Review Film: Singapore Minstrel

Singapore Minstrel | Ng Xi Jie | 87‘ | Singapore | 2015

Singapore Minstrel | Ng Xi Jie | 87‘ | Singapore | 2015

Ng Xi Jie sang sutradara dalam film ini berusaha menunjukan bagaimana birokrasi suatu sistem di Singapura, khususnya mengenai busking atau mengamen. Secara khusus, Roy Payamal, sebagai aktor utama, menceritakan pengalamannya bagaimana ia bisa masuk ke dunia seni jalanan yang menuntunnya untuk mencurahkan seni dan keahliannya di jalanan serta pandangannya terhadap busking di Singapura.

Roy mencoba untuk membuka mata para penonton tentang bagaimana kisah para busker di Singapura dengan memperlihatkan bagaimana ia menjalani paginya dengan beberapa buah koper berisikan peralatan dan perlengkapannya untuk memulai pertunjukannya di stasiun MRT Tampines, mengekspresikan musikalitas ke dalam gerakan-gerakan abstrak berbalut cat warna perak di seluruh tubuhnya melalui gestur-gestur abstrak, tak jarang ia juga mengekspresikannya dengan mematung. Ia ingin menyampaikan bahwa seni dapat dituangkan di mana saja, hinggga bagaimanapun cara dan bentuknya. Orang-orang tidak harus paham mengenai seni, selama mereka menikmati pertunjukan maka dapat dikatakan bahwa seorang busker telah berhasil. Adapula Castello, teman sekawan Roy yang juga sama-sama menjadi seorang busker. Dalam film ini ia ingin menyampaikan bahwa jiwa seorang pengamen adalah di pertunjukannya, apapun cuaca dan kondisi yang ada, pertunjukan harus tetap berjalan.

Busking di Singapura sempat mendapatkan penolakan yang pada akhirnya diperbolehkan kembali, namun dengan melewati seleksi yang diselenggarakan oleh NAC (National Arts Council). Busker yang telah lolos seleksi nantinya akan diberikan lisensi yang dapat menjadi ‘pintu masuk’ untuk dapat bebas berekspresi di Singapura. Kondisi ini cukup menyulitkan, mengingat mereka telah cukup lama menyambung hidupnya dengan menyajikan seni dan pertunjukan di jalanan. Roy sendiri berpendapat bahwa langkah NAC tersebut kurang tepat, terlebih selama ini para busker ini telah mampu hidup ‘mandiri’ tanpa ada perhatian atau pengawasan yang dilakukan oleh NAC sebelumnya. Seperti Castello, yang telah melewati seleksi ketiganya dan tetap gagal. Hal tersebut cukup menggambarkan bagaimana sulitnya birokrasi dan kehidupan pengamen di Singapura untuk secara legal dapat mengamen di tempat-tempat yang diperbolehkan.

Dalam film ini, ada beberapa segmen menarik yang mengundang amarah serta hiburan ketika para pemusik bertemu dengan pihak NAC sebagai pengaudisi. Amarah yang ditimbulkan karena ide untuk lolos audisi terlihat seperti penghinaan kepada seni terhadap pengamen yang mencari keuntungan. Sisi hiburan ditampilkan ketika Annie Pek, seorang produser independen serta juri audisi para pengamen mencoba mendidik para pengamen-pengamen baru tentang Ps dan Qs dari mengamen.

Film ini menginformasikan kepada para penonton tentang polemik-polemik yang terjadi di Singapura khususnya dalam hal busking. Penonton juga diharapkan dapat peka terhadap hal-hal yang sekiranya selama ini dinilai kurang ‘berada’ di dalam tatanan kehidupan, serta peka terhadap hak-hak seseorang sebagaimana profesi yang dilakoni. Selain itu, Singapore Minstrel juga mengajak penonton untuk melihat lebih dekat akan kaleidoskop kehidupan masyarakat Singapura melalui video-video singkat yang terekam di dalam telepon genggam Roy Payamal. [Justicia Handykaputri]

Ng Xi Jie | 87‘ | Singapore | 2015

9 Desember 2016 | IFI-LIP YOGYAKARTA | 13:00

Recent Posts
velit, felis Aenean venenatis Lorem dolor. ut quis