Review Film: Waiting for The T(r)ain

Waiting for The (T)rain | Simon Panay | 25‘ | France

Istilah kekeringan, tak akan keluar jauh dari konteks kemiskinan. Perbudakan dan penjajahan apalagi, melangkah berdampingan menyisakan memori diskriminasi dan kekerasan sosial. Dominasi status semakin menonjol ketika dua manusia dipagari oleh perbedaan ras. Stereotip dan tidak saling suka di antara dua orang lantas teregenerasi dalam kelompok, memupuk kebencian yang berlarut.

Sebuah desa terpencil terkurung daratan di daerah Afrika Barat, Burkina Faso, menarasikan kisah yang serupa. Saat pembangunan paksa rel kereta api pada rezim kolonialisme yang merenggut nyawa menjadi penyambung hidup penduduk desa dari segala kekurangan. Jangankan air, daging, serta buah-buahan yang mereka makan diperoleh dua kali seminggu dari lemparan penumpang kereta saat melintasi desa. Potret dan histori kehidupan penduduk negara termiskin dari waktu ke waktu, terekam dalam lompatan cerita tiap personal di satu desa melalui film etnografi Waiting for The T(r)ain karya Simon Panay.

Kekeringan dan sulitnya air, menjadi isu utama yang digambarkan pada film ini. Suasana daratan Benua Afrika yang didominasi oleh gurun pasir dan tanah tandus, apalagi di wilayah terkurung daratan direpresentasikan secara gamblang. Menjadi introduksi akan kondisi sosial dan ekonomi penduduk di ‘tanah orang-orang jujur’. Problematika kemudian tak hanya sebatas kebutuhan akan air, melainkan upaya bertahan untuk dapat tetap hidup dan menghidupi dari ketersediaan alam yang terbatas.

Mungkin perkara ini sudah menjadi persoalan umum bagi penghuni daerah kering nan tandus layaknya Burkina. Peternakan merupakan alternatif penghasilan yang masih mampu dilakoni sejak dulu hingga kini. Namun pertanian menjadi sumber penghasilan yang selalu terancam, saat musim kering utamanya. Peran gender seakan bias ketika dihadapkan pada situasi yang tak layak dan serba kekurangan. Konflik antar desa dikarenakan permasalahan yang tak jauh beda, menuai empati kala Simon Panay dan rekannya memperlihatkan suasana rutinitas penduduk desa secara detil dan mencolok.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi masih menjadi salah satu unsur negara miskin di mana pun. Menambah ketimpangan di antara pendapatan dan keperluan yang patut dipenuhi. Harapan hidup dan masa depan seolah menjadi peruntungan yang tak mampu diramalkan. Pendidikan menjadi satu-satunya pilihan untuk dapat berpindah dari kesengsaraan yang menahun. Rekam jejak dibangunnya sekolah Bagnanitanga pada November 2007, lantas dikisahkan oleh salah satu kepala pendidik. Satu langkah besar penduduk desa untuk dapat tergerak dari belenggu buta huruf dan angka. Namun satu langkah besar yang menuai tantangan dan pergolakan setelahnya. Bahwa pengetahuan tak hanya dihalangi oleh biaya, pun bahasa turut menyumbang persoalan.

Dahulu Burkina Faso bernama Volta Hulu (Upper Volta). Sempat menjadi protektorat Prancis dan bergabung dengan Masyarakat Prancis-Afrika, bahasa nasional penduduk negara ini adalah bahasa Prancis. Namun, pada desa-desa terpencil, penggunaan bahasa daerah, yakni bahasa Dioula dan More masih cukup kental. Fenomena ini nampaknya tak hanya terjadi di Burkina, melainkan juga di beberapa negara miskin dan berkembang di penjuru dunia. Persoalan kompleks yang kurang mendapat perhatian lebih oleh pemerintah manapun. Tenaga pendidik yang biasanya ditempatkan di daerah-daerah terpencil pun sebagian besar berasaskan relawan yang tak menuntut upah besar. Dapat dibayangkan berapa banyak manusia yang sekiranya bersedia menjalaninya. Tentu selaras dan sejajar dengan realisme pendidikan saat ini.

Film dokumenter berdurasi 25 menit ini menyajikan beberapa cerita kehidupan personal yang hidup dalam ruang yang sama. Dihadapkan pada keterbatasan yang sama namun masing-masing menjalani dengan pemikiran dan prinsip yang berbeda. Sebuah pilihan, harapan, kemarahan, empati, dan simpati menjadi perspektif di setiap cerita yang bisa jadi mengubah cara kita bertahan hidup, bahkan melihat sisi kehidupan lainnya. Disajikan sudut pengambilan gambar yang menarik, Simon Panay dan rekannya mampu menonjolkan setiap detil suasana dan ekspresi. Musik pengiring memberi sentuhan kultural sekaligus dramatis. Menyadarkan kembali penonton akan kebutuhan kita yang berlebih namun menjadi suatu yang nadir di kehidupan yang lain. [NR Novika]

Simon Panay | 25‘ | France

10 Desember 2016 | IFI-LIP YOGYAKARTA | 16:30

Recent Posts
f359665bfc243616b7150d78855fcf687777777777777