Review Film: Ruru Radio of Rock Tour Serial 2

Ruru Radio of Rock Tour Serial 2

Kisah rangkaian tur antar kota antar pulau Efek Rumah Kaca, White Shoes & The Couples Company, Goodnight Electric, Sangkakala, dan band-band lainnya, disajikan Henry Foundation dalam Ruang Rupa Radio of Rock Tour Serial 2 (2017). Tur yang digelar di 4 kota; Purwokerto, Malang, Surabaya, hingga Denpasar, menghadirkan pengalaman baru bagi segenap elemen yang menyukseskan gelaran tersebut. 58 menit berisikan nama-nama lawas di skena musik alternatif, rekaman konser yang tidak menawarkan apa pun selain kesenangan, hingga kegelisahan yang mereka rasakan di balik menyenangkannya konser.

Bagaimana tidak, penggagas tur ini adalah sosok-sosok yang setidaknya telah terjun di skena musik alternatif Indonesia sejak awal 2000-an, dan memerlukan waktu hingga lebih dari satu dekade bagi mereka untuk melahirkan acara ini. Kegelisahan yang dalam kaca mata mereka berbentuk kebosanan. Kebosanan karena musik mereka terpenjara batas-batas fisik sehingga terjebak pada keadaan yang itu-itu saja, venue yang sama, lagu yang serupa, penonton yang itu-itu lagi. Maka rangkaian tur ini, bagi mereka adalah suatu kebaruan yang mereka perlukan guna membawa musik mereka bergerak ke depan. Dengan tur berformat baru yang membawa musik mereka ke hadapan publik yang baru pula.

Alhasil, penonton pun akan disajikan realita bahwa rockstar juga manusia. Penggunaan footage-footage ‘seadanya’ yang merekam keseharian mereka selama berada dalam perjalanan, berhasil menunjukkan sisi lain para musisi ini. Mereka bukan hanya apa yang penonton lihat di panggung, karena di luar panggung, mereka sama seperti para manusia lain dengan segala gurauan, percakapan setengah mabuk, dan interaksi mereka dengan penonton di dalam dan luar panggung.

Ditambah komentar-komentar bernas dari Cholil Mahmud hingga Aprilia Sari tentang kegelisahan mereka terhadap industri musik Indonesia. Bagaimana publik selama ini direnggut kuasanya untuk menentukan selera musik mereka dan dampaknya terhadap publik serta para musisi sendiri. Karena selera adalah perihal pertarungan kekuatan politik, kelas, dan ekonomi. Ia adalah alat dominasi. Maka tur ini adalah sebuah pernyataan dari orang-orang di dalamnya untuk terjun ke dalam pertarungan tersebut. Bermodalkan jaringan pertemanan yang dibangun perlahan, mereka mencoba memberikan alternatif dalam industri musik Indonesia. Menghadirkan skena yang erat, menyenangkan, dengan interaksi resiprokal manusia di dalamnya dan alkohol di sana-sini. Potongan-potongan konser yang berisi lagu dari Efek Rumah Kaca, Sangkakala, hingga Silampukau pun membuat film ini menjadi sebuah pengalaman baru dalam melihat industri musik Indonesia. Bahwa industrialisasi telah menyebabkan ketidaknyamanan, dan terdapat sekelompok individu yang bertekad untuk mengubah keadaan tersebut lewat Ruru Radio of Rock Tour Serial 2.

Rabu, 13 Desember 2017 | Amphiteater TBY | 19:00

Recent Posts
0b8ef472669ca1c94f87ce8caf34b4fb9999999999999999999999999999999