Akhirnya, kita sampai kepada hari terakhir penyelenggaraan FFD 2019 yang luar biasa, dan kami sangat bersyukur atas seluruh momen menyenangkan yang kami alami selama enam hari terakhir. Akademisi, pelajar, jurnalis, seniman, filantropi, dan kalangan-kalangan lainnya telah memasuki pintu Taman Budaya Yogyakarta dan lokasi-lokasi penyelenggaraan lainnya untuk menikmati sajian FFD tahun ini. Terima kasih telah berpartisipasi dalam FFD 2019.

Tapi, jangan berpikir kalau sekarang sudah selesai. Kami masih memiliki beberapa agenda untuk membuat Anda terhibur sedikit lebih lama.

 

13.00 WIB

FFD 2019 - Falsos Positivos

Seperti hari-hari sebelumnya, kalian masih bisa menikmati ekshibisi program The Feelings of Reality dan SchoolDoc di Lobby Societet Taman Budaya Yogyakarta serta Etnografi Indrawi: Saksi Mata di Kedai Kebun Forum.

Ada juga pemutaran film Falsos Positivos (2009) di ruang pemutaran Societet Taman Budaya Yogyakarta. Film yang termasuk dalam program Layar Lebar, Layar Kekerasan ini menceritakan tentang kekerasan oleh aparat terhadap warga sipil yang terjadi di Kolombia pada tahun 2008.

Selain itu, film Le Film de Bazin (2017) akan diputar di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta. Dalam film ini, sutradara Pierre Hébert mencoba untuk melanjutkan karya yang belum selesai dari André Bazin, tokoh film kenamaan dari Prancis yang meninggal akibat leukemia.

 

14.35 WIB

FFD 2019 - Village of Swimming Cows

Selepas pemutaran Falsos Positivos (2009) di Societet Taman Budaya Yogyakarta, film Village of Swimming Cows (2018) akan ditayangkan. Film ini mencoba menangkap bagaimana hipster dari Berlin bersinggungan dengan petani sungguhan dan memotret pola hidup kontras, usaha-usaha adaptasi, serta pandangan tentang hidup dari pengalaman ini.

 

15.00 WIB

FFD 2019 - Dokumenter Pendek - Irama Betawi

Untuk kedua kalinya, kami menghadirkan kompilasi dari finalis kompetisi Dokumenter Pendek FFD 2019 kepada kalian. Pada sesi ini, kalian bisa menikmati empat dari delapan film finalis, yaitu: Diary of Cattle, More Than Work (2019), Luar Biasa (2019), dan Irama Betawi (2019) di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta. Sebagai catatan, akan ada sesi Q&A bersama beberapa perwakilan dari film-film yang diputar. Sayang untuk dilewatkan, bukan?

 

19.00 WIB

Sebagai penutup hari sekaligus salam perpisahan dari gelaran Festival Film Dokumenter (FFD) 2019, akan ada agenda malam penganugerahan yang dibuka untuk umum. Kami akan mempersilakan para juri untuk mengumumkan seluruh pemenang Kompetisi Dokumenter FFD 2019 di setiap kategori. Sebagai suguhan penutup, film pemenang kategori pelajar akan diputar untuk kalian. Dan, dengan penuh suka hati, kami berterima kasih atas partisipasi kalian dan –di waktu yang bersamaan- meminta maaf atas segala kekurangan. Sampai jumpa di tahun depan!

Selamat hari Jumat! Festival Film Dokumenter kurang dua hari lagi, jadi jangan sampai membuat diri kalian menyesal karena ketinggalan berbagai film menarik dari kami!

Mari berakhir pekan dengan menonton berbagai film FFD 2019. Berikut kami sediakan jadwal tanggal 6 Desember 2019.

 

13.00 WIB

Silakan menikmati program The Feeling of Reality, SEL, dan SchoolDoc yang masih berlangsung sampai nanti jam 21.00. The Feeling of Reality dan SchoolDoc diputar di Lobby Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Sedangkan SEL dipamerkan di galeri Kedai Kebun Forum. Selain itu, kami juga menyajikan dua film dan satu diskusi di jam ini di tempat-tempat berbeda. Silakan memilih!   

Film East Asia Anti-Japan Armed Front (Kim Mirye, 2019) mengajak kita untuk menelusuri jejak Front Bersenjata Anti-Jepang dari Asia Timur. Sebuah kelompok yang pernah melakukan pengeboman dan pengerusakan pada beberapa perusahan yang ada di Jepang, tahun 1974. Film ini bisa dinikmati di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.   

Film Hutan Perempuan (Yulika Anastasia,2019) mengisahkan tentang perempuan Enggros yang memberdayakan hasil Hutan Perempuan untuk kehidupan sehari-hari bisa dinikmati di IFI-LIP Yogyakarta. Silakan simak bagaimana perempuan Enggros mempertahankan tradisi mereka di Hutan Perempuan yang terlarang bagi kaum pria. 

Distribusi, Pasar, & Ekonomi Politik Film, “Rupa-Rupa Distribusi Film Kita”, menghadirkan Nia Dinata dan Fajar Hutomo selaku Deputi Akses Permodalan BEKRAF untuk membaca ruang pendanaan fim di Indonesia. Bersama dua pembicara, kita juga bisa melacak forum pendanaan seperti apa yang cocok untuk film dokumenter.   

 

15.00 WIB

Setelah menyaksikan film di jam sebelumnya, mari melanjutkan perjalanan ke IFI LIP Yogyakarta. Kami menyediakan tiga film dari program Lanskap bertajuk Salam untuk Abduh. Di sesi ini, kalian bisa mengikuti sesi tanya jawab dengan Aryo Danusiri, Lulu Ratna, dan Kisno Ardi.    

Film Di Atas Rel Mati (Welldy Handoko & Nur Fitriah,2006) mengisahkan tentang anak lori. Wahyudi, Ropik, Ade dan Wanto menyediakan jasa lori dorong, yakni alat transportasi yang kerap digunakan warga kampung Dao Atas, Ancol, Jakarta.  

Film Abrakadabra! (Aryo Danusiri, 2003)mengisahkan kondisi di Banda Aceh pasca Perjanjian Penghentian Permusuhan antara Gerakan Aceh Merdeka dengan perwakilan pemerintah Indonesia  pada 9 Desember 2002.

Film Tjidurian 19 (Lasja F Susatyo & M Abduh Aziz) menceritakan rumah di jalan Tjidurian 19. Rumah yang merekam usaha anak-anak muda kala itu dalam meramaikan kancah sastra Indonesia, menjadi saksi bisu dari sebuah perpecahan komunitas karena pertikaian politik.  

 

15.25 WIB

FFD 2019 - Turning 18

Bagi yang ketinggalan film pembuka FFD 2019, tidak usah risau. Kami memutarkan kembali film Turning 18 (Ho Chao-ti, 2018) di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Film yang mengisahkan tentang dua gadis remaja yang bertahan dari arus kehidupan yang mengguncangnya. Mereka yang nyaris kewalahan bertemu dalam sebuah program latihan kejuruan.   

 

18.30 WIB

FFD 2019 - Dokumenter Pelajar - Tambang Pasir

Mari merapat ke Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta! ada 8 film menarik dari program Kompetisi Dokumenter Pelajar. Bagi yang penasaran dengan film-film di sesi ini, jangan buru buru pulang. Masih ada sesi tanya jawab bersama pembuat film. 

Film Bangkit (Farchany Nashrulloh, 2018) menceritakan Ahmad Zaky Ash-shiddiq yang sejak SMP sudah mengenal olahraga parkour. Parkour adalah segalanya, karena olahraga ini dia bisa sembuh dari penyakitnya.   

Film Orang-orang Tionghoa (Icha Feby Nur Futikha, 2019) mengisahkan kehidupan tiga orang Tionghoa dari Purbalingga yang mengalami tekanan dari Rezim Orde Baru, hingga harus mengganti nama dan agama. 

Film Tambang Pasir (Sekar Ayu Kinanti, 2019) menunjukkan dampak dari tambang ilegal yang merusak ruang hidup masyarakat sekitarnya. Tambang galian C ini berada di Kabupaten Purbalingga. 

Film Ngalih Pejalai Antu-Ritual Dayak Iban (Kynan Tegar, 2019) mengisahkan tentang tradisi masyarakat adat Dayak Iban Sungai Utik yang memiliki hubungan spiritual dengan alam dan lingkungannya. Mereka meyakini bahwa tempatnya hidup adalah sebuah jalan dari arwah-arwah yang sudah lama tinggal dan tak bisa mereka lihat.   

Film Pasar Sepur (Sarah Salsabila Shafiyah, 2019) mengisahkan pasar Dupak Magersari atau pasur (pasar sepur),  yang telah ada di atas rel kereta api aktif sejak 50 tahun lalu. Pasar ini membangun daya tarik sekaligus masalah bagi pemerintah.  

 

19.00 WIB

FFD 2019 - Kompetisi Dokumenter Panjang Indonesia - Om Pius, "Ini rumah saya, come the sleeping"

Tidak berselang lama, film Om Pius, “Ini rumah saya, come the sleeping” (Halaman Papua, 2019) diputar di Amphitheater, Taman Budaya Yogyakarta. Film ini mengisahkan tentang seorang pria yang bekerja dan bertaruh lotre setiap harinya untuk hidup. Dalam kehidupannya yang tampak damai, sebenarnya dia dihantui oleh sejarah dan kenangan tragedi Papua.  

Di jam yang sama, juga ada pemutaran film Good Neighbours (Stella van Voorst van Beest, 2018) di IFI LIP. Kalian bisa menyaksikan gerakan masyarakat dalam mengurangi angka kesepian yang berdampak pada kesehatan mental. Di film ini kita akan mengamati beberapa orang kota Rotterdam yang mengalami kesepian hebat.    

 

20.00 WIB

Di sesi pemutaran terakhir, kami memutarkan film Lettre á ma sœur (Habiba Djahnine, 2006). Film ini berkisah tentang upaya sutradara dalam menanggapi surat yang ditinggalkan oleh Nabila Djahnine, sebelum pembunuhannya di tahun 1995. 

Selamat menikmati film-film dari kami!!

Tidak terasa gelaran FFD tahun ini telah menginjak hari kelima. Mendekati akhir pekan, FFD telah menyuguhkan deretan sajian film dokumenter, ekshibisi, dan diskusi yang menanti untuk Anda datangi.

Inilah panduan harian FFD untuk 5 Desember 2019 yang kami susun secara kronologikal.

 

13.00 WIB

2019_film_banda-1

Ada lima film yang bisa kamu pilih untuk ditonton di siang hari, Banda: The Dark Forgotten Trail (2017), Lipsett Diaries (2010), Still Born (2014), Apart (2018), dan The Neighbours (2019).

Segenggam pala di pasar Eropa pernah dianggap lebih berharga ketimbang sepeti emas. Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon pala tumbuh sontak menjadi kawasan yang paling diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di tempat ini. Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Manhattan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Anda dapat menyaksikan kisah selengkapnya dalam Banda: The Dark Forgotten Trail (2017) yang diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Pusaran kesedihan yang menyiksa Arthur Lipsett, seorang pembuat film eksperimental Kanada yang meninggal pada usia 49 tahun. Keterpurukannya akibat depresi dieksplorasi melalui serangkaian gambar serta suara yang diambil dari karya-karya Lipsett itu sendiri. Semua terangkum dalam Lipsett Diaries (2010).

Still Born (2014), adalah tentang kerinduan akan seorang bayi yang meninggal ketika dilahirkan. Sang ibu mencoba dengan berbagai cara untuk menerima bahwa anaknya tidak akan hidup, dan juga merefleksikan bagaimana perempuan-perempuan dalam situasi yang sama dengannya diperlakukan 40 tahun yang lalu. Cerita ini disatukan dengan animasi 2D, dicampur dengan gambar-gambar bergerak dan animasi 3D.

Apart (2018) berkisah tentang kehidupan setelah kehilangan orang yang dicintai menggunakan teknik live-action dan animasi. Pengalaman nyata dari narator dikombinasikan dengan rangkaian animasi, merekonstruksi situasi-situasi yang menyakitkan, melihat ke dalam pikiran tiga anak muda yang menunggu kematian.

The Neighbours (2019) bercerita tentang putra dari seorang ayah Ceko dan ibu Jerman yang menyaksikan kedua orangtuanya dieksekusi Revolutionary Guards pasca Perang Dunia Kedua. Sang anak itu menghabiskan sisa masa kecilnya di lembaga pendidikan dan berulang kali berupaya melarikan diri.

Seluruh pemutaran dokumenter pendek animasi Lipsett Diaries (2010), Still Born (2014), Apart (2018), dan The Neighbours (2019) bertempat di Auditorium IFI-LIP.

Selain pemutaran film, juga ada acara bincang-bincang dalam program DocTalk bertajuk Intimacy and Ethics: Universal or Contextual. Ini akan membahas seputar proses mencapai intimasi antara subjek dan pembuat film dalam pengerjaan film dokumenter yang di sisi lain menyisakan problem perkara etis. Diskusi ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar itu dengan menghadirkan tiga pembicara yang kompeten di bidangnya seperti Shin Eun-shil (programmer SIDOF), DS Nugraheni (filmmaker), dan Tonny Trimarsanto (filmmaker). Acara ini berlokasi di Kedai Kebun Forum.

Anda juga dapat menyaksikan program eksibisi yang berlangsung dari pukul 13.00 – 21.00 WIB. Terdiri dari tiga program yaitu, The Feelings of Reality yang menyajikan delapan film dalam bentuk Virtual Reality (VR) di Societet Militair, Sensory Ethnography yang menghadirkan cuplikan persimpangan antara produksi audiovisual dan pendekatan etnografi indrawi di Kedai Kebun Forum, dan Schooldoc yang menampilkan instalasi berupa rekaman proses di balik pembuatan film dokumenter pelajar di Societet Militair. Ini juga bisa menjadi pilihan tepat mengisi waktumu ketika menunggu jeda jadwal pemutaran film berikutnya.

Tentukan pilihanmu!

 

14.25 WIB

FFD 2019 - The Summer of Arte

Setelah nonton empat film dokumenter animasi di IFI-LIP, Anda dapat menentukan untuk memilih menonton film lainnya di lokasi yang sama. Ada tiga film yang dapat Anda pilih, The Summer of Arte (2019), Origin of Shadow (2017) dan Katsuo-Bushi (2015).

The Summer of Arte (2019) bercerita tentang suatu hari pada musim panas di Arte Piazza Bibai, taman patung di pegunungan di Hokkaido, Jepang. Bibai yang pernah menjadi salah satu kota pertambangan batu bara terbesar, kini telah menderita depopulasi kritis. Proyek alun-alun seni dimulai untuk merevitalisasi kota dengan mempromosikan seni dan budaya.

Origin of Shadow (2017) berkisah tentang seorang istri yang menulis surat kepada suaminya. Namun tak pernah sampai karena sang suami gugur di medan perang; menyisakan memorandum. Pemandangan makhluk hidup yang menjalin suara, cahaya dan bayangan hantu di mana-mana. Sebuah film dan puisi untuk semua orang yang pernah tinggal di kota ini.

Katsuo-Bushi (2015) memotret kontras antara industri makanan Jepang modern (cepat saji, manufaktur murah) dan ruang kerja tradisional, serta menangkap mata rantai lain dalam perdagangan katsuo-bushi seperti pelelangan ikan dan restoran berbintang Michelin.

 

15.00 WIB

FFD 2019 - Kompetisi Dokumenter Panjang Indonesia - Om Pius, "Ini rumah saya, come the sleeping"

Di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta, diputar film Om Pius, “Ini rumah saya, come the sleeping (2019). Berkisah tentang seorang lelaki yang bekerja dan bertaruh lotre setiap harinya untuk hidup. Di kehidupannya yang terlihat damai, ia dihantui oleh sejarah dan kenangan akan tragedi Papua.

Jangan khawatir jika Anda melewatkan film ini karena masih belum selesai menonton acara FFD lainnya, karena Om Pius, “Ini rumah saya, come the sleeping” (2019) akan diputar kembali pada 6 Desember 2019 di Amphitheatre Taman Budaya Yogyakarta pukul 19.00 WIB.

 

16.00 WIB

FFD 2019 - China Man

Sore hari di Auditorium IFI-LIP, akan diputar dua film berjudul China Man (2019), Anxiety of Concrete (2017) yang semuanya bertema tentang kesehatan mental bagian dari program Perspektif.

China Man (2019) berkisah tentang seorang bernama Ek Kiat. Di umur lima tahun, ia meninggalkan keluarga dan desanya di Cina demi kehidupan baru bersama orang tua adopsi di Singapura. Perubahan drastis ini melahirkan masa kecil yang pelik, karena tumbuh kembangnya diwarnai oleh upaya sia-sia melupakan masa lalunya. Dalam durasi 24 menit, China Man mencoba memahami konfrontasi Ek Kiat terhadap kegelisahan yang mengakar pada dirinya selama 20 tahun terakhir.

Anxiety of Concrete (2017) menangkap Sky Apartments yang dibangun pada 1969, dan sejak lama telah dinobatkan sebagai Bangunan Rawan Bencana. Memandangi bangunan beton yang sewaktu-waktu bisa saja roboh dan membuat bergidik.

 

18.30 WIB

FFD 2019 - Dokumenter Pendek - A Daughter's Memory

Ini adalah waktu yang tepat untuk Anda menonton film Kompetisi Kategori Dokumenter Pendek di FFD tahun ini.  Ada empat film yang diputar di Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta.

Cipto Rupo (2019), berkisah tentang seorang kakek bernama Tjipto Setiyono (85) merupakan seorang pelukis sepatbor becak. Dalam usia yang tidak muda lagi, ia hidup mandiri di sebuah kamar kos berukuran 3×3 meter persegi yang menjadi saksi lahirnya karya-karya goresan tangan Tjipto.

Ratusan bahkan ribuan orang ditahan secara tiba-tiba tanpa surat resmi dalam peristiwa 1965. Beberapa kembali pulang, yang lain hilang untuk selamanya. A Daughter’s Memory (2018), mengisahkan tentang Svet. Ia adalah satu dari jutaan penyintas sejarah gelap Indonesia. Dia mengenang kembali memorinya bersama sang ayah yang dipercayai berperan dalam tragedi 1965.

Bagi orang Sumba, perempuan memiliki nilai tukar yang dikenal dengan belis berupa kuda, sapi, kerbau, dan babi bernilai tinggi. Perempuan Sumba juga tidak lepas dari kebiasaan mereka untuk menenun kain. Film Perempuan Tana Humba (2019) ini menganyam tradisi, nilai, dan harapan perempuan Sumba dalam pusaran modernitas, di mana adat seakan ditantang untuk berubah.

Sujud (2019) mengisahkan tentang sekelompok masyarakat yang menggunakan metode sujud untuk beribadah. Masyarakat tersebut mempunyai kepercayaan bernama Sapta Darma, yaitu salah satu agama asli nusantara yang menggunakan sujud sebagai media beribadah.

 

19.00 WIB

2019_film_Our Youth in Taiwan 1

Malam harinya, Anda dapat menyaksikan program Layar Lebar, Layar Kekerasan lewat pemutaran film Our Youth in Taiwan (2018) di Amphitheatre Taman Budaya Yogyakarta. Anak muda dan politik selalu menjadi kombinasi yang menarik. Film ini selama delapan tahun mengikuti perjalanan aktivis-aktivis muda membangkang terhadap penguasa Taiwan dan Cina. Sebagaimana darah muda para aktivisnya, gerakan sosial di Taiwan ini pun penuh gejolak.

Di jam yang sama, ada diskusi menarik dari mengenai kesehatan mental bertajuk Mental Health and Convoluted Happiness. Menghadirkan Rifki Akbar Pratama (peneliti di program Sekolah Salah Didik dari Kunci Study Forum & Collective) dan Shalfia Fala Pratika (mahasiswa Filsafat UGM dan penyintas Bipolar Personality Disorder) akan membicarakan seputar bagaimana kita memahami, memandang dan bersikap terhadap problem mental yang ada di sekitar kita. Acara yang merupakan bagian dari program Perspektif ini bertempat di Auditorium IFI-LIP. 

 

21.00 WIB

FFD 2019 - Kompetisi Dokumenter Panjang - 2408BPM

240BPM++ (2019) akan diputar pada jam ini sebagai penutup rangkaian acara FFD pada Kamis 5 Desember 2019. Film ini merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Indonesia. Ini adalah kesempatan terakhir bagi kalian yang tidak sempat menyaksikan pemutaran 240BPM++ pada Senin, 2 Desember kemarin. Film ini diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Jangan lewatkan!

Selamat hari Rabu! Semoga Rabu-mu tidak kelabu. Agar Rabu-mu tidak kelabu FFD 2019 akan mengajakmu untuk menghabiskan hari ini dengan bertualang bersama film dokumenter. Kami akan menuntun jalanmu dalam petualangan film dokumenter hari ini dengan agenda-agenda yang telah disusun dengan runtut. 

Mari simak panduan FFD 2019 hari Rabu, 4 Desember 2019 yang akan membawamu bertualang bersama film dokumenter!

 

10.00 WIB

Mari mulai Rabu pagimu dengan belajar bersama Thomas Barker melalui Panel Public Lecture; Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream yang diadakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,  Universitas Gadjah Mada. Melalui buku Indonesian Cinema after the New Order: Going Mainstream milik Thomas Barker, kamu akan diajak untuk melihat sejarah sinema kontemporer yang sistematis dan komprehensif untuk pertama kalinya dalam kasus di Indonesia. Selama kurang lebih dua jam Thomas Barker akan mempresentasikan hasil penelitiannya secara umum sekaligus dikontekstualisasikan dengan penemuan-penemuan terbarunya. 

 

13.00 WIB

Setelah puas belajar bersama Thomas Barker, mari manjakan dirimu dengan menonton film. Pada siang terdapat tiga film yang diputar di lokasi yang berbeda: The Iron Ministry (2014), dan My Lone Father (2018). Sehingga, kamu diharuskan memilih film yang akan kamu nikmati.

Film The Iron Ministry (2014) merupakan bagian dari program Etnografi Indrawi: Saksi Mata. Kamu dibawa pada rekaman catatan perjalanan para migran Cina di dalam satu kereta api yang sama, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Laju kereta api seolah menggambarkan kecepatan pembangunan. Film ini akan diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Film My Lone Father (2018) merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film ini menampilkan seorang ayah pada usia 51 tahun pergi meninggalkan keluarganya untuk hidup sebagai tukang kayu. Dari sudut pandang anaknya, ayah yang idealis berubah pikiran hingga melepaskan segalanya dan menjalani mimpinya untuk bepergian. Kamu dapat menikmati film ini di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta. 

Siang kamu ini tidak hanya disuguhkan pilihan dalam menikmati film saja, kamu juga memiliki pilihan untuk menghadiri diskusi. Kamu dapat bergabung dalam sesi Doctalk panel Film & Demokrasi dengan tajuk “Film Pendek dan Demokrasi yang Diinginkan” di Kedai Kebun Forum. Diskusi ini akan menjawab pertanyaan tentang bagaimana film dokumenter pendek mencatat dan menjadi perwujudan atas demokrasi hari ini. Diskusi ini menghadirkan Fransiska Prihadi (programmer of Miniko Film Week), Jesse Cumming (associate programmer os Toronto International Film Festival (TIFF), Canada), serta Aryo Danusiri (filmmaker & peneliti) sebagai pembicara. Dengan dimoderatori oleh Ayu Dyah Cempaka. 

Selain itu, kamu dapat mengunjungi ekshibisi program Etnografi Indrawi: Saksi Mata di Kedai Kebun Forum. Serta dua eksibisi lain: dari program The Feelings of Reality dan dokumenter karya pelajar SMA dari program SchoolDoc dapat kamu hadiri di Lobby Societet Militair Taman Budaya. Tidak perlu khawatir ketinggalan, ketiga eksibisi ini dibuka hingga pukul 21.00 WIB. 

 

14.50 WIB

FFD 2019 - Distancing

Di siang menuju sore ini kamu dapat menikmati film yang lebih banyak lagi. Dihadirkan beberapa film dari program Docs Docs : Shorts!: Distancing (2019), On Thai Women : they are weak. that’s why they dream of weak women (2017), (***) Fish (2019), The Missing Scene From Petrus (2019), serta Introduction to Immamura Shohei (2019). Kamu dapat menikmati film-film ini di Auditorium IFI-LIP.

Distancing (2019), film ini bercerita tentang realisasi pribadi filmmaker. Keinginan untuk pergi dan menjadi asing dengan Negara tempat filmmaker dibesarkan.

On Thai Women : they are weak. that’s why they dream of weak women (2017) akan membawa kamu pada perasaan tidak nyaman. Bercerita tentang stereotip wanita Thailand yang patuh serta penuh kasih sayang. Suatu identitas asal yang berhadapan dengan pengalaman berbeda ketika bertumbuh di Jerman. 

(***) Fish (2019) merupakan sebuah film pendek tentang kesadaran.

The Missing Scene From Petrus (2019) akan membawamu pada cerita tentang disusunnya sebuah rencana. Rencana adegan ketika terjadi peristiwa Lapangan Banteng yang diprovokasi oleh kelompok Fajar Menyingsing. Kelompok yang menjadi korban Petrus (penembakan misterius) pada 1983 di Semarang. 

Introduction to Immamura Shohei (2019) dalam film kamu akan melihat “rumah” dalam makna yang berbeda dari dunia Ozu Yasujiro. 

 

15.00 WIB

FFD 2019 - International Feature-length Competition - Taking Place

Mari isi sore harimu dengan menonton Taking Place (2019) yang merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film ini menyajikan daerah pinggiran kota dengan masalah daerah yang kumuh. Sehingga terjadi penggusuran yang menciptakan ikatan yang terjalin dengan baik antar penghuni. Dalam film ini kamu dapat melihat semangat solidaritas dalam menolak proses penggusuran. Kamu dapat menikmati soremu bersama Taking Place (2019) di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

 

15.30 WIB

Kami kembali menyajikan diskusi untuk kamu, dalam program Doctalk panel Etnografi Indrawi: Saksi Mata. Diskusi ini merupakan sebuah usaha untuk membuka pendekatan etnografi yang tampak minim dalam praktik produksi film dokumenter di Indonesia. Hadir Aryo Danusiri (seniman video, antropolog), serta Muhammad Zamzam Fauzanafi (antropolog) sebagai pembicara. Dengan Fiky Daulay (anggota Kunci Study Forum and Collective) sebagai moderator.

 

15.55 WIB

FFD 2019 - Einst

FFD 2019 akan terus memanjakan kamu dalam sajian film-film dokumenter. Di penghujung hari ini, di Auditorium IFI-LIP kamu dapat menyaksikan beberapa film dari program Focus on Canada. Film-film tersebut antara lain: 

Opening Day (2016) membawa kamu pada  momen menegangkan di mana sebuah rol film Super 8 menangkap detik-detik hitung mundur, gerbang dan garis finish

Television Spots (1991) merupakan film yang terdiri dari 12 pita rekaman pendek berdurasi 15-30 detik, yang dirancang untuk disiarkan di tengah-tengah iklan tayangan televisi tengah malam.

T.W.U. Tel (1981) mengajak kamu untuk melihat pusat-pusat telepon utama di sebuah provinsi yang sedang diduduki oleh Serikat Pekerja Telekomunikasi British Colombia selama lima hari.

Film Einst (2016) diambil oleh Jessica Johnson (sutradara) dengan gaya single-shot. Menyajikan seorang wanita muda yang sedang melakukan pendakian ke bagian terpencil dari Seymour, utara Vancouver.

Seeing in the Rain (1981) akan membawa kamu pada cuplikan perjalanan menaiki bus Vancouver saat hujan. Cuplikan telah dipilah dan diatur ulang sedemikian rupa, dengan gerakan wiper kaca mobil yang bergerak seolah menggambarkan ayunan metronome ruang dan waktu.

Eclipse (1979) membawa kamu untuk melihat pemandangan yang kontras kamar hotel di jalanan pusat kota Portland, Oregon. Dengan latar waktu sedang terjadi gerhana matahari total, disertai siaran televisi yang meliputnya secara langsung.

Dalam Canadian Pacific II (1975), David Rimmer sang sutradara meleburkan rangkaian rel kereta, pegunungan, serta kapal-kapal yang lewat di pelabuhan Vancouver selama tiga bulan (Desember 1974-Februari 1975) ke dalam film berdurasi Sembilan menit.

 

18.30 WIB

FFD 2019 - International Feature-length Competition - Lemebel

Malam telah menyapa, namun FFD 2019 masih akan menemani petualanganmu. Kami kembali mengajak kamu untuk menyaksikan film yang menjadi salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional: Lemebel (2019). Lemebel (2019) diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. 

Lemebel (2019) menceritakan Pedro Lemebel yang merupakan seorang penulis, seniman dan pelopor gerakan aneh di Amerika Latin, terutama di Chile. Selama proses pembuatan film yang memakan waktu Sembilan tahun, Lemebel mengerjakan karakter tubuh, darah dan api. Namun pada akhirnya ia tidak dapat melihat hasil akhirnya. 

 

19.00 WIB

Untuk menutup petualanganmu hari ini, FFD 2019 menyajikan tiga film untuk kamu nikmati. Ketiga film ini: Optigraph (2017), Felvidek. Caught in Between (2014), dan Le Grand Bal (2018) akan diputar di tiga tempat yang berbeda. Sehingga kamu harus menentukan pilihan akan menikmati film yang mana. 

Optigraph (2017) merupakan bagian dari program Focus on South Korea dapat kamu temukan di Amphitheatre, Taman Budaya Yogyakarta. Film ini akan membawa kamu pada cerita filmmaker yang diminta menulis biografi kakeknya. Dua tahun kemudian sang kakek meninggal, sehingga permintaan sang kakek menjadi tugas bagi filmmaker

Felvidek. Caught in Between (2014) menampilkan luka-luka yang belum sembuh dan pertanyaan yang belum terjawab setelah Perang Dunia Dua. Ribuan penduduk terpaksa meninggalkan rumah selama periode pemukiman ulang Slovakia-Hungaria antara tahun 1946 dan 1948. Salah satu film dari program Spektrum ini dapat kamu saksikan di Auditorium IFI-LIP.

Le Grand Bal (2018) mengajak kamu untuk melihat sebuah upaya manusia menciptakan ruang interaksi sosial menjadi wadah pertukaran kultural melalui festival dansa. Film yang menjadi bagian dari Le Mois du Documentaire akan diputar di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK). Pemutaran film ini bermitra dengan Gambar Bergerak. Gambar Bergerak merupakan sebuah ruang putar alternative yang terbuka, nyaman serta cair. Tempat dipertemukannya film dengan masyarakat luas.

Buah pepaya, buah semangka, manis rasanya

Ayo semangat meskipun baru hari Selasa!

 

Selasa itu…… Hari Senin episode ke-dua. Masih menjadi hari yang padat. Daripada cuma mengeluh menunggu datangnya akhir pekan, yuk, jalani harimu dengan mengikuti agenda-agenda menarik di Festival Film Dokumenter (FFD) 2019.

Kami sajikan panduan menikmati FFD 2019 hari Selasa, 3 Desember 2019 secara berurutan. Selamat bersenang-senang!

 

10.00 WIB

Selamat Hari Disabilitas Internasional! Sudah sejauh manakah kamu memahami penyandang disabilitas? Hal apa saja yang perlu kita lakukan dalam rangka memastikan inklusivitas dan kesetaraan bagi penyandang disabilitas? Mari berdiskusi bersama Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel. Diskusi ini akan diselenggarakan di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta.

 

13.00 WIB

FFD 2019 - Sweet Golden Kiwi

Ada dua program penayangan film dengan lokasi yang berbeda: Focus On South Korea: Remapping South Korean Women Directors dan Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Pendek. Jadi, tentukan pilihanmu, ya!

Tiga dari enam film dalam program Focus on South Korea akan ditayangkan di Auditorium IFI-LIP. Film-film yang ditayangkan, antara lain: Sweet Golden Kiwi (2018), The Unseen Children (2018), dan Heart of Snow: Afterlife (2018). Akan ada sesi tanya jawab setelah film usai, alangkah baiknya teman-teman tidak  terburu-buru meninggalkan ruang pemutaran film. 

Sweet Golden Kiwi (Jeon Kyu-ri, 2018) mengajak kamu mengikuti kehidupan perempuan Korea Selatan yang  merasa negaranya bukanlah tempat yang tepat untuknya. Ia lalu mencoba peruntungan bekerja di Selandia Baru dan pelan-pelan mendefinisikan ulang hidupnya–membebaskan diri dari konvensi-konvensi yang berlaku di Korea Selatan.

The Unseen Children (Aori, 2018) merekam pengalaman tiga orang remaja yang mencoba kabur dari Korea Utara.

Film Heart of Snow: Afterlife (Kim So-young, 2018) mengisahkan genosida terhadap orang-orang Korea oleh tentara Jepang di Vladivostok, Rusia, pada 1920. . Para tentara Jepang juga mengeksekusi tokoh-tokoh revolusioner, seperti Kim Afanasi dan Alexandra Petrovna Kim, sebelum terjadinya migrasi paksa pada 1937.

Program Kompetisi kategori Dokumenter Pendek FFD 2019 akan memutar empat film di Societet Militair TBY. Film-film yang ditayangkan, antara lain: Cipto Rupo (Catur Panggih Raharjo, 2019), A Daughters Memory (Kartika Pratiwi, 2019), Perempuan Tanah Humba (Lasja F. Susatyo, 2019), dan Sujud (Pahlawan Bimantara, 2019). Setelah menyaksikan empat film ini, kamu juga bisa mengikuti sesi tanya jawab.

Jika di waktu ini kamu memilih menonton program Focus on South Korea, jangan bersedih. Keempat film tersebut akan kembali ditayangkan pada 5 Desember 2019 pukul 18.30 WIB di Societet Militair TBY.

Tak hanya itu, di jam ini kamu juga bisa memilih untuk mengikuti Public Lecture: Getting the Story Right, Telling the Story Well di Ruang Auvi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta. Bersama Kek Huat Lau, kita akan mengetahui bagaimana ia merancang dan mengeksekusi The Tree Remembers (2019), dokumenter etnografis mengenai korban politik dan kekerasan rasial terburuk di Malaysia. Sebagai seseorang yang lahir di Malaysia dan menetap di Taiwan, Lau akan memaparkan bagaimana ia memiliki pengalaman empiris dan emosional atas ruang, waktu, dan ikatan sosial terhadap persoalan etnis negara kelahirannya. Hal peliknya adalah merangkum persoalan-persoalan tersebut dalam narasi film yang tetap intim dan menjaga etik. Bagaimana Lau mengolah pengalaman dan latar belakang personalnya untuk membuat film dengan isu-isu sensitif semacam ini? Dari citra audio dan visual yang dipresentasikan, mewakili suara siapakah subjek-subjek dalam film berbicara? Bagaimana Lau mewujudkan otoritas dan keberpihakannya pada isu etnis dan ras? 

Pengalaman berbeda dalam menonton film dokumenter dapat kamu rasakan di Lobby Societet TBY. Film dokumenter disajikan dalam bentuk pameran atau ekshibisi. Ada dua ekshibisi, yaitu dokumenter virtual reality (VR) dari program The Feelings of Reality dan dokumenter karya pelajar SMA dari program SchoolDoc. Kedua ekshibisi ini dibuka hingga pukul 21.00 WIB. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa!

 

15.00 WIB

FFD 2019 - Kompetisi Dokumenter Panjang Indonesia - Tonotwyiat

Ada dua film yang diputar di lokasi yang berbeda: The Future Cries Beneath Our Soil (Hang Pham Thu, 2018) dan Tonotwiyat ‘Hutan Perempuan’ (Yulika Anastasia Indrawati, 2019).

The Future Cries Beneath Our Soil merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film ini mengajak kamu untuk mengamati empat laki-laki yang menjalani kehidupan dengan tak terpisahkan satu sama lain. Hingga pada suatu hari, salah satu dari mereka pergi meninggalkan yang lain untuk menjalani hidup yang tidak mereka inginkan.. Film berdurasi 98 menit ini bisa kamu saksikan di Societet Militair TBY.

Tonotwiyat ‘Hutan Perempuan’ (Yulika Anastasia Indrawati, 2019) akan ditayangkan di Auditorium IFI-LIP. Film ini merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Indonesia. Film ini mengisahkan perempuan-perempuan Enggros yang mempertahankan tradisi mereka dalam mencari nafkah dengan mengandalkan kekayaan alam dari Hutan Perempuan.  Di tengah arus modernisasi, mereka berusaha untuk menjalani tradisi mereka dan menurunkannya ke generasi selanjutnya. Kawasan hutan ini terlarang untuk kaum pria. Jika mereka melanggarnya, maka akan ada sanksi yang menunggu mereka. Agenda ini juga akan dilengkapi dengan sesi tanya jawab. Film ini bisa kembali kamu nikmati pada 6 Desember 2019 pukul 15.30 di Societet Militair TBY.

 

18.30 WIB

Jika waktumu dari pagi sampai sore dihabiskan untuk bekerja atau kuliah, kini saatnya melepas penat sejenak. Kamu dapat menikmati film The Tree Remembers (2019) di Societet Militair TBY. Film berdurasi 89 menit ini merupakan satu dari empat film dalam program Layar Lebar, Layar Kekerasan. Karya Kek Huat Lau ini mengajak kamu untuk memikirkan ulang kehidupan lintas ras di Malaysia. Lau mendobrak anggapan bahwa mendiskusikan kerusuhan rasial pada 1969 adalah tabu. Apa itu ras? Darimana asal muasalnya? Mari peroleh informasi lebih detail dari film ini dengan mengikuti sesi tanya jawab setelah pemutaran.

 

19.00 WIB

FFD 2019 - International Feature-length Competition - Sankara is Not Dead

Sebelum malam semakin larut, mari nikmati agenda penutup FFD 2019 hari ini. Kamu bisa memilih untuk menonton Sankara is Not Dead (2019) atau seluruh film finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 Kategori Pelajar.

Sankara is Not Dead (Lucie Viver, 2019) merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film berdurasi 109 menit ini diputar di Auditorium IFI-LIP. Film ini akan mengajak kamu untuk mengikuti Bikontine dalam menggapai mimpi dan kehidupan yang lebih baik sebagai seorang pujangga setelah pemberontakan Oktober 2014 di Burkina Faso. Dari selatan ke utara, Bikontine menyusuri satu-satunya jalur rel kereta api di negaranya. Melalui perjalanan puisinya, ia belajar mengenai orang-orang desa, kota yang terus berubah, juga mimpi dan kekecewaan mereka. Menariknya juga, dalam film ini menguak peninggalan Thomas Sankara, Che Guevara dari Afrika yang tewas dibunuh pada 1987. Jangan lewatkan sesi tanya jawab, ya, setelah pemutaran film selesai.

Seluruh film finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 Kategori Pelajar dapat kamu nikmati di Amphitheatre TBY. Film-film tersebut, antara lain: Bangkit (Farchany Nashrulloh, 2018), Orang-Orang Tionghoa (Icha Feby Nur Futikha, 2019), Tambang Pasir (Sekar Ayu Kinanti, 2019), Ngalih Pejalai Antu -Ritual Dayak Iban (Kynan Tegar, 2019), Pasur ‘Pasar Sepur (Sarah Salsabila Shafiyah, 2019), dan Seandainya (Diva Suukyi Larasati, 2019). Agenda ini akan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Selamat hari Senin! Mari memulai minggu ini dengan menonton beberapa dokumenter menarik yang tersaji di FFD 2019. Seperti Senin pada umumnya, ini adalah hari yang padat. Jadi, pastikan kamu bangun lebih pagi dan mengatur jadwal dengan baik agar tidak melewatkan agenda-agenda yang paling menarik untukmu. 

Kami sajikan panduan menikmati FFD 2019 hari Senin, 2 Desember 2019 secara kronologikal. Mari kita mulai!

 

13.00 WIB

FFD 2019 - 48 years: Silent Dictator

Ada dua film yang diputar dengan lokasi yang berbeda: 48 years: Silent Dictator (2018) dan Silvia (2018). Jadi, kamu harus memilih.

Film 48 years: Silent Dictator (2018) merupakan bagian dari program Perspektif yang mengangkat isu Kesehatan Mental. Kamu akan diajak mengikuti kisah Iwao Hakamada, mantan petinju profesional yang menjalani hukuman penjara paling lama dalam sejarah (48 tahun). Melalui wawancara dengan Hakamada, film ini mencoba untuk menangkap kondisi psikologis Hakamada yang carut-marut. Film ini akan diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Sedangkan, Silvia (2018) karya Maria Silvia Esteve merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film ini menangkap salah satu eksperimentasi salah satu anak Silvia yang mencoba merekonstruksi ulang kehidupan ibunya yang diwarnai penyesalan dan kesedihan. Kamu bisa menonton dan mengikuti sesi tanya jawab dari film ini di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta.

Selain itu, kamu juga sudah bisa mengunjungi dua ekshibisi di Lobby Societet Militair Taman Budaya, yaitu ekshibisi dokumenter virtual reality (VR) dari program The Feelings of Reality dan dokumenter karya pelajar SMA dari program SchoolDoc. Ada juga ekshibisi program Etnografi Indrawi: Saksi Mata yang tersedia di Kedai Kebun Forum. Ketiga ekshibisi ini dibuka hingga pukul 21.00 WIB. Jadi, tidak perlu terburu-buru.

 

14.45 WIB

FFD 2019 - Kompetisi Dokumenter Panjang - 2408BPM

240BPM++ (2019) akan diputar pada jam ini. Film ini merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Indonesia. Film ini akan diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

Jika di waktu sebelumnya kamu memilih menonton Silvia (2018), kamu belum bisa menikmati agenda ini karena film tersebut baru selesai diputar pada pukul 14.55 WIB. Tapi, kamu tidak perlu bersedih karena 240BMP++ (2019) akan diputar kembali pada 5 Desember 2019 pukul 21.00 WIB di Ampitheatre TBY.

 

15.00 WIB

FFD 2019 - The State Against Mandela and the Others

Pada jam ini, akan diselenggarakan sesi DocTalk panel Community & Society yang bertajuk “Berkumpul di Ruang Aman: Memahami Ulang Bentuk Kekerasan dalam Komunitas dan Pencegahannya” di Kedai Kebun Forum. Agenda ini akan mendiskusikan tentang kekerasan yang bisa (atau sudah) terjadi di lingkup komunitas. Kamu bisa berbagi pengalaman maupun tips mengenai cara mencegah, mengatasi, maupun keluar dari kekerasan itu sendiri. Sesi ini akan dipandu oleh Vauriz Bestika (penggagas Sinematik Ngga Harus Toxic) dan Ayu Diasti Rahmawati (FISIPOL UGM).

Kamu juga bisa memilih untuk menonton The State Against Mandela and the Others (2018) di Auditorium IFI-LIP pukul 15.15 WIB. Dokumenter animasi ini akan membawamu kembali ke tengah-tengah pertempuran di ruang sidang yang dihadiri oleh Nelson Mandela pada tahun 1963 dan 1964.

 

16.15 WIB

FFD 2019 - International Feature-length Competition - Last Night I Saw You Smiling

Sebelum matahari terbenam, Last Night I Saw You Smiling (2019) akan diputar di Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Karya dari Kavich Neang ini merupakan salah satu finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional. Film ini mengajak kita mengingat White Building di Phnom Penh. Blok perumahan tersebut menjadi saksi berbagai kejadian luar biasa yang terjadi mulai dari masa keemasan, kejadian traumatis di bawah rezim radikal, masa-masa kebangkitan, dan laju pesat perkembangan kapitalis yang akhirnya mengarah pada kehancurannya.

 

18.30 WIB

FFD 2019 - Dokumenter Pendek - Diary of Cattle

Setelah jeda malam, kamu bisa menikmati pemutaran seluruh film finalis Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Pendek di gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta. Film-film yang diputar, antara lain: Diary of Cattle (2019), More Than Work (2019), Luar biasa (2018), dan Irama Betawi (2019).

Diary of Cattle (2019) akan mengajak kamu menelusuri kehidupan para sapi yang setiap hari hidup di sebuah Tempat Pembuangan Sampah (TPA). Tanpa kepastian; tidak jarang sapi-sapi tersebut ditinggalkan untuk bermalam di sana.

Film karya Luvianna Ariyanti, More Than Work (2019) mengangkat potret buram industri media di Indonesia. Lewat dua sudut pandang; film ini mencoba menangkap eksploitasi dan diskriminasi pekerja perempuan dan para pekerja minoritas seksual.

Melalui Luar Biasa (2018), kamu diajak mengikuti kisah Joko Supriyanto, seorang penyandang kebutaan yang menjalankan kesehariannya sebagai seorang pelajar SMA di Yayasan Pendidikan Anak Luar Biasa (YPALB) Cepogo, Boyolali. 

Irama Betawi (2018), judul film ini mengambil nama kelompok ondel-ondel yang masih giat ngamen di Jakarta. Kamu akan diajak mengikuti keseharian kelompok kesenian yang makin tergusur keberadaannya oleh kemeriahan ibukota.

 

19.00 WIB

FFD 2019 - International Feature-length Competition - A Donkey Called Geronimo

Jika kamu memilih untuk beristirahat lebih lama, kamu bisa memilih untuk menonton Love Talk (2017) atau A Donkey Called Geronimo (2018).

Love Talk (2017) adalah bagian dari program Perspektif yang fokus pada isu kesehatan mental. Lewat film ini, kamu akan melihat bagaimana cinta saja tidak cukup untuk melanggengkan sebuah perkawinan; ada hal-hal yang lebih kompleks berperan di sana. Kamu bisa mengikuti pemutaran film ini di Amphitheatre Taman Budaya Yogyakarta.

Sedangkan, A Donkey Called Geronimo (2018) menceritakan sekelompok pelaut di sebuah pulau di Laut Baltik. Kehidupan bebas bak kerajaan sendiri pun dilalui hingga akhirnya harus dihadapkan pada kenyataan untuk kembali ke dunia nyata. Salah satu finalis dari Kompetisi Dokumenter FFD 2019 kategori Dokumenter Panjang Internasional ini akan diputar di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta. Agenda ini juga akan dilengkapi dengan sesi tanya jawab.

 

20.30 WIB

FFD 2019 - The Strangers

Sebagai penutup hari, kami menyajikan film The Strangers (2018). Film ini mengajak penonton mengikuti nostalgia seorang perempuan akan kampung halamannya. Menangkap kembali potret keluarga yang perlahan menghilang. Salah satu film dari program Focus on South Korea ini dapat kamu saksikan di gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta.

13.00 WIB

FFD 2018 | Film | 15.7 KM

PROGRAM “DOCTALK: SEA MOVIE” | AUDITORIUM IFI-LIP

Pada slot ini, kami menghadirkan tiga film dalam program Doc Talk: SEA Movie. Dari potret ketidakmerataan pembangunan dalam kisah Budi dan perjalanan belasan kilometer yang harus ia lalui demi menuju sekolahnya di 15,7 KM (2018), kisah kelompok transgender dalam menghadapi diskriminasi dan represi yang mereka alami di Dahan yang Rapuh, Bunga yang Tumbuh (2018). Hingga Kertas Merah (2018) yang merekam bagaimana tradisi dihadapkan dengan persoalan personal, dalam hal ini seksualitas.

 

13.30 WIB

FFD2018 | Film | Lakardowo Mencari Keadilan

LAKARDOWO MENCARI KEADILAN (2018) | SOCIETET TBY

Dalam salah satu film di program Lanskap ini, Linda Nursanti merekam perjuangan Sutamah, Nurasim, Suhan, Heru, Prigi bersama masyarakat Lakardowo lainnya ketika ruang hidup mereka terancam dengan kehadiran PT. Putra Restu Ibu Abadi (PT. PRIA) yang melakukan aktivitas penimbunan limbah B3 secara ilegal.

 

15.00 WIB

FFD2018 | Film | Goodbye My Love North Korea

GOODBYE MY LOVE NORTH KOREA (2017) | SOCIETET TBY

Merekam kisah tragis mereka yang terusir dari tanah kelahirannya sendiri. Goodbye My Love North Korea mengikuti delapan lelaki asal Korea Utara yang pergi ke Moscow di tahun 1952, dan mencari perlindungan politik di tahun 1958 setelah menolak Kim Il-sung. Menghadirkan pertanyaan tentang apa itu tanah air ketika nasionalisme pada akhirnya selalu menjadi monopoli satu rezim politik tertentu, fenomena yang tidak hanya terjadi di Korea Utara, namun juga belahan dunia lain. Film ini merupakan salah satu film dalam program Human, Frame by Frame.

 

15.20 WIB

FFD 2018 | Film | Tete Manam

PROGRAM “DOC TALK: FESTIVAL FILM PAPUA” |  DISKUSI | AUDITORIUM IFI-LIP

Slot ini akan diisi dengan pemutaran 4 film dari program Doc Talk: Festival Film Papua. Dari RPP (Resep Pendidikan Papua) (2018) yang merekam kisah Tri Ari Santi, seorang guru dalam upayanya menerapkan pendidikan kontekstual di sekolahnya, SDI Saminage. Ia dan siswa-siswinya merekam proses belajar mengajar mereka lewat ponsel. Dipenjara (2018) yang merekam permasalahan HAM di Papua Barat lewat kisah Yanto Arwekeon, salah satu  dari sekian banyak aktivis di tanah Papua yang selalu mendapatkan diskriminasi berupa penangkapan, intimidasi, serta pemenjaraan oleh aparat keamanan di tanah Papua. Potret lain bagaimana pembangunan infrastruktur hanya mempercepat kehancuran alam, lewat kisah yang dituturkan dari sudut pandang penebang pohon di Taman Nasional Lorentz di Generasi Kayu Lapuk (2018). Hingga Tete Manam (2018) yang menyajikan kisah Tete (Kakek) Manam kembali ke Jayapura, tempat ia dulu bekerja pada 1958 di satu perusahaan konstruksi milik Belanda, setelah keputusannya meninggalkan Jayapura pasca PEPERA 1969. Slot ini juga akan diisi dengan program diskusi bersama Ottow Wanma, koordinator Papuan Voices Wilayah Tambrauw Papua Barat dan Imanuel Hindom, anggota Papuan Voices Wilayah Keerom.

 

19.00 WIB

MALAM PENGANUGERAHAN DAN PENUTUPAN FFD 2018 | SOCIETET MILITAIR TBY

Agenda ini menjadi penutup rangkaian Festival Film Dokumenter (FFD) 2018 yang diselenggarakan tanggal 5 sampai 12 Desember 2018. Seluruh pemenang dari Kompetisi Dokumenter FFD 2018 akan diumumkan di agenda ini.

 

13.00 WIB

FFD2018 | Film | Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus

PROGRAM “LANSKAP” | QnA | SOCIETET MILITAIR, TBY

Program “Lanskap” menawarkan upaya untuk memandang dan membicarakan Indonesia melalui wacana yang kerap hadir di dalamnya melalui media film dokumenter. Empat film “Lanskap” akan diputar pukul 13.00 WIB hingga 14.20 WIB di Societet Militair, TBY. Dua film tersebut di antarannya; InangInang (2018) yang mengeksplorasi permasalahan di ruang kota dalam kisah para pedagang baju bekas yang terbakar. Tidak hanya di kota, ekplorasi juga dilakukan pada petani di desa yang bersiasat dengan hujan dalam film Sampun Jawah (2018). Pagi Yang Sungsang (2018) menyajikan potret ritual kerja yang janggal dari mereka yang bergelut dengan sampah. Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus (2018) menghadirkan kisah para penyintas peristiwa 65 dan ingatan yang tak hilang terekam dalam orde yang terus berjalan.

 

13.30 WIB

FFD 2018 | Film | Braguino

PROGRAM “SPEKTRUM” | AUDITORIUM IFI-LIP

Program “Spektrum” pada FFD 2018 merupakan respon atas berbagai perkembangan yang hadir dalam ranah dokumenter yang berkembang amat dinamis. Dua buah film program “Spektrum” akan diputar pukul 13.30 WIB dan 14.20 WIB di auditorium IFI-LIP, di antaranya: Braguino (2017) yang bercerita tentang Braguines dan Kilines, dua buah keluarga yang hidup dalam aturan dan prinsip yang dibuat masing-masing. Mereka menolak bicara dan menjauhkan diri dari dunia luar.  Sementara itu, dalam Les Indes Galantes (2017) sang sutradara Clément Cogitore mengajak penonton untuk mengamati caranya menciptakan pertarungan antara budaya urban dan musik dari Jean-Philippe Rameu, salah satu komponis besar Perancis, di panggung Opera Bastille.

 

15.00 WIB

Review Film: Danchi Woman (2018)

PROGRAM “FRAGMEN KECIL ASIA” | AUDITORIUM IFI – LIP

Apa yang memungkinkan bagi kita untuk menangkap berbagai sudut pandang dalam ribuan peristiwa di Asia? Program “Fragmen Kecil Asia” mengajak kita melihat fenomena yang terjadi pada masyarakat Asia melalui dua film berikut; Danchi Woman (2018) kisah tentang Shizu, wanita berusia 85 tahun yang mau tidak mau harus meninggalkan kenangan relik masa lalunya di dalam danchi, sejenis hunian murah, yang telah ia tinggali selama tiga dekade. Kisah lainnya di lorong-lorong Dafen, dengan populasi 10.000 jiwa, ratusan petani beralih profesi menjadi pelukis minyak dan menghasilkan ribuan replika lukisan Barat dalam film Dreaming of Van Gogh (2007), mereka berhasil menghasilkan karya-karya yang memukau. Dua film program “Fragmen Kecil Asia” ini akan diputar di auditorium IFI – LIP pukul 15.00 WIB dan 15.28 WIB.

 

16.30 WIB

FFD2018 | Film | See You, Lovable Strangers

SEE YOU, LOVABLE STRANGER (2016) | SOCIETET MILITAIR, TBY

Kerja sewaktu-waktu membuat orang bersembunyi dan lari dari kenyataan, setidaknya inilah yang digambarkan oleh See You, Lovable Stranger (2016). Bagaimana menegangkannya kehidupan para pekerja migran yang harus hidup di bawah kejaran agensi yang akhirnya menambah masalah baru; utang.

 

19.00 WIB

FFD2018 | Film | Swim Team

SWIM TEAM (2016) | SOCIETET MILITAIR, TBY

Untuk pemutaran program “Meretas Realita” non-VR, kami memilih Swim Team (2016), film berdurasi 90 menit yang berfokus pada Hammerheads, klub renang untuk penyandang autisme. Film ini mengajak penonton mengalami aktivitas berenang sebagai cara untuk menapaki hidup di jalan yang baik dan benar.

FFD 2018 | Film | L'Opéra

L’OPÉRA | AMPHITHETER, TBY

L’Opéra (2017) Salah satu film program “Spektrum” yang mengungkap kisah-kisah kehidupan di dalam salah satu pusat institusi kesenian paling prestisius di dunia, dengan mengangkat cerita di balik layar dalam skena opera di Paris.

DISKUSI – PASUKAN ANTIPREI: MENILIK PRAKTIK KERJA-KERJA RENTAN MASA KINI | AUDITORIUM IFI – LIP

Diskusi Program “Perspektif” dengan narasumber; Hizkia Yosie Polimpung, yang akan mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali hakikat kerja yang tidak bisa dilepaskan dari praktik-praktik eksploitatif. Waktu luang dan pengurangan jam kerja menjadi hal yang diperjuangkan di seluruh dunia. Diskusi ini terbuka untuk siapa pun, tidak terbatas bagi Anda yang merasa bekerja ataupun tidak. Kami mengundang Anda semua untuk hadir dan gelisah bersama.

 

 

INSTALASI DOCSOUND: WATERLAND (2018) | RUANG EPSON, TBY

Kamu dapat menikmati instalasi ini dari hari Kamis 6 Desember-Selasa 11 Desember di Ruang Epson, TBY pada pukul 14.00-17.30 WIB dan 18.30-21.00 WIB. Waterland (2018) merupakan satu bagian program DocSound yang  menghadirkan posisi suara di kehidupan keseharian melalui medium film. Pilihan film dalam program ini memperlakukan elemen suara sebagai kekuatan utamanya dan membuka perspektif baru dalam mendekati hubungan antara film, suara, dan kehidupan keseharian kita.

DOKUMENTER INTERAKTIF: FEELINGS OF REALITY | RUANG GALERI, TBY

Empat dokumenter pendek berbasis VR, akan dapat kamu nikmati di slot ini dari Kamis 6 Desember hingga Selasa 11 Desember di Ruang Galeri TBY pada pukul 13.00-16.00 WIB dan 18.30-20.30 WIB. Gaza’s Amputee Football Team, Cuba’s Blind Baseball, Living with Disability, dan The Curse of Palm Oil, merupakan bagian dari  program Feelings of Reality yang hadir untuk memperluas pengaruh film-film yang menyuarakan isu disabilitas dengan cara menayangkan film dokumenter dan film dokumenter berbasis VR (Virtual Reality).

13.00 WIB

FFD2018 | Film | Silence Is A Falling Body

“Kompetisi” SILENCE IS A FALLING BODY  |SOCIETET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA.

Salah satu film dari program kompetisi dokumenter panjang yang menceritakan sisi personal dari ayah si pembuat film (Agustina Comedi). Ia menemukan sisi yang tidak pernah diketahui sebelumnya dari arsip video, mulai dari aktivisme hingga seksualitas ayahnya.

 

14.00 WIB

FFD2018 | Film | The Shebabs of Yarmouk

“HUMAN, FRAME BY FRAME” –THE SHEBABS OF YARMOUK | AUDITORIUM IFI-LIP

Film ini menghadirkan salah satu cerita dalam lapis konflik Palestina. Kisah tiga remaja yang mengungsi di wilayah Yarmouk yang direkam menghadirkan drama kehidupan yang pelik. Antara keinginan untuk bertahan hidup, mempertahankan kelompok, dan melarikan diri.

 

14.30 WIB

FFD2018 | Film | Remapping The Origins

KOMPETISI – REMAPPING THE ORIGINS |Societet —Taman Budaya Yogyakarta.

Remapping the Origins adalah salah satu film dari tujuh film terpilih di program kompetisi panjang. Film karya Johannes Gierlinger, mengulas kota Bialystok, tempat  Dziga Vertov dan Ludwik Lejzer Zamenhov lahir. Dalam bentuk esai, peristiwa-peristiwa yang hadir hari ini ditautkan kembali dengan sejarah di masa lalu.

 

14.45 WIB

DOC-TALK: FILM CRITICISM – AREN’T WE ALL? |AMPHITHEATRE TBY

Bersama Chris Fujiwara dan Adrian Jonathan Pasaribu, Festival Film Dokumenter mengajak kita untuk menilik praktek kritik film di Indonesia lewat beberapa pertanyaan, seperti bagaimana kritik film hadir di Indonesia yang kondisi perfilmannya belum stabil dan apakah perubahan media juga mempengaruhi entitas dari kritik ?.

 

15.30 WIB

FFD2018 | Film | Nyanyian Akar Rumput

NYANYIAN AKAR RUMPUT | SOCIETET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA.

“Human Frame by Frame”, sebuah program yang menyoroti manusia dengan peristiwa di sekitarnya, mengangkat usaha Fajar Merah yang bercerita kembali kisah ayahnya, lewat lagu-lagu yang dicipta dan dinyanyikan. Fajar berharap bahwa usahanya ini akan membawa angin baik untuk kasus HAM di Indonesia yang kondisi politiknya sedang berubah.

 

16.00 WIB

FFD2018 | Film | Lahir Di Darat Besar Di Laut

KOMPETISI PENDEK |QnA| AUDITORIUM IFI-LIP.

Lima film program kompetisi kategori pendek yang diputar berurutan menghadirkan kritik pada beberapa isu. DEATHCROW48 yang menyoroti idol, The Nameless Boy yang mencerna ujaran kebencian di sekitarnya lewat tubuh seorang anak, Swara Kalbu yang menunjukkan keteguhannya dalam mencintai kesenangannya, Niqab : We Are Not Different yang menebalkan kasus penistaan agama dan phobia hijab, Lahir di Darat, Besar di Laut yang mengisahkan pertaruhan hidup nelayan.

 

18.30 WIB

FFD 2018 | Film | Makala

MAKALA |SOCIETET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Program Spektum yang menawarkan keberagaman gaya bercerita film dokumenter, menghadirkan film dari Kongo berjudul Makala. Film ini mengisahkan petani muda dari Kongo yang bertekad untuk memberi yang terbaik pada seorang terkasih. Dia tidak memiliki banyak modal, satu-satunya yang dia miliki adalah tangannya yang kuat dan tekadnya yang bulat.

 

19.00 WIB

FFD2018 | Film | Nyanyian Akar Sanleko

“HUMAN, FRAME BY FRAME” –ANGIN PANTAI SANLEKO | Q & A | AMPHITHEATER TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Diajak merunut ingatan Hersri Setiawan ketika diasingkan, menambah ragam kisah kekerasan yang terjadi di Indonesia. Kerinduannya pada teman dan kisah mudanya menjadi sulit dipercaya dan menguap begitu saja sebab situs-situs yang sengaja dihilangkan telah mematahkan perjalanan Hersri membuktikan sejarah.

Golden-Memories-2

GOLDEN MEMORIES (PETITE HISTOIRE OF INDONESIAN CINEMA) | AUDITORIUM IFI-LIP

Menelusuri jejak sinema keluarga Indonesia bersama tiga pembuat film, hingga ke negeri Belanda, menghasilkan temuan ketika bertemu Kwee Zwan Liang dan Rusdi Attamimi. Estetika dan fakta mengenai sinema keluarga dari generasi ke generasi, menjadi entitas yang menambah lapis sejarah film di Indonesia.

 

20.30 WIB

FFD2018 | Film | Photo Farag

PHOTO FARAG (2016) | SOCIETET TBY

Photo Farag, salah satu film program kompetisi kategori panjang, menawarkan kisah dari sebuah keluarga keturunan Irak-Yahudi yang berasal dari Baghdad. Persoalan demi persoalan keluarga Farag, mendorong penonton untuk menemui masa masa kejayaan bisnis fotografi mereka yang sebenarnya kontras dengan kondisi saat ini.

 

 

INSTALASI DOCSOUND: WATERLAND (2018) | RUANG EPSON, TBY

Kamu dapat menikmati instalasi ini dari hari Kamis 6 Desember-Selasa 11 Desember di Ruang Epson, TBY pada pukul 14.00-17.30 WIB dan 18.30-21.00 WIB. Waterland (2018) merupakan satu bagian program DocSound yang  menghadirkan posisi suara di kehidupan keseharian melalui medium film. Pilihan film dalam program ini memperlakukan elemen suara sebagai kekuatan utamanya dan membuka perspektif baru dalam mendekati hubungan antara film, suara, /dan kehidupan keseharian kita.

DOKUMENTER INTERAKTIF: FEELINGS OF REALITY | RUANG GALERI, TBY

4 dokumenter pendek berbasis VR, akan dapat kamu nikmati di slot ini dari Kamis 6 Desember hingga Selasa 11 Desember di Ruang Galeri TBY pada pukul 13.00-16.00 WIB dan 18.30-20.30 WIB. Gaza’s Amputee Football Team, Cuba’s Blind Baseball, Living with Disability, dan The Curse of Palm Oil, merupakan bagian dari  program Feelings of Reality yang hadir untuk memperluas pengaruh film-film yang menyuarakan isu disabilitas dengan cara menayangkan film dokumenter dan film dokumenter berbasis VR (Virtual Reality)

12.00 WIB

FFD2018 | Film | SOIna

SOINA (2018) | SOCIETET TBY

Hadir sebagai satu dari dua dokumenter non-VR dalam program Feelings of Reality, SOIna, atau Special Olympics Indonesia adalah organisasi yang dipercaya mengadakan ajang olimpiade bagi atlet tunagrahita. Film dokumenter ini merekam salah satu ajang tersebut pada November 2008, berfokus pada kisah seorang staf dan dua orang atlet dari Jawa Timur. Pemutaran akan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang difasilitasi oleh Rival Ahmad dan Ardi Yunanto dari Besiberani, inisiatif interferensi sosial melalui medium film.

 

14.00 WIB

FFD 2018 | Film | Three Conversation on Life

POLISH DOCS – DOCUMENTARY | AUDITORIUM IFI-LIP

Slot ini akan diisi dengan pemutaran tiga film; Father and Son (2013), Three Conversations of Life (2018), dan Close Ties (2016) sebagai rangkaian dari program Polish Docs. Film-film ini hadir untuk lebih jauh mengeksplorasi kemungkinan membicarakan tema keluarga dalam kaitannya dengan konteks sosial yang lebih besar.

 

15.30 WIB

solving

SOLVING MY MOTHER (2018) | SOCIETET TBY

Ieva Ozolina akan membawa penonton pada kisah kreatif dan destruktif sebuah kasih sayang dalam sebuah hubungan ibu-anak. Film ini merupakan salah satu finalis FFD kategori kompetisi panjang.

 

16.00 WIB

FFD2018 | Film | Tarian Kehidupan

KOMPETISI PELAJAR | AUDITORIUM IFI-LIP

Slot sepanjang lebih dari 6o menit ini akan diisi oleh lima film finalis FFD kategori dokumenter pelajar. Aku Bukan Toraja (2018) yang merekam bagaimana satu ritual penting dalam satu masyarakat, kini menjadi tidak lebih dari hiburan semata. Sum (2018) yang diambil dari nama tokoh utama di film ini, seorang mantan aktivis Barisan Tani Indonesia yang pernah dipenjara selama 13 tahun dan kini hidup sendiri sembari menunggu perubahan. Mudik (2018) yang merekam bagaimana sebuah keluarga melakukan ritual pulang kampung menggunakan sebuah truk. Kisah Mbah Romo, seorang lansia yang tinggal sebatang kara, dan anak satu-satunya yang masih hidup dengan usahanya menuntut pemenuhan kewajiban negara atas jaminan sosial untuk Mbah Romo di Rantai Emas (2018). Hingga Tarian Kehidupan (2018) yang menyajikan kisah seorang siswa SMP yang harus menjadi tulang punggu keluarganya dengan mempelajari tarian tradisional.

 

19.00 WIB

FFD2018 | Film | DeathCrow48

KOMPETISI PENDEK | SOCIETET TBY

Slot ini akan diisi dengan lima film finalis kategori kompetisi pendek. Deathcrow48 (2018), kisah tentang Eric Crow, penggemar grup idol JKT48, berusia 36 tahun dan masih gigih mengikuti kegiatan dan kehidupan JKT48 sebagai seorang penggemar. The Nameless Boy (2017) yang membawa penonton pada hiruk pikuk demonstrasi protes terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta, lewat kaca mata seorang anak kecil yang mengalami langsung bagaimana kebencian tidak pernah lebih nyata. Kisah Kasi Astuti, seorang nenek penggiat seni karawitan dan pertentangan yang terjadi di dalam keluarganya akibat kecintaannya terhadap seni tersebut di Swara Kalbu (2018). Niqab We Are Not Different (2018) yang merekam pengalaman kelompok minoritas pengguna niqab, perlakuan diskriminatif yang mereka dapatkan, kisah-kisah personal tentang alasan, hingga permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Juga Lahir di Darat, Besar di Laut (2018), kisah tentang Raiman, kapten kapal Sami Asih, di tengah keadaan yang semakin tidak menentu, kesusahan mencari pekerjaan di darat. Menyisakan laut sebagai pertaruhan terakhirnya.

 

FFD2018 | Film | Absent Without Leave

ABSENT WITHOUT LEAVE (2016) | AMPHITHEATER TBY

Kisah pencarian sejarah bangsa yang ditutup-tutupi bahkan hingga di ruang keluarga. Melalui hubungan cucu-kakek, sejarah yang dikubur dengan stigma, kebohongan, hingga ketakutan, coba digali kembali. Film ini merupakan salah satu film dalam program Human, Frame by Frame.

 

21.00 WIB

FFD2018 | Film | Still Life

STILL LIFE (1997) | SOCIETET TBY

Satu dari tiga film di program Retrospektif Harun Farocki. Di sini, selama 56 menit Farocki mengeksplorasi gagasan bagaimana menurutnya fotografer yang di masa kini bekerja di periklanan, sedikit banyak meneruskan tradisi pelukis Flemish di Abad XVII yang melukis obyek-obyek sehari-hari, alias obyek tidak bergerak. Lalu ia mengilustrasikan hipotesanya dengan tiga dokumenter berurutan yang menunjukkan bagaimana fotografer bekerja menciptakan sebuah still life kontemporer: sepotong keju, gelas bir, dan juga sebuah jam tangan mewah.