Review Film: Snakeskin

Snakeskin | Daniel Hui | 105‘ | Singapore | 2014

Snakeskin | Daniel Hui | 105‘ | Singapore | 2014

Bagaimana caranya rangkaian peristiwa yang terjadi pada suatu negara bisa menjadi materi untuk melihat masa depan negara tersebut. Serangkaian permasalahan mengenai perbedaan ras, gender, pun sektarian. Hingga kasus sosial, ekonomi, dan politik menggambarkan sebuah bangsa. Snakeskin berusaha membaca segala rangkaian sejarah dan peristiwa-peristiwa yang pernah dilewati Singapura untuk melihat masa depan bangsa tersebut.

Singapura dalam perkembangannya, telah mengalami berbagai macam peristiwa. Serangkaian konflik ras – sebagai salah satu negara yang di dalamnya terdapat beberapa ras yang tinggal seperti Tiongkok, Arab, India, dan Melayu.

Tidak ada yang mengetahui bahwa kucing yang sekarang sedang bermanja adalah tentara Jepang yang menyerang pelabuhan pada masa lalu, atau artis opera musik yang begitu mirip dengan ibu kita di dalam foto merupakan gambaran yang sebenarnya mengenai masa lalu sang Ibu. Atau tidak ada yang tahu bagaimana sebuah saran untuk memakai nama panggung dalam berkarya dapat berpengaruh dalam karir di masa depan. Hal-hal mistis yang mempengaruhi kehidupan masa lalu dan masa depan seseorang sebagai kepercayaan yang hidup di tanah sempit Singapura, sebagai gambaran akan gesekan kultur yang kuat.

Hal ini pula yang digunakan oleh Daniel Hui untuk menata narasi dalam Snakeskin. Membongkar memori dalam nostalgia yang menuntun penonton untuk mengenal Singapura sejak masih menjadi negara jajahan hingga sekarang. Melalui fragmen memori atas berbagai permasalahan yang dimilikinya, diceritakan dari perspektif personal yang mewakili setiap konfliknya. Snakeskin kemudian mengurai nostalgia akan satu konflik dan konflik lainnya, kemudian merangkainya menjadi narasi apik untuk meramal Singapura di masa depan.

Menggunakan alur periodikal yang diurai satu per satu, Daniel Hui berusaha menciptakan pembongkaran dan rekoleksi memori pada penontonnya. Mempermainkan ingatan dan kenangan yang sejatinya bersifat abadi di dalam alam pikir manusia. Mengajak penontonnya untuk kembali ke masa lalu. Mengingatkan kembali mengenai peristiwa-peristiwa yang telah mengantarkan Singapura hingga menjadi negara maju yang menjadi kiblat modernitas bagi negara-negara yang mengelilinginya. Serta membuat orang Singapura untuk lebih menjadi ‘Singapura’. Sebuah karya nasional untuk meningkatkan rasa nasionalitas dan menimbulkan gagasan untuk membangun negeri dengan melihat isu sosial yang ada.

Memanfaatkan kekuatan film untuk memunculkan fragmen-fragmen ingatan yang membentuk narasi dalam pikiran manusia, Snakeskin mengajak penontonnya untuk mengalami perjalanan Singapura untuk menggambarkan masa depannya. Mengakar kuat pada lokalitas yang ada, namun bisa dinikmati oleh bangsa lain sebagai usaha untuk membaca memori akan bangsanya. Propaganda mitologi akan hal-hal tabu yang terkandung dan dipercaya oleh tiap kultur dihadirkan dalam film ini hingga menjadi jangkar pembentukan narasi. Narasi ini kemudian dituangkan kepada pikiran kita melalui situasi personal, mengizinkan penontonnya untuk menginterpretasikan narasi yang ada dengan keadaan masing-masing. Sebuah film dengan perspektif terbuka untuk menggambarkan sejarah perkembangan suatu negara. Snakeskin mempertegas garis semu antara kisah nyata dan fiksi. [Ellyta Rahmayandi]

Daniel Hui | 105‘ | Singapore | 2014

9 Desember 2016 | IFI-LIP YOGYAKARTA | 18:30

Recent Posts
f029ebc88d2731b3d7307f89b80b899aCCCCCCCCC