Review Film: Watching The Detective

Chris Kennedy | 36 menit | Kanada | 2017 | PG

Mengambil latar beberapa saat setelah tragedi pemboman di gelaran Boston Marathon 2013 lalu, Watching The Detective (2017) tidak hanya menawarkan sudut pandang baru dalam melihat tragedi tersebut. Ia juga memberikan gambaran lain terkait konteks makro sosial-politik masyarakat Amerika khususnya pasca 9/11. Pendekatan yang cukup eksperimental, menjejali penonton selama 30 sekian menit dengan potongan-potongan percakapan di sebuah forum diskusi daring, dipilih untuk menangkap fenomena yang sangat sederhana namun di satu sisi dapat menunjukkan betapa kompleksnya konteks yang meliputi kesederhanaan tersebut.

Narasi berkutat pada upaya anggota perbincangan mencari pelaku pemboman berbekal foto-foto yang telah dirilis pihak kepolisian, sejak awal sudah menunjukkan gagapnya masyarakat dalam menerima informasi. Namun yang terjadi di balik layar jauh lebih kompleks dari sekedar reaksi spontan dan sekelompok individu atas tragedi ini. Absennya kepercayaan publik terhadap otoritas sehingga memilih melakukan proses pencarian kebenaran sendiri misal, adalah sebuah titik dari rangkaian panjang yang bisa dirunut semenjak 9/11. Bagaimana robohnya menara kembar memberi rezim Bush legitimasi untuk melancarkan perang terhadap terorisme global, dan menjadikannya musuh bersama setelah runtuhnya Uni Soviet menjadi babak baru dalam kehidupan bernegara Amerika Serikat.

Dengan ketakutan terhadap terorisme global sebagai musuh bersama, mengutip Chomsky di salah satu wawancaranya, praktis menjadikan pemerintahan Bush tidak memiliki musuh politik. Ia pun terus menerus direproduksi oleh organ-organ kekuasaan rezim Bush. Dimulai dengan mengesahkan Patriot Act yang memberi legitimasi bagi rezim Bush untuk melakukan penyadapan terhadap warganya sendiri, hingga media yang tidak memberikan ruang bagi tumbuhnya diskursus lain sebagai tandingan diskursus yang ditawarkan Bush. Kemudian terjadilah proses terhadap siapapun pihak yang memiliki tafsiran berbeda atas teks-teks tersebut, hingga memunculkan kelas menengah baru, golongan kulit putih kristen konservatif sebagai pendukung utama rezim Bush. Ketika Barrack Obama menjadi penerus Bush di Gedung Putih, muncullah ketidakpuasan dari kelompok ini karena terpilihnya presiden yang dianggap bukan dari kelompok mereka. Tentu saja pernyataan ini bisa diperdebatkan lebih jauh lagi, tapi meningkatnya angka kekerasan terhadap komunitas muslim selama Obama menjabat dibandingkan pada masa pemerintahan Bush cukup memberi dasar bagi argumen ini.

Pada menit-menit berikutnya, penonton disuguhkan pemandangan yang jauh lebih intens dengan menunjukkan betapa terbaginya masyarakat Amerika Serikat sebagai akibat dari kebijakan dalam dan luar negeri Bush pasca 9/11 dan bagaimana di setiap konflik, yang menjadi korban selalu adalah akar rumput. Upaya-upaya persekusi yang terjadi tidak hanya menunjukkan bagaimana sebagian kelompok masih menerapkan standar ganda, di satu sisi mereka tidak percaya terhadap otoritas tetapi tidak memiliki sumber informasi lain selain dari kepolisian. Tindakan bermain sebagai polisi sekaligus hakim tersebut juga memperlihatkan bagaimana ketakutan akan terorisme global bekerja sebagai sebuah alat dari bagian politik identitas untuk melakukan proses peliyanan terhadap sebuah kelompok dan meninggalkan kedua kubu yang meliyankan dan diliyankan sebagai korban. Di satu sisi terdapat kelompok yang menjadi korban dari sentimen SARA sehingga dengan mudahnya dijadikan kambing hitam atas segala permasalahan yang terjadi. Di sisi lainnya terdapat kelompok yang tenggelam dalam delusi bahwa mereka melakukan sesuatu yang dibenarkan karena bertindak berdasarkan kepentingan bersama, sementara yang terjadi adalah kelompok ini sedang dimanfaatkan elit sebagai tambang pendulang dukungan politik.

Film ini menunjukkan betapa tersegregasinya masyarakat Amerika Serikat oleh apa yang tampak seperti sentimen SARA. Tetapi perlu dipahami bahwa fenomena ini tidaklah terjadi secara alami karena ia tidak lebih dari sebuah upaya suatu kekuatan untuk mempertahankan kekuasaannya. Dengan potongan-potongan percakapan yang kaya dan padat akan konteks yang meliputinya, ia berhasil menunjukkan berlapisnya dimensi permasalahan di belakang layar. Kegagalan sistem demokrasi liberal yang membuat sebuah peradaban terjebak pada elit yang sama tidak peduli siapa pemenang dalam panggung politik formal. Elit yang saling meliyankan dengan mensakralkan kebenaran versi mereka, mereproduksi ketakutan imajiner untuk menggalang kekuatan, menolak keluar dari kerangka berpikir positivistik karena takut kehilangan kekuasaan. Sehingga menutup ruang munculnya diskursus baru dan meninggalkan peradaban tersebut dalam keadaan mandek karena terus menerus disibukkan dengan konflik yang tidak ada habisnya. Membuat penonton tidak sadar sedang menyaksikan 30 sekian menit berisi potongan-potongan gambar percakapan daring, sekaligus menyadarkan bahwa kita tidak hanya menjadi penonton dalam fenomena ini tetapi juga pelaku. Sebuah fenomena yang sederhana, dekat namun juga mengerikan. Percakapan sehari-hari di era post-truth.

Chris Kennedy | 36 menit | Kanada | 2017 | PG
Selasa, 12 Desember 2017 | Societet TBY | 19:00

Recent Posts
aa9e2da4fd225e4d7e50887c511748ed```````````