Hak Asasi Manusia (HAM) senantiasa diperjuangkan melalui berbagai cara. Perjuangan tersebut juga diterapkan oleh Festival Film Dokumeter (FFD) 2018 dengan menghadirkan program “Human, Frame by Frame”. Program ini secara khusus menampilkan sembilan film dari enam negara (Indonesia, Malaysia, Perancis, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat) yang mengangkat isu spesifik terkait kemanusiaan. Program “Human, Frame By Frame” akan diputar di Amphitheatre dan Societet Militair TBY selama FFD 2018 berlangsung, yaitu tanggal 5-12 Desember 2018.

Program “Human, Frame by Frame” ini terdiri dari tiga bingkai yang berbeda sesuai bahasan yang diangkat. Dalam bingkai pertama, narasi yang diangkat adalah problematika yang dialami para pengungsi. Keduanya film, The Shebabs of Yermauk (2015) dan 19 Days (2016), mencoba melihat gejolak konflik sosial-politik di berbagai belahan dunia, lewat orang-orang yang terusir dari rumahnya.

Bingkai kedua menghadirkan film-film yang membahas peristiwa-peristiwa sejarah besar di Indonesia lewat cerita-cerita personal. Kisah Hersri Setiawan, sastrawan dan penulis buku Memoar Pulau Buru, diangkat dalam film Angin Pantai Sanleko (2018). Dalam perjalanannya mengunjungi kembali Pulau Buru, ia harus menghadapi kenyataan bukti-bukti sejarah atas apa yang ia alami di sana semacam sengaja dihilangkan. Cerita Hersri harus mengalir tanpa peninggalan sejarah sebagai bukti.

Film lainnya adalah Rising from Silence (2016), yang merekam kisah kelompok ibu-ibu lansia yang tetap berusaha untuk merawat ingatan-ingatan pahit lewat aktivitas paduan suara. Proses di balik pembuatan album kompilasi Prison Songs: Nyanyian yan Dibungkam, sebagai usaha mengarsipkan sejarah melalui dialog dengan pencipta atau orang-orang yang terlibat dalam tembang-tembang dari penjara Pekambingan-Denpasar diangkat dalam film Sekeping Kenangan (2018). Dan, Nyanyian Akar Rumput (2018), film yang merekam keseharian musisi Fajar Merah yang kehilangan ayahnya, Wiji Thukul.

Sedang pada bingkai ketiga, setiap film menghadirkan hubungan antara manusia dengan tanah kelahiran. Dalam Absent Without Leave (2016), sosok yang dekat sekaligus jauh hadir sebagai titik awal pencarian sang pembuat film atas hal-hal yang lampau dan tersembunyi. Di Holding Hands with Ilse (2017), pembuat film melacak figur yang dekat dengannya namun hilang ketika alur sejarah mereka bercabang. Goodbye My Love, North Korea (2017), sementara itu, menangkap kisah cinta tak berbalas  terhadap tanah kelahiran.

Lewat film-film yang dipilih, FFD percaya jika dokumenter dan film memiliki peran signifikan dalam menghadirkan semangat dan penyuluhan pada masyarakat terkait perjuangan atas Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagai ruang pemutaran, FFD juga berharap bisa memberikan kesempatan bagi aspirasi-aspirasi yang sulit disuarakan dan jarang didengar sekaligus menghadirkan pesan-pesan reflektif bagi para hadirin yang datang.

Sulit menampik bahwa penyandang disabilitas sering kali ditempatkan sebagai “warga negara kedua” di negara ini. Hampir semua aspek tidak ramah pada kaum disabilitas. Hal inilah yang akhirnya membuat mereka sulit untuk memperluas ruang gerak.  Padahal, sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari suatu negara, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya, termasuk dalam menikmati sinema.

Mengingat pentingnya meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap kaum disabilitas, Festival Film Dokumenter (FFD) meluncurkan program “The Feelings of Reality” pada Minggu, 9 Desember 2018 di gedung Societet Militier Taman Budaya Yogyakarta. Bekerjasama dengan VOICE GLOBAL, program ini berniat memperluas pengaruh film-film yang menyuarakan isu disabilitas dengan cara menayangkan film dokumenter berbasis Virtual Reality (VR). Medium baru ini dipilih karena kemampuannya menampilkan realitas yang lebih dekat dengan audiens.

Diawali dengan pemutaran film tentang anak-anak penyandang disabilitas yang terlibat dalam sebuah olimpiade, berjudul SOIna–Spesial Olimpiade Indonesia (2008). Kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama dengan ALTERAKSI yang difasilitasi oleh Rival Ahmad dan Ardi Yunanto. Diskusi berlangsung secara dua arah. Peserta diskusi yang merupakan penyandang disabilitas dan non-disabilitas melebur menjadi satu, saling menyatakan keresahan masing-masing terkait isu-isu disabilitas. Melalui kolaborasi dengan ALTERAKSI, FFD mencoba untuk belajar langsung dari para teman-teman difabel mengenai isu-isu apa saja yang penting untuk dieksplorasi melalui film dokumenter.

Program “The Feelings of Reality” akan berlangsung selama tiga tahun, yakni 2018 sampai 2020. Di luar pemutaran, bentuk program yang akan dijalankan berupa workshop dan produksi film dokumenter berbasis VR. Selain itu, akan diadakan open call untuk para pembuat film di Indonesia, dengan empat daerah tujuan utama: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Ditambah juga distribusi dan ekshibisi delapan film dokumenter berbasis VR  yang akan dihasilkan ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas.

Dengan dilaksanakannya program ini, harapan FFD adalah; muncul peningkatan kesadaran mengenai isu-isu disabilitas melalui pengalaman dalam menonton yang membawa ke realitas baru serta adanya perubahan perspektif masyarakat dalam melihat isu-isu disabiltas. Secara lebih luas, FFD juga akan berkolaborasi dengan teman-teman dari Braille’iant untuk menyelenggarakan Bioskop Bisik. Semua usaha ini kami lakukan demi terciptanya ruang-ruang sinema yang lebih emansipatif dan menjangkau lebih banyak aspek.

13.00 WIB

FFD2018 | Film | Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus

PROGRAM “LANSKAP” | QnA | SOCIETET MILITAIR, TBY

Program “Lanskap” menawarkan upaya untuk memandang dan membicarakan Indonesia melalui wacana yang kerap hadir di dalamnya melalui media film dokumenter. Empat film “Lanskap” akan diputar pukul 13.00 WIB hingga 14.20 WIB di Societet Militair, TBY. Dua film tersebut di antarannya; InangInang (2018) yang mengeksplorasi permasalahan di ruang kota dalam kisah para pedagang baju bekas yang terbakar. Tidak hanya di kota, ekplorasi juga dilakukan pada petani di desa yang bersiasat dengan hujan dalam film Sampun Jawah (2018). Pagi Yang Sungsang (2018) menyajikan potret ritual kerja yang janggal dari mereka yang bergelut dengan sampah. Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus (2018) menghadirkan kisah para penyintas peristiwa 65 dan ingatan yang tak hilang terekam dalam orde yang terus berjalan.

 

13.30 WIB

FFD 2018 | Film | Braguino

PROGRAM “SPEKTRUM” | AUDITORIUM IFI-LIP

Program “Spektrum” pada FFD 2018 merupakan respon atas berbagai perkembangan yang hadir dalam ranah dokumenter yang berkembang amat dinamis. Dua buah film program “Spektrum” akan diputar pukul 13.30 WIB dan 14.20 WIB di auditorium IFI-LIP, di antaranya: Braguino (2017) yang bercerita tentang Braguines dan Kilines, dua buah keluarga yang hidup dalam aturan dan prinsip yang dibuat masing-masing. Mereka menolak bicara dan menjauhkan diri dari dunia luar.  Sementara itu, dalam Les Indes Galantes (2017) sang sutradara Clément Cogitore mengajak penonton untuk mengamati caranya menciptakan pertarungan antara budaya urban dan musik dari Jean-Philippe Rameu, salah satu komponis besar Perancis, di panggung Opera Bastille.

 

15.00 WIB

Review Film: Danchi Woman (2018)

PROGRAM “FRAGMEN KECIL ASIA” | AUDITORIUM IFI – LIP

Apa yang memungkinkan bagi kita untuk menangkap berbagai sudut pandang dalam ribuan peristiwa di Asia? Program “Fragmen Kecil Asia” mengajak kita melihat fenomena yang terjadi pada masyarakat Asia melalui dua film berikut; Danchi Woman (2018) kisah tentang Shizu, wanita berusia 85 tahun yang mau tidak mau harus meninggalkan kenangan relik masa lalunya di dalam danchi, sejenis hunian murah, yang telah ia tinggali selama tiga dekade. Kisah lainnya di lorong-lorong Dafen, dengan populasi 10.000 jiwa, ratusan petani beralih profesi menjadi pelukis minyak dan menghasilkan ribuan replika lukisan Barat dalam film Dreaming of Van Gogh (2007), mereka berhasil menghasilkan karya-karya yang memukau. Dua film program “Fragmen Kecil Asia” ini akan diputar di auditorium IFI – LIP pukul 15.00 WIB dan 15.28 WIB.

 

16.30 WIB

FFD2018 | Film | See You, Lovable Strangers

SEE YOU, LOVABLE STRANGER (2016) | SOCIETET MILITAIR, TBY

Kerja sewaktu-waktu membuat orang bersembunyi dan lari dari kenyataan, setidaknya inilah yang digambarkan oleh See You, Lovable Stranger (2016). Bagaimana menegangkannya kehidupan para pekerja migran yang harus hidup di bawah kejaran agensi yang akhirnya menambah masalah baru; utang.

 

19.00 WIB

FFD2018 | Film | Swim Team

SWIM TEAM (2016) | SOCIETET MILITAIR, TBY

Untuk pemutaran program “Meretas Realita” non-VR, kami memilih Swim Team (2016), film berdurasi 90 menit yang berfokus pada Hammerheads, klub renang untuk penyandang autisme. Film ini mengajak penonton mengalami aktivitas berenang sebagai cara untuk menapaki hidup di jalan yang baik dan benar.

FFD 2018 | Film | L'Opéra

L’OPÉRA | AMPHITHETER, TBY

L’Opéra (2017) Salah satu film program “Spektrum” yang mengungkap kisah-kisah kehidupan di dalam salah satu pusat institusi kesenian paling prestisius di dunia, dengan mengangkat cerita di balik layar dalam skena opera di Paris.

DISKUSI – PASUKAN ANTIPREI: MENILIK PRAKTIK KERJA-KERJA RENTAN MASA KINI | AUDITORIUM IFI – LIP

Diskusi Program “Perspektif” dengan narasumber; Hizkia Yosie Polimpung, yang akan mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali hakikat kerja yang tidak bisa dilepaskan dari praktik-praktik eksploitatif. Waktu luang dan pengurangan jam kerja menjadi hal yang diperjuangkan di seluruh dunia. Diskusi ini terbuka untuk siapa pun, tidak terbatas bagi Anda yang merasa bekerja ataupun tidak. Kami mengundang Anda semua untuk hadir dan gelisah bersama.

 

 

INSTALASI DOCSOUND: WATERLAND (2018) | RUANG EPSON, TBY

Kamu dapat menikmati instalasi ini dari hari Kamis 6 Desember-Selasa 11 Desember di Ruang Epson, TBY pada pukul 14.00-17.30 WIB dan 18.30-21.00 WIB. Waterland (2018) merupakan satu bagian program DocSound yang  menghadirkan posisi suara di kehidupan keseharian melalui medium film. Pilihan film dalam program ini memperlakukan elemen suara sebagai kekuatan utamanya dan membuka perspektif baru dalam mendekati hubungan antara film, suara, dan kehidupan keseharian kita.

DOKUMENTER INTERAKTIF: FEELINGS OF REALITY | RUANG GALERI, TBY

Empat dokumenter pendek berbasis VR, akan dapat kamu nikmati di slot ini dari Kamis 6 Desember hingga Selasa 11 Desember di Ruang Galeri TBY pada pukul 13.00-16.00 WIB dan 18.30-20.30 WIB. Gaza’s Amputee Football Team, Cuba’s Blind Baseball, Living with Disability, dan The Curse of Palm Oil, merupakan bagian dari  program Feelings of Reality yang hadir untuk memperluas pengaruh film-film yang menyuarakan isu disabilitas dengan cara menayangkan film dokumenter dan film dokumenter berbasis VR (Virtual Reality).

Alexander Matius, programer ruang pemutaran alternatif Kinosaurus Jakarta dan salah satu motor Cinemapoetica,  melihat bahwa kompetisi adalah entitas yang penting dan perlu hadir di sebuah Festival Film. Baginya, program kompetisi tidak hanya hadir sebagai ruang bertemu antara film dengan penontonnya, melainkan turut membentuk standar baru dalam ekosistem film, dalam hal ini dokumenter.

Simak, obrolan kami bersama Alexander Matius, salah satu juri Kompetisi Dokumenter Kategori Pelajar Festival Film Dokumenter (FFD) 2018.

 

Bagaimana penilaian anda pada film-film finalis kompetisi pelajar FFD tahun ini?

Yang pasti sih, (topik atau isu yang diangkat) bisa dikatakan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari ya. Mereka bisa mengambil suatu fenomena atau isu yang paling bersinggungan dengan mereka secara langsung. Itu yang kemudian bisa dilihat dari lima film finalis di kompetisi pelajar. Kemudian, lima film tadi juga punya pendekatan masing-masing. Mereka juga punya metode yang beragam. Tidak ada tema tertentu pastinya yang hampir ada di semua film yang masuk kompetisi tahun ini. Jadi saya pikir menarik ya untuk bisa melihat itu (topik, pendekatan, metode bercerita yang dipercayai) di film kompetisi pelajar tahun ini.

 

Apakah keberagaman tadi bisa membedakan film pelajar tahun ini dengan film generasi sebelumnya?

Sejauh ini, belum ada yang baru. Tapi, di beberapa film sudah terlihat bahwa mereka (pembuat film) sudah punya pernyataan yang cukup kuat pada isunya masing-masing. Itu yang paling bisa tergambar. Mungkin juga beberapa pembuat film yang dimentori oleh seniornya, pendekatan dan gayanya belum terlalu signifikan berbeda (dengan seniornya). Tapi mereka (sudah) lebih berani atau lebih lugas dalam mengeluarkan pendapatnya masing-masing.

 

Apakah keberagaman ini, juga menunjukkan cara suatu masyarakat wilayah tertentu memandang sebuah isu ?

Kalau secara bentuk atau gaya mungkin terlihatnya lebih sama ya. Maksudnya, tidak ada secara yang khas gitu. Kebetulan, karena filmnya berasal dari daerah yang berbeda-beda, lalu metode berceritanya menjadi identik. Mereka bisa mengambil hal-hal dengan lebih detail dan spesifik [yang] berkaitan dengan isu dan fenomenanya, khusus pada daerah itu sendiri. Ini paling bisa dilihat dari shotshot yang mereka gunakan.

 

Menurut anda, apa pentingnya program kompetisi kategori pelajar di lingkup Festival? Apakah hanya menjadi ruang yang mempertemukan pembuat film dengan publiknya?

Sebenarnya, ketika kita berbicara mengenai kompetisi, (arahnya) lebih ke ‘bagaimana standar film kita hari ini’. Itu yang paling bisa terlihat. (Kompetisi) hadir sebagai tolok ukur ‘sudah sampai di titik mana sih, film kita hari ini’.

Untuk ruang pertemuan ya, sebenarnya bisa dilakukan dengan pemutaran reguler, atau dengan festival (lewat program-program yang lain). Tapi pola kompetisi kan, selalu mencari yang lebih unggul. Dan, di situ yang kemudian kita bisa lihat sampai di tahun ini, sampai di titik mana sih pelajar kita membuat film. Standarnya sudah sampai sejauh mana?, apakah berkembang dari tahun yang lalu?, apakah menurun?, ataukah sama saja? Jadi, kompetisi itu hadir lebih untuk membangun patokan dan standar itu.

Buat saya, festival itu arena yang semua orang berkumpul, dari semua aspek. Penonton, pembuat film, dan semua (bagian dari) ekosistem perfilman datang untuk berkumpul, kemudian untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Nah, kompetisi kemudian menjadi bagian dari festival karena tolok ukur tadi penting untuk disaksikan bersama-sama oleh banyak pihak. Kaitannya lebih ke situ. Dan, tentu saja, program ini berbeda dengan lainnya. Karena dari sebuah kompetisi, yang pastinya ada hadiahnya, bisa mendorong kesinambungan karya dari pembuat film.  Jadi, program kompetisi sangat penting si hadir di sebuah festival.

 

Sebagai programmer, bagaimana usaha anda untuk merubah pandangan publik yang mengklaim dokumenter sebagai tayangan yang berat?

Lebih ke bagaimana mengemas tema yang sangat spesifik yang kemudian sangat relefan dengan keseharian publiknya. Jadi bisa dengan keberagaman filmnya, bisa menunjukkan satu tema spesifik yang udah kita tentukan, kemudian meletakkan aspek keterkejutan; mungkin di film-film yang dipilih. Bisa juga dengan side event, aktivitas lain mungkin, ngga harus diskusi.

Mungkin, menggabungkannya [film] dengan musik atau outbound—kalo punya biaya dan cukup masuk. Dan, itu harus dilakukan secara konsisten. Karena, saya cukup percaya bahwa kekonsistenan akan membangun animo publik untuk ‘menyerap’ sebuah karya. Itu penting dijaga. Sehingga, nantinya pemutaran-pemutaran seperti ini, itu ‘ada’, menarik dan sangat penting untuk dipelajari.

 

Bagaimana pandanganmu tentang Festival Film Dokumenter (FFD) 2018?

Saya sebenarnya baru pertama kali ke FFD, tapi saya sudah mendengar FFD sejak lama. Yang perlu diapresiasi adalah konsistensi FFD. Untuk bisa terjus berjalan, untuk bisa terus menjadi salah satu motor, penggerak pemutaran film dokumenter dalam skala festival. Karena tidak banyak festival yang membahas tipe film yang spesifik seperti dokumenter.

Tahun ini seru sih, bisa bertemu banyak orang tentunya. Bisa dikasih kesempatan untuk melihat ‘bagaimana pelajar-pelajar kita hari ini, menyuarakan pendapat dan emosi mereka yang disalurkan lewat film. Ya semoga, semangatnya terus ada, sampai ke FFD selanjutnya.

13.00 WIB

FFD2018 | Film | Silence Is A Falling Body

“Kompetisi” SILENCE IS A FALLING BODY  |SOCIETET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA.

Salah satu film dari program kompetisi dokumenter panjang yang menceritakan sisi personal dari ayah si pembuat film (Agustina Comedi). Ia menemukan sisi yang tidak pernah diketahui sebelumnya dari arsip video, mulai dari aktivisme hingga seksualitas ayahnya.

 

14.00 WIB

FFD2018 | Film | The Shebabs of Yarmouk

“HUMAN, FRAME BY FRAME” –THE SHEBABS OF YARMOUK | AUDITORIUM IFI-LIP

Film ini menghadirkan salah satu cerita dalam lapis konflik Palestina. Kisah tiga remaja yang mengungsi di wilayah Yarmouk yang direkam menghadirkan drama kehidupan yang pelik. Antara keinginan untuk bertahan hidup, mempertahankan kelompok, dan melarikan diri.

 

14.30 WIB

FFD2018 | Film | Remapping The Origins

KOMPETISI – REMAPPING THE ORIGINS |Societet —Taman Budaya Yogyakarta.

Remapping the Origins adalah salah satu film dari tujuh film terpilih di program kompetisi panjang. Film karya Johannes Gierlinger, mengulas kota Bialystok, tempat  Dziga Vertov dan Ludwik Lejzer Zamenhov lahir. Dalam bentuk esai, peristiwa-peristiwa yang hadir hari ini ditautkan kembali dengan sejarah di masa lalu.

 

14.45 WIB

DOC-TALK: FILM CRITICISM – AREN’T WE ALL? |AMPHITHEATRE TBY

Bersama Chris Fujiwara dan Adrian Jonathan Pasaribu, Festival Film Dokumenter mengajak kita untuk menilik praktek kritik film di Indonesia lewat beberapa pertanyaan, seperti bagaimana kritik film hadir di Indonesia yang kondisi perfilmannya belum stabil dan apakah perubahan media juga mempengaruhi entitas dari kritik ?.

 

15.30 WIB

FFD2018 | Film | Nyanyian Akar Rumput

NYANYIAN AKAR RUMPUT | SOCIETET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA.

“Human Frame by Frame”, sebuah program yang menyoroti manusia dengan peristiwa di sekitarnya, mengangkat usaha Fajar Merah yang bercerita kembali kisah ayahnya, lewat lagu-lagu yang dicipta dan dinyanyikan. Fajar berharap bahwa usahanya ini akan membawa angin baik untuk kasus HAM di Indonesia yang kondisi politiknya sedang berubah.

 

16.00 WIB

FFD2018 | Film | Lahir Di Darat Besar Di Laut

KOMPETISI PENDEK |QnA| AUDITORIUM IFI-LIP.

Lima film program kompetisi kategori pendek yang diputar berurutan menghadirkan kritik pada beberapa isu. DEATHCROW48 yang menyoroti idol, The Nameless Boy yang mencerna ujaran kebencian di sekitarnya lewat tubuh seorang anak, Swara Kalbu yang menunjukkan keteguhannya dalam mencintai kesenangannya, Niqab : We Are Not Different yang menebalkan kasus penistaan agama dan phobia hijab, Lahir di Darat, Besar di Laut yang mengisahkan pertaruhan hidup nelayan.

 

18.30 WIB

FFD 2018 | Film | Makala

MAKALA |SOCIETET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Program Spektum yang menawarkan keberagaman gaya bercerita film dokumenter, menghadirkan film dari Kongo berjudul Makala. Film ini mengisahkan petani muda dari Kongo yang bertekad untuk memberi yang terbaik pada seorang terkasih. Dia tidak memiliki banyak modal, satu-satunya yang dia miliki adalah tangannya yang kuat dan tekadnya yang bulat.

 

19.00 WIB

FFD2018 | Film | Nyanyian Akar Sanleko

“HUMAN, FRAME BY FRAME” –ANGIN PANTAI SANLEKO | Q & A | AMPHITHEATER TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

Diajak merunut ingatan Hersri Setiawan ketika diasingkan, menambah ragam kisah kekerasan yang terjadi di Indonesia. Kerinduannya pada teman dan kisah mudanya menjadi sulit dipercaya dan menguap begitu saja sebab situs-situs yang sengaja dihilangkan telah mematahkan perjalanan Hersri membuktikan sejarah.

Golden-Memories-2

GOLDEN MEMORIES (PETITE HISTOIRE OF INDONESIAN CINEMA) | AUDITORIUM IFI-LIP

Menelusuri jejak sinema keluarga Indonesia bersama tiga pembuat film, hingga ke negeri Belanda, menghasilkan temuan ketika bertemu Kwee Zwan Liang dan Rusdi Attamimi. Estetika dan fakta mengenai sinema keluarga dari generasi ke generasi, menjadi entitas yang menambah lapis sejarah film di Indonesia.

 

20.30 WIB

FFD2018 | Film | Photo Farag

PHOTO FARAG (2016) | SOCIETET TBY

Photo Farag, salah satu film program kompetisi kategori panjang, menawarkan kisah dari sebuah keluarga keturunan Irak-Yahudi yang berasal dari Baghdad. Persoalan demi persoalan keluarga Farag, mendorong penonton untuk menemui masa masa kejayaan bisnis fotografi mereka yang sebenarnya kontras dengan kondisi saat ini.

 

 

INSTALASI DOCSOUND: WATERLAND (2018) | RUANG EPSON, TBY

Kamu dapat menikmati instalasi ini dari hari Kamis 6 Desember-Selasa 11 Desember di Ruang Epson, TBY pada pukul 14.00-17.30 WIB dan 18.30-21.00 WIB. Waterland (2018) merupakan satu bagian program DocSound yang  menghadirkan posisi suara di kehidupan keseharian melalui medium film. Pilihan film dalam program ini memperlakukan elemen suara sebagai kekuatan utamanya dan membuka perspektif baru dalam mendekati hubungan antara film, suara, /dan kehidupan keseharian kita.

DOKUMENTER INTERAKTIF: FEELINGS OF REALITY | RUANG GALERI, TBY

4 dokumenter pendek berbasis VR, akan dapat kamu nikmati di slot ini dari Kamis 6 Desember hingga Selasa 11 Desember di Ruang Galeri TBY pada pukul 13.00-16.00 WIB dan 18.30-20.30 WIB. Gaza’s Amputee Football Team, Cuba’s Blind Baseball, Living with Disability, dan The Curse of Palm Oil, merupakan bagian dari  program Feelings of Reality yang hadir untuk memperluas pengaruh film-film yang menyuarakan isu disabilitas dengan cara menayangkan film dokumenter dan film dokumenter berbasis VR (Virtual Reality)

Pada Jumat, 8 Desember 2018, tim Media dan Publikasi FFD mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan Sebastian Winkels, seorang sutradara film asal Jerman. FFD di tahun ini, bekerja sama dengan Goethe-Institut, menggelar pemutaran film terbaru Sebastian Winkels yang berjudul Talking Money untuk pertama kalinya di Indonesia. Berikut perbincangan tim FFD dengan Sebastian Winkels:

 

Mengapa anda memilih untuk bekerja di dunia dokumenter?

Secara umum, mengapa saya memilih bekerja di dunia dokumenter, karena saya tertarik untuk mengabadikan kehidupan manusia dan setiap esensi di dalamnya. Usaha ini tentu suli,t dan kadang tidak berhasil. Tetapi jika berhasil, maka hal ini akan terlihat sangat mengagumkan. Saya suka aspek otensitas yang terkadang saya temukan di dalamnya. Itulah sebabnya saya memilih bekerja di dunia dokumenter.

 

Bagaimana kondisi perfilman dokumenter di negara anda? Bagaimana peran serta pemerintah dan relasi publik atas karya-karya dokumenter di sana?

Kami memiliki beberapa sumber pendanaan di Jerman. Saya rasa itu membuat situasi di Jerman lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Di sini, stasiun televisi dan pemerintah tidak banyak membantu untuk mendanai komunitas film dokumenter independen.

Di Jerman sebenarnya juga tidak mudah; banyak persaingan di sana. Ada banyak orang mengajukan permintaan untuk memperoleh pendanaan dari pemerintah. Saya kira, ada banyak kesulitan untuk menghasilkan uang dan anggaran yang cukup membuat film. Film Talking Money sendiri dapat terselesaikan melalui kerja sama dengan stasiun televisi di Jerman dan Switzerland. Jadi, masih ada kemungkinan.

Dalam 21 tahun terakhir, ada banyak sekolah film yang muncul di Jerman, dan menghasilkan banyak pembuat film baru yang mencari peluang untuk bekerja. Jadi, untuk mendapatkan pendanaan kami harus melewati persaingan yang ketat.

Saya rasa publik menyukai dokumenter. Namun film-film dokumenter tidak selalu mudah untuk ditemukan, karena stasiun TV menayangkannya larut malam. Tetapi mereka juga dapat menyaksikan film dokumenter di bioskop. Abad ini, orang-orang dapat menyaksikan apa pun melalui telepon genggam mereka –termasuk film dokumenter. Jadi kami (sebagai penggiat dokumenter) harus tetap berjuang mempertahankan audiens kami.

 

Bisakah anda menceritakan secara singkat proses kreatif pembuatan film terbaru anda, Talking Money?

Saya memulainya dengan sebuah pertanyaan: apakah saya menjadi orang lain ketika saya berbicara tentang uang? Karena, ketika saya pergi ke bank untuk pertama kalinya dan duduk di meja konsultasi, saya tiba-tiba merasa menjadi orang lain. Saya pikir saya harus memberitahu orang lain, barangkali mereka juga merasakan hal yang sama.

Saya mencoba untuk melihat lebih dekat dan menemukan apa yang sebenarnya terjadi di sana. Saya menemukan hal yang menarik. Bagi saya, meja konsultasi di bank adalah tempat di mana kita saling berpura-pura. Ketika kita dihadapkan dengan begitu banyak pertanyaan dan kita menjawabnya, pada saat itulah kita tidak menjadi diri sendiri. Kita bahkan berpura-pura dan berbohong. Kita ibarat sebuah boneka yang dikendalikan dalam sebuah pertunjukan. Dan saya tertarik untuk mengabadikan situasi yang aneh ini ke dalam sebuah film.

 

Ada delapan bank di delapan negara yang menjadi objek dalam Talking Money. Bagaimana anda menentukannya? Apakah anda memilihnya berdasarkan pertimbangan tertentu, terutama berdasarkan kondisi ekonomi negara tersebut?

Saya lebih tertarik untuk mengabadikan kehidupan masyarakat di negara yang berbeda-beda. Seperti di negara-negara kaya ataupun miskin, negara-negara yang lebih berorientasi kapitalis atau sosialis, juga negara-negara berbasis agama yang berbeda, misalnya negara republik Islam seperti Pakistan atau negara berbasis agama Katolik yang kuat seperti Bolivia. Bahkan negara bekas jajahan Uni Soviet, seperti Georgia. Saya ingin tahu, apakah orang-orang yang dibesarkan di negara-negara yang berbeda dan tentu saja memiliki bahasa yang berbeda ini memilik reaksi yang sama ketika mereka di tempatkan di satu situasi yang sama, yaitu ketika membicarakan tentang uang, atau saya justru menemukan banyak perbedaan di antara mereka.

Saya menentukan pilihan tidak berdasarkan pertimbangan latar belakang ekonomi negara tertentu. Representasi Eropa dalam film ini tidak hanya mewakili sisi yang lebih kaya seperti Jerman atau Luxemburg tetapi juga menyentuh negara yang tidak kaya seperti Italia dan Napoli. Saya lebih tertarik pada latar belakang sosial, di mana orang-orang dengan tingkat ekonomi rendah menceritakan kisah pribadi tentang keluarga mereka. Saya membayangkan kehidupan mereka di luar bank.

 

Pesan apa yang hendak anda sampaikan melalui Talking Money?

Saya tidak ingin film saya memberi pesan apa pun. Saya hanya ingin penonton merefleksikan hubungan mereka dengan uang. Saya ingin mengeksplorasi bagaimana hubungan orang-orang di seluruh dunia dengan uang.  Saya mulai dengan sebuah kasus yang menarik yang menggambarkan suatu situasi psikologis di meja konsultasi bank. Saya tidak ingin membuat film yang mengatakan: ini hal yang baik, atau ini hal yang buruk. Saya ingin menunjukkan hal yang berimbang: sisi terbaik dan sisi terburuk di balik meja konsultasi bank. Saya tidak bermaksud membuat film yang mengkonfirmasi bahwa sistem perbankan atau sistem keuangan itu buruk. Atau mengajak anda melawan sistem perbankan.

Talking Money merupakan film tentang; apakah kita benar-benar saling percaya satu sama lain? Dengan lebih banyak menggunakan pendekatan antropologis, saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sekarang, setelah krisis finansial melanda sepuluh tahu yang lalu.

 

Ini adalah pertama kalinya Talking Money diputar di Indonesia. Mengapa anda memilih Festival Film Dokumenter sebagai tempat pemutaran pertama?

Saya sangat senang mendapatkan penerjemah dalam bahasa Indonesia. Karena ini penting bagi penonton (di Indonesia) agar dapat mengikuti setiap percakapan satu sama lain dan mengetahui situasi dalam film ini. Saya sangat suka festival ini, saya tahu tentang FFD sejak beberapa tahun lalu. Meskipun saya tidak bisa hadir setiap tahun, namun beberapa tahun ini saya mengenal orang-orang yang menjalankan FFD dan orang-orang yang mendanainya. Dan saya sangat senang bisa memutar film Talking Money pertama kalinya di sini, pada hari ini.