Review Film: Mise Wo Miru

Mise Wo Miru | Jolene Mok | 15’ | Japan | 2015

Mise Wo Miru | Jolene Mok | 15’ | Japan | 2015

Kegiatan sehari-hari para pemilik toko dari 16 toko yang berbeda di Kawabata Shopping Arcade di pusat kota Fukuoka ditampilkan dalam film ini. Potret menarik yang diambil dari kacamata antropologis lewat para pemilik dan pegawai toko diperlihatkan sebagai gambaran unik kebiasaan yang mereka lakukan setiap harinya. Penonton mungkin tidak akan pernah terpikirkan sebelumnya mengenai hal-hal yang dilakukan oleh para pemilik/penjaga toko sembari menunggu datangnya pelanggan, dan film ini menjawab dengan membandingkan aktivitas dari beberapa toko dengan jenis toko yang sama.

Pada toko kain Ginza Monger dan toko kain Tailor Takehara, pada jam yang sama para pemilik toko sama-sama sedang membaca koran, selang beberapa menit berlalu sang pemilik toko di kedua toko kain tersebut sama-sama sedang melakukan pengecekan pada stok kain masing-masing. Beda jenis toko, beda pula kegiatan yang ditampilkan. Seperti pada toko bunga Ran – Ran dengan toko bunga Qtane. Ms. Kusuhara selaku manager toko bunga Ran – Ran pada pukul 11.00 pagi sedang sibuk merapikan pot tanaman. Pada waktu yang sama di toko bunga Qtane, tuan Seto sedang asik merangkai sebuket bunga untuk pelanggannya.

Sang sutradara, Jolene Mok, juga menunjukan tentang desain beberapa pertokoan di Jepang yang kenyataannya tidak sesuai dengan penampakan luarnya. Hal ini terdapat dalam segmen penampakan toko senjata Hakata yang nampak dari luar terlihat seperti satu toko, namun di dalamnya terdapat dua jenis toko yakni toko yang menjual barang-barang lotre dan toko senjata milik Mr. Naito. Kedua toko ini sengaja disatukan ke dalam satu tempat yang sama karena hal-hal yang ditawarkan dalam kedua toko tersebut memiliki tujuan yang sejenis yakni “untuk menembak sasaran yang tepat.” Lain hal dengan toko kain Cotton Matsuda, ada dua toko yang bersebelahan bila dilihat dari luar, namun sebenarnya hanya terdapat satu toko. Sisi yang satu merupakan tempat stok kain yang dijajakan di toko tersebut, di sisi lain merupakan tempat penjahitan pakaian yang berbahan dasar kain di tempat stok kain tersebut.

Film ini cukup epik apabila dibahasakan dengan bahasa yang cukup dikenal di jaman sekarang. Hal tersebut tergambarkan dari kebiasaan-kebiasaan para pemilik atau dan pegawai toko yang melakukan hal yang sama dalam waktu yang sama. Kita diajak untuk mengamati perilaku baik yang kontras maupun yang bersinggungan di antara 16 toko yang berbeda. Hal lain yang cukup mengherankan adalah desain dari beberapa toko yang telah disampaikan, bahwa orang mungkin seringkali terkecoh dengan tampilan dari luar sebelum akhirnya masuk kedalam toko. Film ini juga berusaha menunjukan kepada penonton bagaimana dinamika keseharian para pemilik usaha di Jepang, terlebih di pusat kota Fukuoka. [Justicia Handykaputri]

Jolene Mok | 15’ | Jepang | 2015

8 Desember 2016 | IFI-LIP Yogyakarta | 16.30 WIB

Recent Posts
90df54388d18e7c86088832b298f4ff9WWWWWWWWWWWWW