, dan bentuk-bentuk immaterial lainnya yang tidak dilandasi oleh faktor ekonomi. Namun, karena ada tekad dan cinta dalam dirinya, Camilo berhasil melakukan perjalanan ke tempat asal ibunya: Tumaco, sebuah kota di Samudra Pasifik yang mayoritas dihuni oleh orang Afro-Kolombia. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Camilo bertemu dengan warisan afronya dan bertemu dengan akarnya.

Between Fire and Water (Viviana Gómez, 2020) mampu membuat penonton meneteskan air mata. Dokumenter ini membungkus persoalan personal yang ternyata imbasnya bisa sampai ke masyarakat atau komunitas sekitar. Persoalan adopsi yang dipaparkan dalam dokumenter ini juga berlapis-lapis. Terlepas dari isu-isu yang rumit, setelah menonton dokumenter ini, penonton mungkin akan merasa diyakinkan bahwa mereka akan selalu menemukan jalan pulang.

 

Penulis: Tirza Kanya Bestari

Pernahkah kalian bertanya-tanya tentang apa yang diimpikan oleh orang-orang di Amerika Latin? Tempat di mana  negara-negara dibangun kembali, berulang kali hampir setiap 10 tahun. Tempat terjadinya campur tangan eksternal pada urusan nasional bersama dengan korupsi internal yang telah mengukir sejarah kita dari zaman ke zaman. Kebebasan berpendapat dan bersuara pun tidak diterima dengan mudah atau dilaksanakan sepenuhnya. Martin Weber akan membuka pintu menuju jawaban dari pertanyaan tersebut melalui Map of Latin American Dreams (2020).

Dari 1992 sampai 2013, Martin Weber, seorang fotografer asal Argentina melakukan perjalanan menelusuri Amerika Latin. Dalam perjalanannya, beliau menyaksikan kekerasan ekonomi, politik, sosial, dan militer yang terjadi pada benua itu. Weber meminta masyarakat setempat untuk menuliskan impian dan harapan mereka dengan kapur di papan tulis sederhana kemudian memotret mereka. Hari ini–hari film ini mulai diproduksi, adalah hari di mana Weber bertanya-tanya apakah salah satu dari keinginan itu telah terpenuhi.

Kemiskinan pada negara-negara Amerika Latin telah merenggut jutaan mimpi. Tidak, mereka tidak memimpikan miliaran dolar, mobil maupun rumah mewah. Beberapa dari mereka ‘hanya’ ingin mendapatkan makanan dan obat-obatan, menikah dengan orang Amerika Serikat, belajar musik, memiliki sarung tangan bisbol, atau pergi meninggalkan dunia ini.

Selain menjadi fotografer terkemuka, Weber terbukti menjadi mitra percakapan yang mengesankan. Hasil potret Weber terlihat jelas bahwa ia mengambil gambar dengan kesabaran dan perhatian. Individu maupun kelompok diundang untuk berpose memegang papan kayu di mana mereka telah menuliskan impian mereka di kapur. Mereka bermimpi, meskipun diiringi dengan kekerasan, kemiskinan, dan kehidupan sehari-hari mereka sebagai penduduk Amerika Latin.

Pada 2007, Weber memotret Cristián, remaja Kolombia dengan papannya yang bertuliskan “Mi sueño es morirme.”, yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah ‘impian saya adalah untuk mati’. Dia berpose dengan bekas lukanya, menatap tajam ke kamera. Mereka yang dipotret Weber, baik wanita maupun pria, anak-anak hingga lansia, pada umumnya bermimpi untuk memiliki kehidupan yang layak, memiliki kesehatan, pekerjaan, makanan, pendidikan, dan juga mengharapkan kembalinya orang yang dicintai dan yang hilang.  Hal tersebut sungguh membuat kita terbangun dan memahami bahwa, untuk semua perbedaan yang ada antara budaya dan negara, impian mayoritas orang Amerika Latin adalah dapat hidup dengan bermartabat.

20 tahun berlalu, Martin Weber memutuskan untuk mencari para pemimpi tersebut. Ia memulai perjalanan baru dalam mencari jiwa-jiwa yang sama untuk memberikan kesaksian hidup mereka. Tidak diragukan lagi, para pemimpi yang wajahnya dipotret oleh Weber tentu mengalami banyak perubahan, begitu pula mimpi dan harapan mereka yang seharusnya tidak lagi sama. Iya, setelah 20 tahun berlalu, seharusnya mimpi mereka tak lagi sama. Namun, realita yang ada berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya terjadi.

Kata “globalisasi” dikibarkan di seluruh dunia – melalui 51 menit, film ini akan membuktikan bahwa hal tersebut masih patut dipertanyakan. Pergeseran antara proses demokrasi dan kediktatoran telah meninggalkan jejaknya pada Amerika Latin. Krisis yang terjadi terus-menerus mengingatkan kita betapa rapuhnya medan yang kita tempati. Ternyata memang benar bahwa kita hidup di masa ketika keseimbangan kerap kali menjadi kenangan yang jauh –atau malah belum pernah ada. Yang jelas ada hanyalah mimpi, keinginan, dan harapan yang tidak tahu kapan akan terwujud.

Map of Latin American Dreams (2020) mengajak penonton untuk merasa terlibat dalam masalah dengan orang-orang yang merasa dikhianati oleh negara asalnya.

Film Map of Latin American Dreams (2020) karya Martin Weber merupakan bagian dari rangkaian program Perspektif. Kamu bisa menonton film ini secara gratis di sini.

 

 

Penulis: Tirza Kanya Bestari

Mereka bersenjata dan kami tidak, kita melakukan apapun untuk melindungi diri!”

Para petani Guangzhou biasa menyirami tanaman pukul tiga pagi. Tapi malam itu hujan turun deras. Salah seorang petani korban penggusuran terbangun dan heran saat anjingnya tak henti menggonggong kencang. Empat orang aparat sedang berjaga di depan huniannya.

“Kalian lebih baik pergi. Kalian tidak diterima!” teriaknya tak kalah lantang dengan gonggongan anjingnya.

Aparat bersenjata lengkap itu tak menggubrisnya. Ia tak tahan terus-terusan diawasi seperti itu. Akhirnya ia melempar seember kotoran ke arah aparat. Mereka lari dan tidak berani datang lagi.

Tindakan itu bukan tanpa alasan. Ia adalah salah satu dari segelintir penduduk yang bertahan di tengah proyek pembangunan kota. Hidup mereka terkatung-katung selama sekitar 12 tahun tanpa uang kompensasi yang cukup. Hari-hari mereka diawasi oleh para aparat yang berjaga. Pengusiran dan tindakan sewenang-wenang bisa terjadi kapan saja.

Di tengah reruntuhan sisa penggusuran, mereka hidup seadanya. Satu petak rumah ditempati lima orang.  Tak ada penghasilan. Mereka hanya menanam untuk makan. Satu-satunya yang mampu dipertahankan adalah tanah leluhur mereka. Meski lahan menyempit, di sanalah buah dan sayuran mereka tumbuh. Mereka kukuh kembali menempati bangunan itu. Bagi mereka itulah satu-satunya tempat; di sana tersimpan banyak memori dari para leluhur.

Perjuangan penduduk desa Guangzhou itulah yang diangkat oleh Boris Svartzman dalam film A New Era (Boris Svartzman, 2019). Secara bertahap kita dapat melihat dari sisi paling dekat bagaimana penduduk setempat membangun dan memelihara kembali hak-hak hidup mereka. Svartzman menggarap dokumenter ini selama lebih dari tujuh tahun. Di sini ia memberi gambaran langsung atas omong kosong konstruksi megacity dan taman ekologis yang justru merampas ruang hidup 2000 penduduk desa dekat sungai Canton, Cina Selatan. Menonton dokumenter ini barangkali membuat kita bertanya; pembangunan kota untuk siapa?

Pemerintah menggelontorkan empat juta yuan demi pembangunan itu. Mantan perdana menteri pada masa pemerintahan Wen Jiaobao pada saat itu telah mengatakan bahwa tak seorang pun dapat mengambil alih tanah petani. Tapi akhirnya tanah itu diambil juga.

Pada 28 Desember 2008 para petani kembali digusur paksa dengan justifikasi izin bangunan yang tak legal. Kini hanya tersisa puing-puing, berdampingan dengan 104 rumah diaspora yang masih berdiri.  Mereka terpaksa tanda tangan dan diberi tempat relokasi. Toh, setuju atau tidak, rumah mereka tetap akan dirobohkan oleh ribuan polisi yang datang. Sekarang mereka meyakini relokasi itu tidak nyata. Kata itu sama saja artinya dengan penghancuran rumah.

Film A New Era (Boris Svartzman, 2019) ini membingkai dari sudut pandang yang selama ini tak dilirik media. Media-media setempat jarang menyentuh permasalahan di akar rumput. Padahal kisah penggusuran semacam ini lazim di Tiongkok. Lima juta petani tergusur tiap tahunnya untuk proyek urbanisasi berdalih taman ekologis. Terkait hal itu salah seorang narasumber dalam film ini mengatakan, “Kami para penduduk tidak tahu apa yang mereka bicarakan.”

Keluhan sudah beberapa kali dilayangkan pada pihak berwenang. Tapi itu tak menghasilkan apapun. Sebanyak 200 penduduk korban penggusuran tak mendapat ganti rugi. Diantaranya tak memiliki atap karena tak mampu membayar apartemen yang disediakan. Mereka menjadi petani tanpa lahan. Tanah berbatu digarap seadanya.

Bahkan di awal penggusuran tujuh orang dikriminalisasi saat bentrok dengan aparat. Salah seorang korban represi aparat dipukul tongkat besi dan tongkat listrik hingga gegar otak. Ia dirawat di rumah sakit selama sembilan bulan.

Di tengah persoalan ini, konflik horizontal juga tak dapat dihindari. Kata salah seorang narasumber dalam film, ini adalah bagian dari politik pecah belah. Svartzman juga memotret momen ketika warga desa beradu mulut dengan kepala desa. Mereka berpikir kepala desa terlibat dalam penggusuran tersebut.

Still Film A New Era

Walaupun hanya menampilkan persoalan dari satu sisi, Svartzman mampu menyuarakan semua keluhan serta praktik ilegal itu dalam film ini secara lengkap. Konsekuensi dari penggusuran paksa ini tak hanya berimbas pada ekonomi dan ekologi sekitarnya. Hal ini pun menyentuh pada kehidupan sosial masyarakat. Awalnya mereka adalah sebuah desa yang memiliki budaya yang dijalani bertahun-tahun. Melalui seorang tokoh perempuan yang disorot di pembuka film, kita dapat menyaksikan betapa penggusuran tersebut tidak hanya sebatas perampasan pada tanah, tetapi juga ruang-ruang sosial yang selama ini terikat di kehidupan penduduk desa Guangzhou. Mereka memiliki keterikatan terhadap seluruh aspek yang menunjang kehidupan mereka di sana. Perempuan itu mengisahkan bagaimana setiap sudut desanya memiliki kenangan yang berarti. Svartzman mengikutinya berjalan menyusuri sisa reruntuhan rumahnya. Ia menunjukkan lokasi dimana ia dan keluarganya tidur, ruangan tempat warga desa biasa menonton opera bersama, hingga lemari obat-obatan tradisional yang kini terbengkalai. Sesekali ia berhenti, matanya menembus hamparan bangunan roboh. Semuanya hilang, hanya tersisa rumput liar.

Beberapa tahun setelahnya sutradara yang memiliki gelar dalam Bahasa Cina dan Sosiologi ini kembali ke lokasi penggusuran itu. Ia kembali bertemu narasumber-narasumbernya. Saat itu mereka sedang mempersiapkan Festival Perahu Naga. Dengan ketidakpastian masa depan, mereka tetap menjalani keseharian seperti tahun-tahun sebelumnya. Meskipun di kanan-kiri berdiri gedung-gedung besar. Tak ada perubahan kecuali pembangunan kota yang kian masif.

“Kau pikir dapat bertahan lebih lama?” tanya Svartzman pada seorang petani.

“Aku tidak tahu. Kami terus berharap menemukan solusi, kami tidak punya kekuatan dibanding pemegang otoritas,” jawabnya sambil memanen tanaman yang ia tanam di lahan sisa penggusuran.

 

Film A New Era (2019) karya Boris Svartzman merupakan bagian dari rangkaian program Perspektif. Kamu bisa menonton film ini secara gratis di sini.

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Alam menjadi wahana bagi manusia menemukan penghidupan. Alam juga  yang memberikan kehidupan, dan mengambilnya kembali.

Di Pinggir Kali Citarum (Ali Satri Efendi, 2019) memperlihatkan bagaimana seorang pembuat batu bata melakukan aktivitasnya dalam dua musim. Satu musim ketika alam memberikan hasil, sementara di musim lain alam kembali mengambil. Citarum telah menyediakan kehidupan sejak masa Tarumanegara di seputaran abad ketujuh. Mengaliri zaman, ia membawa kehidupan dari hulu Priangan ke muara Laut Jawa – membelah berbagai kampung hingga bandar, lalu merangkai cerita di bantarannya. Seperti lusinan memori kolektif manusia, banyak bagian tentang Citarum yang terlewat kemudian terlupakan begitu saja. Namun sesungguhnya, permukaannya yang keruh menyembunyikan hakikat realita rapat-rapat serta mengelabui suara yang mengais asa di tepiannya. 

Di Pinggir Kali Citarum (Ali Satri Efendi, 2019) menangkap keseharian seorang tukang batu yang menyandarkan nasib pada tanah landai di tepian air. Ia mengusahakan seluruh penghidupannya pada alam mulai dari menggunakan perahu yang dirakit dari bambu untuk membelah arus sungai hingga mengolah tanah liat menjadi batu bata untuk ditukarkan rupiah. Kendati penghasilannya tak dapat terbilang cukup, hal tersebut tetap setia dilakoninya. Tak ada dialog manusia yang berhembus sepanjang perjalanan film berdurasi 16 menit ini. Hingga detik akhir, indra penonton dibuat terjaga dengan senyap yang membawa sebuah keutuhan antara keberadaan keheningan, laki-laki paruh baya, tanah, dan air. Satu hari bagi tukang batu bata untuk mencari nafkah di bantaran dan segala gerak-geriknya ditampilkan dengan seksama dan akrab. Berawal dari tetes keringat beliaulah batu bata yang kalian gunakan sebagai fondasi tempat tinggal kalian.

Melalui film ini, penonton diajak untuk duduk dekat dengan subyek film, mengalami realita kesehariannya. Hal tersebut juga didukung oleh sinematik yang sederhana dan jujur yang sepertinya hanya ditangkap menggunakan kamera handphone, tanpa proses penyuntingan yang muluk-muluk. Hal tersebut juga dilakukan Ali Satri Effendi pada karya-karya lainnya seperti Alienasi (2017) dan Kampung Halaman (2013).

Dalam narasinya, pencarian sang tukang batu untuk nafkah hanya bertahan selama satu musim. Saat penghujan mengguyur di penghujung tahun, pekerjaannya terpaksa terhenti karena Citarum meluap hingga ke daerah di bantarannya, lalu menenggelamkan tempat tukang batu mengais rezeki.  Ali Satri Effendi, sang sutradara, telah mencoba menampilkan secara lebih sederhana relasi nyata peradaban manusia dengan alam, dan persoalan-persoalan akibat konstruksi ciptaan manusia. Pada dasarnya, seluruh manusia yang hidup di muka bumi, menggantungkan keberadaannya pada alam. Namun,  konstruksi-konstruksi manusia khususnya di bidang ekonomi telah menciptakan keadaan yang hanya menguntungkan segelintir, sedangkan pada saat yang sama, menyusahkan subjek tertentu dalam menghadapi tantangan yang dibawa arus alam. 


Lewat tulisan fenomenalnya yang berjudul Can the Subaltern Speak? (1983), Gayatri Spivak, wanita yang menekuni poskolonial menguraikan bahwa para subaltern, sebuah istilah untuk menyebut subjek yang mengalami penindasan, menghadapi batasan kompleks untuk menyuarakan realita mereka. Hal ini kemudian menuntun pada pertanyaan filosofis baru: Bagaimana cara subjek tertentu menyuarakan kehidupan mereka yang tertindas? Film Di Pinggir Kali Citarum (Ali Satri Efendi, 2019) melalui narasi yang sederhana tapi mendalam memberikan perspektif lain untuk menjawab Spivak dan tantangan terkait keberadaan subaltern lewat penampilan sosok tukang batu yang terpinggirkan oleh kapitalisme dan perkembangan zaman. Lewat narasi visual dan keheningan dialog, tercipta wadah bagi mereka yang terpinggirkan untuk bersuara.

Film Di Pinggir Kali Citarum (2019) karya Ali Satri Efendi merupakan bagian dari rangkaian program Lanskap. Kamu bisa menonton film ini secara gratis di sini.

 

 

Penulis: Tirza Kanya Bestari

Glass (1958) garapan Bert Haanstra merekam aktivitas pekerja industri kaca di Belanda. Haanstra memperbandingkan dua peristiwa produksi perkakas kaca melalui konsep sinematografi, editing, dan dramatika film. Konsep tersebut digunakan untuk  membangun representasi kelas yang banyak dibicarakan orang, yakni objektifikasi. 

Obyektifikasi hadir ketika seseorang diperlakukan sebagai benda. Praktek ini menempatkan seorang tersebut untuk mengikuti segala arahan yang menguasainya. Ini kondisi yang tidak banyak berubah sejak kamera ditemukan. 

Di awal penemuan, kamera menjadi barang mewah yang hanya dapat dimiliki oleh orang-orang kaya. Situasi tersebut mendorong kelahiran estetika visual—khususnya fotografi—yang mengarah pada capaian klasifikasi manusia berdasarkan ruang hidupnya. Dalam hal ini, manusia diposisikan sebagai benda yang mengikuti narasi pemegang kamera.  

Saat saya mengikuti workshop Literasi Visual Arkademyproject pada 8 Agustus 2020, Kurniadi Widodo menjelaskan perbedaan pose antara kaum elit Eropa dan pekerja dari Afrika. Seorang dari bangsa Eropa selalu ditampilkan dalam gaya menawan dengan pakaian indah dan tertutup. Sedangkan foto pekerja dari Afrika hadir dalam penampakan tanpa busana, minim ekspresi, dan terkadang didekatkan dengan peristiwa brutal. Artinya, masalah objektifikasi berhulu pada siapa dan bagaimana pemegang kamera menggambarkan suobjebjek.

Saya pikir, Haanstra memahami betul konsep ini dan secara sadar menerapkannya dalam film Glass (1958). Ia menggunakan konsep tersebut untuk mendekonstruksi jurang kelas antar dua kelompok pekerja; pekerja yang membuat perkakas kaca secara manual dengan yang menggunakan mesin. Keduanya dipertunjukkan dalam ruang hidup yang berbeda. Pekerja manual hadir dalam kehidupan yang dikesankan mewah, indah dan menyenangkan. Selain itu, sinematografi Haanstra juga menunjukkan bahwa pekerja ini menghasilkan produk bercitarasa seni tinggi. Sebaliknya, ia menggambarkan ruang hidup pekerja yang menggunakan mesin, dalam nuansa monoton. Seolah mereka sedang dalam posisi yang terburu-buru dan tekanan. Lalu, mengenai produk botol kaca yang dihasilkan mereka, hadir sebagai benda tanpa nilai.  

Persona mereka juga divisualisasikan sangat kontras. Pekerja di pabrik bermesin ditampakkan dalam rupa yang penuh peluh dan debu mesin. Sedangkan, pekerja di pabrik manual dihadirkan sebagai seorang yang rapi, bersih, dan cermat dalam membuat gelas kaca. Seolah bagikan seniman yang memiliki karya bernilai seni tinggi. 

Di babak terakhir, Haanstra membalik logika dualisme pekerja itu. Ia menggunakan konsep objektifikasi untuk membicarakan hal di atas industri, yakni kuasa. Kuasa yang mengklasifikasikan nilai barang industri manual dan mesin, narasi tentang pekerja dan bahkan representasi visual mereka.   

Ini tergambar baik ketika aktivitas tangan seorang pekerja bermesin, dilatari dengan musik yang bernuansa serupa dengan pekerja manual. Musik yang sebelumnya menjadi pembeda menjadi alat yang mengaburkan batas. Pengaburan ini semakin ditampakkan melalui montase peristiwa di pabrik botol dan pabrik gelas kristal—tempat kerja pekerja manual. Alih-alih membangun kesan menegangkan, montage ini malah menghasilkan irama komikal.

Bagi saya irama komikal ini menunjukkan posisi Haanstra sebagai pemegang kamera, yang memandang jurang kelas antara pekerja sebagai hal ‘lucu’. 

Film Glass (1958) karya Bert Haanstra merupakan bagian dari rangkaian program Retrospektif. Kamu bisa menonton film ini secara gratis di sini

 

 

Penulis: Annisa Rachmatika Sari.  

Pada akhirnya, wajah manusia sama seperti media lukis. Rembrandt menemukan kesamaan itu dan menduplikasikannya ke dalam karya yang kelak menjadi sejarah perjalanan hidupnya. 

Rembrandt memburu emosi-emosi manusia menggunakan kuas. Target utamanya ialah umat manusia. Kemudian melalui dokumenter Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957), lukisan gerak batin manusia yang bahagia maupun sengsara itu disingkap dalam gabungan bingkai film. 

Potret wajah Rembrandt yang pertama adalah saat ia berusia 23 tahun. Secara berkelanjutan ia mengabadikan setiap emosi dan momen yang menimpanya. Lukisan dirinya berakhir 40 tahun setelahnya. Namun, dalam rentang waktu itu tak ada perubahan pada sorot mata serta lekuk wajah khas Rembrandt. Kerut wajah tentu bertambah, garis-garis menguat, tapi itu hanya menjadi bukti perjalanan seumur hidup.

Semua lukisan adalah rekaman kepribadian sang pelukis. Film Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957) ini menyorot satu demi satu rekaman itu. Haanstra seolah mewawancarai langsung sosok Rembrandt. Ia melihat pelukis besar itu sebagai individu manusia. Kisahnya nampak jelas dan runut meski hanya melalui rentetan lukisan-lukisan tangan Rembrandt.

Titik mula riwayat hidup Rembrandt itu barangkali adalah kehadiran sosok perempuan dalam lukisannya. Ia bernama Saskia. Wajahnya merona, tatapannya berbinar, tangan kirinya memegang bunga. Hatinya pastilah juga sedang berbunga. Siapa sangka jika setiap detail guratan utuh Saskia itu mampu menyentuh hati pelukis tersohor abad ke-17, Rembrandt. Beberapa hari setelahnya Rembrandt meminang Saskia. Dan potret itu menjadi lukisan pertama yang mengantarkan sang pelukis pada kebahagiaan hidupnya.

Sejak saat itulah lukisan-lukisan Rembrandt menjadi lebih berwarna. Bahkan untuk pertama kalinya, ia melukis potret dirinya tersenyum lebar. Pada potret-potret selanjutnya, Rembrandt mempertegas kontras antara bayangan dan cahaya.  Lukisannya pun diliputi tema kemurnian sebuah keluarga.

Rembrandt dan Saskia dikaruniai tiga bayi, tetapi ketiganya meninggal. Senyum lebar dalam potret lukisan dirinya memudar. Wajah muramnya kontras dengan bayangan gelap. Ia bertopang dagu dan matanya sayu. Tapi tak lama kemudian anaknya lahir dan diberi nama Titus. Kelahirannya membawa Rembrandt kembali melukis wajahnya yang tersenyum. 

Persis seperti apa yang diyakini Rembrandt dalam imajinasinya, dunia ini adalah tentang tokoh-tokoh dekat dalam keseharian. Rembrandt pun melukis sosok ibu dan ayahnya. Di sana ia merasa menemukan arti kemanusiaan. Penghiburan hanya hadir lewat keyakinan itu. Dan kisah-kisah dalam kitab suci menjadi sumber inspirasi yang selalu ia kenang. Itulah yang menguatkan hatinya saat mengalami penderitaan yang mendalam. Selama dua puluh tahun sejak kematian Saskia, potret lukisan dirinya tampak murung. Ia menggambarkan kepergian istrinya dengan lukisan perpisahan Daud dan Yonathan, sebuah kisah persahabatan paling indah yang tercatat dalam al-Kitab.

Selang lama belum ada lagi lukisannya yang laku. Bahkan Rembrandt terlilit hutang dan menjual perabot rumah. Tampaknya itu semua tak lebih berharga dari alat-alat lukisnya. Ia percaya akan bangkit dari kegagalan itu dan berpegang teguh pada nilai estetika yang ia miliki. Sampai akhirnya ia kembali menjadi perbincangan dengan lukisan agungnya berjudul The Night Watch. Rembrandt berani keluar dari pakem melukis pada zaman itu, yaitu potret satuan pengamanan sipil yang dipimpin oleh Kapten Banning Cocq.

Rembrandt banyak merefleksikan konflik misterius tentang eksistensi, spiritualitas, dan materi yang menyelimuti tiap diri individu. Namun selalu ada titik ketenangan yang ditemukan di antara oposisi-oposisi itu. Bagi Rembrandt, penuaan wajah adalah yang paling mampu berbicara secara mendalam.

Rembrandt adalah maestro. Saat berusia 25 tahun, nama Rembrandt sudah dikenal. Orang mulai banyak membicarakan karyanya tentang pelajaran anatomi tubuh. Lukisannya banyak dikagumi dan diinginkan. Sebab Rembrandt tak pernah lepas dari prinsipnya. Segala sesuatu akan bersinar ketika selalu pada jalur yang otentik dalam diri. Baginya suatu makna yang cukup hanya dapat ditemukan dalam satu wajah manusia. Tak hanya soal kecemerlangan dan kelimpahan hidup, terkadang kebodohan dan kesombongan manusia disingkap dalam karyanya. Akhirnya, Rembrandt mulai memberi tanda tangan pada setiap lukisannya dan orang-orang membayarnya.

Tiga abad setelahnya riwayat hidup Rembrandt kembali diabadikan dalam wujud lain. Lukisan-lukisan itu kini digambar ulang dalam sebuah film berjudul Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957) ini. Haanstra mengikuti jejak Rembrandt dan merangkainya menjadi satu kisah emosionil. Ada semacam kemuraman sekaligus cahaya harapan dalam hidup secara bersamaan. 

Pijakan yang diambil Rembrandt dan Haanstra sama. Antara lukisan dan film keduanya meletakkan elemen cahaya sebagai kunci. Rembrandt menimbulkan efek artistik yang dramatis dalam lukisannya ketika dilihat dengan cahaya yang terang. Sedang Haanstra melalui film menyuguhkan kenikmatan menonton hanya melalui selarik cahaya remang. Sehingga melalui dokumenter ini dapat ditemukan keserasian yang menarik. Rembrandt mengubah sesuatu yang bergerak menjadi diam. Haanstra mengubah yang diam menjadi sesuatu yang bergerak.

Selain itu, dokumenter Rembrandt, Painter of Man (Bert Haanstra, 1957) berhasil menunjukkan bahwa sinema semacam ini pun mampu memantik kesan tersendiri dalam alam pikir penonton. Dibumbui musik dan narasi yang selaras, kisah-kisah hidup Rembrandt seperti mendekat dengan sendirinya.

Sutradara yang berkontribusi besar dalam karya dokumenter di dunia itu mampu menemukan benang merah kisah hidup sang pelukis besar. Alurnya sudah ditemukan, komplikasi hingga koda cerita dirangkai sedemikian rupa. Haanstra juga menunjukkan bagaimana seorang manusia terus menua secara permanen. Maka tak ayal jika karya Haanstra ini diputar dalam  Festival Film Dokumenter (FFD) 2020 pada program Retrospektif. Dokumenter ini menjadi salah satu perjalanan karya Bert Haanstra serta memberi pengalaman penonton perihal bahasa sinema sendiri.

Film Rembrandt, Painter of Man (1957) karya Bert Haanstra ini dapat disaksikan dalam rangkaian program Retrospektif, kamu bisa menyaksikannya secara gratis di sini.

 

Penulis: Dina Tri Wijayanti

Di balik sambungan gambar yang ritmis pada film The Human Dutch (1963), Bert Haanstra menuturkan kisah orang-orang Belanda yang menikmati harinya dibalik kecemasan mereka akan sesuatu.  

Penghargaan yang diterima The Human Dutch (1963) dari berbagai kompetisi dunia, menandai bahwa film ini hadir sebagai karya penting. Baik secara isu maupun sinematikanya. Tahun 1964 film ini memenangkan empat kategori di Berlin Film Festival ke-14, lalu di tahun berikutnya—1965–menjadinominasi Best Documentary, Features di Academy Awarddan nominasi Flaherty Documentaru Award. Setelah lebih dari 30 tahun, film ini kembali  ditayangkan di Amsterdam International Documentary Film Festival tahun 1997

Rekam jejak pemutaran tersebut menunjukkan bahwa apa yang dikisahkan film ini masih relevan dengan persoalan di masa sekarang. Misalnya saja tentang kasus kematian lansia yang tidak diketahui terhubung dengan asumsi Haanstra pada sikap individualis orang-orang Belanda. Ia melihat bahwa segala bentuk keteraturan dan sikap individualis orang-orang Belanda menjadi bom waktu bagi mereka sendiri. Sebuah masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan kebaharuan teknologi yang diciptakan orang-orang ini.

Persoalan perkembangan teknologi juga menjadi sorotan Haanstra. Di awal film ia mengajak penontonnya untuk terpukau dengan kemajuan teknologi di kota-kota Belanda. Gedung dengan pemancar, pengarsipan yang rapi, rumah warga yang juga layak huni. Namun, segala bentuk kemajuan ini menyimpan luka masa lalu. 

Hastrat menunjukkannya pada peristiwa lelang barang-barang peninggalan penduduk Jerman. Gelak tawa sekelompok orang dibenturkan Haanstra dengan dengan patung Hitler yang hanya diam—namanya juga patung. Treatment ini menunjukkan kejelian Haanstra dalam membangun anomali emosi orang-orang Belanda. Mereka yang terlihat senang sebenarnya menyimpan kenangan yang memilukan.

Kenangan warga tentang perang juga ditampakkannya melalui jukstaposisi gambar, antara pemakaman dengan mayat-mayat. Arsip tentang mayat sengaja difungsikan untuk mengagetkan penonton. Hadir tiba-tiba dalam durasi tidak lebih dari tiga menit. Ini berulang hingga tensi peristiwa cenderung landai.

Setelah tegangan cerita mulai normal, Haanstra kembali lagi menggiring kita untuk mengamati kehidupan orang-orang Belanda. Tentunya kehidupan yang menyenangkan dan menggembirakan. Berjemur, memancing, dan bersorak di pinggir lapangan saat menyaksikan pertandingan sepak bola.

Seluruh aktivitas orang-orang Belanda ini diamati Haanstra dari jarak yang beragam. Terkadang ia bisa hadir sebagai orang ketiga yang sangat jauh dengan subjek. Kadang pula ia menjadi orang kedua yang bisa duduk satu meja dengan subjek.

Haanstra mencoba menceritakan sekelilingnya dari pandangannya sebagai orang Belanda. Ia adalah bagian dari orang-orang yang ia rekam. Walaupun kadang ia mengambil jarak jauh untuk mempertanyakan aktivitas orang-orang ini. 

Film The Human Dutch (1963) karya Bert Haanstra ini dapat disaksikan dalam rangkaian program Retrospektif, kamu bisa menyaksikannya secara gratis di sini.

 

 

Penulis: Annisa Rachmatika