Menyusuri Masa Lalu Keluarga melalui The Pasha, my mother and I

— Berita
FFD 2023

Dalam sebuah proses pembuatan film, sering terjadi perubahan arah di tengah jalan; mungkin sebuah pergantian gaya atau pendekatan. Pergantian ini seringkali dikarenakan suatu hal yang kurang pas saat proses kreatif. Namun, untuk seorang Nevine Gerits, proses dan pergantian pendekatan yang ia tempuh di belakang layar selaras dengan perjalan pribadi yang ia dan keluarganya lewati selama pembuatan dokumenter The Pasha, my mother and I (2023). Film ini sejatinya bercerita tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Kurdistan dan penindasan yang mereka rasakan selama ini. Sutradara Nevine Gerits memilih pendekatan personal dalam menampilkan narasi ini, yaitu melalui sejarah keluarganya dan hubungan sulitnya dengan sang ibu yang notabene aktif memperjuangkan Kurdistan selama hidupnya.

The Pasha, my mother and I (2023) ditayangkan di Bioskop Sonobudoyo pada 6 Desember 2023. Film ini merupakan finalis program Kompetisi Panjang Internasional FFD 2023. Sutradara Nevine Gerits turut hadir pada penayangan film dan berbagi kisahnya melalui sesi tanya jawab seusai pemutaran. Gerits membuka sesi dengan menceritakan inspirasinya membuat film ini. Awalnya, ia mendengar bahwa Kurdistan banyak dibahas di berita karena situasi politik dan perang yang terjadi. Namun, berangkat dari hal tersebut, ia tak ingin membuat film dokumenter sejarah seperti banyak film lainnya.

Di balik keinginannya membuat film dan berbicara bersama keluarganya, ada kisah tentang bagaimana ia sempat kabur dari rumah di umur 18. Ia merasa kesal dengan ibunya karena tak memberi perhatian yang cukup untuk anak-anaknya. Kala itu, ibu Gerits merupakan aktivis perjuangan Kurdistan–yang, membuat Gerits semakin muak dan marah mendengar tentang Kurdistan setiap hari. “Saat saya berumur 35 tahun, saya nonton di TV perjuangan perempuan (Kurdistan) melawan ISIS. Mendengar bahasa yang sama dengan bahasa saya dibesarkan, saya merasakan ada hubungan dengan orang-orang ini. Orang-orang yang berjuang untuk kebebasan mereka… Akhirnya, saya memutuskan untuk harus pulang dan bicara dengan ibu saya. Di momen itulah saya mulai merangkai film ini.” ujar Gerits.

Selama menggarap film ini, Gerits merasa bahwa kemarahan yang ia rasakan perlahan runtuh. Ia semakin siap untuk berkonfrontasi dengan masa lalunya dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang harus ia tanyakan. Gerits mulai melakukan wawancara dengan seluruh anggota keluarganya, yang juga merupakan aktivis perjuangan kebebasan Kurdistan. Namun, seperti banyak keluarga, Gerits menemukan bahwa banyak di antara anggota keluarganya yang tidak ingin membicarakan masa lalu dan masalah-masalah di antara mereka. Ada kesedihan kuat yang dirasakan, bukan hanya karena hubungan keluarga yang tidak sering sulit, tapi juga trauma dari pedihnya pengalaman perjuangan yang mereka dan bangsa Kurdistan masih rasakan sampai sekarang.

Sulitnya mengumpulkan materi dari anggota keluarganya membuat Gerits mengalihkan fokus kembali cerita yang lebih personal. Ia mulai bertanya apa arti perjuangan dan bagaimana rasa perjuangan, penuh dengan semangat dan trauma, diturunkan dari kakeknya pada ibunya, dan dari ibunya padanya. Setelah beberapa tahun berproses, ia baru menemukan surat-surat kakeknya yang ditujukan pada ibu Gerits. Ia memilih untuk membentuk struktur The Pasha, my mother and I (2023) dari surat-surat tersebut. Surat-surat tersebut tak hanya berisi hiruk-piruknya hubungan seorang bapak dan anak tapi juga latar konteks sosial mengenai perjuangan bangsa Kurdistan.

Saat ditanya tentang banyaknya pergantian pandangan dan pendekatan selama proses pembuatan film dan hasil akhirnya, Gerits tidak menyesal sama sekali, ia merasa bahwa memang pergantian arah ini semua terasa natural, mengikuti apa yang dia rasakan selama pembuatan. “Sekarang saya sadar bahwa ternyata itu adalah yang terbaik… Fokus ke ibu saya dan nilai-nilai apa yang diturunkan ke saya serta nilai-nilai yang saya turunkan atau tidak turunkan ke anak saya”.

Meski narasi besar The Pasha, my mother and I (2023) menyorot perjuangan bangsa Kurdistan untuk mendapatkan kebebasan selama sejarah mereka, tetapi sentuhan personal dan penelusuran sejarah yang intim terhadap keluarga Gerits menjadi tawaran yang lain. Gerits menggarisbawahi bahwa proses di balik film tersebut adalah yang terpenting baginya secara pribadi. Karena film ini, ia harus menempuh proses meluruhkan amarah yang berbuah pada pertanyaan serta konfrontasi pada keluarganya. Film ini merupakan pencarian kebebasan dari masa lalu keluarga yang mengekangnya untuk dekat dengan ibunya. “Saya tidak akan pernah mengerti kisah mereka secara keseluruhan, tapi sekarang saya tau apa yang saya bisa turunkan ke anak saya, dan dengan ini saya merasa sebuah kebebasan dari masa lalu keluarga saya .”

Diliput oleh Aradi Priyanto pada 6 Desember 2023.