Festival Film Dokumenter (FFD) ke-13 (10-13 Desember 2014) telah menunjuk seorang seniman muda untuk mengolah karyanya sebagai desain komunikasi visual FFD.
Festival-2014-Poster-(small)

Pelabelan film fiksi dan film dokumenter sering dianggap begitu tegas dan sangat berjarak. Fiksi dianggap memuat hal-hal yang imajinatif, ilusional, dan fantasi sementara dokumenter dipercaya berisi hal-hal yang nyata, aktual, dan sungguh-sungguh terjadi. Jika label-label ini kita gunakan untuk membaca film, tentu akan banyak menemui persoalan. Pasalnya, dibalik pembuatan film terdapat serangkaian metode, ideologi, perspektif, interpertasi, dan gaya bercerita, sehingga penonton hanya disisakan sedikit ruang untuk melacak sejauh mana kebenaran disajikan. Pada semesta yang berbeda, kita juga mengenal pembedaan mana yang ilmiah dan mana yang tidak. Hal-hal yang ilmiah dianggap lebih mewakili kebenaran ketimbang hal-hal yang tidak ilmiah. Atau, pada titik yang ekstrim, klaim atas kebenaran semacam inilah yang menjadi sumbu konflik-konflik sektarian yang jamak kita temui disekitar.

 

Memoar Tanah Runcuk adalah sebuah proyek etnografi yang ilusif lengkap dengan sebuah museum rekaan yang berisi artefak-artefak rekaan, atas sebuah komunitas yang juga rekaan. Dalam proyek ini, Timoteus Anggawan Kusno menghidupkan kembali tokoh Ludwig Stern Jr dalam Buku Max Havelaar(ii). Di tangan Angga, Ludwig Stern Jr dibuat untuk berpetualang menuju sebuah tanah antah berantah yang tidak diketahui dalam peta (parte incognita). Dalam catatan petualangannya, Ludwig Stern menceritakan tentang sebuah masyarakat di Tanah Runcuk yang hidup diantara realitas dan hal-hal magis.

 

Komunitas rekaan di Tanah Runcuk ini “dihidupkan” dengan aneka rupa pembuktian “ilmiah” untuk menunjukkan keberadaannya. Dalam rangka kebutuhannya ini, Angga melibatkan sebuah lembaga penelitan bernama CTRS (Center for Tanah Runcuk Studies) – yang juga rekaan – untuk menyusun segala argumentasi atas kebenaran yang sedang ia bangun. Hasil penelitian CTRS yang begitu meyakinkan ini ia bukukan dalam bentuk jurnal ilmiah, yang serius, kaku, dan formal. Secara terstruktur, Angga sedang bereksperimen untuk menciptakan kebenaran.

 

Bagi FFD 2014, karya eksperimental Angga ini adalah sebuah ajakan untuk memikirkan kembali konsep-konsep mengenai kebenaran dan kenyataan yang selama ini sudah mapan di kepala kita dan seolah tak perlu dipertanyakan kembali. Lebih jauh lagi, Tanah Runcuk ini menjadi sebuah satir kritis atas reproduksi kebenaran-kebenaran yang sering kali menghilangkan harkat kemanusiaan.

 

FFD 2014 dengan segala bentuk paket perjalanannya ini hendak memberikan sebuah pengalaman di ruang antara. Tentang realitas yang hadir dalam layar dan segala imaji diluar sana dengan realitas yang kita temui sehari-hari dalam ruang-ruang sosial kita masing-masing. Semoga Journey ini dapat membantu untuk memahami diri kita sendiri dan liyan. Selamat menonton.

 

(i) Tanah Runcuk adalah sebuah pameran seni rupa dari TImoteus Anggawan Kusno yang bertajuk Memoar Tanah Runcuk. Pameran ini diselenggarakan di Kedai Kebun Forum pada tanggal 8 November-3 Desember 2014.

(ii) Multatuli, 1972. Max Havelaar. Bandung: Penerbit Djambatan.

FFD 2014 | Commisioned Artist

Timoteus Anggawan Kusno adalah seniman visual sekaligus peneliti yang tertarik dengan pendekatan dan eksperimen historigrafis dalam penciptaanya. Melalui perkawinan yang magis dan yang real dalam tubuh karyanya, ia melakukan beragam penelusuran pada sejarah yang hanya bisa difantasikan, fantasi yang disejarahkan, maupun sejarah yang “fantastis”. Merupakan salah satu peraih nominasi Prudential Eye Award Contemporary Asian Art 2014 untuk kategori Best Emerging Artist Using Drawing, serta menjadi commissioned artist untuk Festival Film Dokumenter 2014. Lulus dari Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, saat ini melanjutkan studi Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma. Cek website-nya.