Review Film: A Woman of The Butcher Shop

A Woman of The Butcher Shop

Melalui kisah keseharian seorang perempuan penjual daging, A Woman of The Butcher Shop (2017) menyajikan narasi-narasi terlupakan tentang Okinawa. Narasi yang sering kali mencekam terkait sejarah Okinawa, ketakutan, pembangunan, dan keserakahan pasca-apokaliptik.

Sebelumnya, narasi-narasi alternatif ini begitu dekat dengan karya-karya Chikako Yamashiro sebagai sang sutradara. Sebut saja, Okinawa Tourist (2004), projek video pertama Yamashiro yang menangkap ironi di balik ‘manis’-nya pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Okinawa, dan bagaimana kearifan lokal menjadi sebatas atraksi bagi kepentingan kapital industri pariwisata. Selang beberapa tahun, Yamashiro kembali menyuarakan narasi tentang Okinawa yang terlupakan melalui Inheritance Series (2008-2010) dan Your Voice Out Through My Throat (2010). Kali ini terkait kompleksnya sejarah Okinawa yang berawal sebagai sebuah wilayah berdaulat di bawah bendera Kerajaan Ryukyu, sebelum dianeksasi oleh rezim pemerintahan Meiji pada abad 18 . Hingga sejarah kelam The Battle of Okinawa di mana pemerintah Jepang diduga memaksa penduduk Okinawa untuk melakukan bunuh diri massal karena ketakutan bahwa mereka akan memberikan informasi vital kepada musuh.

Pernyataan serupa dari Yamashiro masih dapat kita jumpai di film ini. Melalui keseharian perempuan pedagang daging, A Woman of The Butcher Shop akan membawa penonton pada bagaimana segala dinamika sejarah Okinawa menciptakan permasalahan yang kompleks. Tumpang tindihnya nilai-nilai yang berlaku, mulai dari konstruksi gender yang meletakkan perempuan sebagai warga kelas dua pemenuh keserakahan jasmani laki-laki. Hingga bagaimana kapitalisme melahirkan keserakahan pasca-apokaliptik yang tidak memberikan ruang bagi kemanusiaan, semua hanya objek untuk memuaskan hasrat primordial yang juga kapitalistik. Makan atau dimakan.

Yamashiro paham betul, hanya melalui metafor-metafor-lah ia dapat dengan leluasa menangkap peliknya permasalahan yang terjadi. Nuansa mencekam akibat kemarahan, ketakutan, keserakahan yang dialami seorang manusia ia kemas dalam 27 menit. Bagaimana relasi antar manusia menjadi begitu dangkal karena hanya perihal memenuhi nafsu. Kebudayaan manusia menjadi kebudayaan komoditi. Maka kehidupan penjual daging yang menjadi latar film ini jadi masuk akal. Obsesi terhadap daging adalah sebuah, meminjam terminologi Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man (1964), ‘kebutuhan palsu’ dari para laki-laki yang berduyun-duyun menyerbu kios daging dengan atribut fisik serupa dan keserakahan yang sama pula. Keserakahan yang meninggalkan sang penjual daging dalam keputusasaan, mencabik-cabik fisik dan emosinya.

Film ini berhasil menangkap Jepang, khususnya Okinawa, dalam sudut pandang yang berbeda. Latar belakang Chikako Yamashiro sebagai penduduk asli Okinawa serta perhatiannya terhadap isu-isu lokal Okinawa di karya-karyanya, membuat film ini begitu menarik. A Woman of The Butcher Shop tidak lain adalah kisah tentang kegelisahannya dan warga Okinawa lain tentang realita yang mereka hidupi. Namun, layaknya tokoh sang penjual daging di kisah ini, Yamashiro lewat A Woman of The Butcher Shop sadar bahwa ia dapat melakukan lebih dari sekadar tunduk menjadi objek.

Recent Posts
8f0774c1afa2496d4ddfae84ee34f5c1{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{{