Review Film: The Man Who Built Cambodia

The Man Who Built Cambodia | Christopher Rompré | 37’ | Cambodia | 2015

The Man Who Built Cambodia adalah sebuah dokumenter naratif yang berkisah mengenai seorang arsitek legendaris asal Kamboja bernama Vann Molyvann. Sosok Molyvan menjadi menarik untuk diangkat berkat karya-karya arsitekturnya yang merepresentasikan identitas baru bagi negara Kamboja yang belum lama ini merdeka. Dokumenter ini sekaligus menyajikan perjalanan Kamboja dalam prosesnya menjadi negara yang modern dan berkembang layaknya negara lain di Asia.

Kemerdekaan milik Kamboja pada awalnya tidak diakui oleh dunia internasional. Pada tahun 1953 ia dinyatakan merdeka, tetapi hanya diberikan secara khusus oleh Prancis. Pasca kemerdekaan ini, Molyvann berada pada masa jayanya. Karya-karya arsitekturnya terus berkembang, melahirkan style baru yang disebut New Khmer Architecture. Gaya baru dari arsitektur ini mengubah wajah Kamboja dari segi arsitektur tapi dengan tidak meninggalkan nilai-nilai budaya asli Kamboja. Karya-karya Molyvan menghiasai Phnom Penh dan menjadikan kota ini paling tertata di antara kota lain di Kamboja.

Sayangnya, apa yang Molyvann buat dalam rangka memberikan identitas bagi Kamboja dan Phnom Penh pada khususnya tersandung oleh situasi politik yang tidak stabil. Adanya kejahatan genosida dan perang sipil sekitar tahun 1970 menyebabkan bangunan hasil karya Molyvann dihancurkan. Hal ini menyebabkan Molyvann harus terasing selama 20 tahun. Nama besarnya sebagai arsitek tidak terdengar gaungnya. Saat ia kembali, ranah arsitektur dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Ia melihat Phnom Penh sudah seperti sesuatu yang berbeda.

Montase bangunan ikonik di Kamboja semakin menjelaskan bahwa arsitektur Kamboja begitu memiliki ciri khas, terlihat begitu megah, dan kaya akan kebudayaan. Sentuhan-sentuhan tradisional seperti adanya pagoda, dan tembok-tembok penuh tekstur simetris adalah contoh ciri khas arsitektur dari Kamboja. Hal yang menarik dari karya Molyvann adalah sirkulasi udara dan sirkulasi pencahayaan alami bagi setiap bangunan hasil karyanya. Bangunan-bangunan yang dibuat terkesan sangat sustainable, sosok Molyvann sudah lebih dahulu menjadi seorang green architect, sebelum nama ini tren di masa kini.

Identitas dalam bentuk arsitektur bangunan nyatanya belum dimiliki oleh banyak negara. Kekayaan semacam ini juga belum dimiliki Indonesia. Bertolak ke Indonesia, negara ini masih belum memiliki identitas arsitektur yang terkesan kultural. Bahkan bangunan-bangunan yang dibuat baru-baru ini sangat jauh dari ciri khas ke-Indonesia-an. Mungkin sedikit baru bisa kita temukan seperti ketika di Bali, dengan bangunan-bangunan khas candi dan pura atau di tanah Minang dengan bangunan khas rumah gadang. Namun jumlahnya pun sedikit.

Dokumenter ini turut menampilkan keprihatinan Molyvann mengenai bentuk aristektur dan tata kota di Phnom Penh masa kini. Sama seperti di Indonesia, di mana kota besar kini semakin sesak dengan bangunan-bangunan pencakar langit yang begitu modern dan menjajah ruang terbuka bagi publik. Pun demikian di Phnom Penh, bangunan-bangunan kekinian tidak ada yang mempertahankan nilai-nilai arsitektur kultural khas Kamboja. Modernitas telah menjajah segalanya.

Visi Molyvann mengenai bangunan-bangunan bagi publik Kamboja pun seakan tidak diperhatikan oleh pemerintah. Dalam film, dikisahkan mengenai pembangunan stadion terbesar di Kamboja (National Sport Complex) yang pada awalnya turut didesain oleh Molyvann untuk Asian Games tahun 1963 tetapi pada akhirnya dijual ke perusahaan Taiwan pada tahun 2001. National Sport Complex yang pada awalnya menjadi tempat pemersatu masyarakat, dan mendapat sentuhan arsitektur khas Kamboja, kini harus berubah total. Apa yang ada saat ini sangat jauh dari apa yang telah Molyvann buat dahulu, mengenai sentuhan Angkorian Architecture.

Film ini juga menampilkan rasa pesimis dari Molyvann terhadap potensi-potensi arsitektur di Kamboja selanjutnya. Dimulai dari pendidikan arsitektur yang menurutnya kurang menanamkan rasa cinta tanah air, dan kurangnya kesadaran para diaspora untuk kembali ke negara asal dan membangun negaranya. Penonton akan disentil bahwa pembangunan tidak melulu berkiblat pada modernitas, pembangunan memerlukan attitude. Meminjam pernyataan Molyvann “Architecture must understand clearly about its own use and function. A building isn’t just built for itself, for its own form.” [Valentina Nita]

Christopher Rompré| 37’ | Cambodia | 2015

9 Desember 2016 | Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta | 13.00 WIB

 

Recent Posts
8b621c8e3d4c239d2dc99c56ee0e7a32~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~